Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Nikah dadakan


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Mama tidak beri kabar pada Papa, mama mau menemani Joice di sini?" tanya Tama.


"Mama itu akan lupa segalanya, jika sudah ketemu dengan teman bergosip," ujar Papa dan melirik sang istri yang memanyunkan bibirnya.


"Bukan tidak beri kabar, tapi tidak terkirim. Mama sudah ketik pesannya, tapi lupa Mama kirim kan," ucap Maya.


"Maa, sekarang Mas Tama ada di rumah. Mama bisa pergi," kata Joice.


"Mama mau pergi kemana?" tanya Tama yang belum tahu cerita mengenai Jonathan.


"Itu Mas..."


Joice menceritakan semua cerita mengenai Jonathan, hubungannya dengan Bianca. Dan mengenai putra Joe, Elvan juga di ceritakan oleh Joice pada sang suami.


"Joe diam-diam menghanyutkan," ucap Tama sambil tertawa.


"Tapi, jika nikahnya diadakan di sana. Kita tidak bisa kesana." Tama memandang sang istri.


"Itulah mas, bagaimana mau ke sana. Duduk baru sebentar, pinggang sudah sakit, kampung Bianca dua jam dari sini," kata Joice dengan sedih, karena tidak bisa mengikuti pernikahan sang adik.


"Paa, coba hubungi Joe. Biar nikahnya di sini saja, biar Joice bisa lihat," ucap Maya pada suaminya.


"Maa, nanti Papa beri usulan begitu. Bagaimana jika Joe membatalkan pernikahannya, Mama batal nambah cucu. Mau ?"


"Hih...anak itu, tidak mau menikah. Kini, tiba-tiba mendadak nikah. Apa dia maksa Bianca Paa?"


"Papa tidak tahu."


"Jika Joe ingin menikah di sana, mungkin sudah mempertimbangkan dengan matang Pa, Maa," kata Tama.


"Nanti kita adakan resepsi di sini," kata Budi Dwipangga.


"Ayo Paa, kita harus bergerak cepat. Belum cari baju kebaya untuk Bianca, jas Joe banyak. Tidak perlu beli baru," kata Maya.


"Masa Joe pakai baju lama Maa," kata Joice.


"Untuk apa beli jas baru,mode jas gitu-gitu saja," kata Maya.


"Maa, ini untuk pernikahan Joe. Sekali seumur hidup Maa, Joe harus kelihatan gagah Maa." Joice masih berusaha untuk membujuk sang Mama untuk membelikan Joe jas baru.


Sang Papa dan suaminya Tama, hanya saling pandang dengan mertuanya.


Papa mertua Tama menggelengkan kepalanya, tandanya. Dia tidak ingin ikut campur perdebatan sang istri dan putrinya.


"Paa, lihat Mama," kata Joice, setelah tak berhasil membujuk sang Mama.


"Papa tidak mau ikut campur," ujar Budi Dwipangga, kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Melihat sang mertua keluar, Tama juga pergi mengikuti mertuanya.


"Maa, ini." Joice memberikan kartunya pada sang Mama untuk membelikan Joe baju.


"Untuk apa?" tanya Maya.


"Untuk membelikan baju untuk Joe," kata Joice.


"Kamu kira Mama tidak ada uang, untuk membeli toko baju saja uang Mama ada," ujar Maya bernada sombong.

__ADS_1


"Terus, kenapa Mama pelit untuk mengeluarkan uang untuk membeli baju untuk pernikahan Joe," ujar Joice.


"Joi, di dalam lemari joe itu penuh dengan jas yang belum pernah dia pakai. Setiap Mama keluar negeri, Papa itu selalu beli jas. Dan Jonathan selalu dibelikannya." Maya mengatakan alasannya, kenapa tidak membelikan Joe jas yang baru.


"Untuk apa Joe beli lagi, yang perlu dibelikan itu Bianca. Tapi, ukuran tubuh Bianca Mama tidak tahu?" dahi Maya mengerut, memikirkan ukuran baju untuk calon mantunya tersebut.


"Telepon saja Joe Maa." usul Joice.


"Ahh..malas Mama, Mama masih kesal. Bagaimana jika Joi bantu Mama? tolong hubungi Joe." Maya menatap Joice dengan penuh harap, agar mau membantunya untuk menghubungi Jonathan.


"Ok, tapi ada syaratnya.." wajah Joice senang menatap wajah Mamanya.


"Ini anak, Mama minta tolong harus pakai syarat," ujar sang Mama dengan mencebikkan bibirnya.


"Tidak sulit koq Maa, hanya Mama harus belikan Joi stroller untuk cucu Mama ini," ujar Joice sembari mengedipkan matanya.


"Untuk apa stroller, punya Yoan dulu kemana? untuk apa beli yang baru, anak itu masih kecil saja mau diletakkan didalam stroller," ujar Mama panjang lebar.


"Maa, punya Yoan sudah usang," ujar Joice.


"Bagaimana? mau belikan, tidak?" tanya Joice.


"Iya . iya..kamu itu terlalu royal, semua mau serba baru. Cari duit itu sulit, Mama dulu itu cari duit sampai terbatuk-batuk karena terkena kapur untuk nulis di papan tulis." Maya mengingatkan Joice sewaktu dia masih menjadi guru.


"Maa, bukannya Mama itu dulu kerja sebagai staf manajemen di sekolah milik Opa, bukan guru. Terus kan, bukan pakai kapur lagi Maa. Sudah pakai spidol," kata Joice.


"Sesekali Mama itu mengajar, menggantikan guru yang cuti. Dulu jaman Mama mana ada spidol, layar proyektor," sahut Mama.


"Tetapi itu semua tergantikan kan Maa, Mama menikah dengan anak pemilik sekolah." goda Joice.


"Hei.. kenapa bahas Mama, sana cepat hubungi adikmu. Mama mau ke butik ." titah Maya.


"Bagaimana?" tanya Mama.


"Tidak aktif Maa," sahut Joice.


Joice terus berusaha untuk menghubungi sang adik, lagi-lagi hanya operator yang menjawab panggilan Joice.


"Fix, batal beli stroller," kata Maya.


"Mama..!" seru Joice.


"Uang untuk beli stroller, biar bisa Mama belikan baju untuk Bianca dengan berbagai ukuran," kata Maya sembari berdiri dari tempat dia duduk.


"Maksud Mama?" tanya Joice dengan ekspresi heran, mendengar perkataan sang Mama.


"Mama tidak tahu ukuran Bianca, Mama beli saja ukuran M, S dan L. Bianca tinggal pilih."


"Mama, apa tidak berlebihan?" tanya Joice heran dengan pemikiran dan Mama.


"Kenapa berlebihan, baju yang tidak di pakai Bianca. Bisa di pakai tetangganya," kata Maya.


"Sudah, Mama mau ke butik. bye cucu Oma." Maya mengusap perut Joice.


"Oma pelit dek " Joice mengusap perutnya.


"Biar cepat kaya," sahut sang Mama sambil menuju depan.


****

__ADS_1


Derrt..


Ponsel Kamal bergetar, Kamal mengambil earphone dan menyelipkan ketelinga.


"Ada apa Joe, kami masih jalan-jalan. Kau nikmati waktu berduaan dengan gadismu," ujar Kamal.


"Apa..!?" Kamal kaget mendengar perkataan Jonathan.


Ciitt..


Tiba-tiba mobil yang dikemudikan oleh Kamal mengerem mendadak, karena Kamal kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan dalam sambungan teleponnya.


"Hei.. Joe..! Joe..!" Kamal memanggil nama Jonathan, tetapi sambungan telepon sudah diputuskan oleh Jonathan.


"Dasar gila..! sudah membuat orang syok, main putus saja..!" kesal Kamal.


"Aduh...!" Ayu terdorong kedepan, begitu juga dengan Elvan.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Zulham dengan menoleh kepada Ayu dan Elvan di jok belakang.


"Mas Kamal..! Mas ingin kami mati..!" seru Ayu dengan kesal.


"Maaf, aku kaget mendengar apa yang dikatakan Jonathan," kata Kamal sambil melihat kearah kursi belakang.


"Pakai seat belt kalian juga," kata Zulham.


Ayu memakaikan seat belt untuk Elvan dan dirinya sendiri.


"El tidak apa-apa kan?" tanya Kamal.


"Tidak Om, hanya ini Elvan dug..dug..dug..," ujar Elvan dengan memegang dadanya.


"Maafkan Om ya," ujar Kamal.


"Jonathan itu, membuat orang shock saja. Dia menyuruh kita mencari peghulu," kata Kamal.


"Penghulu?" Zulham melihat Kamal.


"Untuk apa Pak Joe membutuhkan penghulu?" tanya Ayu.


"Dia akan menikah besok," kata Kamal.


"Menikah! dengan siapa?" tanya Ayu.


"Dengan temanmu," jawab Kamal.


"Temanku? Bianca..!" Seru Ayu.


"Iyap.." sahut Kamal.


"Di mana kita mencari penghulu? Apa Mbak Ayu tahu?" tanya Zulham.


"Tenang Pak, di sini penghulu itu standby 24 jam," kata Ayu.


"Kampung ini banyak janda, banyak laki-laki datang dan langsung menikah hari itu juga. Kalau sudah cocok, seperti Pak Joe," ujar Ayu sembari tertawa ngekeh.


Bersambung 👉👉👉


Jangan lupa tekan tombol like like like like 🙏🥰**

__ADS_1


__ADS_2