
Happy reading guys 🥰
👇👇
Wahyu benar-benar malu dengan istri sirinya tersebut, dengan kesal. Wahyu mencekal tangan Safira, menariknya untuk pergi.
"Mas! Sakit..!" seru Safira.
"Diam kau..!" seru Wahyu dengan suara keras pada Safira.
"Tunggu Pak Wahyu, Pak Wahyu mungkin heran. Kenapa saya tidak mau bekerja sama dengan restoran Pak Wahyu, itu karena kelakuan istri anda itu pada calon istri saya. Biar orang mengatakan saya tidak profesional, mencampurkan urusan pribadi dan bisnis. Tapi, saya sangat menyayangi calon istri saya. Saya tidak akan mau menjalin kerjasama dengan orang yang membenci calon istri saya," ucap Antonio.
"Calon istri?" Wahyu cukup terkejut, walaupun dia curiga. Ayu ada hubungan spesial dengan Antonio, tapi dia tidak mengira. Ayu calon istri chef Antonio yang terkenal di dunia kuliner.
"Saya dan Ayu akan menikah bulan depan, saya tahu. Ayu mantan istri anda dari mulut istri anda yang sudah menyerang Ayu di restoran saya, beberapa bulan yang lalu. Hal itu yang membuat saya tidak ingin menjalin kerjasama sama dengan restoran bapak, attitude istri anda sangat mengecewakan. Saya takut akan berimbas dengan kerjasama kita." Cerita Antonio membuat Wahyu memandang Safira dengan aura wajah yang marah, Wahyu sangat malu dengan kelakuan Safira. Yang telah membuat, bisnisnya berjalan ditempat.
"Kau...!" geram Wahyu, giginya sampai berbunyi saling berbenturan. Saking kesal kepada Safira untuk telah membuatnya malu.
Safira menundukkan kepalanya, dia takut dengan raut wajah Wahyu menatapnya.
"Mas Wahyu kelihatannya sangat marah, apa aku bisa membuatnya memaafkan kesalahanku. Semoga mas Wahyu bisa aku rayu dengan tubuhku ini." batin Safira.
"Permisi Pak," ujar Wahyu seraya menarik Safira, tangannya mencengkram tangan Safira.
"Mas Wahyu, jangan pergi dulu. Aku belum puas menghajar mereka semua..!" seru Safira dengan berteriak kencang, dia tidak perduli orang-orang melihat kelakuannya.
Sepertinya, Safira belum menyadari kesalahannya. Sehingga, dia belum mau menyerah.
Dengan perasaan kesal, begitu sampai ditempat mobil mereka terparkir. Wahyu menghempaskan tubuh Safira, sehingga Safira jatuh terduduk dilantai.
"Kau sudah membuat aku malu! Kau sudah menghambat restoran ku berkembang..! Kelakuanmu ini membuat kedua orang tuaku tidak pernah akan menerimamu Safira..! Membuat kakekku membencimu dan tidak mengakui aku sebagai cucunya lagi..! Puas kau...! telah membuat aku kehilangan keluarga..!" Wahyu melampiaskan kemarahannya dengan menggebu-gebu. Matanya merah, menatap wajah Safira yang terdiam dihadapannya.
"Aku tidak membuatmu malu Mas, mantanmu itu saja yang tidak move on darimu..!" balas Safira.
"Move on kau bilang! Apa kau tidak dengar tadi, Ayu akan menikah dengan Antonio..! Antonio, orang yang terkenal dan orang kaya...! Sial..! Aku membuang Ayu istri pembawa rezeki, dengan wanita pembawa sial sepertimu..! betul kata kakek dulu, aku akan terpuruk. Usaha restoran ku jalan ditempat, itu karena kau pembawa sial..! Kita harus berpisah! Mulai detik ini kau bukan istriku lagi, aku haramkan kau menyentuh tubuhku ini..!" seru Wahyu, lalu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Safira yang berdiri terpaku. Mendengar talak yang diucapkan Wahyu kepadanya.
"Mas Wahyu menceraikan ku.," Ujar Safira dengan raut wajah bingung.
"Dia mentalakku?" Safira kaget mendengar kalimat talak yang keluar dari mulut Wahyu.
Begitu tersadar, Safira tidak melihat lagi keberadaan mobil Wahyu didepan matanya.
"Mas Wahyu...!" pekik Safira sembari berlari mengejar mobil Wahyu yang sudah pergi meninggalkan area parkir Mall.
Orang-orang yang mendengar pertengkaran keduanya, memandang sinis Safira. Karena mengetahui, Safira telah menjadi perusak rumah tangga orang.
"Kasihan..! Makanya mbak, jangan lihat milik orang. Sekarang, ditinggalkan..!" seru seorang wanita yang ingin masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Safira tidak mendengar cemoohan orang-orang, dia terus berlari mencari keberadaan mobil Wahyu.
*
*
*
"Mas Joe...!" suara Bianca terdengar keras, membuat Jonathan yang sedang berada didalam kamar Elvan kaget.
"El, sepertinya Mama memanggil Papa," ujar Jonathan.
"Apa papa melakukan kesalahan? di sekolah, guru Elvan jika memanggil teman Elvan dengan berteriak keras. Karena teman-teman Elvan melakukan kesalahan," ujar Elvan sembari menatap wajah Jonathan.
"Kesalahan? gawat, hah..! Pasti gara-gara apa yang dibeli, sial..! Mereka tidak ada untuk membela aku."
"El, ayo kita ketempat Mama." bujuk Jonathan, agar Elvan mau menemaninya menemui Bianca.
"Tidak..! El mau melihat ayah bebek..!" seru Elvan dan berlari meninggalkan Jonathan didalam kamarnya.
"El...!" panggil Jonathan, tetapi Elvan sudah keluar dari dalam kamar. Hingga tidak mendengar panggilan Jonathan.
"Nasib..! Amar, Kamal, Antonio. Kalian membuat aku sengsara..!"
"Mas Joe...!" Suara Bianca melengking kembali memanggil sang suami.
"Ada apa?"
"Ini apa? Ini, ini lagi?" Bianca mengembangkan baju yang dibeli Jonathan untuk anak umur dua tahun dan tiga tahun dihadapannya.
"Baju," sahut Jonathan.
"Baju untuk siapa?" tanya Bianca dengan mendelik menatap Jonathan.
"Untuk putri kita Yank..! Masa untuk Elvan," sahut Jonathan.
Jonathan meraih bando telinga kelinci, dan memakainya.
Bianca ingin tertawa, tapi ditahannya. Dia tahu, Jonathan ingin dia melupakan apa yang dibeli olehnya.
"Bagus Yank?" tanya Jonathan sembari menggoyangkan kepalanya kiri dan kanan, membuat telinga kelinci goyang-goyang.
"Jangan mengalihkan masalah, tadi sudah Bian bilang. Beli barang yang dibutuhkan baby, ini baju untuk anak berusia 3 tahun mas. Baby belum membutuhkannya..!"
"Tapi bagus Yank, itu semua mereka yang membelinya Yank. Kamal, Anton dan Amar, kalau mau marah. Mereka juga di marahi Yank, jangan mas saja. Tidak adil," ucap Jonathan dengan suara dan wajah semelas mungkin.
"Jangan buat wajah sedih begitu, tidak ngaruh. Siapa yang akan Makai baju ini, buat Joan kekecilan. Tidak mungkin Elvan pakai baju perempuan..!"
__ADS_1
"Untuk putri kita Yank, pasti cantik," ujar Jonathan bangga dengan baju yang dibelinya.
"Masih lama Mas...! ini lagi, sepatu besar begini..!" Bianca mengambil sepatu yang dibeli Jonathan.
"Cantik Yank, sepatu balerina," ujar Jonathan.
"Cantik Mas, tapi belum butuh. Membuat penuh kamar saja," ujar Bianca.
"Berapa habis beli ini semua?" tanya Bianca.
"Tidak banyak Yank, itu juga ada Anton. Amar dan Kamal yang bayari, kado untuk kelahiran putri kita," ujar Jonathan.
"Berapa?" tanya Bianca kembali.
"Tidak banyak, hanya delapan," jawab Jonathan.
"Delapan juta! sedikit sekali." gumam Bianca heran, karena barang menumpuk. Hanya delapan juta.
"Delapan puluh juta Yank," ucap Jonathan, dan begitu selesai mengatakannya. Jonathan sudah berlalu dari dalam kamar.
"Hah...! Delapan puluh juta!? Mas Joe...! Kembali..!" Panggil Bianca.
"Mas mau lihat Elvan..!" sahut Jonathan, hanya menunjukkan kepalanya sedikit didepan pintu.
"Delapan puluh juta!? hanya untuk untuk membeli perlengkapan satu bayi? Mas Joe tidak akan aku izin belanja selamanya..!"
Bianca mengeluarkan barang-barang yang dibeli Jonathan, dan memeriksa label harga. Matanya terbelalak melihat label harga yang tertera di barang-barang yang dibeli Jonathan dengan ketiga temannya.
"Bando begini seratus lima puluh ribu, di pasar hanya sepuluh ribu begini," ujar Bianca, saat melihat bando telinga kelinci.
"Baju sekecil ini lima ratus ribu, dasar laki-laki. Pasti main ambil saja, tidak lihat harga."
"Sepatu balerina satu juta, untuk apa? anaknya belum tentu mau ikut balet." Bianca terus mengomel melihat harga barang yang dibeli Jonathan.
Bianca beranjak mendekati tempat tidur yang dibeli Jonathan, dan melihat harga tempat tidur tersebut.
"Tiga puluh lima juta!? Bianca menepuk jidatnya, melihat harga tempat tidur yang dibeli Jonathan.
"Beli bebek super sudah dapat banyak, dan menghasilkan uang. Mas Joe di blacklist, tidak boleh belanja."
*
*
*
...BERSAMBUNG...
__ADS_1