Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Akal-akalan Jonathan


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Assalamualaikum..!" suara pria dari depan rumah terdengar.


"Waalaikumsalam..," sahut Bianca seraya melangkah keluar, untuk menemui orang yang mengucapkan salam tersebut.


Jonathan yang sedang berada didalam kamar mandi, mendengar suara pria mengucapkan salam. Langsung melekatkan telinganya kearah dinding kamar mandi, karena kamar mandi berada didalam kamar depan. Jonathan dapat mendengar suara siapa yang bertamu pagi hari.


"Pagi-pagi dia sudah bertamu di rumah orang, apa dia tidak ada kerjaan?" kesal Jonathan.


Jonathan mengambil handuk, dan langsung melilitkan handuk ketubuhnya. Kemudian keluar dari dalam kamar mandi.


"Pak Danil." sapa Bianca.


"Mbak Bianca, apa saya menganggu ?" tanya Pak Lurah dengan suara yang lembut.


"Tidak Pak, ayo silakan duduk Pak. Ada apa ya Pak?" tanya Bianca.


"Yank, air kamar mandi habis," ujar Jonathan yang keluar mengunakan handuk, dan terlihat rambut yang masih ada sisa-sisa busa sampo.


"Mas..!" Bianca kaget, melihat Jonathan keluar hanya memakai handuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Hei...ada Pak Lurah, maaf pak. Saya sedang mandi, dan air panasnya habis. Saya tidak terbiasa mandi air dingin..!" Jonathan pura-pura kaget melihat keberadaan Pak Lurah.


"Ayo Yank, tolong masakan air panas lagi dan tolong gosokkan punggung mas juga," ucap Jonathan seraya menarik tangan Bianca untuk berdiri dan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Bianca.


"Mas, ada tamu," ujar Bianca dan mendelikkan matanya menatap Jonathan, Bianca malu. Melihat Jonathan hanya berbalutkan handuk, dan rambut masih berbusa sampo.


"Tunggu sebentar ya Pak lurah, lima menit. Biar istri saya membantu untuk menggosok punggung saya ," ujar Jonathan.


"Silakan Pak, saya juga tidak bisa lama-lama. Saya hanya ingin memberikan vitamin untuk bebek-bebek mbak Bianca," ujar Danil, dan memberikan bungkusan yang dibawanya kepada Bianca.


Jonathan langsung menyambar bungkusan yang dipegang Pak Lurah.


"Terima kasih Pak, Pak Lurah sungguh baik. Mau menghantarkan vitamin untuk warganya, apa Pak lurah menghantarkan vitamin ini untuk semua peternak bebek?" tanya Jonathan.


"Sekalian lewat tadi Pak, saya mau pergi ke kecamatan. Mungkin, mbak Bianca sibuk. Tidak bisa mengambil vitamin untuk ternaknya." jawab Pak Lurah Danil.


"Terima kasih Pak, sudah mau mengantar kerumah," ucap Bianca.


"Permisi Pak, mbak Bianca.," ujar Pak Lurah seraya menganggukkan kepalanya sedikit.


"Terima kasih Pak Danil," ujar Jonathan.

__ADS_1


"Ya Pak, mari Pak. Mbak Bianca." kemudian Pak Lurah Danil naik keatas sepeda motornya, dan pergi.


"Sepeninggal Pak Lurah Danil, Bianca melihat kearah Jonathan.


"Apa maksud mas dengan keluar hanya mengunakan handuk begini? bukannya tadi mas sudah selesai mandi dan hanya tinggal cukuran saja? ini kenapa rambutnya masih tersisa busa sampo begini? ini di balik telinga masih ada busa sabun?" tanya Bianca dengan berkacak pinggang melotot menatap Jonathan.


"Mas mandi lagi, itu Pak Lurah. Kenapa pagi-pagi sudah sampai di rumah orang ? apa dia tidak ada kerjaan lain lagi?" ujar Jonathan seraya masuk kedalam kamar.


"Mas, Pak Lurah itu memang baik. Dia suka membantu, jika warganya tidak ada waktu untuk mengambil obat yang diberikan secara gratis oleh pemerintah. Pak lurah akan senang hati menghantarkannya," ujar Bianca sambil mengikuti Jonathan masuk kedalam kamar.


Jonathan masuk kedalam kamar mandi dan kembali melanjutkan membersihkan tubuhnya yang masih bersabun.


"Mas, jangan terlalu suuzod dengan Pak Lurah. Dia tidak ada maksud lain, dia hanya niat membantu warganya," ujar Bianca pada Jonathan yang berada dalam kamar mandi.


"Mas...!" Bianca spontan membalikkan badannya, karena Jonathan keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan polos, tangannya mengelap rambutnya yang basah.


"Ada apa?" tanya Jonathan dengan cuek, tidak merasa bersalah. Karena telah membuat wajah Bianca bersemburat merah.


"Apa mas tidak bisa memakai handuk..!" seru Bianca kesal.


"Handuk hanya satu, ini di pakai untuk mengelap rambut," ujar Jonathan.


"Kenapa? melihatnya saja malu, padahal. Saat dia mencetak benih dalam sini. Kau tidak malu," ujar Jonathan sambil memeluk Bianca, tangan Jonathan memeluk tubuh Bianca dengan erat. Sehingga Bianca merasa ada batang yang keras menyodok bokongnya.


"Elvan tidak akan masuk, dia sibuk dengan bebeknya," ujar Jonathan.


Jonathan melepaskan pelukannya, dan berlari menuju pintu dalam keadaan polos dan mengunci pintu.


"Kenapa di kunci?" tanya Bianca.


"Mas ingin berkunjung, mas belum pernah merasakan berkunjung dikampung," ujar Jonathan dan mengangkat Bianca dan merebahkannya keatas ranjang besi.


"Mas! ini masih pagi, apa kata orang nanti. Kita tidak keluar kamar..!" seru Bianca dan mendorong tubuh Jonathan yang sudah mengungkung tubuhnya.


"Tidak ada yang kehilangan kita, ayo," ujar Jonathan seraya meloloskan tubuh Bianca dari baju yang di pakainya.


Dengan penuh napsu yang bergelora, Jonathan menghentakkan pinggulnya.


"Mas, pelan-pelan. Tempat tidurnya sudah tu..."


Prak..k...


Belum selesai Bianca menyelesaikan ucapannya, apa yang ingin dikatakan Bianca terjadi. Tempat tidur, ambruk.


"Mas...!" pekik Bianca sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


"Yank..! tidak apa-apa?" Jonathan langsung mengangkat Bianca.


"Tidak apa-apa mas, kan sudah Bian bilang. Pelan-pelan, mas itu. Seperti kesurupan saja..!" seru Bianca.


"Maaf, entah kenapa. Mas begitu bersemangat tadi, betul. Tidak ada yang sakit?" tanya Jonathan yang masih menggendong Bianca.


"Turunkan mas, Bian mau pakai baju. Mas juga, pakai baju." titah Bianca.


Jonathan menurunkan Bianca, Lalu Bianca mengambil bajunya dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"Baru masuk, itu juga belum dalam. Dasar tempat tidur sialan. Sepertinya, tempat tidur ini dendam denganku ," gerutu Jonathan sambil menendang tempat tidur.


*


*


Begitu sampai di rumah dari kampung, Jonathan sudah di sambut dengan omelan Mamanya. Maya.


Sampai rumah, Jonathan langsung merebahkan tubuhnya di ruang keluarga. Karena dalam perjalanan, Jonathan berkali-kali mengeluarkan isi perutnya.


"Maa, tunggu Joe sehat dulu ya. Baru mama lanjutan mengomelnya ya..!" ujar Jonathan dengan mata yang terpejam.


"Tidak! Nanti Mama lupa, mumpung otak mama masih fresh. Mengingat untuk marah pada anak yang telah mempermainkan Mama," ujar Maya.


"Terserah Mama saja, Yank. Pijat, pusing," ujar Jonathan.


Bianca mengerakkan jemarinya dikening Jonathan.


"Kamu itu ya, berani-beraninya mencuri bunga Mama...! sudah itu, merasa tidak bersalah. Saat kami kebingungan, bagaimana cara pencuri masuk untuk mengambil bunga Mama," ujar Maya.


"Maa, Joe tidak mencuri. Joe bilang sebelum memetiknya, Maa. Joe minta bunganya ya, mama jawab. Ambil saja Joe," ucap Jonathan dengan sambil rebahan, berbantalkan paha Bianca.


"Bisa-bisanya kau saja Joe..! kapan kau minta, Mama tidak dengar?"


"Waktu Mama mau ke dapur, waktu itu Joe mau pergi joging. Mama jawab, ambil saja Joe," ujar Jonathan.


"Mama tidak ingat, kau bohong..!" seru Maya sambil melotot menatap Jonathan.


*


*


*


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2