
Setibanya di rumah sakit Shaka memarkirkan mobilnya di loby mengeluarkan tas dari bagasi yang berisi pakaian ganti untuk Nadia juga dirinya selama Nadia di rawat. Sebenarnya Nadia tidak apa-apa dan tidak perlu di rawat di rumah sakit setelah Nadia sadar dari pingsannya.
Bukan Arshaka Sakti Bimantara namanya jika belum memastikan kesehatan keluarganya terlebih itu adalah Nadia wanita yang paling dicintainya setelah bundanya. Ia akan menjaga wanita tercintanya lebih dari dirinya, Tanpa sengaja Andrea melihat Arshaka berjalan nampak tergesa-gesa melewati koridor diantara dinding ruangan yang bersisian. Andrea menghentikan langkah kakinya memanggil mantan kekasihnya yang hendak masuk kedalam diantara dinding pembatas tiap ruangan.
"Shaka kau di sini, Apa ada pasien darurat untuk mu?" tanyanya dengan penasaran melihat Arshaka yang nampak terburu-buru memasuki koridor.
"Iya. Maaf Andrea aku terburu-buru." jawabnya cepat tanpa lagi memperdulikan kehadiran Andrea yang seolah merasa tidak pernah ada hubungan antara dirinya dan Andrea wanita yang dulu pernah mengisi ruang hatinya.
Di dalam ruang dimana Nadia ada dalam perawatan dokter Sonya sahabat dari Andrea. Selama berada didalam menggantikan pakaian Nadia yang basah, Sonya menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi dari sorot matanya yang sinis.
"Jadi kau sudah menikah dengan kekasih dokter Andrea?" Sonya bertanya dengan intonasi tidak sukanya.
"Saya tidak menikahi pria yang masih milik orang lain." jawab Nadia dengan jawabanya yang cukup menohok.
"Tapi kamu sudah merebutnya disaat Andrea hampir meregang nyawa melawan penyakitnya.''
"Mencintai seseorang bukanlah sebuah kesalahan disaat pria mencoba bertahan pada kesetiaanya dan cinta butuh kepastian bukan menunggu yang tidak pasti. Terlepas dari itu Andrea sakit atau tidak cinta itu akan tetap sama dia akan mencari belahan dari jiwanya sendiri."
__ADS_1
"Orang-orang seperti mu itu pandai menjual kisah untuk mendapatkan cinta seperti yang kau mau. Contohnya dokter Arshaka dia muda, tampan, dia juga sukses putra dari pemilik rumah sakit ini. Target yang tepat bukan."
"Jika aku bisa mendapatkan target seperti apa yang kau katakan. Lalu kenapa orang-orang seperti kalian yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan berharta banyak kalian tidak mampu meraih apa yang seharusnya kalian miliki. Haruskah orang yang berpendidikan seperti mu mengatakan hal yang tidak pantas dengan tuduhan jahat tanpa adanya bukti bahwa suamiku adalah tagetku lalu bagaimana dengan mu sendiri dan sahabat mu itu?"
"Heh, tutup mulut mu atau Kau__" Dokter Sonya yang geram akan jawaban Nadia mengangkat tangannya ke udara hampir saja ia melayangkan tamparan karena kesal pada rival dari sahabatnya. Gerakan tangannya terhenti ketika Arshaka membuka pintu dan memergoki dokter Sonya yang hampir menamparnya.
"Dokter Sonya! Apa yang kau lakukan?" tegur Arshaka mendapati pemandangan yang tidak mengenakan. Dokter Sonya terkejut melihat atasannya yang tiba-tiba masuk ke dalam.
"Do__Dok_ter?" Suster Sonya nampak guguk melihat kehadiran Arshaka dengan pandangan tertunduk karena tertangkap basah ingin menyakiti istrinya.
"Maaf dokter. Tolong maafkan Saya." pinta Sonya menatap Nadia dan Arshaka setelahnya.
"Pergi! Saya minta pergi dari hadapan saya!" Sarkasnya penuh penekanan. Sonya pun pergi setelah Arshaka memberinya teguran keras karena telah berani melakukan hal kasar pada istrinya.
"Mas kau tidak benar-benar memecatnya bukan?" tanya Nadia melihat wajah suaminya yang telah merah padam karena marah dan penuh kecewa pada rekan kerjanya yang telah mendedikasikan dirinya sebagai tenaga medis selama hampir delapan tahun lamanya.
"Sayang kau tidak perlu lagi memikirkan orang lain terlebih jika orang itu membenci diri mu." tuntuntnya pada Nadia yang tidak
__ADS_1
ingin istrinya menjadi bahan olokan orang yang merendahkan dirinya karena setatus sebelumnya.
"Tapi dokter Sonya sudah__" Arshaka telah membungkam mulut Nadia dengan bibirnya. Dan naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya di samping Nadia memeluk perutnya dengan posisi memiringkan tubuhnya mencari kenyamanan di sana.
"Cepat tidur istirahatlah! Atau aku akan melakukannya di sini sampai kau tidak bisa lagi berkata-kata." Nadia menajamkan kedua matanya melihat Arshaka yang sudah memposisikan diri diatasnya mengungkung tubuhnya yang sudah terasa kaku, bibirnya menjadi kelu lagi-lagi suaminya telah menyatukan bibirnya kembali tanpa ada balasan dari Nadia yang menurutnya terjadi begitu saja secara tiba-tiba.
Arshaka tersenyum lucu melihat ekspresi wajah istrinya yang merah karena malu. Nadia yang heran akan sikap suaminya yang setiap harinya terlihat santun lembut dan datar. Kini tiba-tiba menjadi sangat agresif dan mesum yang akan melakukan itu di tempat yang tidak biasa diruang perawatan.
"Kau kenapa sayang? Kenapa jadi mematung seperti ini? Aku tidak mungkin melakukannya di sini apalagi kau sedang tidak baik-baik saja." ucapnya mengecup kening Nadia cepat lalu kembali memiringkan tubuhnya memeluk perut Nadia.
"Aku baik-baik saja mas dan aku tidak apa-apa. Kalau pun kau akan melakukannya di sini tidak masalah." Arshaka mendongakkan kepalanya memicingkan matanya heran akan ucapan istrinya yang seakan merasa tertantang.
"Benarkah? Apa kau serius sayang?" tanyanya dengan tatapan liarnya menggelitik leher istrinya dengan hidung mancungnya. Nadia tersenyum tipis mengangguk pelan sebagai jawaban seriusnya yang Arshaka pikir hanyalah candaan belaka.
Arshaka semakin menggoda istrinya dengan sentuhan sensualnya yang menimbulkan sedikit kegaduhan dan suara bising decitan ranjang akibat ulahnya. Dan itu membuat Andrea sangat tidak suka mendengarnya, niatnya yang hanya ingin tahu bagaimana keadaan Nadia justru harus mendengar jeritan manja dari keduanya dan itu sungguh membuat Andrea sangat muak mendengarnya.
"Mereka sungguh keterlaluan aku benci mendengarnya," Andrea segera menjauh dari ruangan yang telah telah tertutup rapat itu mengusapnya sudut matanya yang basah.
__ADS_1