
"Hallo, Mama!" seru karin memeluk Kania yang tengah duduk bersantai di ruang tengah ditemani secangkir cofeelatte dan cemilan.
"Hallo, Karin sayang! Gimana jalan- jalannya hari ini sama oma, seneng?" tanya Kania membalas pelukan putri kecilnya Karin mengangguk membalas senyum pertanyaan mamanya.
"Kania ini undangan buat kamu dan Permadi," Mama Dita menyerahkan dua kartu undangan pernikahan untuknya.
"Undangan? Dari mana ma? Setahuku teman kantor mas Permadi tidak ada yang menikah,"
"Kamu buka aja undangannya belum kamu baca juga kan?" perintah mam Dita sedikit ketus. Kania mengindik kedua bahunya sambil menarik pita yang mengikat kartu undangan.
"Kartu undangannya unik banget dari kayu yang diukir, tulisannya juga unik dari ukiran pahatan tangan." decak kagum Kania melihat undangan yang nampak berbeda dari yang lain yang umumnya dicetak dengan berbahan kertas atau material kertas tebal dengan kualitas bagus.
Kali ini undangan yang bunda Maya dan suaminya buat dan dipesan secara khusus oleh pengrajin kayu ukir yang memiliki keterampilan khusus dari kota asalnya Jepara Jawa Tengah yang kini dikenal masyarakat Bali akan kualitas hasil tangannya.
Kania terperangah tak percaya, lidahnya tercekat seakan tidak mampu mengucapkan sebuah kata. setelah membaca nama pasangan mempelai pria dan wanita yang merupakan rivalnya. Yang belum lama ia sakiti dan hampir membuat wanita yang dibencinya celaka nyaris membahayakan nyawanya.
"Nadia dan Arshaka?! Jadi dia dan dokter itu belum menikah dan baru mau menikah? itu artinya mereka kumpul ke__"
__ADS_1
"Kania...! Jaga ucapanmu.
"Mas Permadi!" lirihnya hampir tak terdengar. Mama Dita segera meraih tubuh cucunya Karin kedalam gendongnya yang sudah menguap sejak masih berada di butik Hanna menuju kamarnya. Sebelum Permadi meluahkan amarahnya pada Kania yang selalu meributkan masalah Nadia yang jelas sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan Permadi kecuali putranya Atfa Rahendra Permadi.
Yang merupakan darah dagingnya dan masih membawa nama keluarga besar dibelakang namanya. Itupun jika suami baru Nadia belum mengganti nama belakang putranya dengan nama keluarga besar Arshaka.
"Sadar Kania! Kamu itu sebenarnya sedang membicarakan siapa? Lupa sama perbuatan kamu dulu kau sama saja dengan menguliti dirimu sendiri." Bentak Permadi tidak Terima jika Kania terus saja menjelekkan nama Nadia.
"Mma_Maaf mas A_Aku__"
"Sudahlah kau siapkan saja aku air untuk mandi!" Sarkasnya melempar tas kerjanya di sofa dengan kasar, menyandarkan diri disandaran sofa memejamkan kedua matanya dan pikirannya yang lebih lelah.
Mencampakkan hidupnya, membiarkan Nadia hidup dalam kesedihan bahkan menceraikannya disaat ibunya meregang nyawa di rumah sakit. Dituduh berselingkuh memfitnah dan memisahkan Nadia dari putranya setelah kepergian ayahnya.
Permadi membuka kedua matanya cepat setelah mendengar ucapan mamanya,
"Mama! sudahlah ma, jangan memperkeruh suasana hati Permadi. Aku tahu aku salah tapi jangan terus membuatku semakin berdosa, Ma." tolak Permadi yang tidak ingin terus disalahkan karena sebuah kebodohannya dimasa dulu.
__ADS_1
"Itu karena kamu sudah bertindak jauh tanpa lagi berpikir Permadi!" omel mamanya meluahkan kekesalannya pada dirinya sendiri yang turut menyesali pernah menyakiti Nadia tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dulu.
Permadi meninggalkan mamanya menyisakan rasa kesal diantaranya.
***
"Kenapa disaat aku mulai menyadari kesalahan Ku. Shaka justru membenciku dan tidak lagi mempercayai ku Ibra?" keluh Andrea pada Ibra mengatakan kejujurannya termasuk tindakan buruknya pada Nadia, meminta bantuan papanya untuk memisahkan Nadia dan Shaka.
Ibra tidak menyangka pada pengakuan Andrea yang dianggapnya sangat keterlaluan. Demi cinta butanya ia harus mengotori imagenya sebagai seorang dokter.
"Kau sungguh keterlaluan Andrea kau tahu itu fatal. Karirmu terancam dan kau bisa dipecat secara tidak hormat, sebagai seorang dokter ada kode etik sebuah janji dan sumpah yang kau ikrarkan untuk dipenuhi."
"Ya. Aku tahu itu Ibra. Aku tahu sebagai manusia biasa aku juga bisa khilaf dan salah, saat ini aku menyadarinya." ucap Andrea menangis menyesali atas segala perbuatannya.
"Sebaiknya kau temui Shaka dan istrinya kau buat janji pertemuan kau katakan semuanya sejujurnya, Andrea." Ibra memberi saran pada Andrea seraya mengusap bulir bening yang jatuh di pipinya. Mengusap lembut bibir merah indah Andrea hingga menimbulkan desiran lembut di tubuhnya.
Bunyi getar ponsel di saku jas putihnya memutus kontak fisiknya secara tiba-tiba, Ibra mau tidak mau harus meraih ponselnya.
__ADS_1
"Astaga! Aku lupa jika hari ini aku janji akan menjemput mama dan adikku di airport.
Andrea dan Ibra pun berpisah di taman cafe tempat mereka ngobrol setelah kejadian tidak mengenakan yang terjadi di koridor rumah sakit saat bersama Arshaka.