
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Elvan terbangun, lalu duduk. Dia melihat ke kiri dan kanannya, Papa dan Mamanya masih tidur dengan pulas.
"Maa..!" Elvan menggoncang tubuh Bianca.
"Ee.." sahut Bianca dengan mata masih terpejam.
"El mau pipis," ujar Elvan.
Tapi, Bianca kembali tertidur. Tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Elvan.
Elvan beralih membangunkan Jonathan.
"Paa..!" Elvan membangunkan Jonathan, karena Bianca yang dibangunkannya tidak juga membuka matanya.
"Iya," sahut Jonathan seraya membuka matanya dan melihat Elvan duduk menghadap kearahnya.
"El sudah bangun ya," ujar Jonathan.
"El mau pipis, tapi El tidak tahu toilet di mana. El bangunkan Mama, tapi Mama tidak mau bangun," ujar Elvan pada Jonathan.
Jonathan melihat kearah Bianca yang tidur dengan mulut mangap, senyum tipis menghiasi bibirnya Jonathan. Melihat cara tidur Bianca yang lucu, mulut mangap dan sebelah kakinya keluar dari dalam selimut.
"Ayo, biar sama Papa. Mama kelihatannya sangat letih," kata Jonathan.
Jonathan mengendong Elvan dan membawanya kedalam kamar mandi.
Jonathan menurunkan Elvan di depan closet, dan berdiri menunggu Elvan buang air kecil.
"Kenapa belum buang airnya?" tanya Jonathan, karena Elvan masih diam. Tidak membuka celananya.
"Papa jangan lihat El, kata Bu guru. Kita tidak boleh lihat orang pipis," ujar Elvan.
"Hah..!" Jonathan hampir tertawa, mendengar perkataan Elvan.
"Kenapa? El putra Papa, tidak ada larangan untuk melihat anaknya buang air kecil," kata Jonathan.
"Kata Bu guru tidak boleh! El juga mandi tidak dilihat Mama," kata Elvan.
"Baiklah, Papa tidak akan lihat." Jonathan membalikkan badannya, dan tertawa kecil melihat tingkah Elvan yang sok dewasa.
Melihat Jonathan membalikkan badannya, Elvan baru membuka celananya dan buang air kecil.
Terdengar suara air closet yang ditekan oleh Elvan, baru Jonathan membalikkan badannya.
"Baru umur 4 tahun, sudah tahu malu." gumam Jonathan seraya menatap Elvan yang sedang sibuk membetulkan posisi celananya.
"Papa boleh berbalik," ujar Elvan setelah dia selesai membetulkan celananya.
Elvan tidak melihat, Jonathan sudah membalikkan badannya sebelum dikatakan olehnya.
"Ternyata, putra Papa sudah besar. Tapi, papa harap jangan cepat dewasa ya," kata Jonathan.
"Dewasa apa Paa?" tanya Elvan seraya keluar dari dalam kamar mandi.
"Dewasa itu seperti Papa ini, sudah bisa mengemban tugas yang diberikannya kepada Papa. Yaitu menjaga El dan Mama," kata Jonathan.
__ADS_1
"Apa El mau tidur lagi?" tanya Jonathan.
Elvan menggelengkan kepalanya.
"Ayo duduk sini." Jonathan membawa Elvan duduk di sofa.
" El tidak bisa tidur lagi, ini sudah siang. Biasanya El dengan Mama dikandang bebek, beri makan bebek. Kapan El pulang Paa ?"
"Apa El tidak suka di sini?" tanya Jonathan.
"Ehemm ..suka, tapi El rindu dengan ayah bebek," ucap Elvan dengan wajah yang sedih.
"Kalau ayah bebek ikut El tinggal di sini, apa El mau tinggal di sini selamanya?"
"Ayah bebek tinggal di sini?" tanya Elvan.
Jonathan menganggukkan kepalanya.
"Nanti anak-anak bebek sedih, jika pisah dengan ayahnya," kata Elvan.
"Begitu juga dengan Papa, akan sedih jika pisah dengan Elvan. Papa melewatkan waktu 4 tahun tumbuh kembang Elvan, Papa tidak ingin melewatkan umur Elvan bertambah. Tanpa ada Papa disisi El," ujar Jonathan.
Elvan mendengar perkataan Jonathan, apa dia mengerti apa tidak. Jonathan tidak perduli, yang penting dia sudah mengeluarkan isi hatinya.
Bianca yang sudah bangun, pura-pura tidur. Dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jonathan pada Elvan dari dalam kamar yang pintunya tidak tertutup.
"Apa aku sudah ada dalam hatimu mas Joe." batin Bianca.
Tet..tet..tet..
Terdengar suara bel, Elvan langsung turun dari sofa dan berlari menuju pintu tanpa disuruh oleh Jonathan.
Begitu pintu terbuka, terlihat wajah Opa dan Oma Maya berada didepan pintu kamar.
"Cucu ganteng Opa cepat sekali bangun tidur ," ujar Budi Dwipangga pada cucunya.
"Ya," sahut Elvan.
"Papa, mama El mana?" tanya Maya.
"Mama masih tidur, Papa duduk tuh.." jawab Elvan.
Maya dan Budi Dwipangga masuk kedalam, dan melihat Jonathan duduk dengan memainkan ponselnya.
"Apa kalian tidak mau sarapan?" tanya Mama Jonathan.
"Sebentar lagi Maa, Bianca belum bangun," kata Jonathan.
Mendengar suara kedua mertuanya, Bianca dengan cepat turun dari ranjang dan keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi Maa, Paa." sapa Bianca.
"Pa.." Maya tidak melanjutkan ucapannya, tetapi dia langsung tertawa cekikikan.
Papa Jonathan juga tertawa, melihat Bianca.
"Ada apa?" Bianca heran, melihat Mama dan Papa mertuanya tertawa sembari menatapnya.
Jonathan tertawa, tapi tawanya langsung berhenti. Matanya melihat kearah tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Gila, kenapa pakaian kami saling tertukar." batin Jonathan.
Jonathan memegang bajunya, memberi tanda pada Bianca. Bianca melihat kearah bajunya dan melihat, dia memakai atasan baju tidur Jonathan berwarna biru. Sedangkan Jonathan memakai atasan Bianca berwarna pink motif bunga mawar.
Bianca langsung berbalik badan, dan kembali masuk kedalam kamar. Jonathan mengikutinya kemudian.
Mama dan Papa Jonathan tertawa lebar, begitu Jonathan dan Bianca masuk kedalam kamar. Hanya Elvan yang diam, memandang Opa dan sang Oma yang tertawa.
"Apa papa tahu, kenapa baju mereka saling tertukar baju?" tanya Maya pada sang suami.
"Mana Papa tahu," sahut Budi Dwipangga.
***
Chelsea bangun pagi tidak seperti biasanya, hari ini dia akan kembali ke restorannya.
Keluar dari dalam kamar mandi, Chelsea tidak menemukan segelas coklat panas. Yang biasanya diantarkan oleh Bik Santi.
" Kenapa minumanku belum diantar." gumam Chelsea seraya memoleskan lipstik dibibirnya.
"Apa dia minta di pecat! Kalau tidak perlu untuk mengurus Della, aku sudah memecatnya..!" Seru Chelsea dengan ketus.
Chelsea mengambil tasnya dan langsung keluar dari dalam kamar.
Keluar dari dalam kamar, keheningan yang menyambutnya. Seperti saat dia pulang tadi malam.
" Kenapa mereka belum bangun? Dasar pemalas..!" gerutu Chelsea sembari melangkah menuju kamar Chelsea.
Ceklek..
Chelsea membuka pintu dengan sedikit kasar.
Begitu pintu kamar Della terbuka, keheningan yang menyambutnya juga.
"Kemana Della? Apa dia pergi lari pagi? Sepertinya, tempat tidurnya seperti tidak ditiduri?"
"Apa..?"
Chelsea curiga, dan beranjak mendekati lemari tempat baju-baju Della.
Deg..
Lemari tempat baju Della kosong, hanya tersisa baju yang sudah tidak terpakai lagi.
" Mereka pergi! Riko membawa Della pergi..!"
Chelsea mundur selangkah demi selangkah, dia terduduk di ranjang Della yang hanya ada bantal dan guling. Boneka Della sudah tidak ada di atas ranjang.
Chelsea menundukkan kepalanya, air matanya mengalir. Dia tidak mengira, Riko secepat itu meninggalkannya sendirian.
Chelsea bangkit dari duduk di ranjang Adella, dan melangkah keluar dari kamar putrinya tersebut. Dengan setengah berlari, Chelsea menuju kamar Riko.
Ceklek..
Chelsea membuka pintu kamar Riko, dan keheningan seperti saat dia membuka kamar Della yang menyambutnya.
Chelsea membuka lemari, dan. Seperti saat membuka lemari Della, baju Riko sudah tidak ada didalam lemari. Riko mengosongkan lemari, tidak ada yang sehelai pakaian Riko dalam lemari.
"Mereka pergi..! mereka pergi..!" Chelsea lemas, tubuhnya luruh Keatas lantai.
__ADS_1
......BERSAMBUNG......
Jonathan akan menghadapi, sang mantan yang mengalami gangguan psikis.