Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Drama fitting baju.


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Opa..!" Elvan sangat senang, melihat banyak burung dengan berbagai macam jenis.


"Ingin El bawa pulang semua Opa..!" seru Elvan dengan mata berbinar menatap burung kecil dalam satu kandang.


"Jika mereka kita bawa pulang, Opa pasti akan tidur dihalaman belakang." gumam Budi Dwipangga.


"Opa..! sini..!" teriak Elvan memanggil sang Opa yang lagi memikirkan nasibnya, jika sampai Elvan memborong semua hewan berkaki dua berjenis unggas dari dari pasar. Maya, sudah pasti akan mengomel Sepanjang hari.


Budi Dwipangga datang mendekati sang cucu yang sedang jongkok didepan kandang yang berisi bebek.


"Opa, El rindu dengan Ayah bebek," ujar Elvan dengan raut wajah terlihat sangat sedih.


"Rindu, bagaimana jika nanti Vidio call dengan orang yang mengurus bebek-bebek El. Biar El bisa berbicara dengan Ayah bebek." usulan sang Opa membuat wajah El yang tadinya sedih, kini terlihat gembira kembali.


"Betul ya Opa, El mau lihat ayah bebek," kata Elvan.


"Sure..!" Budi Dwipangga mengacungkan dua jarinya.


"Apa sure Opa?" tanya Elvan yang baru mendengar perkataan yang Opa Budi Dwipangga katakan.


"Sure itu, pasti. Opa janji akan melakukan video call dengan yang jaga Ayah bebek."


"El sayang Opa..!" seru El seraya memeluknya.


"Opa juga sayang El, sekarang. El mau beli apa?"


"El tidak mau apa-apa, nanti El pulang. Ayah bebek cemburu, lihat El bawa burung pulang," kata Elvan.


"El mau pulang? apa El tidak suka tinggal di sini dengan Opa dan Oma ?" tanya Budi Dwipangga.


"Suka, di sini ramai. Ada Opa, Oma dan juga Om," kata Elvan.


"Om? Om siapa?" tanya sang Opa, yang belum mengetahui bahwa Elvan masih memanggil Jonathan dengan panggilan Om.


"Om Joe," jawab Elvan.


"Ternyata, El masih belum tahu. Jonathan Papanya." gumam Budi Dwipangga.


"El, sini." Budi Dwipangga membawa Elvan duduk di kursi yang ada di pasar burung.


"El, ini siapa?" sang Opa menunjuk dirinya.


"Opa," jawab Elvan.


"Opa ini, Papanya Jonathan. Yang Elvan panggil Om," kata sang Opa.


Elvan menatap wajah sang Opa dengan serius, membuat sang Opa yang serius tadinya. Kini tertawa sendiri.


"Opa jadi bingung, apa yang Opa harus katakan," ujar Budi Dwipangga dengan menggaruk pelipisnya.


"Om Joe itu, Papa Elvan..!" tutur sang Opa yang bingung untuk menjelaskan pada Elvan mengenai sosok Papa.


"Papa," ucap Elvan.


"Iya, Papa. Elvan itu ada karena bersatunya dua elemen, dan menghasilkan Elvan," ujar Budi Dwipangga.

__ADS_1


Elvan hanya menatap wajah sang Opa, tidak mengerti apa yang dikatakannya.


"Elvan ngerti?" tanya sang Opa.


Elvan menganggukkan kepalanya.


"Bagus, cucu mantan guru harus pintar. Elvan harus manggil Joe dengan sebutan Papa ya, Papa Joe," ucap sang Opa.


"Iya, Papa Om Joe," ujar Elvan.


"Duh...!" sang Opa menepuk jidatnya.


"Begitu sulit mengajar anak usia 4 tahun." gumam Budi Dwipangga.


****


Jonathan dan Bianca tiba di butiq Tante Imel, kedatangan keduanya di sambut Tante Imel dengan senang. Karena dia yang pertama duku orang yang ingin menjodohkan Jonathan dengan Bianca.


"Selamat datang Bian..! masih ingat Tante Imel kan ?" tanya Tante Imel seraya memeluknya dan cipika-cipiki.


"Masih Tante, Bian tidak akan pernah lupa," jawab Bianca.


"Dan kau anak muda, apa kabar? Tante sudah dengar cerita cinta kalian berdua, Tante tidak mengira. Kau ternyata anak nakal..!" jemari Tante Imel menarik kedua pipi Jonathan.


"Tante! kenapa seperti Mama, suka sekali menganiaya," ujar Jonathan.


"Karena Tante dan mamamu itu sepupuan, kami mempunyai sifat yang sama."


"Ayo sayang, kita cari baju yang sesuai denganmu."


Tiga kali Bianca bolak-balik berganti baju, karena Jonathan kurang sreg dengan desain baju yang dikenakan Bianca.


"Jangan mode itu, terlihat gemuk ditubuhnya." saat Bianca pertama sekali mencoba bajunya.


Bianca masuk keruang ganti, tak lama keluar kembali dengan baju yang berbeda.


"Tidak, jelek. Jangan warna hijau, mirip lontong," ujar Jonathan seraya mengibaskan tangannya, agar Bianca mengganti bajunya.


"Lontong?" ucap Tante Imel.


Bianca melotot menatap Jonathan dengan kesal, Bianca merasa Jonathan sedang mengerjainya.


"Iya, hijau warna daun pisang. Di pakai Bianca yang badannya lurus, tidak ada lekukan tubuhnya. Dia terlihat seperti lontong." Jonathan berkata tanpa memikirkan Bianca yang kesal, dikatakan tidak mempunyai lekuk tubuh.


Dengan menghentakkan kakinya, Bianca kembali masuk kedalam ruangan ganti.


Bianca keluar, dengan memakai baju pengantin berwarna biru. Dan lagi-lagi, Jonathan tidak menyukainya.


"Tidak! warnanya norak..! dan lihat belahan dadanya begitu rendah, jika dia membungkukkan badannya, bagian dadanya akan terlihat. Ganti..!" seru Jonathan, saat melihat Bianca memakai kebaya berwarna biru.


"Joe, ini sudah ketiga kalinya ya. Yang keempat harus mau..!" titah Tante Imel dengan kesal.


"Tante, warnanya itu terlalu tua buatnya," ujar Jonathan.


"Kau selalu protes..!" kesal Tante Imel.


Sedangkan Bianca, bukan kesal lagi. Tapi sudah marah sampai ke ubun-ubun, dan sebentar lagi akan meledak.


"Heran, apa mau orang itu. Sepertinya dia ingin membuat aku kesal, baiklah Tuan pengacau. Aku akan memakai warna ini." gerutu Bianca didalam ruang ganti.

__ADS_1


Bianca memakai baju pengantin yang diambilnya, kemudian keluar.


Uhuk...uhuk...


Jonathan yang sedang minum langsung terbatuk-batuk, karena kaget melihat Bianca keluar dengan memakai baju pengantin berwarna hitam pekat.


Tante Imel tertawa terbahak-bahak, melihat Bianca memakai baju pengantin bertema Gothik.


"Apa kau ingin menikah, atau mengunjungi orang meninggal?" tanya Jonathan.


"letih..!" seru Bianca dengan suara yang pelan, tangannya mengipas-ipas wajahnya. Walaupun ruangan ada pendingin udara, tapi. Bianca merasa gerah, karena berkali-kali berganti baju.


"Joe, sebenarnya kau ini serius apa ingin mengerjai Bianca saja?" tanya Tante Imel.


"Serius Tan, baju yang di cobanya tidak ada yang bagus. Apa di butiq Tante ini tidak ada baju yang bagus?" tanya Jonathan.


Plak...


Tante Imel memukul lengan Jonathan, karena Jonathan merendahkan isi butiq nya.


"Selera mu yang payah..!" gerutu Tante Imel.


Jonathan berdiri, dan mencari baju pengantin yang di rasanya sesuai dikenakan oleh Bianca.


"Ini, ganti baju berkabung itu," ujar Jonathan sembari memberikan baju yang di pilihnya.


Bianca tidak menerima baju yang diberikan Jonathan, hatinya masih kesal.


"Bian, coba pakai, kita lihat. Apakah baju yang dipilihnya sesuai denganmu," kata Tante Imel.


Akhirnya, Bianca menerima baju pilihan Jonathan. Dan membawanya ke ruang ganti.


Tidak lama kemudian, Bianca sudah keluar dengan baju pilihan Jonathan.


"Wow..! pilihanmu sang elegan dipakai Bianca Joe," ucap Tante Imel, yang mengakui pilihan Jonathan bagus.


"Bajunya sangat sopan, bagian dadanya sangat tertutup," ujar Jonathan.


"Ternyata, kau sangat posesif," ujar Tante Imel.


"Bukan posesif Tan, tapi menjauhkan orang dari dosa," ujar Jonathan.


"Dosa?" bingung Imel.


"Iyalah, setiap orang melihat cara berpakaian orang yang minim. Orang yang melihat itu, pasti membayangkan yang tidak-tidak. Dan tambah dosa, kita yang berpakaian minim telah membuat orang itu berdosa." terangkan Jonathan panjang lebar.


"Ahh... bingung Tante dengan apa yang kau katakan, Bian. Apa ada yang perlu di perbaiki?" tanya Tante Imel.


"Pinggangnya, sedikit besar." beritahu Bianca.


"Ok, hanya itu?" tanya Tante Imel.


"iya Tan, tidak ada yang lain," sahut Bianca.


Bianca menarik napas panjang, dia merasa lega. Karena, dia benar-benar sangat lelah.


"Sepertinya, Joe ingin membuka butiq Tan," ujar Jonathan.


"Hei..! jangan rebut lahan Tante," ujar Imel.

__ADS_1


Akhirnya, drama fitting baju pengantin berakhir. Dengan pilihan Jonathan yang akan dikenakan Bianca saat resepsi, sedangkan saat akad. Kebaya putih yang sudah dipilihkan oleh Mama Jonathan.


...Bersambung...


__ADS_2