Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Menghajar


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


Empat jam dalam perjalanan, Budi Dwipangga dan Maya tiba dirumah dini hari. Keduanya disambut oleh Bik Minah dan Salma, sedangkan pelayan yang pria sudah masuk kedalam mimpi sejak lima jam yang lalu.


"Akhirnya, kita tiba juga," ujar Budi Dwipangga seraya menggerakkan tubuhnya untuk melakukan perenggangan, karena duduk didalam mobil berjam-jam. Membuat tubuh tuanya mengalami keram di sekujur tubuhnya.


Sedangkan sang istri begitu turun dari mobil, langsung menghampiri dua asisten rumah tangganya yang sedang terkantuk-kantuk menunggu kedatangan majikannya.


"Salma, bagaimana? apa sudah ada kabar? Jonathan apa sudah pulang?" cercaan pertanyaan dari  Maya, membuat rasa kantuk Salma dan Bik Minah hilang seketika.


"Maa, kan Joe pergi mengurus proyek pembangunan sekolah," sahut sang suami.


"Mungkin karena itu, ponselnya tidak aktif Maa. Signal sulit didapat di daerah sana," ujar Budi Dwipangga sembari masuk kedalam rumah, meninggalkan sang istri yang masih berada diluar bersama dengan kedua asisten rumah tangganya.


"Apa lokasi proyeknya itu sangat terpencil? Sampai signal tidak ada? untuk apa bangun sekolah jika tempatnya sangat terpencil, apa sekolah dibangun untuk para dedemit dan sekutunya? pasti Joe pergi dengan wanita itu, Mama yakin..!" seru Maya pada sang suami yang sudah naik kelantai atas menuju kamarnya.


"Dia tidak pergi ke proyek, pasti. Kita telah ditipu anak itu." sambung Maya.


"Bik, tolong siapkan kamar untuk Pak sopir." titah Maya pada Bik Minah.


"Salma, ayo. ikut." titah Maya pada Salma.


Salma mengikuti Maya yang melangkahkan kakinya menuju kamar Elvan.


Begitu tiba di kamar Elvan, Maya duduk ditepi ranjang. Tangannya mengelus sprei yang dingin, karena tidak ditiduri oleh sang pemilik ranjang. Elvan, sang cucu.


"Di mana mereka berdua? apa mereka kembali ke desa? rasanya tidak mungkin dia pulang ke sana?" Maya sibuk berpikir mengenai keberadaan Bianca dan Elvan.


"Nyonya, ini surat yang ditinggalkan Non Bianca." Salma memberikan selembar kertas putih pada Maya.


Maya dengan cepat mengambil surat tersebut dan membacanya.


Mama.


Terima kasih, karena telah menerima Bian sebagai menantu. Tapi Maa, pernikahan tidak ada cinta. Sangat sulit untuk untuk dijalani, karena itu Maa.


Terimalah Chelsea, Ma. Dia sudah kembali, Mas Joe sangat mencintainya. Biarkan Mas Joe mendapatkan kebahagiaannya, karena kebahagiaan Mas Joe tidak bersama dengan Bianca.


Walaupun Bian tidak menjadi menantu Mama dan Papa lagi, Bian akan tetap mengizinkan Elvan untuk bertemu dengan Opa dan Omanya.


Bian sayang Papa dan Mama.


                


Selesai membaca surat dari Bianca, tangisan dan air mata mengalir deras meluncur dari kedua belah pipi Maya.


"Nyah.! jangan nangis, nanti Nyonya sakit..!" seru Salma dengan khawatir, karena sang majikan sudah menangis meratapi kepergian menantu dan cucunya.


"Biar! biar saya sakit! biar senang anak kurang ajar itu dengan perempuan itu..!" seru Maya sembari menangis tersedu-sedu.


Karena saking kesalnya, Maya mengambil guling dan melemparkannya kelantai.


"Nyah...! kenapa dibuang gulingnya? guling tidak ada salah Nyah?" tanya Salma dan mengambil guling yang tidak salah apa-apa diatas lantai, telah menjadi korban salah sasaran.


Maya meraih bantal, ingin dilemparkannya juga. Tetapi, begitu bantal terangkat. Mata Maya melihat amplop yang disembunyikan Bianca dibawah bantal.


"Apa ini?" Maya meletakkan bantal, dan meraih amplop tersebut.

__ADS_1


"Punya siapa ini?" tanya Maya pada Salma.


"Bukan punya saya Nyah," sahut Salma.


"Lalu punya siapa? punya Elvan?" Maya membolak-balik amplop yang ada dalam genggaman tangannya.


"Ehh..Nyah, itu sepertinya surat untuk Non Bianca. Waktu itu saya yang berikan, baru saya ingat. Bener Nyah, punya Non Bianca," ujar Salma, setelah mengingatnya mengenai surat yang ditemukan dibawah bantal.


"Siapa yang kirim, tidak ada nama pengirimnya?" Maya membolak-balik surat yang dipegangnya.


"Buka saja Nyah, biar tidak mati penasaran," ucap Salma.


"Siapa yang mau mati penasaran? kamu..!" ketus Maya.


"Hehehe..peace Nyah.." Salma mengacungkan dua jarinya, seraya nyengir.


Maya segera mengeluarkan isi amplop tersebut.


Dan


Maya spontan membuang gambar kelantai, begitu melihat gambar apa yang ada didalam amplop tersebut.


Maya berdiri, Sembari berteriak dengan keras.


"Dasar perempuan perebut..! menjijikkan!" seru Maya dengan menginjak-injak gambar tersebut.


"Aku tidak akan sudi menerimamu, untuk masuk kedalam kehidupan Jonathan..!" seru Maya.


Setelah merasa cukup letih melampiaskan kemarahannya dengan menginjak-injak gambar tersebut, Maya mentitahkan sang asisten. Salma untuk melakukan apa yang dilakukan pada gambar tersebut.


"Salma, kau teruskan! aku capek," ujar Maya pada sang asisten.


"Ia, kau !" ujar Maya dengan melotot pada sang asisten rumah tangganya.


"Tapi nyonya, ini ada Den Joe," ujar Salma yang tidak tega menginjak gambar Jonathan.


"Kenapa? ini hanya gambar, orangnya saja jika kau mau meninjunya. Saya izinkan," kata Maya.


"Ikhlas kan Nyah, jangan marah ya Nyah? nanti nyonya sadar, saya di marahin," ucap Salma.


"Ikhlas! cepat lakukan, injak sepuasmu Salma..!" titah Maya pada sang asisten rumah tangga.


"Betul ya, jangan pecat Salma ya ?" Salma masih enggan untuk melakukan apa yang diinginkan oleh sang majikan yang kesal dengan sang putra.


"Jika tidak kau lakukan Salma! saya akan pecat kau Salma..!" ancam Maya.


Maya duduk di ranjang, melihat sang asisten mewakilinya melampiaskan kemarahannya pada Chelsea.


Salma langsung menginjak-injak gambar Chelsea dan Jonathan.


"Maaf Den Joe, nyonya meneer mau mecat saya Den Joe. Jika tidak menuruti apa kata Nyonya meneer," ujar Salma sambil loncat-loncat diatas gambar Chelsea dan Jonathan.


"Sudah nyonya, saya capek nyonya," kata Salma.


"Sudah! Salma, besok kita pergi temui perempuan ini," kata Maya


"Mau apa Nyah?" tanya Salma.


"Mau saya ajak adu panco," jawab Maya seraya berjalan keluar dari dalam kamar sang cucu.

__ADS_1


"Adu panco?" tadi marah, kini mau ajak adu panco," ujar Salma.


Salma mengambil gambar yang baru diinjaknya, dan melihat gambar tersebut.


"Kasihan, kamu salah cari lawan. Nyonya di lawan," ujar Salma.


***


Setelah hari semakin larut, Elvan sudah masuk kedalam kamar. Karena angin laut semakin kencang, membuat Elvan mengantuk. Bianca membawa Elvan masuk kedalam kamar.


Kini, tinggal Jonathan bersama dengan temannya yang tinggal. Sedangkan para yang wanita sudah masuk kedalam kamar, karena tidak tahan dengan dinginnya angin laut.


Bianca merebahkan Elvan di ranjang yang cukup besar, mengganti bajunya dengan baju tidur.


Tok..tok..


Bianca beranjak menuju pintu, membukanya.


"Ada apa mbak?" tanya Bianca.


"Bian, biar Elvan tidur dengan mbak saja," kata Ayu.


"Tidak usah Mbak, biar Elvan tidur dengan Bian." tolak Bianca, tawaran Ayu. Agar Elvan tidur dengannya.


"Apa tidak sempit kalian tidur bertiga?" tanya Ayu.


"Biar, Mas Joe tidur di sofa," kata Bianca.


"Siapa yang mau tidur di sofa?" terdengar suara Jonathan dari belakang Ayu.


"Mas Joe, tidak mungkin Bian. Ngalah mas," kata Bianca.


"Tidak mau, sini dingin. Biar El tidur dengan Ayu." Jonathan masuk kedalam kamar, mengangkat Elvan. Untuk pindah ke kamar Ayu, yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Bianca.


Bianca dan Ayu mengikuti Jonathan, setelah meletakkan Elvan. Jonathan ingin keluar, dia berhenti saat melihat Bianca anteng duduk di sisi ranjang.


"Kenapa diam di situ, ayo kembali ke kamar." titah Jonathan.


"Bian sini dulu, belum ngantuk. Mau cerita dengan mbak Ayu dan Yunita," kata Bianca.


Jonathan melangkah mendekati Bianca, tanpa kata sepatah katapun. Jonathan mengangkat Bianca.


"Mas..!" seru Bianca dengan suara yang tertahan, karena takut suara teriakannya menganggu tidur Elvan.


"Diam! kenapa aku sepertinya mempunyai dua anak, mengangkat anak pindah tidur. Kini, mengangkat istri yang keras kepala. Kekanak-kanakan..!" gerutu Jonathan sembari kembali menuju kamarnya.


Ayu yang melihatnya, hanya tertawa kecil.


"Kenapa tertawa sendiri?" tanya Yunita yang baru keluar dari dalam kamar.


"Tadi ada tontonan menarik, drama. Judulnya mengantar anak dan membawa istri kembali," ujar Ayu.


"Bianca buat masalah lagi?" tebak Yunita.


Ayu menceritakan apa yang terjadi, saat Yunita berada dalam kamar mandi.


"Bianca, tidak pernah mau mendengarkan Joe. Untung, suaminya sabar," ujar Yunita.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...🌟🌟🌟...


__ADS_2