Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Penyesalan


__ADS_3

Seperti biasa Arshaka duduk di meja kerjanya membaca dokumen laporan pasien dari perawat. Suster Faya menerima pesan singkat dari atasannya setelah membaca dan menutup aplikasi whatsapps nya. Suster Faya meraih alat medis yang di perlukan dan menemui dokter bedah diruang yang Arshaka tunjuk lewat pesan singkatnya, mereka pun bersiap dan bertemu di koridor.


"Suster Faya! Minta dokter Sonya untuk dampingi saya di ruang bedah sekarang!" perintahnya berjalan-jalan dengan langkah cepatnya. Sementara suster Faya mengerutkan keningnya bingung, Arshaka menghentikan langkahnya tiba-tiba mengepalkan tangan kirinya menepuk pelan keningnya bergumam. "Astaga! Saya lupa jika dokter Sonya tidak lagi di rumah sakit ini."


"Biar saya cari dokter lain, Dok," ucap suster Faya memutar arah.


Oke, Saya tunggu di ruangan."


Setelah beberapa menit suster Faya mencari dokter yang bisa mendampingi dokter Arshaka di ruang bedah dan ternyata bidan ada dokter yang memiliki waktu senggang kecuali dokter Andrea yang nampak duduk di meja kerjanya sambil berkutat dengan ponsel tangannya.


Mengingat adanya perseteruan antara dokter Andrea dengan dokter yang kini menunggunya di ruangan operasi yang tak lain adalah manta kekasih yang akan ditemuinya.


"Ahh,, masa bodoh dengan urusan mereka. Yang penting aku bisa membawa dokter pendamping mereka pasti profesional pada tugas.'' Pikir suster Faya memberanikan diri mengetuk pintu ruangan dokter Andrea.


Suster Faya masuk setelah mendapat jawaban dari dalam dan mengutarakan maksud kedatangannya. Dan Andrea antusias dengan pernyataan yang suster Faya sampaikan dan dengan senang hati menerima tawaran dari suster rawat.


Suster Faya Dokter Andrea masuk ke dalam ruangan, Arshaka melirik sepintas siapa yang Faya bawa sebagai dokter pendamping untuknya. Arshaka terdiam saat mata itu saling bertemu pandang dengan tatapan dinginnya.


"Shaka ak__"


"Lakukan pembiusan dan bersikaplah profesional!" perintanya datar. Andrea pun fokus pada tugasnya dan memberikan alat medis sesuai intruksi darinya.

__ADS_1


"Gunting! pintanya Andrea memberikan alat yang diminta Arshaka.


"Jahit!" Arshaka memerintah lewat sorot matanya pada Andrea. Entah benda apa yang Andrea senggol tanpa sengaja Andrea kesandung sesuatu dan hampir terjatuh ia berpegang kuat pada kedu lengan Arshaka.


"Konsentrasi dan fokuslah pada tugasmu jika tidak mampu keluar lah!"


"Ma__Maaf, Sha__"


"Lakukan!"


Suster Faya dan suster Mariyam saling melempar pandang setelah melihat insiden di dalam ruang bedah. Keduanya saling melepas nafas beratnya setelah hampir 90 menit didalam ruangan yang dianggapnya horor baginya.


"Akhirnya selesai juga, Sus takut juga ya kalo liat dokter Arsha kalo lagi tugas," ucap Suster Maryam pasa suster Faya di helaan nafasnya.


"Beruntung banget ya bu Nadia. Hebat bisa naklukin hati dokter Arsha." ujar suster Mariyam sambil menyandarkan kepalanya di bangku besi berandai-andai jika dirinya bisa seperti sosok wanita yang baru saja dikaguminya.


"Hei.... Kerja.... Kerja! Ngrumpi aja perempuan kerjanya!" ujar suster senior yang biasa dipanggil suster Amigos. Karena namanya sama dengan peran utama drama yang sempat trend di era 2000an.


"Suster Anna bikin senam jantung aja!" omel keduanya menatap Anna.


"Klian pasti sedang bergosip tentang dokter tampan yang baru dipindah tugaskan itu kan? Dokter Ibrahim," ujarnya menerka-nerka.

__ADS_1


" Kami juga sudah tahu itu Sus, lagian kita lg nikmatin jam istirahat setelah tadi ada di ruangan horor," ucap suster Faya sambil menunjukkan ekpresi wajahnya yang bergidik ngeri.


Suster Anna kembali berkeliling di jam piketnya meninggalkan dua suster yang masih asyik bergosip di bangku besi panjangnya.


***


"Shaka, tunggu aku perlu bicara!" Langkah Andrea mengejar Arshaka setengah berlari.


"Kau tidak perlu mengatakan apapun Andrea setelah apa yang papa mu dan kau lakukan pada Nadia istriku beberapa tahun lalu." ucap Arshaka skak Matt hingga membuat gerakan tubuh Andrea mati rasa dalam seperkian detik.


"Ak__" mendadak kerongkongan nya menjadi kering lidahnya berubah kelu Andrea tidak dapat menampik kenyataan yang didengar langsung dari mulut Arshaka.


"Berhentilah menjelaskan apapun yang ingin kau jelaskan!" sarkasnya menatap ke arahnya hingga mereka saling berhadapan.


Sepasang mata menatap iba kisah cinta Andrea yang bertepuk sebelah tangan. Dokter Ibra menghembuskan nafas lelahnya melihat sikapnya yang gigih yang masih saja ingin mengejar dokter yang sudah bersetatus suami orang.


Andrea diam mematung ditempatnya sedang Arshaka berjalan lurus meninggalkan keberadaan Andrea yang masih menyelami pikirannya yang kacau. matanya berkaca-kaca lari bersamaan dengan seluruh penyesalan merutuki kebodohannya yang pernah dilakukannya beberapa tahun lalu.


"Andrea!" Ibra menarik pergelangan tangan Andrea namun dihempaskan begitu saja. wanita itu lebih memilih lari tanpa mau mengatakan sepatah kata.


~ Hallo! Ayah kapan ayah pulang Fafa kangen ayah.

__ADS_1


Seru suara mungil bocah laki-laki dari seberang telpon menghubungi ayahnya.


__ADS_2