
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Seorang gadis berjalan setengah berlari menghampiri Violin yang sedang termenung didepan ruang ICU.
"Maa..!" panggil gadis tersebut, setelah tiba didepan sang Mama yang duduk dengan termenung. Sehingga tidak menyadari keberadaannya didepannya.
"Vira! kau datang?" Violin berdiri dan langsung memeluk sang putri.
"Ada apa Maa, Vira menelpon Papa. Tidak diangkat, begitu juga ponsel Mama. Sama saja, Vira hubungi rumah. Dan mbak Ina mengatakan bahwa Mama dan Papa berada di rumah sakit, apa dia melakukan kekacauan lagi?" tanya Vira, putri bungsu Bara dan Violin yang tersisih sedari kecil. Karena kecemburuan Mira, sehingga sedari kecil Vira tinggal bersama dengan neneknya.
"Kakakmu sangat membuat hidup kita kacau, sekarang. Dia sampai berbuat kejahatan dengan menculik dan mencelakai orang." cerita Violin pada putrinya Vira.
Vira terperangah, mendengar cerita Mamanya. Ingatan Vira kembali pada apa yang pernah dialaminya.
Dia ingat, dua tahun yang lalu. Dia hampir kehilangan nyawa, karena kecemburuan Mira pada sang adik Vira. Karena ada seorang pemuda yang menyukai Vira, dan Mira tidak terima. Kenapa pemuda itu menyukai Vira, bukan dirinya. Mira menyabotase rem mobil yang dikemudikan oleh Vira. Sehingga Vira mengalami kecelakaan.
"Maa, jika sejak apa yang Vira alami dulu kak Mira di bawa ke rumah sakit jiwa. Hari, keluarga kita tidak dibuat malu olehnya. Mama dan Papa terlalu memanjakannya, Vira anak kandung Mama saja tidak Mama manjakan seperti itu," ucap Vira.
Deg...
Violin menoleh ke arah sang anak yang duduk disebelahnya, dia tidak mengira. Vira mengetahui rahasia mengenai Mira.
"Siapa yang mengatakan Mira bukan kakak kandungmu Vira, apa Nenek?" tanya Violin.
"Vira mendengar pertengkaran Mama dan nenek, saat Mira ingin membunuhku," jawab Vira.
"Maafkan Mama Vira, bukan niat Mama membedakan kalian. Tapi jasa Mama kandung Mira pada Mama sangat besar, karena pertolongannya. Mama terhindar dari perkosaan, dan dia yang mengalaminya. Dan Mira, adalah hasil dari perkosaan itu."
Violin menceritakan semua tentang asal-usul Mira yang tersimpan rapat, tidak ada yang tahu. Kecuali keluarga terdekat saja.
"Apa karena dia hasil dari korban perkosaan, karena itu dia gila? tapi banyak anak yang lahir dari tindakan perkosaan. Mereka baik-baik saja." tutur Vira.
Pintu ICU terbuka, Bara keluar.
Violin dan Vira langsung berdiri.
"Bagaimana Paa?" tanya Vira.
"Vira, kau datang Nak." Bara senang, melihat Vira.
"Ya Paa, Vira baru tahu. Bagaimana keadaan kak Mira?"
Bara menggelengkan kepalanya, dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kedua matanya kemungkinan besar akan mengalami kebutaan, belum lagi tuntutan hukum yang akan diterimanya. Papa bingung, apa yang akan Papa jawab. jika dia sadar nanti," ucap Bara.
"Dengarkan Vira kali ini, jangan ada yang membantunya. Biarkan dia bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya," ucap Vira dengan tegas.
"Kenapa kau berkata seperti itu Vira, dia itu kakakmu..!" seru Bara dengan keras, sehingga ada beberapa pasang mata memandang kearah mereka.
"Paa, jangan keras bicaranya. Ini rumah sakit." ingatkan sang istri.
"Kakak yang ingin melenyapkan sang adik, maaf Paa. Vira sudah tahu dari lama, Vira tidak ada hubungan darah dengan Mira," ucap Vira.
Bara langsung memandang kearah wajah sang istri, mendapatkan tatapan mata dari Bara. Violin menggelengkan kepalanya, bahwa bukan dia yang membocorkan rahasia Mira.
"Bukan Mama yang mengatakan," ujar Vira.
"Cukup kalian mengurus dia! Vira juga ingin mendapatkan kasih sayang seperti yang didapatkan olehnya, apa Vira harus melakukan kejahatan dulu agar kalian melihat keberadaan ku ?" tanya Vira.
"Vira...!" Bara dan Violin terkejut mendengar perkataan Vira.
"Baiklah, aku pulang saja. Kalian urus saja dia." kemudian Vira pergi.
"Vira..!" panggil Violin, tetapi Vira tetap meneruskan langkahnya.
"Lihat, karena Mira. Kita kehilangan Vira, Mama letih Paa. Sudah cukup kita menjaganya..!" seru Violin.
*
*
"
"Tadi Papa Mira menghubungi Papa," ujar Budi Dwipangga pada sang istri dan putranya.
"Untuk apa? apa mereka ingin kita mencabut tuntutan hukum untuk putrinya?" tanya Maya.
"Iya," sahut Budi Dwipangga.
"Tidak! Mama tidak izinkan untuk mencabut laporan hukum pada wanita itu," ujar Maya.
"Joe juga tidak akan mencabut laporan Paa," kata Jonathan.
"Kemungkinan dia untuk tidak dijatuhi hukuman juga besar, karena dia pernah mendapatkan rawatan gangguan mental. Mungkin saja, mereka akan menunjukkan bukti riwayat gangguan jiwa. Agar dia terhindar dari jeratan hukum," kata Budi Dwipangga.
"Masuk rumah sakit jiwa, sama saja dia seperti dalam masuk penjara," ujar Maya.
"Cantik-cantik gila," sambung Maya kembali.
__ADS_1
"Bianca kenapa tidak turun makan Joe?" tanya Maya, karena sudah dua hari. Elvan dan Bianca tidak turun makan malam bersama dengan mereka.
"Sejak kejadian itu, El selalu makan cepat. Dan Bianca selalu makan bersamanya," kata Jonathan.
"Ohh..! Mama kira kalian masih ribut."
"Tidak Maa," sahut Jonathan.
Dalam kamar Elvan.
Bianca sedang berbincang-bincang dengan Ayu, sedangkan Elvan. Sudah tertidur.
"Bian, apa kau tidak masalah. Suamimu mengunjungi Chelsea?" tanya Ayu.
"Tidak, bagaimana juga. Apa yang terjadi pada Chelsea, karena untuk menyelamatkan Elvan," kata Bianca.
"Bagaimana jika cinta mereka bersemi kembali? apa kau sudah siap?" tanya Ayu lagi.
"Mbak, Bian ada berpikir. Mungkin saja, kejadian yang menimpa El. Suatu jalan untuk mereka bersatu, mas Joe dan Chelsea itu jodoh dunia akhirat. Sedangkan dengan Bian, hanyalah jodoh sementara," ucap Bianca.
"Hah! ada pikiranmu seperti itu?" tanya Ayu pada Bianca.
Bianca menganggukkan kepalanya.
"Buang jauh-jauh pikiranmu itu dari dalam kepalamu ini..!" seru Ayu seraya menunjuk kearah kepala Bianca.
"Mas Joe itu jodohmu! dan Chelsea jodoh orang lain, titik..!" seru Ayu.
"Dan kau Nyonya, jangan karena dia telah menyelamatkan El. Kau selalu mendiamkan suamimu itu untuk pergi menjenguknya, kau harus ikut. Karena dia telah menyelamatkan El, kau merasa sangat bersalah. Karena dia cedera serius," ujar Ayu.
"Sekarang, kau pergi tidur dengan suamimu. Layani dia, biar aku menemani El tidur. Jangan sampai ada kucing garong mengambil suamimu..!" seru Ayu seraya menarik Bianca untuk meninggalkan kamar, Elvan.
"Mbak Ayu, Bian ingin.."
"Tidak ada ingin-ingin..! sana, pakai baju yang menggiurkan iman mas Joe. Biar liur mas Joe meleleh sepanjang malam ini," ujar Ayu dengan mendorong Bianca masuk kedalam kamarnya, dan mengunci pintu penghubung.
"Aman, semoga teriakan mereka berdua tidak sampai kedalam kamar Elvan. Aduh.. sampai kapan aku menjadi janda perawan begini," ujar Ayu sembari merebahkan tubuhnya di samping Elvan.
"Hehehe..! janda perawan? siapa mengira, statusku janda. Tetapi masih perawan, untung. Suami laknat ketahuan belangnya, sebelum perawanku di bobolnya," ujar Ayu.
*
*
...BERSAMBUNG...
__ADS_1