Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Kehilangan Yang Kedua Kali


__ADS_3

"Jadi benar apa yang ku lihat waktu di apartmen itu, berani kamu Nadia selingkuh dari Permadi." Dita mengeratkan jarinya-jarinya pada pagar teralis balkon.


Dita melihat Dokter itu tersenyum dan melambaikan tangan pada menantunya dan Nadia pun membalasnya. Dita turun ke bawah untuk menemui Nadia dan Fafa berjalan cepat hingga menabrak Rini yang sedang membawa belanjaan untuk di bawa ke dapur.


Brugghkk!!


"Rini! Kamu jalan gak liat-liat!" omelnya mendeciskan bibirnya.


"Maaf bu, kan ibu yang jalannya buru-buru jadi gak liat Rini lewat" ujar Rini memungut sayuran yang berserakan di lantai.


Dita langsung berjalan keluar dengan tangan terkepal kesal tak hentinya menggerutu.


"Awas saja kamu Nadia! Mama nggak akan ijinin kamu bawa Fafa pergi dari sini." ancamnya pada Nadia.


Nadia menggendong Fafa yang sudah tertidur efek capek bermain dan perutnya yang kenyang. Nadia Nembawa Fafa masuk ke dalam dan menidurkan di kamarnya namun Dita meminta agar Fafa tidur dengan omanya.


"Nadia sini biar mama yang bawa Fafa ke kamar!" pintanya meraih Fafa dari tangan Nadia membawanya ke dalam dekapannya.


"Lho, bukannya tadi mama mau siap-siap ke rumah tante Rossa?" tanya Nadia bingung.


"Nggak jadi! Kamu kalo mau ke rumah bapak mu nggak papa Fafa biar tidur sama oma." Dita langsung membawa Fafa ke kamarnya.


Nadia menatap heran pada sikap mertuanya yang tiba-tiba berubah ketus, ia memandang punggung wanita yang bergelar oma membawa putranya. Tiba-tiba hatinya mendadak merasa perih melihat mamanya merebut paksa Fafa dari tangannya, hatinya mulai bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan mamanya, kenapa sikapnya berubah ketus terhadap dirinya?


Nadia pun menemui Dita di kamarnya karena pikirannya yang tak tenang ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Mengapa disaat Nadia dengan Fafa waktu terkesan di batasi oleh mama mertuanya. Nadia mengetuk pintu kamar mama mertuanya namun ponselnya berdering, dengan I'd callerTantri Whatsapp Voice call. Nadia menggeser ikon hijau.


"Hallo mba, cepetan kesini bapak jatuh di kamar mandi!"


"Apa? Kenapa bapak bisa jatuh Tantri? Ya sudah mba akan kesana sekarang." sambungnya lagi. Nadia masuk ke dalam kamar mertuanya tanpa lagi mengetuk pintu.


Melihat mamanya sedang menepuk-nepuk bokong Fafa Nadia tidak berani bersuara keras. Dita mengangguk paham memberi isyarat lewat sorot matanya dan melambaikan tangannya ke udara memintanya segera pergi. Dita pun mengirim pesan singkat pada Nadia.

__ADS_1


~ ✉️ Minta pak Sobri untuk mengantar mu Nadis.


Nadia membalas cepat pesan mamanya dengan kata "Iya Ma." Nadia pun meminta Pak Sobri untuk mengantarkannya ke rumah. Entah kenapa Dita begitu tidak tega membiarkan Nadia dalam kesulitan padahal dirinya ingin sekali marah pada menantu pilihanannya itu.


Sampai di sana Nadia menemui Bapaknya yang sudah berada di sofa lusuh, dengan warna merah pudar dengan sobekan kainnya di beberapa sudut.


"Tantri kenapa bapak bisa jatuh dan pingsan seperti ini?" tanya Nadia dengan nafas yang memburu.


Tantri masih menangis tanpa menjawab hingga akhirnya Pak Sobri meminta pada Nadia untuk membawa Pak Nurdin ke rumah sakit. Nadia dan Tantri membawa Bapaknya kerumah sakit bersama Pak Sobri.


"Mba kenapa bapak masih belum sadar, Tantri takut mba?" tanya Tantri cemas dan takut.


"Tenanglah Tantri, jangan bikin mba makin panik!" Nadia memberikan aroma kayu putih di hidung bapaknya agar tersadar dari pingsan.


Di rumah sakit Nadia meminta tolong pada perawat yang kebetulan lewat di loby dan perawat itu memanggil rekannya untuk membawa brankar. Dokter Arshaka baru saja keluar dari ruang bedah 15 Menit yang lalu, dan akan bersiap untuk menghadiri undangan seminar di Hotel Horizon bersama para Ikatan dokter.


Melihat dua wanita yang tengah berjalan cepat mendorong brankar bersama perawat, yang salah satunya adalah wanita yang akan di persuntingnya dalam waktu dekat.


"Mas, tolong bapak mas, tolong selamatkan bapak," pinta Nadia menangis dalam pelukan Arshaka.


"Kau harus tenang Nadia! Aku akan memeriksanya dulu, tenanglah!" pinta Arshaka seraya menggandeng tangan Nadia.


Perawat membawa tubuh lemah ayahnya menuju ruangan yang sudah terdapat dua suster serta dokter spesialis syaraf, dokter Suseno Pranata. Arshaka meminta Nadia menunggu di luar bersama Tantri di bangku besi yang tersedia di samping pintu ruang IGD. Nampak dua wanita kakak beradik yang saling menautkan tangan saling menguatkan satu sama lain. Sedangkan di dalam ruangan dua Dokter sedang berjuang menyelamatkan nyawa pasien.


"Denyut nadi dan jatungn pasien semakin melemah, Dok," ucap suster Elisia memasang alat pacu jantung di dada pasien.


Dokter Seno meminta agar Arshaka memangggil salah satu dari keluarga pasien. Arshaka pun mengerti akan keadaan yang sebenarnya terjadi dokter Seno pun berlalu meninggalkan ruangan IGD. Dengan langkah gontai Arshaka keluar dari ruangan menatap Nadia dengan wajah sedih, Nadia dan Tantri berhambur mendekati dokter Arshaka yang keluar hendak menghampirinya.


"Bagaimana keadaan bapak sekarang mas?" tanya Nadia dengan suara gemetarnya.


Netranya mengatakan jika terjadi sesuatu pada orang tuanya. Nadia menatap pintu ruang IGD dan lari membuka pintu ruangan yang masih terdapat dua perawat yang mencabut beberapa alat yang menempel di tubuh lelaki tua yang Nadia panggil bapak. Salah satu perawat menutup seluruh tubuh pasien dengan kain putih yang di ikuti langkah kaki Tantri juga Arshaka di belangkang.

__ADS_1


"Bapak....! Bangun pak, ini Nadia pak..!" teriak Nadia histeris Tantri yang menangis terisak menahan sesak tak mampu berkata-kata.


"Jangan tutup wajah bapak saya!" Teriak Nadia lagi dengan suara lantangnya. "Bapak saya masih hidup pergi kalian pergi!" bentak Nadia marah dan menolak perawat menutup seluruh tubuh ayahnya.


"Mba. Ini salah Tantri karena tidak menjaga Bapak..hee....eee," sesal Tantri menangis, merasa bersalah tidak menjaga ayahnya dengan baik.


Tantri memeluk tubuh Nadia yang terus mengguncangkan tubuh renta bapaknya yang tak bernyawa.


Arshaka mengusap sudut matanya yang mengembun tak tahan melihat wanita yang di cintainya memiliki nasib yang tragis. Jika Tuhan membalikkan posisi Nadia ada pada posisinya sungguh ia tidak akan pernah sanggup membayangkan meski dalam mimpi sekalipun. Pak Sobri segera meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah mama mertua Nadia memberitahukan jika besannya telah tiada.


Arshaka berusaha menenangkan Nadia yang tak hentinya menangisi kepergian Pak Nurdin, orang tua satu-satunya yang Nadia dan Tantri miliki saat ini namun Tuhan kembali memanggilnya.


"Tantri akan hidup sendiri mba. Sekarang kita benar-benar hidup sendirian," ucap Tantri menangis.


Adiknya seakan memecah perasaan Nadia yang teriris begitu dalam. Menyisakan luka kehilang sosok ibu yang begitu ia sayangi di ceraikan suami ketika ibunya meninggal. Hanya ada sisa luka yang belum kering dan kini kembali basah, luka kehilangan sosok pria yang telah memberikan cinta pertamanya. Arshaka kembali menarik lengan Nadia memeluk tubuh ringkihnya ke dalam pelukannya. Rasa sayang yang memaksa dirinya untuk memberikan perlindungan serta kenyamanan pada wanita malangnya.


"Aku akan menjagamu, dengarlah aku akan selalu ada untukmu Nadia! Kalian tidak sendirian Menikahlah dengan ku Nadia!" pinta Arshaka memeluk Nadia erat.


Sepasang mata memandang tak suka pada Nadia juga Arshaka, Mama mertua Nadia mendekati Arshaka yang tengah memeluk menantunya.


"Nadia tega kamu berkhianat di belangkang Pemadi, jadi ini balasanmu Nadia?" bentak mama mertuanya marah melihat sikap Nadia, yang memiliki hubungan spesial dengan dokter yang pernah datang mengobati Fafa saat demam malam itu.


Nadia merenggangkan tubuhnya melepaskan diri dari pelukan Arshaka, menatap Dita kikuk yang terlihat seperti pencuri yang kepergok tuan rumahnya.


Belum selesai Dita berucap dan membentak Nadia, Permadi datang mencegah mamanya yang berubah menjadi kasar dan sinis pada Nadia.


"Mah, ini masih di rumah sakit jangan membuat keributan disini,'' cegah Permadi mengalihkan pembicaraan. "Kita bisa bahas masalah ini di rumah." sanggahnya mengingatkan.


"Ya, sebagai laki-laki bermartabat Anda harus mengatakan yang sebenarnya!" timpal Arshaka meninggalkan ruangan yang menyisakan masalah di antara mereka.


Tantri menatap nanar pada keluarga yang berbuat kejam pada kakak kandungannya, mencebikan bibirnya mendekati mama dari mantan kakak iparnya. Nadia menggenggam erat tangan adiknya agar tetap diam di sampingnya. Tantri mendengus kesal karna rasa marah yang tak tersalurkan.

__ADS_1


__ADS_2