
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Mobil yang dikemudikan oleh Pak Yusuf mengikuti sepeda motor.
"Hati-hati Pak Yusuf," ujar Budi Dwipangga, karena jalan kecil dan berkelok-kelok membuat Budi Dwipangga takut. Mata tua Pak Yusuf tidak bisa mengenali jalan dengan teliti.
"Iya Tuan," sahut Pak Yusuf.
"Masih jauh Pak? jalannya kecil sekali," ujar Maya.
"Saya juga tidak tahu Nyah, saya disuruh ikuti motor itu saja, setelah menempuh perjalanan selama 15 menit. Akhirnya, sepeda motor berhenti disisi kiri mobil yang dikemudikan oleh Pak Yusuf.
"Itu rumah mbak Bianca Pak, yang ada mobil didepannya," ucap pria yang mengantarkan mereka.
"Itu mobil Jonathan Paa," kata Maya, setelah melihat mobil Jonathan terparkir didekat rumah yang ditunjuk oleh orang yang mengantarkan mereka.
Tanpa berkata apapun, Maya membuka pintu mobil dan langsung keluar.
"Maa..!" Panggil sang suami, tetapi. Suara panggilan tersebut tidak dihiraukan oleh Maya. Dengan langkah lebar, Maya bergegas menuju rumah Bianca.
"Jonathan Aria Dwipangga...!" Maya menyebutkan nama Jonathan dengan lengkap, seraya berkacak pinggang didepan pintu pagar rumah Bianca.
"Mama...!" Sontak Jonathan berdiri.
Begitu juga dengan ketiga temannya, dan Zulham. Mereka kaget mendengar suara nyaring ditengah gelapnya malam.
"Mama sendiri?" Jonathan datang menghampiri Mamanya.
"Kamu ini ya, benar-benar anak nakal. Mau nikahi anak orang dengan nikah siri..!" Maya menarik telinga Jonathan dengan keras.
"Mama...! Lepaskan telinga Joe Maa, sakit...!" seru Jonathan dan meringis menahan sakit di telinganya, karena sang Mama benar-benar menarik telinganya dengan kuat.
"Maa, lepasin telinga putra kita. Apa Mama tega melihat putra kita mempunyai telinga besar sebelah, akibat sering mama tarik," ujar Budi Dwipangga melerai perbuatan sang istri pada sang putra.
"Baru tahu aku, Tante Maya sungguh galak." Kamal berbicara pelan dengan kedua temannya dengan suara yang sangat pelan.
"Iya, tidak beda jauh dengan Mama dirumah," sahut Amar membayangkan Mamanya yang sedikit galak kepadanya, apalagi saat Amar menolak perjodohan yang dilakukan oleh sang Mama. Wajah tak bersahabat diterimanya belakangan hari ini.
"Biar saja besar sebelah, punya anak sesuka hatinya saja. Mama tidak mengizinkan kau menikahi Bianca secara siri, harus resmi menikah secara agama dan negara. Titik...! tidak ada penolakan, jelas...!" seru sang Mama dengan garang menatap Jonathan.
__ADS_1
"Paa." Jonathan meminta pertolongan sang Papa, tetapi sang Papa hanya dapat mengendikkan kedua bahunya.
Bianca dan Ayu yang berada dalam kamar kaget mendengar teriakkan Jonathan, bergegas keluar dari kamar menuju teras depan.
Begitu sampai teras depan, Bianca kaget. Begitu melihat kedua sosok yang sudah lama tidak ditemuinya, yaitu Mama dan Papa Jonathan. Yang kini berada di rumahnya.
"Tante Maya, Om Budi..!" seru Bianca menyebutkan kedua teman Papa dan Mamanya dengan suara yang bergetar.
Kesedihan menghiasi wajahnya, bibir Bianca mengatup rapat. Matanya kini sudah mengembun, mungkin. Sebentar lagi akan turun hujan lokal dari kedua bola matanya.
"Bianca..! putriku..!" teriak Maya sembari menghamburkan diri memeluk Bianca, Jonathan yang berada didepannya ditolak Maya. Hingga hampir saja terjatuh.
"Mama..! anaknya siapa sebenarnya?" gerutu Jonathan, karena hampir saja tubuhnya berakhir di tanah.
"Sabar boy, itu belum seberapa. Tunggu, sebentar lagi Mama mu akan kembali meradang," ucap Budi Dwipangga sembari memberikan tepukan dipundak sang putra.
"Ahh..jadi batal nikah besok ." batin Jonathan kesal.
Sedangkan Maya terus memeluk Bianca, putri sahabatnya tersebut.
"Kenapa pergi meninggalkan Tante Bian?" Maya menggurai pelukannya, menatap wajah Bianca dengan lekat.
"Maaf," sahut Bianca dengan suara yang lirih, dengan wajah tertunduk.
"Maaf.." hanya kata maaf yang keluar dari dalam mulutnya.
Maa, apa Papa tidak diberikan kesempatan untuk memeluk gadis nakal ini?" tanya Budi Dwipangga yang berada dibelakang sang istri.
Maya melepaskan pelukan, tangannya mengusap sudut kedua bola matanya. Sebelum berbalik menghadap sang suami.
"Papa jangan lama-lama memeluk putri kita yang nakal ini, Mama belum puas memeluknya," kata Maya.
"Baiklah," sahut Budi Dwipangga.
"Om," ujar Bianca seraya mengambil tangan Papa Jonathan, dan melekatkannya kebibirnya.
Budi Dwipangga memeluk Bianca, kemudian mengurai pelukannya. Menatap wajah Bianca.
"Putri Yudistira dan Bella, ternyata sudah dewasa. Hingga sudah berani pergi meninggalkan kita Maa," ujar Budi Dwipangga.
"Maafkan Bianca Om," ujar Bianca, kedua tangannya memohon maaf dengan mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.
__ADS_1
"Om memaafkan mu, tetapi Om tidak memaafkan mu mengenai cucu Om yang kau sembunyikan keberadaannya," ujar Budi Dwipangga.
Deg...
Bianca menundukkan kepalanya, rasa malu menyerang dirinya. Perbuatannya dalam menghadirkan Elvan membuatnya malu menatap kedua wajah yang ada di hadapannya.
"Dia sudah menceritakan mengenai Elvan, pada Om dan Tante." batin Bianca.
"Mama cucu kami Bian?" Maya meraih tangan Bianca, dan menggenggamnya.
Bianca mengangkat kepalanya, menatap wajah kedua orangtua Jonathan. Melihat kedua wajah orangtua Jonathan menatapnya dengan lembut, tidak ada kemarahan dibalik wajah keduanya. Ada rasa lega dalam diri Bianca.
"El tidur Tante," jawab Bianca.
"Apa kami boleh melihatnya, kami tidak akan membuatnya bangun," kata Maya bersemangat, wajah cerah menghiasi wajahnya.
"Boleh Tante," sahut Bianca.
"Maa, putraku sangat tampan," ujar Jonathan seraya ingin ikut masuk mengantar Mama dan Papanya untuk melihat Elvan.
"Diam! tunggu saja di situ, Mama belum selesai denganmu..!" hardik Maya, membuat Jonathan menghentikan langkahnya yang ingin mengikuti kedua orangtuanya.
"Mama..! itu anak Joe..!" seru Jonathan.
"Mama tahu, kau sudah pandai main di kasur dengan seorang gadis. Dan menghasilkan bayi yang sangat ganteng, tapi kau tidak mau bertanggung jawab."
"Aku..." Jonathan ingin membantah perkataan sang Mama.
"Cukup! sekarang Mama mau melihat cucu ganteng Mama, ayo Paa. Ayo sayang, di mana cucu kami tidur." Maya menggandeng tangan Bianca.
Ketiganya masuk, dan tinggal Jonathan berdiri seperti orang bodo.
"Joe, sepertinya kau akan menjadi anak tiri di rumahmu nanti setelah kedatangan Bianca dan anakmu." ledek Kamal.
"Setuju," sahut Amar.
"Aku senang, walaupun aku tidak bisa memiliki Bianca. Tapi aku sangat senang, kehadiran Bianca di hidup Jonathan akan membuatnya sengsara..!" seru Amar tertawa senang.
"Kau dendam denganku?" mata Jonathan setengah melotot menatap Amar.
"Sedikit, kau bilang tidak suka dengan Bianca. Ternyata kau sudah main kasur dengannya, seperti yang dikatakan oleh Tante Maya tadi. Sudah menghasilkan hasil lagi," ujar Amar.
__ADS_1
"Kau kalah cepat, kau baru memikirkan strategi untuk mendapatkannya. Sedangkan Jonathan langsung menanam saham," ujar Antonio seraya tertawa, menertawai Amar.
Bersambung 👉👉👉