Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Cinta Membuat Kita Saling Mengerti


__ADS_3

"Opa kuat angkat aku? Kan Fafa gendut," Seloronya membuat semua tertawa lucu.


Bunda Maya sangat terhibur mendengar ocehan Fafa yang menurutnya lucu.


"Fafa mau ice cream, sayang?" tanya omanya yang langsung dijawab cepat oleh Fafa yang memang sangat menyukai yang manis-manis.


Bunda Maya meminta asisten rumahnya untuk mengambilkan sekotak ice cream tiga rasa dari freezer. Fafa pun bersorak setelah mendapat ice cream kesukaannya dan turun dari pangkuan opanya.


Bunda meminta asisten rumahnya menemani Fafa makan ice cream di dekat kolam ikan. Fafa mengikuti langkah wanita muda di depannya membawa kotak ice creamnya menuju taman yang ada di samping ruang keluarga. Dengan maksud ingin membicarakan sesuatu yang penting mengenai masalah Arshaka dan Nadia juga Andrea yang tidak mungkin mereka bicarakan di depan anak kecil yang belum mengerti masalah orang dewasa.


"Shaka ingin mengurus berkas untuk menikahi Nadia secara resmi, Ayah, bunda." ujarnya tanpa berani menatap wajah kedua orangtuanya.


"Apa maksud ucapan Mu, Shaka?" bunda mengernyitkan dahinya dan menyipitkan kedua matanya bingung tidak mengerti arah pembicaraan putranya.


"Apa kalian sudah menikah secara siri?" tanya Firman serius kali ini dengan mimik wajah sedikit kecewa, pada tindakan putranya yang mengambil keputusan secara sepihak tanpa melibatkan orangtua.


"Apa kalian sudah menikah? Shaka kamu?"


Arshaka segera meraih telapak tangan bundanya yang segera beranjak dari duduknya. "Bunda benar-benar kecewa, Shaka," ucap bunda bangkit dari kursinya dan menghempaskan tangan Shaka berjalan melangkah menuju kamar.


"Bunda...Shaka minta maaf, bunda." Firman mecegah putranya yang beranjak mengejarnya.


"Shaka biarkan bunda mu sendiri dulu. Berikan bunda waktu untuk menerima semua keputusan mu wajar saja jika bunda kecewa karena kamu menikah tidak melibatkan orangtua. Biar ayah yang bicara pada bunda mu kau ajaklah turun istri mu kita makan malam bersama,"

__ADS_1


Nadia segera masuk ke dalam kamar mengusap kedua pipinya yang basah setelah mendengar semua percakapan antara suaminya dan orangtuanya. Takut keberadaannya diketahui Nadia secepatnya menormalkan suasana hatinya yang seolah tidak tahu menahu mengenai obrolannya yang sempat Nadia dengar. Nadia duduk di depan meja rias berpura-pura memakai makeup.


Cek lekk


Suara pintu di buka dari luar Nadia melirik suaminya yang berjalan ke arahnya memeluk istrinya dari belakang. Menyesap aroma wangi yang menguar dari tubuhnya Arshaka meletakkan dagunya di bahu Nadia menyusuri tengkuk serta cuping telinganya dengan bibirnya. Nadia membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan menatap wajah cantik istrinya penuh damba, kecupan kecil yang membuat Nadia luluh bahkan lupa jika tadi ia sempat sedih dan menangis karena merasa bersalah kepada mertuanya.


Arshaka menarik dagu istrinya dan kembali memagut bibir manis yang membuatnya candu. Reflek Nadia melingkarkan kedua tangannya membalas ciuman yang semakin dalam. Nafas keduanya saling memburu arshaka melepaskan pagutan bibirnya mengatur oksigen dan menghirupnya dalam-dalam.


"I love you sayang," ujar Arshaka dengan nafasnya yang masih memburu semakin mengeratkan pelukannya. Entah perasaan apa yang tengah Nadia rasakan sikap serta perlakuan lembut Arshaka mampu membuat hatinya trenyuh hingga bulir bening itu tidak dapat lagi ia tahan.


"Hey, sayang kenapa malah jadi nangis? Aku ada salah apa hem?" Arshaka melepaskan pelukannya menatap wajah istrinya yang memerah dapat ia rasakan isakan kecil yang tertahan dalam dekapan dadanya yang naik turun menahan tangis.


"Aku tidak tahu kenapa aku menangis mas. Tapi mata ini selalu berkaca-kaca setiap kali kau memperlakukan ku dengan cintamu mas." Nadia semakin terisak memeluk Arshaka.


"Terima kasih mas untuk cinta yang kau berikan untukku dan putraku. Meskipun Fafa bukan darah daging mu tapi kau menyayanginya sama seperti kau menyayangi ku."


"Bukan hanya sekedar sayang Nadia, aku sangat mencintai kalian. Ya meski suatu saat nanti Fafa harus tahu siapa nama ayahnya yang sebenarnya. Kita akan segera mengurus berkasnya agar pernikahan kita diakui secara agama dan negara aku ingin nama Fafa tercantum dalam daftar keluarga kita yang baru. Sekarang kita harus turun ke bawah kita makan malam sama-sama Fafa pasti sudah menunggu kita." Arshaka mengajak Nadia turun menuju ruang makan.


Tapi tiba-tiba ponselnya berdering di dalam saku jasnya Arshaka menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu begitu juga Nadia yang turut menghentikan langkahnya.


~ Dokter Afian, hallo?


~ Dokter Shaka jangan lupa undangannya malam nanti pukul 8

__ADS_1


~ Astagfirullah, oh Iya ya! Saya baru ingat acara undangan itu. Terima kasih sudah mengingatkan.


Arshaka memutuskan panggilannya.


"Sayang, malam ini aku ada acara reuni akbar teman-teman alumni kuliah dan acaranya itu harus bawa pasangan bersiaplah aku mau mandi dulu. Oh ya jangan lupa ajak Fafa juga." tuntut Arshaka pada istrinya tanpa ada bantahan lagi.


" Tapi mas ak__" Arshaka berlalu menutup pintu kamar mandi tanpa mau mendengar argumen istrinya lagi yang menurutnya terlalu banyak alasan karena perbedaan sosial yang bosan ia dengar.


Sementara Firman menyusul istrinya yang tengah merajuk karena kejujuran putranya yang membuatnya kecewa.


"Nda! Jangan lama-lama ngambeknya ayo kita keluar makan malam, nanti bunda bisa sakit kalo telat makan." bujuk Firman pada istrinya. Maya tidak mengindahkan kan ajakan suaminya malah mengambil posisi tidur miring memunggungi suaminya.


"Bunda nggak ada selera makan, Yah. Bunda terlanjur kecewa dengan Shaka memangnya dia tidak menganggap kita ada sebagai orangtuanya. Menikah diam-diam secara siri lagi, setidaknya hubungi kita beri kabar walau hanya pesan singkat sekali pun memang disana semua akses jaringan tidak ada?" Maya menggerutu kesal sedangkan suaminya sibuk dengan benda pipih ajaib ditangannya. Maya melirik suaminya masih dengan posisi tidur miring tanpa ba-bi-bu Maya langsung merebut hape yang ada di tangannya.


"Bunda!" pekikk Firman ingin merebut kembali ponselnya, yang sudah di sembunyikan di bawah bantalnya.


"Bunda mau ayah gendong seperti Fafa!" seru Firman menggoda istrinya yang sudah mendekati tubuhnya. Maya sudah mengambil ancang-ancang menangkis tanga suaminya.


"Ayah, jangan so kuat encok tahu rasa nanti." percekcokan ala oma dan opa itu berlangsung dramatis bak anak kecil yang diakhiri candaan lucu diantara keduanya.


"Bunda, menurut ayah keputusan Shaka itu sudah benar hanya caranya saja yang salah. Hubungan dua insan yang berlawan jenis apa lagi yang akan mereka lakukan selain berbuat dosa, terlebih mereka terlibat cinta yang tidak mungkin kita larang. Dan ayah yakin Shaka sudah mempertimbangkan itu semua sebelum ia bertindak lebih jauh." Maya mencoba mengerti akan ucapan suaminya dan mencerna sisi baik dari keputusan yang putranya lakukan.


"Iya ayah benar apa yang Shaka lakukan pasti karena dia tidak ingin kehilangan Nadia lagi. Sudah cukup Andrea membuat dirinya kehilangan cintanya Shaka jadi lebih dingin dan hatinya sulit di raih." pikir Maya mengerti akan situasi sulit putranya. Maya dan Firman akhirnya keluar menuju meja makan mencari keberadaan Shaka, Nadia dan cucu barunya Fafa.

__ADS_1


"Fafa...!"


__ADS_2