
Semua warga pojok sari telah berkumpul di area tenda posko dimana sebagian warga yang masih tinggal di tenda karena rumah masih dalam tahap perbaikan yang rusak karena terjangan air. Ada pula warga yang sudah pulang menempati rumah mereka masing-masing karena air akibat banjir berangsur surut dan tidak terjadi kerusakan pada bangunan rumah dari sebagian mereka.
Kepala desa memberi sambutan ucapan kata Terima kasih pada relawan dan semua yang turut berpartisipasi pada musibah alam akibat banjir yang hampir separuh menerjang sebagian rumah warga.
Semua warga pun puas dengan pelayanan para relawan yang menurutnya sangat baik dan ramah pada warga serta rasa kekeluargaan yang sangat tinggi setelah ucapan salam terakhirnya kini dokter Arshaka memberikan kata sambutan mewakili dari relawan sesama profesinya.
Dokter Arshaka memberikan kata sambutannya memberikan kesan, serta pesan pada warga pojok sari yang sudah dua minggu bertugas memberikan pelayanan kesehatan secara gratis. Pada warga serta memberikan sebuah bingkisan yang mungkin tidak seberapa nilainya. Namun bermanfaat untuk masyarakat pojok sari yang tengah dalam kesusahan, dan acara pun selesai Arshaka mengakhiri dengan salam penutup dan meminta Nadia istrinya untuk berdiri di sampingnya.
Nadia cukup kaget mendengar apa yang suaminya sampaikan di hadapan banyak orang. Nadia melirik ke sisi kanan dan kiri merasa tidak percaya diri jantungnya tiba-tiba bergemuruh tak karuan. Takut jika akan mempermalukan suaminya di hadapan orang banyak yang tengah menyaksikan dirinya berdiri di depan mereka.
"Saya ingin istri saya ada di samping saya berdiri mewakili dari Bazar Amal yang di selenggarakan langsung oleh anak perusahaan milik Aldo group. Yang di wakilkan langsung oleh Nadia chamelia istri saya." Nadia menelan salivanya susah payah tidak tahu harus mengatakan apa di depan sana.
Memang Aldo telah meminta Nadia untuk menjadi wakilnya sebelum rencananya kembali ke Batam namun, Nadia menolak dan meminta manager tim yang menghadiri acara. Namun proyek baru Aldo mengharuskan semua tim terlibat secara langsung dan meminta Nadia lah yang menurutnya tepat. Lalu Aldo mengatakan pada Arshaka untuk membujuk Nadia agar memberi sedikit ulasan dan bingkisan yang sudah di persiapan oleh panitia sebelumnya.
Akhirnya Nadia beranjak dari duduknya berjalan tanpa ragu meyakinkan dirinya jika dia mampu dan bisa. Nadia tidak ingin mengecewakan suaminya di depan khalayak umum, juga tidak ingin mengecewakan Aldo yang selama ini telah baik dan menolongnya.
Andrea melihat Nadia berdiri dari kursinya dengan senyum mengejek, senyum kecut yang Andrea lempar untuknya sebagai bahan ejekan yang yakin jika Nadia hanya akan mempermalukan dirinya dan Shaka.
Bagaimana bisa perempuan kampung yang tidak memiliki pendidikan tinggi akan mengatakan hal penting di depan banyak orang yang sebagian ada orang-orang penting di sana.
__ADS_1
Gumam Andrea yang menatap tidak suka pada Nadia, yang berjalan melewati dirinya. Dengan penuh percaya diri Nadia berdiri tegak menerima mikrofon dari tangan suaminya Arshaka meraih tangan Nadia dan menggenggam nya erat. Hingga semua yang melihatnya berdecak kagum, Arshaka memberikan motivasi pada Nadia agar tampil percaya diri.
Siapa sangka jika semangat yang suaminya berikan memberikan efek positif bagi Nadia sebagai mood booster untuknya. Entah darimana Nadia mendapatkan kata-kata yang mampu menghipnotis para pendengarnya, Arshaka memberikan tepuk tangan bangga pada Nadia jika istrinya pantas untuknya berdiri di sampingnya mendampingi langkah suaminya.
"Terima kasih sayang. Aku bangga pada mu," ucap suaminya dan memeluk Nadia. dan itu sangat membuat Andrea tidak suka bahkan api cemburu telah habis membakar dirinya.
Andrea segera bangkit dari duduknya meraih tasnya menjauh dari acara, melihat wajah kesal Andrea dokter Ibra pun beranjak menyusul mengikuti arah Andrea berjalan.
Nadia dan Arshaka pun kembali ke tempat semula, sambil mengedarkan pandangannya mencari Fafa yang ternyata masih asyik bermain dengan anak-anak korban banjir yang usianya tidak jauh beda darinya yang tidak jauh dari tenda.
Acara terakhir diisi dengan penyerahan bingkisan pada para korban juga amplop berisi uang untuk sedikit membantu para korban yang tengah kesusahan. Setelah saling berjabat tangan satu persatu orang-orang posko kembali ke tenda masing-masing.
Semua relawan bersiap undur diri dan pamit kembali ke rumah sakit mereka bertugas.
"Sayang kita harus kembali pulang besok ayah sudah harus bekerja." ucap Nadia pada Fafa.
"Baik bunda. Sampai jumpa lafael aku balik dulu.'' pamit Fafa pada Rafael teman barunya yang baru ia kenal di posko.
"Dada... Fafa....!" seru Rafael melambaikan tangannya ke udara.
Sebelum kembali ke Jakarta Nadia dan suami mampir ke Villa untuk membereskan dan merapihkan semua barang bawaannya. Sekaligus pamit pada Pak Bowo penjaga Villa yang di amanatkan oleh Bahtiar sahabat Aldo.
__ADS_1
Di mobil Arshaka kembali bersikap dingin dan datar pada Nadia. Arshaka hanya menjawab seperlunya saja jika Nadia bertanya.
"Mas sebelum ke jakarta kita bisa mampir dulu kan ke Cikarang? Di sana masih ada banyak yang harus aku urus terutama sekolah Fafa." Nadia melirik ke belakang kursi kemudian mendapati Fafa telah tidur dengan robot di tangannya.
"Ya." jawab Arshaka membuat Nadia kecewa dan kesal.
"Mas kamu marah lagi? Aku buat salah apa lagi sih?" tanya Nadia dengan mode kesalnya.
"Aku memang masih marah,"
"Tadi di acara mas baik-baik aja tidak marah sama sekali." papar Nadia semakin jengkel den wajah datar suaminya.
Di Villa Nadia membereskan koper juga barang milik Fafa yang hampir semua isinya mainan. Melihat Fafa masih tidur Nadia berniat pergi mandi karena lengket di tubuhnya akibat keringat dan cuaca yang sedikit panas di wilayah semarang dan sekitarnya. Arshaka masih sibuk di depan layar laptopnya membalas email yang masuk dari rumah sakit.
Melihat ponselnya tidak ada di sampingnya Arshaka pikir ada di kamar setelah menidurkan Fafa di ranjang. Ia pun masuk ke dalam tanpa sengaja melihat Nadia yang akan mengganti pakaian usai mandi.
Menutup pintu kamar sangat pelan berjalan mendekati Nadia di depan pintu lemari, melihat istrinya yang hanya mengenakan selembar handuk membuat rasa marah akibat cemburunya tiba-tiba menguap begitu saja.
Nadia terkejut tangan kekar suaminya memeluk tubuhnya yang masih basah dari belakang. Nadia melirik sekilas tanpa mengatakan sepatah kata hanya kedua matanya saja yang nampak ingin mengatakan sesuatu. Arshaka tidak perduli pada sorot mata tajam istrinya. Arshaka membalik tubuh Nadia hingga mereka saling berhadapan, melihat Nadia dengan handuk yang melilit di tubuhnya membuat sesuatu dibawah sana terasa sesak. Arshaka menarik tangan istrinya keluar ke kamar sebelah, takut aktifitas ranjangnya mengganggu tidur nyenyak putranya.
Mengunci pintu kamar dan menutup jendela lalu membawa tubuh Nadia dalam gendongnya. dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang, Arshaka mulai menyusuri apa sudah menjadi miliknya, sentuhan lembut namun memabukkan membuat Nadia memejamkan kedua matanya dikala handuk yang melilit tubuhnya telah lepas sempurna.
__ADS_1
Cinta tidak akan membiarkan yang di sayanginya merasa terluka, hanya adanya cinta yang dapat menyatukan sebuah perbedaan. rasa cemburu yang hadir menambah rasa cinta itu semakin terasa kuat, bukan cemburu buta yang merusak kadar cinta itu semakin berkurang bahkan hilang rasa sayang secara perlahan.