
"Fafa....!" panggil Maya pada cucunya yang sudah dianggap sama seperti anak dari putranya Arshaka.
Jiwa kemanusiaan yang tinggi tanpa membedakan setatus juga sosial, telah tertanam pada keluarga Bimantara kakek Arshaka yang merupakan orangtua dari Firman yang menjabat sebagai anggota TNI. Yang menurun pada anak dan cucunya yang memiiki rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama.
"Oma, Fafa disini," seru Fafa memanggil wanita yang usianya kini mencapai setengah abad lebih. Fafa berdiri dari kursi yang berada di dekat kolam ikan menikmati ice cream yang menjadi favoritnya semenjak Fafa mengenal Aldo. Dengan wajah yang blepotan karena lengket bekas coklat dan vanila Fafa berjalan mendekati omanya.
"Fafa suka makan ice creamnya?" tanya oma mengacak pucuk kepalanya yang membuatnya gemas karena tubuh gembul dan wajah imutnya.
"Suka, Oma," jawab Fafa sambil menjilati jari-jarinya bekas rasa manis ice cream yang menempel di tangannya.
"Kalo Fafa suka besok oma ajak Fafa ke supermarket. Kita beli ice cream yang banyak, tapi sekarang Fafa cuci tangan terus ganti baju." perintah oma mengindikkan dagunya meminta asisten rumahnya menggantikan pakaian Fafa yang terkena noda ice. Melihat sikap ramah dan lembut ibu mertuanya membuat hati Nadia menghangat dengan senyum bahagianya yang entah bagaimana caranya ia mengungkapkan perasaannya.
Nadia mengayunkan langkah kakinya menghampiri ibu mertuanya yang hendak berjalan ke taman yang tidak jauh dari kolam ikan.
"Bunda!" panggil Nadia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan.
"Nadia! Mau pergi lagi sama Shaka? tanya Bunda Maya melihat penampilan Nadia yang tampil cantik dan anggun dengan balutan busana pestanya.
" Mas Shaka mau ajak kami ke acara reuni teman kuliahnya, Bunda." ujarnya memberitahu.
"Lho sama Fafa juga?"
"Iya, Bunda acaranya memang mengharuskan tamu undangan membawa pasangannya. Jadi Shaka mau kenalin istri dan anak Shaka ke temen-temen, Nda. Hari ini kita izin keluar tidak ikut makan malam bareng ayah dan bunda, maafkan kami sudah bikin bunda kecewa lagi." ucap Shaka menimapali seraya meraih telapak tangan bundanya lalu menciumnya.
"Nggak usah rayu-rayu bunda. Sudah sana ajak anak dan istrimu
hangout." tuturnya membuat Arshaka tercengang akan bahasa asing yang bundanya lontarkan dan memicingkan kedua matanya heran. Yang tidak biasanya bunda ucapkan pada anaknya meski pandai berbahasa Inggris.
Arshaka tersenyum "Tumben banget bunda pakai bahasa gaul," goda Arshaka melirik istrinya yang turut menarik sudut bibirnya.
"Ayah, bunda. Fafa sudah ganti baju lagi sekalang aku pakai baju gamabal lobot." serunya menunjukkan dadanya. Arshaka meraih tubuh Fafa mengangkatnya keudara lalu kembali menurunkannya.
"Ughh, berat sekali ternyata anak ayah." Shaka pamit pada kedua orangtuanya begitu juga dengan Nadia.
__ADS_1
Mobil bergerak keluar Pak Lukman telah siaga membukakan pintu gerbang dan menutupnya seperti biasa. Mobil melintasi jalanan malam yang tiada kata sepi di tengah kota metropolitan.
Nadia yang tidak terbiasa bepergian di acara pesta maupun acara formal apapun itu, yang ia tahu hanya datang di acara rapat sekolah wali murid ketika mendaftarkan Fafa sekolah pada saat acara penerimaan murid baru di Cikarang ketika ia tinggal di rumah milik peninggalan nenek Aldo.
Pria baik yang mau menampung dirinya dan anaknya ketika ayah Adri orangtua Andrea mengusirnya dari ibu kota, hingga sekelompok para copet menghadangnya dan merampas koper dan tas miliknya. Beruntung Nadia bertemu Aldo dan menolongnya serta memberikan tempat tinggal yang layak juga memberikan perhatian dan cintanya namun Nadia tidak bisa menerima cintanya karena nama Arshaka yang masih merajai hatinya.
Arshaka melirik istrinya yang memandangi jalanan luar melalui kaca jendela, meraih telapak tangan Nadia yang dingin. Yang entah karena hawa dingin ac mobil atau rasa nervous yang tiba-tiba menyerang.
"Sayang, kebiasaan belum apa-apa grogi menyerang. Bagaimana kalo aku meminta mu untuk mendampingi ku di ruang bedah dan melihat ku bagaimana aku menyayat bagian tubuh kulit manusia," Nadia langsung melirik suaminya menggelengkan kepalanya cepat, Arshaka tersenyum melihat ekspresi parno Nadia yang membuatnya gemas dan menarik tubuh Nadia kedalam pelukannya.
Melihat kemesraan ayah dan bundanya Fafa melempar mainan di tangannya. Mengerucutkan bibir serta menyilangkan tangannya di dadanya melayangkan protes pada ayah dan bundanya.
"Bunda, Ayah kenapa peluk bunda telus setiap hali? Malam juga ayah peluk-peluk bunda Fafa bobo sendili." protes bos cilik pada ayah ayah dan bundanya. Ayahnya semakin menggoda putranya yang sedang cemburu, Shaka tersenyum dan terus menggodanya sambil menciumi kening dan pucuk kepala Nadia.
"Ayah! Nggak boleh bunda Ku." larangnya sambil menarik tangan ayahnya yang merangkuk tubuh bundanya.
"Kemarilah Fafa! Sini duduk sama ayah dan bunda," pinta Shaka pada putranya. Fafa langsung melangkah maju dari jok belakang, pindah ke depan ditengah-tengah ayah bundanya Nadia dan Shaka mencium pipi gembul putranya bersamaan.
Tapi tiba-tiba Arshaka menginjak pedal rem mobil secara mendadak hingga menimbulkan decitan gesekan antara aspal dan ban mobil.
"Astaghfirullahalazim, Mas Shaka!!" kejut Nadia mendekap tubuh Fafa yang terpental hampir terbentur dashboard hingga dashboard itu terbuka dan semua yang ada di dalamnya ikut tercecer jatuh.
Tokkk.....Tokkk.....
"Buka kacanya!" pengendara motor matic turun dari kendaraannya mengetuk kaca mobil Shaka.
"Mas, aku takut jika orang itu menyangmu," Keluh Nadia mengkhawatirkan suaminya.
"Tengah saja tidak akan terjadi apapun," ujarnya menenangkan melepaskan sitbel yang mengikat tubuhnya.
"Cepat buka ayo! Kamu sudah buat saya hampir celaka buruan!'' cecarnya menuntut dengan helmnya tanpa membuka kaca helm full facenya.
Shaka menurunkan kaca mobilnya menoleh kearah pengendara motor mengatakan maaf. Tapi orang itu segera menarik keatas kaca helmnya menelisikkan pandangannya melihat wanita disamping pria yang ia kenal sebagai seorang dokter itu. Tengah menenangkan putranya yang sedang ketakutan berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"MBA NADIA?!"
Nadi langsung menoleh ke samping kaca dimana Arshaka duduk. Menatap wanita berhelm yang menudukkan kepalanya melakukan kaca jendela mobil.
"TANTRI! sebut Arshaka dan Nadia bersamaan yang juga kaget melihat penampilannya yang seperti laki-laki.
Tantri langsung membuka helmnya tersenyum memanggil kakaknya dengan antusias.
"Biar saya tapikan dulu mobilnya," ucap Arshaka menginterupsi, interaksi antara kakak beradik yang telah lama tidak berjumpa.
Nadia turun dari mobil menggandeng Fafa turun begitu juga Arshaka.
"Tantri, adikku.'' Nadia segera memeluk adiknya sangat erat keduanya menangis karena rasa rindu selama itu mereka rasakan.
"Mba Nadia sama pak dokter?" tanya Tantri melirik Arshaka yang kini telah menjadi kakak iparnya.
"Iy_iya Tantri. Mba Nadia dan mas Shaka kami sudah menikah." ucapnya menangis kembali memeluk adiknya.
"Benarkah? Akhirnya mba Nadia dan dokter Shaka kembali bersatu dan menikah. Tantri sangat bahagia mendengarnya bapak dan ibu pasti bahagia disana melihat kebahagiaan kalian." Tantri melepaskan pelukan Nadia melirik keponakannya yang berada dalam gandengan tangan Arshaka.
"Tante!" panggilnya.
"Iya, sayang ini tante Tantri. Tantenya Fafa dulu Fafa masih kecil sekali masih bawa botol dot," Tantri mencubit pipi keponakannya dengan gemas.
"Kenapa tante pakai jaket hitam dan tebal seperti pria?" Fafa mengamati penampilan tantenya yang memang seperti laki-laki.
Tantri pun menceritakan perihal caranya berpakaian yang berhubungan dengan pekerjaannya di hari tertentu saja jika ada shif malam. Agar orang mengira jika Tantri adalah laki-laki bukan perempuan, hanya untuk mengelabui para pengganggu yang biasa terjadi di jalan terlebih jika berangkat atau pulang malam.
"Mba Nadia dan kakak ipar mau ke pesta?"
"Iya kami akan menghadiri acara reuni teman mas Shaka. Mampir lah kerumah jika sempat Tantri, kami tinggal di rumah bunda Maya. Atau kau masih tinggal di rumah kita yang lama?" tanya Nadia Tantri terdiam menggeleng pelan.
"Kapan-kapan saja kita sambung ngobrolnya mba aku harus kerja." ujarnya sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ya sudah, mampir lah jika sempat kami tinggal bersama bunda" sambung Arshaka memberitahu.
Mereka saling berpamitan setelah bertukar nomor Whatsapp, Arshaka kembali ke mobilnya sama seperti Tantri kembali menaikki motor maticnya menuju tempat kerjanya di minimarket 24 jam dibilangan jakarta utara sebagai kasir.