Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Hati ke hati


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


Habiskan," ujar Jonathan.


"Bianca nggak mau bubur, Bian ingin makan seblak pedas," ujar Bianca.


"Apa itu seblak pedas?" Jonathan tidak ngeh dengan makanan yang diinginkan oleh Bianca.


"Ini." Bianca mengambil ponsel dan menunjukkan gambar di medsos, makanan yang diinginkannya kepada Jonathan.


Mata Jonathan terbelalak, melihat gambar yang diperlihatkan Bianca padanya.


"Merah begini! tidak boleh..! makan yang tidak steril itu, sakit perut nanti. Makan bubur saja..!" titah Jonathan, setelah melihat gambar makanan yang diinginkan oleh Bianca sangat mengerikan warnanya.


"Pelit..!" Bianca menarik selimut, menutup tubuhnya.


"Tahan Joe, anggap saja mengurus bayi." gumam Jonathan, untuk menahan diri untuk tidak meninggikan suara. Melihat tingkah Bianca yang kekanak-kanakan.


Jonathan meletakkan mangkok bubur, dan bangkit dari duduknya. Jonathan meletakkan bokongnya di sisi ranjang, dan berusaha untuk membujuk Bianca.


"Bian, ayo. Jangan seperti anak kecil, makanan itu tidak bagus. Lihat saja warnanya merah begitu? berapa kilo cabai yang berada dalam makanan itu," ujar Jonathan dengan suara yang lembut.


"Tapi Bian ingin sekali makan itu, Bian merasa makanan itu sudah berada didalam tenggorokan. Karena mas Joe pelit, makanan itu hilang lagi," ujar Bianca dengan mulut manyun memandang wajah Jonathan.


"Kita suruh Bik Minah yang buat, sepulang dari rumah sakit. Jangan sekarang, Apa Bian ingin berada di rumah sakit ini lama?" tanya Jonathan memandang Bianca dengan lekat.


"Tidak! Bianca tidak mau di sini, mas senang itu. Kamar cinta-cintaannya mas Joe dekat sini," ujar Bianca.


"Kamar cinta-cintaan? kamar apa?" kening Jonathan mengkerut, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Bianca.


"Mbak Chelsea! masih berada di rumah sakit kan?" tanya Bian, dengan mendongak menatap wajah Jonathan.


"Mulai lagi." batin Jonathan.


"Kenapa diam? mau mengunjungi Mbak Chelsea? pergilah, Bian mau tidur." Bian membalikkan badannya dan memunggungi Jonathan.


Jonathan merebahkan tubuhnya dibelakang Bianca, dengan berdesakan. Keduanya terbaring di ranjang rumah sakit yang tipe standard.


"Jangan memulai yang tidak ingin terjadi." gumam Jonathan.


"Bian, jangan lagi menyodorkan suamimu pada wanita lain. Ingin balas budi pada Chelsea, tidak harus dengan cara memberikan apa yang tidak akan sanggup kau berikan," ucap Jonathan.


"Bian." Jonathan membalikkan badan Bianca menghadap kearahnya.


"Buka matanya, jangan pura-pura tidur. Kita harus bicara." titah Jonathan pada Bianca.


Bianca membuka matanya.


"Kenapa kau terus menyodorkan suamimu pada wanita lain?" tanya Jonathan.


"Kasihan Mbak Chelsea, dia sendiri," ujar Bianca.


"Kasihan..! tapi tidak dengan memberikan suamimu padanya."


"Maaf." gumam Bianca.


"Jangan ulangi lagi, seperti aku tidak ingin berbagi. Aku harapkan kau juga jangan membagi suamimu pada wanita lain," ujar Jonathan dengan mempererat pelukannya pada tubuh Bianca.


"Sekarang, makan buburnya kembali. Biar kita besok pulang, di sini tidak enak. Kita harus berdesak-desakan begini, jika ingin tidur di ranjang dengan berpelukan," ujar Jonathan.


"Mas, Bian tidak ingin bubur. Bian ingin seblak pedas." Bianca tetap Keukeh ingin makanan yang diinginkannya.

__ADS_1


"Tidak boleh..!" tolak Jonathan dengan tegas, seraya bangkit dari ranjang. Karena mendengar pintu kamar di ketuk.


Ceklek.


Pintu terbuka, Pak Udin datang dengan membawa tas berisi buku.


"Den, ini kiriman dari nyonya." Pak Udin menyerahkan tas kecil dan paper bag pada Jonathan.


"Terima kasih Pak," ucap Jonathan.


"Permisi Den, Non," ujar Pak Udin.


Jonathan masuk kedalam kamar mandi, dan Bianca melotot melihat televisi dengan wajah kusut. Karena tidak mendapatkan makanan yang diinginkannya.


"Pelit..!" seru Bianca dengan menghentakkan kakinya dengan kesal.


Derrt...


Bianca melihat kearah ponsel Jonathan yang berada di atas nakas samping ranjang.


Derrt..


Bianca mengambil ponsel Jonathan, dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Chelsea?"


Bianca melihat nama Chelsea yang menghubungi Jonathan.


Karena penasaran, Bianca melihat pesan yang dikirim oleh Bianca. Tanpa sulit, karena Jonathan tidak pernah mengunci ponselnya.


..."Joe, besok datang kan kepernikahan? kau sudah kembali kan?" pesan dari Chelsea....


"Pernikahan? Chelsea menikah? dengan siapa?" pertanyaan berseliweran didalam benak Bianca.


Jonathan melihat kearah Bianca yang tidur.


"Tidak di makan." gumam Jonathan, saat melihat mangkok bubur masih penuh.


Jonathan mengambil ponselnya dan kemudian merebahkan tubuhnya di sofa.


"Chelsea." Jonathan membuka pesan Chelsea, dia tidak merasa heran. Pesan itu sudah terbuka.


Membaca pesan Chelsea, senyum terukir dibibirnya. Semua itu tidak lepas dari pengawasan mata Bianca yang sedikit terbuka.


"Senyum, apa Mas Joe yang akan menikah dengan Chelsea?" batin Bianca.


Bianca memejamkan matanya, yang sudah berembun.


"Mas joe jahat..! dia ingin menikahi Chelsea tanpa minta izin padaku..!" batin Bianca yang sedih.


"Jahat...jahat..!" batin Bianca mengumpat.


Jonathan tertidur karena letih seharian menempuh perjalanan panjang, sedangkan Bianca tertidur karena sedih. Membayangkan Jonathan akan menikah dengan Chelsea.


*


*


*


Bianca terbangun, karena mendengar suara yang membangunkannya.


"Nona." suara wanita membangunkan Bianca.

__ADS_1


"Eee.." Bianca menggeliat dan membuka matanya sedikit.


"Ada apa?" tanya Bianca dengan kesadaran yang belum sempurna, dari efek bangun tidur.


"Mandi Nona," ucap suster yang membangunkan Bianca.


"Mandi? aku bisa mandi sendiri," ujar Bianca yang menolak untuk dimandikan oleh perawat.


"Baiklah," sahut suster, seraya ingin membawa peralatan yang di bawanya untuk memandikan Bianca.


"Suster, tunggu." panggil Bianca, saat suster ingin keluar dari dalam kamarnya.


Mendengar panggilan Bianca, suster menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Bianca.


"Ya Nona," sahut suster tersebut.


"Apa kau tahu di mana suamiku?" tanya Bianca.


"Tadi pergi Nona, bapak katakan. Dia keruangan..." suster tersebut menyebutkan nomor kamar Chelsea.


Deg...


"Mas Joe...!" teriak Bianca dengan menangis kejer (nah..Lo, kebanyakan menghalu Bianca)


Bianca mencabut infusnya dan langsung turun dari ranjang.


"Nona! kenapa di cabut? anda belum bisa pergi kemana-mana..!" seru suster seraya menghalangi Bianca yang ingin keluar dari dalam kamar.


"Pinggir suster..! jangan halangi, saya ingin membunuh orang..!" seru Bianca dengan keras dan mendorong suster yang berdiri didepan pintu.


Bianca keluar dari dalam kamarnya, dengan bertelanjang kaki dan memakai pakaian rumah sakit. Bianca berjalan dengan cepat, dan air mata terus mengalir tanpa bisa dibendung lagi.


"Nona, anda harus kembali. Anda belum sehat," ujar suster yang mengikutinya.


"Diam! aku sudah sehat..! aku sudah bisa membunuh dua orang penghianat..!" seru Bianca dengan suara parau, karena tangisannya masih terdengar dari dalam mulutnya.


"Nona! anda tidak boleh membunuh orang," ujar suster tersebut seraya menahan Bianca agar tidak melanjutkan langkahnya.


"Jika aku tidak boleh! apa kau kau yang mau membunuh orang itu?" tanya Bianca pada sang suster dengan memberikan tatapan mata yang tajam.


Deg...


Tangan suster langsung seketika terlepas dari lengan Bianca, dan Bianca langsung melanjutkan langkahnya menuju kamar Chelsea.


Tiba didepan kamar Chelsea, tangis Bianca langsung pecah. Begitu mendengar. Kalimat yang dari dalam kamar yang pintunya tidak tertutup.


Sah...


"Penghianat...!" gumam Bianca yang berdiri didepan pintu.


Dan ..


Pingsan.


*


*


*


...BERSAMBUNG...


Cerita yang lain:. 👇👇

__ADS_1



__ADS_2