
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Apa dia mencari-cari keberadaan ku? Tapi dia mengatakan agar aku tidak menampakkan diri dihadapannya dan keluarganya," kata Bianca.
"Apa mungkin dia tahu, keberadaan..." Ayu memainkan matanya menatap kearah Elvan.
"Apa! Tidak mungkin dia tahu Mbak, setelah kejadian itu. Dia tidak berada di Indonesia, kata Tante Maya dia berada di luar negeri. Tidak, dia tidak tahu."
"Besok, pagi-pagi sekali kita harus segera kembali," kata Bianca.
"Secepat itu kita kembali, Bian. Aku mau shopping, please. Kita tidak akan sesial itu, bertemu dengannya. Mall banyak di kota ini, tidak mungkin kita akan bertemu dengan. Please, kita pulang lusa ya. Kau sudah janji." Ayu menunjuk raut wajah memelas, hingga Bianca memundurkan jadwal kepulangan mereka.
"Baiklah Mbak, tapi kita ke Mall yang dekat dengan sini saja ya," kata Bianca.
"Iya, yang penting ngemall kita. Bosan, setiap hari telur bebek terus yang kita hadapi," kata Ayu.
**
Jonathan sudah tiba di club tempat Kamal biasa berada.
Brakk...
Pintu ruang kerja Kamal di dalam club terbuka dengan kasar, membuat Kamal yang sedang menatap komputer. Seketika kaget.
"Astaghfirullah...!" ucap Kamal seraya memegang dadanya.
"Kau ini, mau membuat aku sport jantung..!" seru Kamal.
"Sok alim kau..! sok ngucap..!" seru Jonathan, seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Tangannya menyambar air mineral dan meneguknya sampai habis.
"Bukan karena aku buka club malam, aku seorang bajingan. Aku tidak menyediakan gadis penghibur di sini, mereka yang membawa gadis sendiri. Aku hanya menyediakan tempat," kata Kamal.
"Sama saja, dosa," sahut Jonathan.
"Cukup membahas dosaku, ada apa?" tanya Kamal.
"Aku bertemu dengan Bianca," ucap Jonathan.
"Gadis kecil pengagum mu itu? di mana? bagaimana dia sekarang? pasti dia semakin cantik," ucap Kamal.
"Banyak sekali pertanyaan mu?" mata Jonathan garang menatap wajah Kamal.
"Hei..! kenapa kau marah? kau tidak menyukainya kan? kau tidak menyukai gadis itu, karena masih kecil. Masih 18 tahun, bagaimana keadaannya sekarang. Dia pasti lebih dewasa, sekarang umurnya sudah 22 tahun kan?"
Mendapatkan tatapan mata yang tajam dari Jonathan, Kamal hanya nyengir.
"Sorry." Kamal mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Ceritakan, di mana kau bertemu dengannya?"
Jonathan menceritakan semua, sampai motor yang dikendarai Bianca ingin menabraknya juga di ceritakan oleh Jonathan. Hanya yang tidak di ceritakan oleh Jonathan, mengenai anak laki-laki yang bertemu dengannya di kebun binatang.
"Begitu benci dia padamu, sehingga dia tidak takut untuk menabrak kamu Joe," kata Kamal.
__ADS_1
"Seharusnya, aku yang membencinya. kalau benar anak itu anakku, aku akan mengambilnya. Dia sudah memperkosaku, dan menyembunyikan putraku. Dia meninggalkanku dengan keadaanku seperti ini." batin Jonathan.
"Hei, apa yang kau lamunkan?" tanya Kamal, sambil menepuk lengan Jonathan.
"Tidak apa-apa" sahut Jonathan, kemudian berdiri keluar dari ruang kerja Kamal.
"Begitu saja, dasar jelangkung. Tidak jelas." gerutu Kamal.
***
"Paa, Jonathan pergi dengan tergesa-gesa tadi. Apa ada masalah dengan proyek pembangunan sekolah di kota T?" tanya Maya pada sang suami.
"Tidak ada kendala apapun, Papa sudah tanya Arumi. Tiga bulan lagi, semua selesai. Tinggal merekrut guru-guru yang kompeten di bidangnya masing-masing," kata Papa Jonathan.
"Mama lupa, Mama ada perlu dengan Arumi," ujar Maya dan kemudian keluar dari ruang kerja suaminya, Budi Dwipangga.
Maya mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Arumi.
Derrtt..
Arumi mengirimkan pesan video.
"Video." gumam Maya.
Maya membuka video yang dikirim oleh Arumi.
"Video apa ini? Apa Arumi salah kirim, ini hanya video Joe dengan anak kecil melihat hewan. Tidak ada yang aneh," ucap Maya.
Sampai tiba-tiba, mata Maya melotot. Saat melihat anak kecil yang bersama dengan Jonathan terlihat raut wajahnya dengan jelas.
Brak...
Tubuh Maya tumbang, jatuh keatas lantai.
Mendengar teriakkan Maya, yang pertama mendengar ada pembantu yang lagi bekerja didekat ruang keluarga.
Salma, sang pembantu. Langsung berlari kearah asal suara, betapa kaget Salma. Melihat majikannya terbaring dilantai dalam keadaan pingsan.
"Nyonya...! Tuan..!" Pekik Salma memanggil majikannya.
Bukan hanya Budi Dwipangga yang datang, tetapi satu pembantu yang mendengar teriakkan Salma berhambur menuju ketempat Salma berteriak.
"Ada apa Salma?" tanya Aminah.
"Bik..! Nyonya pingsan ini," ucap Salma.
Aminah bergegas berjalan menuju Maya yang terbaring dilantai.
"Nyonya..!" Bik Aminah jongkok didekat Maya, jemarinya menepuk dengan lembut pipi majikannya tersebut.
"Nyonya, bangun Nyah.." ucap Bik Aminah.
"Panggil Tuan Budi, Bik..!" seru Salma, setelah tidak berhasil membangunkan nyonyanya.
Bik Aminah bergegas berdiri, dan berlarian memanggil majikannya.
__ADS_1
"Tuan..!" Kali ini Aminah yang berteriak memanggil majikannya.
"Kenapa kalian berteriak, apa kalian ada lomba berteriak?" tanya Papa Jonathan, Budi Dwipangga yang berdiri di ujung tangga lantai dua.
"Tuan..! itu...tu..tu..!" seru Aminah terbata-bata karena gugup.
"Ada apa? tu..tu..hantu!?" Budi Dwipangga gemas melihat pelayannya yang sudah sepuh itu gugup.
"Bukan Tuan..!"
"Nyonya pingsan...!" teriak Aminah dari lantai bawah.
Mendengar Maya pingsan, Papa Jonathan seketika langsung panik dan terlihat pucat.
"Di mana?" tanya Budi Dwipangga seraya menuruni tangga dari lantai atas, dia tidak menapak setangga demi setangga. Langkahnya seperti melayang melewati tangga, saking gugupnya.
Ruang keluarga Tuan," sahut Aminah.
Budi Dwipangga bergegas melangkah, menuju ruang keluarga.
"Maya..!" panggil Papa Jonathan, saat melihat Maya tergeletak dengan tidak berdaya dilantai.
Budi Dwipangga menggendong Maya, dan meletakkannya di atas sofa.
"Ambilkan minyak angin." teriak Budi Dwipangga pada kedua pelayannya.
"Maa, bangun." Budi Dwipangga menepuk pipi sang istri.
"Ini minyak angin Tuan," Salma memberikan minyak angin.
Budi Dwipangga mendekatkan minyak tersebut kehidung Maya, beberapa saat kemudian.
Dan...
"Aaaaaaa...!" Maya tersadar, dan kemudian. Berteriak sekeras mungkin, dia langsung duduk. Menatap wajah suaminya dengan air mata bercucuran membasahi kedua belah pipinya.
"Maa, ada apa? Apa ada yang menakut-nakuti Mama?" tanya Budi Dwipangga pada sang istri.
"Paa, kita sudah tertipu. Kita tertipu..!" ucap Maya, dibarengi dengan suara tangisan yang keluar dari bibirnya keras.
Tidak terlihat lagi sosok Maya yang tegar dan tegas, yang kini terlihat hanyalah seorang istri dan ibu yang lemah.
"Siapa yang menipu? ada masalah apa? Apa Mama ikut investasi dan kena tipu?" tanya sang suami, Budi Dwipangga sembari memegang kedua bahu sang istri.
"Ahhhrghhh..! bukan itu..!" seru Maya dengan penuh perasaan yang sangat emosional.
"Terus apa? ceritakan pada Papa, jangan menangis terus. Biar Papa bisa bantu untuk menyelesaikannya," ucap sang suami.
"Kita di tipu..!" Maya terus menangis dan mengatakan di tipu, tanpa menceritakan tertipu karena apa.
"Aduh..! ribet wanita sudah nangis." gumam Budi Dwipangga, sembari memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari sang istri yang masih menangis tersedu-sedu, sampai hidungnya memerah seperti hidung badut. Budi Dwipangga mencari jawaban dari mulut kedua pelayannya.
**Bersambung 👉👉👉
__ADS_1
Author minta Like like like 🙏🥰**