
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Mas ini, untuk apa Bianca ketemu Pak Lurah?" ucap Bianca jengkel mendengar perkataan Jonathan.
"Ada apa dengan Pak Lurah?" tanya Budi Dwipangga.
"Tuh...mantu Papa, mau mengenang memory dikandang bebek dengan Pak Lurah," ujar Jonathan seraya berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan meja makan.
"Mas Joe! kalau ngomong jangan asal saja, kalau didengar oleh Pak lurah kan Bian malu..!" seru Bianca kesal.
"Siapa Pak Lurah?" tanya Budi Dwipangga, Papa Jonathan pada Bianca yang masih berada di meja makan.
"Lurah di kampung Paa, mas Joe tuh..! aneh-aneh saja kelakuannya, Bian sangat jarang berbicara dengan Pak Lurah. Pak lurah itu juga baru menjabat dikampung."Â cerita Bianca.
"Ada apa dengan anak itu, semakin kesini semakin aneh saja tingkah lakunya," ujar Maya.
"Bian juga pusing menghadapi kelakuan mas Joe belakangan hari ini Maa, semakin aneh," ujar Bianca.
"Papa tahu, sepertinya. Apa yang Papa alami saat Mama mengandung Joan terjadi pada Joe Maa," ucap Budi Dwipangga pada sang istri.
"Maksud Papa, Joe yang ngidam?" tanya Maya.
"Iya," sahut Budi Dwipangga.
"Apa ada hal begitu? Bian tidak yakin." timpal Bianca.
"Ada, contohnya Papa dulu," sahut Maya.
"Mama sampai minggat tidur, Papa dulu. Semua kamar di buat warna pink, dan kamar juga di penuhi dengan bunga-bunga. Mama tidak suka." cerita Maya.
"Pantas mas Joe begitu, ternyata. Papa dulu begitu." batin Bianca.
"Jangan kaget, jika tiba-tiba Joe memenuhi rumah dengan bunga-bunga." sambung Maya.
"Itu bunga yang baru diantar toko bunga," ujar Budi Dwipangga.
"Kenapa Mama jadi curiga, jangan-jangan bunga Mama dulu malingnya..?" Maya tidak melanjutkan ucapannya, matanya menatap Bianca dengan lekat.
"Gawat! bagaimana jika Mama tahu? ahh...kabur saja." batin Bianca.
"Aduh... Maa, Bianca mau kekamar mandi." Bianca langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan cepat berlalu dari hadapan sang mertua yang memandangnya dengan memicingkan mata.
"Bian..!" panggil Maya, tetapi Bianca sudah ngacir menuju kamarnya.
"Itu anak, main kabur saja. Apa dia lupa, dia sedang hamil?"
"Maa, Papa tidak kenyang makan ini. Ayo kita keluar, sarapan diluar," ujar sang suami, Budi Dwipangga.
"Mama juga, nasi goreng begini tidak diterima lambung Mama, Paa," jawab Maya.
Keduanya meninggalkan meja makan, tanpa menghabiskan sarapan nasi goreng warna-warni.
*
*
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan tiga jam, akhirnya. Mereka tiba dikampung.
"Akhirnya..!" seru El seraya lari turun dari dalam mobil, begitu pintu mobil terbuka.
"El, jangan lari-lari..!" seru Bianca.
Elvan tidak mengindahkan peringatan Bianca, dia sudah berlari menuju belakang rumah.
Asih yang menjaga rumah Bianca bersama ibunya, keluar dari dalam rumah. Saat mendengar suara mesin mobil berhenti didepan rumah.
"Mbak Bian." Asih menghampiri Bianca, dan menyalim Bianca dan Jonathan.
"Sehat Sih?" tanya Bianca.
"Alhamdulillah sehat Mbak," sahut Asih.
"Bunda bagaimana?" Bianca tidak lupa menanyakan orangtua Asih.
"Alhamdulillah, sehat Mbak. Selama tinggal di rumah mbak ini," ujar Asih.
"Baguslah," ucap Bianca.
Bianca dan Asih masuk ke dalam rumah, Jonathan berjalan-jalan menuju depan rumah Bianca.
"Pak Udin, tolong bawa masuk barang-barang kedalam." titahnya pada Pak Udin.
"Baik Den," sahut Pak Udin.
Jonathan berjalan menyusuri jalan, yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Dia terus berjalan, sampai tiba di jalan raya. Di pinggir jalan, Jonathan melihat banyak gubuk-gubuk tempat orang berjualan telur asin.
"Pak, mau beli telur?" tanya seorang penjual telur asin.
"Tidak Bu, saya hanya ingin berjalan-jalan saja," sahut Jonathan.
"Sepanjang jalan ini, semua berjualan telur asin. Apa laku Bu?" tanya Jonathan pada sang ibu.
"Alhamdulillah Pak, ada rezeki. Dagangan kita laku, walaupun banyak saingan," ucap sang ibu.
"Apa penduduk sini semuanya bekerja jualan telur Bu?" tanya Jonathan.
"Tidak semua pak, ada petani juga. Tetapi lebih banyak sebagai peternak bebek, apa bapak berminat untuk beternak bebek juga?"
"Tidak Bu, istri saya yang ternak bebek. Saya tidak," jawab Jonathan.
"Istri bapak orang sini?"
"Iya, Bianca. Ibu kenal?" tanya Jonathan.
"Bianca, Mama Elvan?" tanya ibu tersebut.
"Iya," sahut Jonathan.
"Kenal Pak, Bianca itu salah satu peternak bebek yang sukses. Telur asin ini dulu, Bianca yang merintis. Ayu dan Bianca yang mempelopori usaha telur asin, dan yang lain belajar pada mereka berdua. Dan akhirnya, kampung ini terkenal dengan penghasil telur asin. Dan tingkat pendapatan penduduk juga semakin meningkat." cerita sang ibu pada Jonathan.
"Ternyata, Bianca pandai juga mencari peluang usaha. Apa dia mau menjual rumah dan usahanya di sini?" batin Jonathan.
Jonathan, berkeinginan untuk meminta Bianca melepas rumah dan usahanya di desa ini. Karena, Jonathan tidak ingin. Bianca selalu pulang kampung, untuk melihat ternak bebeknya.
__ADS_1
"Pak Danil.." sapa ibu penjual telur asin pada seorang pemuda yang berhenti didepan lapak sang ibu.
"Selamat siang Bu, bagaimana penjualan hari ini?" tanya pria yang di sebut ibu tersebut dengan nama Danil.
"Alhamdulillah Pak, sudah mulai menggeliat kembali. Untung ya Pak, penyakit yang menyerang bebek cepat teratasi. Jika tidak tadi, penduduk sini akan kehilangan penghasilan."
Jonathan hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh sang ibu penjual telur asin pada pria yang bernama Danil.
"Besok sore, vitamin untuk bebek sudah datang Bu. Sudah bisa di ambil di kelurahan," ujar pria yang bernama Danil tersebut.
"Permisi Bu, saya mau ke balai desa."
"Ya Pak."
"Siapa pria tadi Bu, apa dia pengusaha peternakan bebek juga?" tanya Jonathan.
"Itu Pak Danil Rahmadi, dokter hewan dan sebagai lurah di desa ini," ujar ibu penjual telur asin.
"Dia! Pak lurah?" Jonathan menunjuk Danil Rahmadi yang berhenti ditempat penjual telur asin yang lain.
"Iya Pak, masih muda. Dan dokter hewan lagi, dia putra daerah sini yang sukses sekolah di kota Pak."
"Ternyata, dia pria sainganku. Lumayan, tapi lebih ganteng aku." batin Jonathan yang narsis.ðŸ¤
"Apa dia sudah menikah?" tanya Jonathan.
"Belum Pak."
"Ganteng, tapi belum menikah. Kasihan, tidak laku." batin Jonathan mengejek Danil Rahmadi, Lurah yang menyukai Bianca. Istrinya.
"Banyak yang ingin menjadikan Pak Lurah sebagai mantu Pak, tapi Pak Lurah Danil belum tertarik. Mungkin Pak Lurah merasa, gadis-gadis di kampung ini tidak memenuhi kriteria sebagai istri idaman. Pak lurah seorang yang berpendidikan, sedangkan gadis-gadis di kampung sini hanya tamatan SLTA."
"Awas dia, jika masih menargetkan Bianca. Aku tidak akan tinggal diam." batin Jonathan.
*
*
Malam tiba, Jonathan duduk didepan teras sembari mengawasi Elvan.
"Mas, kenapa makan tidak banyak tadi?" tanya Bianca.
"Tidak selera," sahut Jonathan.
"Apa benar, Pak Lurah tadi datang?" tanya Jonathan.
"Iya Mas, Bian tadi cari-cari mas Joe. Untuk berkenalan dengan Pak Danil, tapi kata Pak Udin. Mas pergi jalan-jalan," kata Bianca.
"**Sial! aku meninggalkan Bianca untuk bertemu dengan lurah itu." batin Jonathan kesal.
*
*
*
...BERSAMBUNG**...
__ADS_1