Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Tuan mesum


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


Kedua orangtuanya sudah sampai rumah, sedangkan Jonathan baru keluar dari tol. Setelah tadi sempat pecah ban.


"Kenapa pulang pergi kita selalu ketiban sial, selalu berurusan dengan ban. Untung ban sudah kita tambal waktu itu, jika tidak tadi. Mungkin kita akan tidur di jalanan lagi," ujar Kamal menggerutu sepanjang jalan menuju ke apartemennya.


"Apa kau tidak bisa diam! mulutmu seperti mercon, tre..tet...tet..tet terus..!" Jonathan kesal, karena terus mendengarkan omelan mulut Kamal seperti mulutnya sudah mengalami rem blong. Tidak terkendali.


"Joe, kau sudah harus mengganti mobilmu ini," kata Kamal.


"Hei...mobilku ini baru beli, hanya karena ban. Tidak mungkin aku langsung mengganti mobil," kata Jonathan.


"Baiklah, pertahankan mobilmu ini," ujar Kamal.


"Joe, ingat janjimu."


"Apa?" Jonathan melirik Kamal sekilas.


"Setelah kau mendapatkan Bianca, kau ingin melupakan janjimu..!" seru Kamal.


"Apa janjiku?" Jonathan tetap tidak ingat apa yang telah dijanjikannya pada Kamal.


"Belum tua kau sudah pikun." ledek Kamal.


"Aku tidak akan pikun, jika janjiku itu penting."


"Arumi, kau berjanji akan mendekatkan aku dengan Arumi," kata Kamal.


Jonathan tertawa kecil.


"Kau sungguh-sungguh dengannya? seperti yang aku katakan, dia itu kesayangan Papaku. Kau, jangan mempermainkannya. Satu lagi, kau harus memeriksakan dirimu. Aku tahu, kau itu petualang wanita sejati. Aku tidak ingin Arumi ketularan penyakit..!"


"Kau mengira aku tidak hati-hati, aku memeriksakan diri setiap bulan," jawab Kamal.


"Baguslah, dan lagi.."


"Apalagi? banyak sekali yang harus aku ikuti jika ingin dekat dengan Arumi, kau ini seperti orangtuanya Arumi saja..!"


"Dia sudah aku anggap sebagai adikku," kata Jonathan.


"Kau anggap adik? aku ngeri jika kau menganggap Arumi adik, aku takut Arumi seperti Bianca. Adik, tapi..." kata Kamal tidak melanjutkan ucapannya, setelah melihat wajah Jonathan yang masam.


Ciitt...


Mobil berhenti tiba-tiba


"Turun..!" titah Jonathan dengan suara yang kesal.


"Hei.. Joe, ini sudah gelap. Aku naik apa pulang ke apartemen?" tanya Kamal.


"Pakai kakimu..!" seru Jonathan.


"Kau tidak setia kawan, setelah aku membantumu. Kau menurunkan aku ditengah jalan..!" ketus Kamal.


"Turun! besarkan matamu, jangan hanya mulutmu saja terus mengomel."


"Apa?" tanya Kamal.


"Lihat." Jonathan memainkan jemarinya menunjuk kearah samping Kamal.

__ADS_1


"Apartemen..! kita sudah sampai di apartemen?"


"Pakai matamu, jangan mulut saja yang mengoceh tidak jelas. Cepat turun, aku sudah ingin pulang. Cepat..!" titah Jonathan pada Kamal.


Kamal turun, sebelum dia menutup pintu mobil. Kamal menundukkan kepalanya sedikit, dan berbicara pada Jonathan.


"Joe, ingat janjimu," kata Kamal.


"Iya," sahut Jonathan.


"Wanita saja yang ada di otaknya." gerutu Jonathan seraya melajukan mobilnya menuju apartemennya, karena Mamanya menyuruh Jonathan jangan tinggal di rumah. Saat Bianca tinggal di sana.


***


Bianca masuk kedalam kamar yang diberikan Mama Jonathan untuk dia tempati.


"Ini kamarnya, kalau aku di sini. Dia tidur di mana? oh.. mungkin dia tidur di apartemennya." gumam Bianca.


Bianca mengambil baju ganti, dan masuk kedalam kamar mandi, karena sejak tiba. Dia belum ada waktu untuk membersihkan diri, karena terus berada didalam Elvan.


"Segarnya." Bianca memejamkan matanya berendam didalam bathub.


Bianca hampir tertidur dalam bathtub, sampai tiba-tiba dia merasa ada tangan yang mengelus pipinya dengan lembut.


"El, jangan ganggu." gumam Bianca yang mengira dia sedang tidur di ranjangnya.


Tangan kembali mengelus bibir Bianca, membuat Bianca menepisnya.


Tiba-tiba, ada bibir yang menempel di bibir Bianca. Membuat mata Bianca terbuka lebar, dan tangannya mendorong wajah orang yang telah menempelkan bibirnya kebibirnya saat dia tertidur dalam bathtub.


"Aaa...!" pekik Bianca dan langsung berdiri di bathtub.


"Ya aku, pemilik kamar ini dan juga kamar mandi ini," ucap Jonathan dengan mata berbinar-binar menatap kearah Bianca yang berdiri dalam bathtub.


"Kau tidur di sini? bukan di apartemen?" tanya Bianca.


"Sebenarnya tadi aku ingin ke apartemen, tapi aku membatalkannya. Aku sangat bersyukur karena membatalkannya, jika tidak tadi. Aku tidak bisa melihat pemandangan gratis," kata Jonathan dengan tersenyum menatap Bianca.


"Pemandangan gratis?" Bianca belum sadar keadaan dirinya.


Jonathan tertawa kecil, dan menutup mulutnya dengan jemarinya. Matanya tidak berkedip memandang Bianca.


"Apa orang ini sudah kehilangan akal, senyum dan tawa tanpa ada yang lucu." batin Bianca.


Deg


Tiba-tiba Bianca merasa hawa dingin menerpa tubuhnya, kepalanya langsung menunduk.


Dan..


"Aaarrgghhh..!" pekik Bianca seraya loncat dari dalam bathtub, seketika tangannya ingin menyambar handuk didekat Jonathan. Tangan Jonathan dengan cepat langsung mengambil handuk tersebut dan menyembunyikan dibelakang tubuhnya.


Dan satu tangannya meraih pinggang Bianca, memeluknya dengan erat. Sehingga tubuh polos Bianca menempel di tubuh Jonathan.


"Lepas..!" pekik Bianca dengan suara tertahan, karena dia takut teriakannya akan menimbulkan keributan. Dan dia sendiri yang malu, karena mandi tidak mengunci pintu.


"Lepas! baiklah." Jonathan melepaskan handuk yang dipegangnya, kini keduanya tangannya memeluk tubuh polos Bianca.


"Tubuhku yang dilepaskan Tuan mesum..!" seru Bianca dengan kesal.


"Kenapa? dulu kau sangat menginginkannya, sehingga kau menjebak aku," kata Jonathan.

__ADS_1


"Itu...aku.." Bianca gugup, tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.


Tiba-tiba, Bianca ada yang aneh menempel di bagian bawah tubuhnya.


"Apa ini..?" tiba-tiba, Bianca merasa ada yang mengeras dibawah yang menekan area sensitifnya.


"Ternyata, hanya tubuhmu yang bisa membangunkannya. Kau harus bertanggung jawab." Jonathan meraih handuk yang berada dekat kakinya, kemudian memakaikannya ketubuh Bianca.


"Keluarlah, lain kali. Kunci pintu," ujar Jonathan.


Bianca, secepatnya keluar tanpa mengambil baju ganti yang dibawanya tadi.


Begitu Bianca keluar, Jonathan langsung berdiri dibawah shower. Untuk mendinginkan otaknya, karena melihat tubuh polos Bianca.


"Ternyata, aku tidak impoten." gumamnya.


Sedangkan Bianca, langsung lari kekamar Elvan melalui pintu penghubung.


***


Bianca tidur bersama dengan Elvan, setelah pemilik tidur kamarnya.


Bianca membuka matanya, dan merasa ada sepasang tangan melingkar di perutnya.


"Tangan siapa ini? Elvan, tidak mungkin."


Bianca mengangkat sedikit kepalanya, dan menoleh kearah belakang.


Deg..


Mata Bianca bulat sempurna, karena melihat Jonathan tidur dibelakangnya dengan memeluk pinggangnya.


Bianca dengan keras mendorong Jonathan, hingga Jonathan terjatuh keatas lantai.


"Aduh..!" Jonathan berteriak dengan memegang bokongnya.


"Apa yang kau lakukan diranjangku..!?" Tanya Bianca kesal, karena baru dua hari di rumah keluarga Jonathan. Bianca sudah mengalami kerugian dua kali.


Hari pertama, Bianca telah menunjukkan seluruh tubuhnya. Hari kedua, Bianca telah dipeluk Jonathan tanpa perlawanan.


"Kenapa sekarang kau sangat kasar? di mana Bianca yang manis dulu dan yang lemah lembut?" Tanya Jonathan.


"Dia sudah mati empat tahun yang lalu," sahut Bianca ketus.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, Elvan keluar dengan melilitkan handuk di pinggangnya.


"Om, kenapa duduk dilantai?" Tanya Elvan.


"Om, El. Kan sudah papa katakan, panggil Papa. Karena ini papa Elvan, bukan Om," kata Jonathan seraya bangkit dari lantai.


"Papa? Apa itu papa?" Tanya Elvan, karena Bianca tidak pernah menyebutkan papa pada Elvan. Hingga dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan papa.


"Papa itu sama dengan ayah," kata Jonathan.


"Ayah? Seperti ayah bebek?" Tanya Elvan.


"Iya, sama seperti ayah bebek. Bebek Elvan punya ayah, ini ayah Elvan," kata Jonathan, dengan menerangkan siapa dia bagi Elvan.


......Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2