Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Ungkapan abu-abu


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Mas, sekarang. Chelsea sudah tidak memiliki suami, dia sudah sendiri. Jika mas mau kembali padanya, mas tidak akan dikatakan sebagai perebut istri orang," ucap Bianca.


"Apakah itu yang kau harapkan aku lakukan? kembali padanya? meninggalkan Elvan?" tanya Jonathan seraya menatap Bianca yang membalingkan wajahnya, agar Jonathan tidak melihat raut wajahnya yang terlihat sedih.


"Bian tidak akan memisahkan kalian," kata Bianca.


"Bagaimana denganmu? apa cintamu untukku sudah terkikis oleh waktu? dulu kau sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkanku. Sampai kau konsultasi dengan dokter agar bisa hamil, hanya untuk mendapatkan kenangan-kenangan dariku. Jika aku menikah." perkataan Jonathan membuat tubuh Bianca sontak menegang, dia tidak mengira. Apa yang dilakukannya dulu, sudah diketahui oleh Jonathan.


"Mas tahu darimana cerita itu?" tanya Bianca.


"Tidak perlu kau tahu, darimana aku tahu. Sekarang, kau ingin melepaskan aku untuk orang yang telah mempermainkan cinta?" tanya Jonathan dengan suara yang sinis menatap Bianca.


"Kalau Mas tidak bahagia dengan Bian, untuk apa Bian bertahan. Cinta itu harus melepaskan orang yang kita cintai kepada orang yang lebih mencintai orang yang kita cintai itu," kata Bianca.


"Lebih mencintai, apa Chelsea lebih mencintai aku? dan kau hanya sedikit mencintaiku?" tanya Jonathan.


"Cinta Bianca besar kepada Mas Joe, hingga Bianca rela melepaskan mu Mas. Jika itu akan membuat Mas Joe gembira."


"Aku bukan barang yang bisa di pindahkan sesuka hati, aku punya perasaan Bian. Dengan melepaskan ku, apa kau merasa aku bisa bahagia," ujar Jonathan dengan suara yang kesal.


"Bukannya Mas Joe masih sangat mencintai Chelsea?"


"Itu menurutmu! apa karena kau melihat kami berpelukan, kau sudah mengatakan aku masih sangat mencintainya? jangan menarik persepsi sendiri," kata Jonathan.


"Bisa saja yang kau lihat, tidak seperti yang kau bayangkan," ujar Jonathan.


"Kedua mata ini melihat dengan jelas Mas, mata ini belum rabun. Untuk melihat dua insan berpelukan melepaskan rindu," ujar Bianca.


"Matamu ini belum rabun, tapi otak kecil yang ada dalam kepala ini yang membuat matamu ini rabun. Lihat dengan jelas, apa aku membalas pelukannya?" tanya Jonathan.


"Apa tanganku ini melingkar ditubuhnya seperti apa yang kulakukan padamu saat ini?" tanya Jonathan seraya memeluk erat tubuh Bianca, sehingga tubuh Bianca menempel erat ke badan Jonathan.


"Bagaimana? apa matamu yang belum rabun ini melihatnya?" tanya Jonathan.


"Bian tidak tahu, yang pasti. Bian lihat mas itu berpelukan dengan Chelsea, titik..!" seru Bianca.


"Kenapa waktu itu langsung pergi? seharusnya pertahankan hak mu sebagai istri, jangan main pergi saja. Kemudian lari meninggalkan rumah," kata Jonathan.


"Untung Mama dan Papa tidak tahu, tentang ini semua. Doa saja, semoga Mama dan Papa tidak pernah tahu," kata Jonathan.


"Apa mas Joe tidak memiliki perasaan lagi pada Chelsea?" tanya Bianca.

__ADS_1


Jonathan tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.


"Betul mas, tidak ada lagi nama Chelsea di sini dan sini?" jemari Bianca menunjuk kearah dada dan kepala Jonathan.


Lagi-lagi, hanya gelengan kepala yang dilakukan oleh Jonathan.


"Apa disini dan sini, sudah ada nama Bian?" tanya Bianca dengan malu-malu, seraya menunjuk dada dan kepala Jonathan.


Jonathan menatap wajah Bianca, senyum smirk terukir di sudut bibirnya.


Jonathan menurunkan Bianca dari atas pangkuannya, kemudian Jonathan naik keatas ranjang. Dan tidur.


"Mas!! jawab dulu pertanyaan Bian..!" seru Bianca seraya melangkah menuju ranjang.


Bianca naik keatas ranjang, dan duduk disamping Jonathan yang tidur memunggunginya.


"Mas..! apa mas sudah bisa mencintai Bianca? jawab..!" seru Bianca dengan merengek seperti anak kecil.


Jonathan memutar badannya, dan menatap Bianca.


"Apa wanita sangat membutuhkan ucapan? apa perlakuan saja tidak cukup? ayo tidur." Jonathan menarik tubuh Bianca untuk baring disisinya.


"Mas Joe," ucap Bianca yang belum puas dengan jawaban Jonathan.


"Hihh..!" kesal Bianca.


Cup..


Kecupan sekilas didaratkan Jonathan dibibir Bianca, kemudian menarik tubuh Bianca kedalam pelukannya.


*


*


*


Pagi tiba, Maya sudah siap sedia untuk berangkat menemui wanita yang telah menganggu ketenteraman rumah tangga sang putra.


"Maa, mau kemana?" tanya sang suami yang baru bergabung di meja makan.


"Mau melakukan misi penyelamatan," jawab Maya.


"Penyelamatan? Penyelamatan siapa? Mama jangan aneh-aneh ya, Mama itu sudah tua. Jangan sampai Papa menjemput Mama di kantor polisi," ucap Budi Dwipangga, sang suami.


"Kantor polisi? untuk apa Mama di sana?' tanya Maya pada sang suami yang sedang menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


"Mungkin saja Mama merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan hukum," ucap Budi Dwipangga.


"Sepertinya, iya," sahut sang istri dengan santai.


"Mama! jangan buat masalah, kita tidak tahu keberadaan Bianca dan cucu kita. Jonathan juga, belum ada kabar. Di mana mereka ," ujar sang suami.


"Karena itu Pa, Mama mau menemui wanita itu. Mama ingin tahu, apa Jonathan bersama dengannya," kata Maya.


"Papa ikut..!" seru Budi Dwipangga pada sang istri, karena takut. Sang istri tidak dapat menahan emosinya.


"No! Papa tidak boleh ikut, ini urusan wanita. Jika papa ikut, nanti urusan akan panjang. Kami sesama wanita, jika gelud nanti tidak akan terjadi apa-apa," ucap Maya.


"Maa, jangan melakukan kekerasan pada gadis itu. Bicaralah baik-baik," ujar sang suami.


"Jika dia yang tidak ingin bicara baik-baik, apa Mama harus tetap diam. Oh..tidak! Mama akan ajak gelud dia. Jangan karena dia masih muda, dikira Mama takut..!" Seru Maya.


"Salma..!" Panggil Maya.


"Mama bawa Salma? Untuk apa?" tanya Budi Dwipangga.


"Untuk jadi teman Pa, bagaimana jika nanti Mama ribut dengan si Chelsea. Siapa yang akan menjadi suporter untuk mendukung Mama" kata sang istri.


"Mama, jangan lakukan yang aneh-aneh. Bicara baik-baik, katakan. Bahwa anak kita Jonathan sudah menikah, dan sudah punya anak," ucap Budi Dwipangga.


"Papa seperti tidak tahu saja, rumput tetangga itu lebih hijau. Pasti banyak yang mau, si Chelsea itu juga seperti itu. Lebih suka dengan suami orang, Mama juga heran dengan orang itu. Kenapa dia kembali? Kenapa tidak hilang saja selamanya," ucap Maya.


"Mama ini, tidak boleh bicara seperti itu," ujar sang suami.


"Mana si Salma, kenapa lama sekali? Salma!" panggil Maya, lebih nyaring dari panggilan pertama.


Salma datang dari arah belakang, dengan memakai topi tebalik menutup rambutnya panjangnya. Kaca mata hitam menghiasi wajahnya.


"Nyonya come on, kita let's go," ujar Salma dengan bahasa Inggris campur-campur, dengan gaya slengekan. Ditangannya tergenggam payung. Di pundaknya tergantung ransel.


Budi Dwipangga tertawa melihat Salma dengan dandanan yang aneh menurut sang majikan.


"Salma, kenapa kau dandanan seperti begajul begitu?" tanya Maya pada asisten rumah tangganya.


"Nyonya, kita ini mau berperang. Kita harus mempersiapkannya dengan matang, jangan nanti kita kalah sebelum berperang," ucap Salma.


"Mama, ingat pesan Papa. Bawa bicara baik-baik, Mama sebagai orang tua harus mencontoh perilaku yang baik. Jangan main serang saja," ujar Budi Dwipangga mengingatkan sang istri untuk memegang adab ketimuran.


...BERSAMBUNG...


...🌟🌟...

__ADS_1


__ADS_2