Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Tersisih


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


Chelsea gembira melihat Jonathan berdiri didepan pintu kamar tempat dia di rawat, tetapi. Senyumnya seketika memudar, saat melihat siapa yang muncul dari balik punggung Jonathan.


"Tante, Om." sapa Chelsea.


"Bianca." batin Chelsea.


Maya masuk, diikuti oleh sang suami. Lalu kemudian disusul oleh Jonathan dan Bianca.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Maya.


"Baik Tante, hanya tidak nyaman dengan kedua kaki yang dibalut gibs begini," sahut Chelsea.


"Apa kata dokter?" tanya Budi Dwipangga.


"Perlu beberapa bulan untuk bisa dibawa berjalan kaki ini," sahut Chelsea.


"Aida, bawa kursi ke sini." titahnya pada asistennya.


"Biar kami ambil sendiri," ujar Maya seraya menarik kursi untuk dia duduk.


"Aida, tolong belikan minuman. Di sini tidak ada minuman ." titahnya pada sang asisten kembali.


"Tidak usah, kami tidak ingin merepotkan." ujar Budi Dwipangga pada Aida yang ingin pergi keluar untuk membeli air minum.


"Bu Chelsea, saya kembali ke restoran dulu ya." pamit Aida.


Chelsea menganggukkan kepalanya, lalu kemudian. Aida keluar dari dalam kamar Chelsea.


Bianca melangkah mendekati ranjang Chelsea, dan kemudian memegang tangan Chelsea.


"Mbak, terima kasih," ujar Bianca dengan suara yang bergetar.


Chelsea kaget, mendengar Bianca mengucapkan terima kasih padanya dengan suara yang bergetar.


"Terima kasih! Terima kasih untuk apa?" tanya Chelsea.


"Karena telah menyelamatkan Elvan, putra kami," jawab Jonathan yang berada dibelakang Bianca, kedua tangannya memegang bahu sang istri.


"Putra kalian! Jadi anak yang di culik oleh Mira adalah.."  Chelsea tidak menyelesaikan ucapannya.


"Cucuku." Maya melanjutkan ucapan Chelsea yang menggantung.


"Ternyata, wanita itu sangat menyukaimu. Sehingga dia kehilangan akal, sampai berani berbuat nekad dengan melakukan kejahatan," ucap Chelsea.


"Nasib sungguh hebat mempermainkan aku, anak yang aku tolong. Ternyata, dia anak wanita yang telah memisahkan aku dari Jonathan." batin Chelsea.

__ADS_1


"Kami mengucapkan terima kasih padamu Nak Chelsea, karena berkat pertolonganmu. Cucu kami terhindar dari marabahaya," ujar Budi Dwipangga pada Chelsea.


"Karena bertepatan saya yang berada di situ Om, saya menolongnya. Bisa saja tadi orang lain membantunya, Sandy. Dia yang pertama mau menolong, tetapi Mira memukulnya," kata Chelsea.


"Kami sudah menjenguknya, dia mengalami pendarahan di kepalanya," ucap Jonathan.


"Bagaimana dengan putramu Joe, siapa namanya?" tanya Chelsea.


"Elvan," sahut Bianca.


"Bagaimana keadaannya? waktu aku ingin membawa dia lari, aku terjatuh. Dan saat aku terjatuh, mobil Mira menabrakku. Sebenarnya, dia ingin menabrak Elvan."


Chelsea menceritakan dari mula dia mengikuti Sandy, sampai ketempat di mana dia melihat seorang anak kecil laki-laki terbaring di tanah.


"Dia perempuan yang benar-benar keji..! dia ingin menabrak anak kecil yang belum bisa membela diri ?" geram Maya mendengar cerita Chelsea.


"Sebenarnya, saya pernah dengar selentingan mengenai Mira, tapi saya tidak begitu yakin sebelum melihat langsung," kata Chelsea.


"Ada apa?" tanya Jonathan.


"Itu kata orang yang mengenalnya, aku juga tidak mengetahui kebenarannya." sambung Chelsea.


"Mira itu ada penyakit gangguan mental, saya mengenalnya jauh sebelum di universitas. Kami satu SMA, mungkin dia tidak terima kau telah menikah," kata Chelsea.


"Semoga kau tidak seperti dia, cukup satu orang gila yang menyukai Joe." batin Maya, yang belum terlalu percaya dengan Chelsea.


Suasana yang tadinya sedikit kaku, kini mulai cair. Maya dan Chelsea sudah bisa bicara dengan cair tidak ada kesan jutek yang ditujukan Maya kepada Chelsea.


"Mama sudah bisa nyantai bicara dengan Chelsea." batin Bianca seraya memperhatikan ketiganya saling bergurau dengan Chelsea.


Tidak ada yang memperhatikan perubahan Bianca, semua asik dengan perbincangan yang menyangkut pekerjaan mereka masing-masing. Dan Chelsea bisa mengimbangi apa yang menjadi topik dalam pembicaraan.


Ketika Bianca berdiri dan keluar dari dalam kamar Chelsea, tidak ada yang tahu. Bianca keluar, dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Sampai dia tiba di kantin rumah sakit, dan dia memesan satu gelas kopi hitam.


Bianca duduk dan menyesap kopi hitam yang tidak pernah di minumnya lagi, sejak dia masuk rumah sakit karena mengkonsumsi kopi secara berlebihan. Kini, kopi yang dia usahakan untuk tidak disentuhnya. Berada tepat didepannya, dengan aroma khasnya. Mengundang Bianca untuk meminumnya.


Bianca meneguk kopi tersebut sampai tandas, setelah terasa dingin.


"Apa cinta mereka akan bersemi kembali? tidak ada penghalang lagi, Chelsea sudah tidak menikah lagi. Dan Mama juga tidak membencinya lagi." gumam Bianca, tak terasa. bola matanya sudah berembun, dengan cepat Bianca mengusap sudut bola matanya.


"Ahh..! kenapa pikiranku seperti ini? tapi bagaimana jika apa yang aku pikirkan menjadi kenyataan? mas Joe merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mbak Chelsea.


"Mungkin saja kejadian yang menimpa El, cara Tuhan untuk menyatukan mereka kembali. Bagaimanapun juga, mereka pernah saling cinta." gumam Bianca.


Bianca tidak merespon ponselnya yang berbunyi sedari tadi, karena dia semakin larut dengan lamunannya.


Jonathan yang menghubunginya, gusar. Karena Bianca tidak menjawab panggilan ponselnya. Dan tidak ada yang tahu, saat Bianca keluar dari kamar Chelsea.


"Kemana dia? pergi tidak bilang-bilang." gerutu Jonathan kesal, dengan terus menghubungi ponsel Bianca.

__ADS_1


"Mungkin dia ke toilet Joe," kata sang Mama.


"Sini ada toilet Tante, untuk apa keluar," ujar Chelsea.


"Mungkin kurang leluasa kalau toilet sini," ucap Maya.


"Biar Joe cari keluar," ujar Jonathan.


Saat Jonathan ingin keluar, pintu terbuka. Bianca masuk kedalam.


"Dari mana saja kau Bianca? pergi tidak bilang-bilang! buat orang panik..!" seru Jonathan dengan suara yang keras, hingga membuat Bianca kaget. Karena Jonathan tidak pernah memarahinya dengan suara yang keras. Apalagi didepan orang. Kecuali dulu, saat dia menjebaknya. Jonathan marah kepadanya, itu juga tidak didepan orang.


"Aku ke toilet,maaf. Aku melihat kalian asik bicara, sehingga tidak mungkin menyadari bahwa aku tidak ada" sahut Bianca dengan suara yang pelan.


Deg...


"Apa Bianca merasa tersisihkan, karena obrolan kami yang tidak dipahaminya." batin Jonathan.


Jonathan menatap mata Bianca, dan Bianca langsung mengalihkan pandangannya kearah Chelsea dan melangkah mendekat kearah ranjang.


"Mbak Chelsea, sekali lagi. Terima kasih," ucap Bianca.


"Sekarang kita sudah berteman kan?" tanya Chelsea pada Bianca.


"Iya," sahut Bianca.


"Maa, Paa. Bian duluan ya. Mbak Ayu tadi menghubungi Bian, El rewel karena tidak ada Bian saat dia bangun tadi," kata Bianca pada Maya dan Budi Dwipangga.


"Mama nunggu Aida balik, kasihan Chelsea sendiri di sini ," kata Maya.


"Joe, kau antar Bianca saja. Biar Papa suruh Pak Asep untuk datang menjemput kami," kata Budi Dwipangga.


"Biar Bian naik taxi saja Paa," tolak Bianca.


Tanpa menunggu apa yang dikatakan oleh Jonathan, Bianca sudah berjalan menuju pintu keluar.


"Joe antarkan! kau itu, kalau marah itu lihat-lihat tempat," ujar Budi Dwipangga pada sang putra.


"Dia itu, main pergi tanpa mengatakan apapun," ujar Jonathan.


"Cepat susul..!" seru Maya pada Jonathan.


"Iya," sahut Jonathan.


"Semoga cepat sembuh ya chel," ujar Jonathan sebelum pergi dari kamar rawatnya.


*


*

__ADS_1


...*BERSAMBUNG...


Nah..Lo, ada yang cemburu?


__ADS_2