
Happy reading guys 🥰
👇👇
Jonathan dan Bianca sudah sampai di Mall, keduanya sudah di sambut oleh ketiga temannya dengan pasangan masing-masing. No, bukan pasangan masing-masing. Karena Kamal belum berhasil meluluhkan hati Arumi, gadis keras kepala menurut Kamal. Gadis lain berbondong-bondong ingin mengambil hati Kamal Alfarizi, sedangkan Arumi tidak ingin dekat dengannya.
"Kenapa kalian harus ikut sibuk, ini anakku," ujar Jonathan kepada ketiga temannya.
"Joe, berilah kami kesempatan untuk belajar. Biar nanti istri kami hamil, kami tidak canggung lagi," ujar Amar.
"Itu Kamal, untuk apa ikut. Calon istri saja belum ada." ledek Jonathan.
"Bukan belum ada, tapi masih jual mahal. Aku akan bertindak, biar Arumi tahluk pada pesona Kamal Alfarizi," ujar Kamal.
"Jangan kau melakukan yang membuat Arumi inffiel padamu," ujar Jonathan.
"Tenang, aku akan main cantik. Sehingga dia tidak akan menolak," jawab Kamal.
"Mas, ayo. Bian letih ini," ujar Bianca.
"Ayo, apa kita cari tempat makan dulu. Biar istirahat dahulu, baru belanja," ujar Jonathan.
"Lebih bagus begitu mas Joe, kasihan Bian. Sepertinya sudah lelah," ujar Ayu.
"Ayo." Jonathan menggandeng tangan Bianca menuju restoran yang berada di Mall tersebut.
"Bagaimana jika kita berpencar saja, pada wanita pergi melihat baju untuk baby. Sedangkan kita cari barang-barang yang besar, seperti tempat tidur dan yang berhubungan dengan baby." usul Antonio dengan bersemangat.
"Apa tahu yang ingin dibeli, jangan nanti yang dibeli tidak dibutuhkan oleh baby-nya," ujar Bianca.
"Tenang Bian, ada ini. Kami akan mencari di Mbah Gugel, perlengkapan yang dibutuhkan oleh baby," ujar Kamal.
"Mas, jangan beli yang belum dibutuhkan saat ini. Jangan nanti kamar kita penuh dengan barang yang tidak dibutuhkan," kata Bianca pada Jonathan.
"Tenang Yank," ucap Jonathan.
Karena tidak pernah merasakan merawat Bianca saat hamil Elvan, Jonathan sangat antusias dengan kehamilan Bianca yang kedua ini. Sehingga, Jonathan sudah ingin berburu perlengkapan baby saat usia kehamilan Bianca baru beberapa Minggu.
"Tolong jaga Bianca, jangan sampai dia keletihan. Kalau letih istirahat," ucap Jonathan, saat mereka ingin memisahkan diri.
"Tenang mas Joe, kami akan menjaga bumil dengan hati-hati. Sehingga dia tidak akan sempat mengeluh lelah," ujar Yunita.
"Tidak apa-apa kita pisah?" Jonathan berat untuk berpisah dengan Bianca untuk berbelanja.
"Tidak apa-apa Mas, baby shop khusus untuk bayi banyak di lantai ini," kata Bianca.
"Betul?" tanya Jonathan, untuk memastikan Bianca aman tanpa bersamanya.
"Joe, ayo. Kita kelantai atas, Bianca aman di sini. Nita, ada apa-apa hubungi kami secepatnya." titah Amar pada sang istri.
"Tenang mas," sahut Yunita.
__ADS_1
"Ayu akan jaga Bianca mas, tenang saja." timpal Ayu.
"Anak gadis Papa, anteng didalam sini ya. Jangan salto didalam ya," ujar Jonathan sambil mengusap perut Bianca.
"Mas ini ada-ada saja, sudah sana pergi. Ingat, jangan beli yang belum kita butuhkan saat ini," ujar Bianca untuk mengingatkan Jonathan, apa yang harus dibeli.
Akhirnya
Rombongan Jonathan dan ketiga temannya naik kelantai atas, sedangkan Bianca berada tetap dilantai tiga. Karena perlengkapan pakaian bayi berada dilantai tiga.
Di lantai atas, keempat pria dewasa begitu antusias melihat barang-barang perlengkapan untuk baby. Mereka tidak perduli, banyak mata yang melihat keberadaan mereka di toko baby shop.
"Mas, koq sendiri. Duda ya?" tanya seorang gadis yang bersama dengan temannya, menatap keempat pria dewasa tersebut berburu perlengkapan baby.
"No..! kami pria sayang istri, sehingga kami tidak ingin istri-istri kami letih," ujar Jonathan dengan suara yang datar, dan kemudian berlalu dari hadapan gadis tersebut.
"Ganteng, tapi sombong." gerutu gadis tersebut.
"Semakin menantang ya Sob," ujar temannya.
"Iya," sahut temannya yang mengatakan Jonathan sombong.
Jonathan beranjak mendekati Amar, yang sedang melihat-lihat tempat tidur untuk baby.
"Joe, lihat. tempat tidur baby ini sangat bagus," ujar Amar dengan menunjuk tempat tidur baby warna gold kombinasi coklat.
"Bagus, tapi baby-nya baby girl," ujar Jonathan.
"Baby belum bisa protes Joe, jadi aman jika kau ingin membeli warna apa tempat tidurnya," ujar Antonio.
"pink dan putih? apa tidak terlalu lembut, bagaimana jika warna ini?" Kamal menunjukkan warna merah.
"Hah..!" Jonathan melotot menatap tempat tidur yang ditunjuk oleh Kamal.
"Bagus Joe, warna yang menggairahkan..!" seru Kamal seraya mengelus tirai warna merah menutupi tempat tidur baby pilihannya.
"Baby ku tidak butuh warna yang menggairahkan menurutmu bagus, tempat tidur itu untuk baby mu saja," ujar Jonathan.
"Bagus begini, sayang. Aku belum berhasil menahlukkan Arumi. ." gumam Kamal.
Setelah mendapatkan tempat tidur, keempat pria dewasa tersebut memasuki satu toko yang menjual khusus baju untuk anak-anak.
"Joe, lihat. Bukannya ini akan terlihat bagus dipakai anak kecil," ujar Antonio yang datang menemui Jonathan dengan memakai bando dikepalainya yang berbentuk bando telinga kelinci.
"Lucu," ucap Jonathan, saat melihat telinga kelinci bergoyang-goyang.
"Joe, ini bagus." Amar datang dengan membawa sepatu warna kuning.
"Apa tidak terlalu besar untuk bayi baru lahir?" tanya Jonathan, karena ukuran sepatu tersebut seperti untuk ukuran anak berumur dua tahun.
"Tidak apa-apa Joe, beli sekarang saja. Nunggu dia berumur dua tahun, sepatu seperti ini sudah tidak ada lagi," kata Amar.
__ADS_1
"Baiklah, ambil." titah Jonathan pada Amar.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Jonathan, Amar memasukkan sepatu tersebut kedalam keranjang belanja Jonathan.
"Joe, lihat. Bagus kan?" Kamal membawa baju baby doll berwarna putih.
"Bagus, tapi apa tidak terlalu besar?" tanya Jonathan, karena baju yang dibawa Kamal. Untuk anak berusia 3 tahun.
"Nanti dia besar bisa di pakai Joe," ujar Kamal.
"Betul Joe, besar nanti bisa di pakai." timpal Amar.
Akhirnya, apa yang terlihat bagus terlihat di mata keempat pria dewasa tersebut dibeli. Mereka lupa dengan apa yang dikatakan oleh Bianca.
Keempatnya kalap, melihat baju khusus untuk baby girl. Menurut keempat pria tersebut sangat bagus.
Jonathan juga tidak melupakan baju untuk Elvan, setiap ada yang bagus menurutnya. Dia langsung memasukkan kedalam keranjang belanjanya, Jonathan tidak melihat harga dari barang yang dibelinya. Yang penting, dia merasa bagus untuk dikenakan oleh Elvan dan putrinya yang belum lahir. Jonathan langsung memasukkan kedalam keranjangnya.
Dua keranjang belanja sudah penuh, kini keempatnya sedang beristirahat.
"Ternyata, belanja sangat melelahkan. Kenapa para wanita suka sekali belanja?" tanya Kamal pada ketiga temannya.
"Kalau para wanita tidak suka berbelanja, siapa yang menghabiskan uang yang kita cari?" tanya Amar pada ketiga rekannya.
"Hahaha! betul-betul." Antonio tertawa mendengar perkataan Amar.
"Sekarang, kita mau kemana lagi?" tanya Antonio.
"Stroller Baby," ujar Jonathan sembari melihat ponselnya, takut ada panggilan dari Bianca, dia tidak mengetahuinya.
"Apa ada panggilan dari Bianca?" tanya Kamal.
"Tidak ada, sepertinya. Dia baik-baik saja," sahut Jonathan.
Di lantai bawah.
Tidak ada terlihat wajah melelahkan di wajah Bianca, Ayu dan Yunita.
Belanja, bukan hal melelahkan bagi seorang wanita. (author juga🤣)
"Bian, apa sudah dibeli semua?" tanya Ayu.
"Sudah semua Mba," sahut Bianca.
"Bagaimana, kita istirahat dulu. Jangan sampai kau letih," ucap Yunita.
"Ayo, istirahat sebentar," ucap Bianca.
*
*
__ADS_1
*
...BERSAMBUNG...