Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Go publik


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


"Aku ingin tidur seharian ini." gumam Bianca seraya telungkup ditempat tidur Elvan, karena dia tidak ingin tidur dikamar Jonathan. Jonathan pasti berada dalam kamarnya.


Sekujur tubuhnya terasa sangat letih, karena mencoba baju pengantin yang berkali-kali dia harus berganti baju.


"Mama..!" suara Elvan terdengar.


"Sayang, Mama sepertinya akan tidur sepanjang hari ini," ujar Bianca dengan suara yang sangat pelan.


"Mama capek.." suara parau Bianca terdengar pelan, tak lama kemudian hanya gerak napasnya yang terlihat teratur. Bianca sudah masuk kedalam dunia mimpinya.


Pintu kamar Elvan terbuka, Jonathan masuk.


"Papa Om Joe." sapa Elvan.


Sapaan Elvan terhadapnya itu membuat Jonathan mengernyitkan keningnya.


"Kenapa El memanggil Papa Om Joe?" tanya Jonathan seraya mengangkat Elvan, dan membawanya duduk di sofa.


"Opa bilang, Om itu Papa El," ujar Elvan.


"Benar, ini Papa Elvan. Tapi manggilnya jangan Papa Om Joe, panggil dengan panggilan Papa saja. Ini Papa Elvan sesungguhnya," ujar Jonathan.


"Panggil Papa ya." pinta Jonathan.


"Papa.." Elvan mengikuti permintaan Jonathan.


"Terima kasih," ucap Jonathan dengan perasaan membuncah dalam hatinya, ini hari yang ditunggu-tunggu. Sejak dia mengetahui, dia mempunyai seorang putra.


Elvan menatap wajah Jonathan, dan melihat ada genangan air disudut bola mata Jonathan.


"Papa mau nangis? Papa sakit? kata Mama, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Waktu Elvan sakit dan di suntik, Elvan nggak nangis," ujar Elvan yang terus memandangi wajah Jonathan.


"Papa tidak nangis," ujar Jonathan.


"Ini air." jemari kecil Elvan menyentuh sudut bola mata Jonathan yang berair.


"Ini, ini bukan air mata. ini air karena Papa kaget mendengar dengkuran Mama, dengar.."


Terdengar dengkuran Bianca yang kecil, dan tiba-tiba nyaring.


Elvan tertawa, mendengar Bianca yang tidur telungkup mendengkur.


"Dengkuran Mama membuat Papa takut," ujar Jonathan.


"Kata Mama, kalau Mama mendengkur. Karena Mama capek," ujar Elvan.


"Mama sering mendengkur?"


Elvan menganggukkan kepalanya, sembari menatap Bianca yang tidur pulas tanpa menyadari ada dua bola mata yang melihatnya.


"Ayo kita keluar, Papa ingin menunjukkan sesuatu." Jonathan mengendong Elvan keluar dari dalam kamar.


Jonathan membawanya masuk kedalam kamarnya.


Tunggu di sini ya," ujar Jonathan.


Elvan menganggukkan kepalanya, menunggu Jonathan yang berjalan menuju walk in closet. Jonathan keluar dengan membawa satu steal baju jas anak kecil di tangannya.

__ADS_1


"Ini untuk El, coba kita pakai ya," ujar Jonathan.


Mata El berbinar melihat baju yang dipegang Jonathan.


"Ini baju El?" tanya Elvan setengah tidak percaya, karena dia hanya pernah melihat baju yang di pegang Jonathan dalam televisi.


"Iya, apa El suka?" tanya Jonathan, sembari jongkok didepan sang putra yang berdiri didepannya.


"Suka, El sering lihat didalam televisi. Tapi Om.. Om yang memakainya," sahut Elvan.


"Oh ya, sekarang. Elvan yang memakainya," ujar Jonathan.


Setelah selesai memakaikan Elvan kemeja dan kemudian jas, Jonathan membawanya masuk kedalam walk in closet. Jonathan membawa El kedepan cermin besar yang ada didalam walk in closet.


"Lihat, betapa tampannya putra Papa." Jonathan sangat bangga melihat Elvan yang terlihat sangat tampan memakai jas yang disediakannya untuk pernikahan.


"Tunggu sini, Papa tidak ingin hanya El yang tampan. Yang membuat El ada di dunia ini juga harus terlihat tampan."


Jonathan meninggalkan Elvan di depan cermin, sedangkan ia berlari menuju bagian bajunya yang tertata rapi.


Dengan cepat Jonathan mengambil bajunya yang couple dengan sang putra, Jonathan membuat bajunya sama dengan Elvan saat pernikahan nanti.


Setelah selesai, Jonathan beranjak mendekati Elvan. Dua orang beda generasi berdiri didepan cermin.


"Bagaimana El, apa Papa setampan anak Papa ini?" tanya Jonathan.


"Emh... sepertinya, El lebih tampan," sahut Elvan.


"Apa!" Jonathan pura-pura terkejut mendengar perkataan sang putra.


Elvan tertawa cekikikan, sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Oke.." sahut Elvan dengan mengacungkan kedua jarinya.


Jonathan membawa Elvan keluar dari dalam walk in closet, dan menyuruh Elvan duduk di sofa. Dan kemudian, Jonathan mengambil ponselnya dan meletakkannya di meja depan Elvan duduk.


Jonathan mengatur ponselnya untuk secara otomatis mengambil gambar mereka.


Bukan hanya sekali Jonathan mengambil gambar kebersamaannya dengan sang putra, berbagai macam pose dilakukannya.


Setelah selesai, Jonathan yang tidak pernah membagikan segala kegiatannya bersama dengan keluarga dalam media sosialnya. Kini, membagikan kegiatannya dengan sang putra untuk pertama sekali ke media sosialnya.


Biasanya, Jonathan hanya memposting tentang kegiatan sekolah yang digelutinya. Sekarang, Jonathan memposting gambarnya bersama dengan sang putra.


Ting..


Ting..


Ting..


Bunyi ponsel Jonathan terus terdengar, saat orang memberikan komentar dan suka dengan apa yang yang dibagikannya kedalam media sosialnya.


Akun Kamal, juga berkomentar.


@Bujanglapuk. woo Bro, go publik πŸ€”


Di balas akun Amar.


@Amarjombloabadi. Takut ya, bininya aku embat.🀣


Balas Jonathan

__ADS_1


@JD. πŸ‘Š@Amarjombloabadi.


Antonio tidak mau ketinggalan, memberi komentar dengan nada mengejek.


@Chefgokil. lebih tampan putramu Joe.


@JD. πŸ‘Š@Chefgokil.


Balasan bernada sindiran terjadi.


@Gadiscantik. Pasti istrinya jelek, karena tidak mau foto bersama.


@Wongedan. Benar, pasti istrinya jelek dan gendut.


@Gadistersakiti. istrinya pelakorπŸ‘Ž


@Orangbaik. apa kau mengenal istrinya?@Gadistersakiti.


Jonathan membalas, biasanya dia tidak pernah menanggapi. Kini membalas.


@JD. istriku hanya untuk aku pandangi sendiri, tidak untuk dikonsumsi publik. dan untuk@Gadistersakiti. aku akan menuntutmu!!"


Balasan Jonathan, membuat akun bernada nyinyir menghapus komentar mereka satu persatu.


Setelah membalas komentar, Jonathan meletakkan ponselnya.


***


Pernikahan akan di gelar keesokan harinya, rumah keluarga Budi Dwipangga sudah mulai ramai dengan kedatangan saudara yang dari jauh. Begitu juga dengan saudara dari pihak Bianca, yang dihadiri oleh budhe dan sepupunya. Sedangkan sang paman, suami budhe Tiara sudah di panggil sang pencipta terlebih dahulu.


"Bian, kenapa tidak bilang kepada budhe apa yang Bian alami. Bian bisa tinggal bersama budhe?" tangan budhe Tiara menggenggam kedua tangan keponakannya tersebut.


"Bian malu budhe"


Kepada budhe Tiara, Bianca menceritakan semua tentang kesalahannya. Perbuatannya yang menjebak Jonathan.


Budhe Tiara sangat kaget mendengar cerita Bianca, tangannya hampir melayang menerpa wajah Bianca. Tapi dia tersadar, karena. Bianca termasuk anak yang kurang kasih sayang dari wanita, karena Mama Bianca pergi saat dia masih membutuhkan bimbingannya. Sedangkan Yudistira terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai kepala sekolah, sehingga sangat jarang bertemu untuk berbincang dengan Bianca.


"Sekarang, mengabdi pada suamimu Bian. Dia pria yang telah kau sakiti, tapi dia mau bertanggung jawab padamu," kata budhe Tiara.


Pintu kamar Bianca terbuka, dengan kedatangan Ayu.


"Bian, ini ada jamu. Kau harus meminumnya." titah Ayu dengan menyerahkan gelas.


"Jamu! jamu apa Mbak? jangan yang aneh-aneh ya?" curiga Bianca menatap jamu yang berwarna coklat dan bau khas rempah-rempah.


"Minum saja, itu untuk menguatkan tubuhmu besok hari. Jangan sampai besok kau akan pingsan, terpaksa aku yang menggantikan diatas pelaminan." gurau Ayu.


Budhe Tiara dan Bianca tertawa, mendengar gurauan Ayu.


"Ayo Bian minum." titah Ayu.


"Minum Nak, itu hanya jamu." timpal budhe Tiara.


Bianca menutup hidungnya, sebelum meneguk habis jamu tradisional tersebut.


"Pahit..!" kening Bianca berkerut.


......Bersambung......


Please tekan tombol like like like πŸ™

__ADS_1


__ADS_2