Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Takut


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


Suara tangisan bayi menyadarkan dokter dan perawat dari termangu.


Dokter mengambil baby Joice dan memberikannya pada perawat, dia sendiri langsung memeriksa keadaan Joice.


Begitu memeriksa kondisi Joice, dokter menghela napas panjang dengan lega. Karena Joice bukan koma, tapi pingsan karena kelelahan.


Diluar ruangan, Tama gelisah. Karena sejak masuk kedalam ruang bersalin, tidak ada dokter dan perawat yang keluar untuk mengatakan mengenai kondisi sang istri.


Dari ujung lorong rumah sakit, Jonathan melangkahkan kakinya dengan lebar menuju sang Abang ipar yang terlihat sangat cemas.


"Bagaimana mas ? Apa ada kabar dari dalam?" tanya Jonathan.


Tama menggelengkan kepalanya, tangannya saling meremas. Sangat terlihat dari raut wajahnya, Tama sangat cemas menunggu kabar dari dalam.


Keduanya berdiri menunggu ruang bersalin terbuka, sampai mereka berdua tidak menyadari Papa dan Mamanya sudah bergabung dengan keduanya didepan ruang bersalin.


"Bagaimana? apa sudah lahir? kau kenapa diluar Tama?" tanya Maya, sang mertua.


"Tadi Tama mengurus administrasi Maa, balik kesini. Tidak ada perawat yang keluar mencari Tama," kata Tama.


"Kenapa tidak kau masuk ke dalam Tama..!" seru Budi Dwipangga pada menantunya.


"Masuk! tetapi didalam banyak ibu yang akan melahirkan Paa," kata Tama.


"Kau itu jangan main masuk saja..! tuh..tekan tombol, nanti ada perawat keluar. Kau tanya tentang Joice..!" Maya, sang mertua mengomeli menantunya yang tiba-tiba menjadi bodo.


"Oh iya, Tama panik Maa," ujar Tama.


"Kau sudah pernah menemani Joi melahirkan, apa yang kau panik kan lagi, kelahiran Yoan yang penuh dengan drama saja bisa kau hadapi," ujar Budi Dwipangga, sang menantu yang kelihatan gugup.


Jonathan hanya duduk termangu, dia mendengarkan apa yang dibincangkan oleh kedua orang tuanya dan Abang ipar.


"Apa Bianca melahirkan dulu, sama seperti apa yang dialami mbak Joi sekarang ini." batin Jonathan.


"Cepat..!" titah sang Mama mertua.


Tama beranjak untuk menekan bel, tetapi tangannya belum menyentuh bel. Pintu ruangan bersalin terbuka dengan keluar seorang dokter dan perawat.


"Bagaimana Dok? istri saya ?" tanya Tama pada dokter Marisa, dokter yang menangani persalinan Joice yang pertama dulu dan yang kedua ini juga.


"Alhamdulillah Pak Tama, putra bapak lahir dengan selamat," ujar dokter Marisa.

__ADS_1


"Maa, Paa. Anak kami sudah lahir..!" teriak Tama dengan gembira.


"Alhamdulillah..!" seru Maya dan Budi Dwipangga secara bersamaan.


"Bagaimana dengan Joice, istri saya?" tanya Tama.


"Istri anda masih keadaan pingsan, tapi dia..." dokter Marisa belum menyelesaikan ucapannya, Tama dan keluarga sudah kelihatan panik.


"Pingsan..!" wajah Tama yang tadi gembira, kini berubah menjadi sedih dan kelihatan pucat.


"Paa, Maa..!" seru Tama.


"Pingsan..! kenapa bisa pingsan..! apa yang telah kalian lakukan..!" Jonathan marah, begitu mendengar Joice pingsan.


"Bagaimana bisa pingsan Dok? tadi istri saya baik-baik saja?" tanya Tama.


"Sabar Bu, Pak. Dengarkan dulu, apa yang akan dikatakan dokter," ujar suster yang keluar bersama dengan dokter Marisa.


"Sabar..sabar suster katakan..! siapa yang bisa sabar..! yang didalam sana saudara saya, dia seorang istri dan seorang ibu..!" Jonathan marah, mendengar perkataan suster yang menyuruh mereka untuk bersabar.


"Harap tenang bapak dan ibu, pasien pingsan karena kelelahan. Bukan karena ada hal yang serius," ujar dokter Marisa dengan cepat.


"Kelelahan?" tanya Tama.


"Iya, Bu Joice kelelahan. Saat saya belum masuk kedalam ruang bersalin, Bu Joice sudah melahirkan tanpa butuh bantuan saya," ujar dokter Marisa.


"Cucu kita ini pasti lebih lincah melebihi Yoan Paa," kata Mama.


"Untung, Elvan sedikit pendiam." sambung Papa Jonathan.


***


Chelsea keluar dari dalam kamarnya dengan berpakaian yang berbeda seperti biasanya.


Kini, rok mini menutupi sebagian kaki jenjangnya. Tidak ada rok panjang dan baju longgar menutupi tubuhnya. Chelsea merubah penampilannya.


Hari ini Chelsea merasa ingin bebas, sebebas-bebasnya. Selama hidupnya, dia merasa harus mengikuti kemauan orang. Pertama Papa dan Mamanya, dan Riko yang menginginkan dia untuk menjadi wanita yang perfek, dengan memakai busana yang tidak terbuka.


Kini, Chelsea merasa. Kekangan dan peraturan dari Riko yang sudah meninggalkannya tidak membelenggu hidupnya lagi.


Rok mini dan tank top dipadukan dengan blazer menutupi sebagian tubuh atasnya. Bibirnya yang biasanya hanya diolesi lip baml, kini lipstik merah menyala menempel di bibirnya.


Semua barang yang dipakainya saat ini, sudah lama menjadi koleksi lemarinya.Tapi belum ada kesempatan untuk digunakannya, hari ini dia mengeluarkan semua pakaian yang biasa dipakainya. Menggantikannya dengan pakaian baru.


Chelsea keluar dari dalam rumah, kemudian berhenti didepan mobilnya sejenak. Chelsea menatap kearah langit yang cerah, secerah hatinya hari ini.

__ADS_1


"Ini awal dari kehidupan ku..!" seru Chelsea dengan aura wajah yang gembira.


Chelsea mengemudikan mobilnya menuju rumah Mamanya, yang kini tinggal sendiri. Setelah kematian papanya.


Chelsea menghentikan mobilnya didepan pintu gerbang, tanpa memasukkan mobilnya kedalam. Lalu kemudian dia masuk kedalam dari pintu kecil, sebelah gerbang utama.


Melihat kedatangan putri majikannya, tukang kebun menyapanya dengan hormat. Walaupun, Chelsea tidak pernah membalas sapaannya.


"Pagi Non Chelsea." sapa tukang kebun yang merangkap sebagai satpam, sembari menundukkan kepalanya sedikit.


"Pagi Pak Udin," sahut Chelsea dengan raut wajah ceria, menatap orang yang dipanggilnya dengan nama Pak Udin.


Pak Udin kaget, karena Chelsea membalas sapaannya.


"Tumben Non Chelsea membalas sapaan saya," ucap pak Udin, setelah Chelsea jauh dari tempatnya berdiri.


"Semoga Non Chelsea selamanya begini, ramah dengan orang." gumam Pak Udin.


Chelsea terus masuk menuju halaman belakang, di mana biasanya Mamanya berada saat di pagi hari.


"Selamat pagi Maa." sapa Chelsea.


"Kenapa kau pagi datang?" tanya Utari, Mama Chelsea seraya memandang arah belakang Chelsea.


"Tidak perlu Mama tunggu, mereka tidak akan datang," kata Chelsea yang tahu, siapa yang Mamanya tunggu. Yaitu Adella, cucu satu-satunya dari putri semata wayangnya.


"Della tidak ikut?" tanya Utari, Mama Chelsea.


"Tidak, Chelsea ada ingin katakan pada Mama," kata Chelsea.


"Ada apa? kau hamil ?" tebak Utari, Mama Chelsea.


"Tidak Maa, tidak ada hamil lagi. Chelsea hanya ingin mengatakan, kami akan bercerai. Aku dan Riko akan bercerai, Riko sudah menjatuhkan talak," ucap Chelsea dengan santai, mengatakan berita buruk bagi sang Mama.


Utari, Mama Chelsea hanya terdiam. Dia tidak bisa mengatakan apapun juga, mulutnya tiba-tiba terasa kaku untuk berucap. Hanya matanya yang menatap wajah sang putri dengan penuh perasaan kecewa.


"Maa, katakan sesuatu. Kenapa Mama diam saja?" tanya Chelsea.


"Apa yang harus Mama katakan, jika kau sudah memutuskan rumah tanggamu dengan begitu mudahnya. Tampa terlebih dahulu mengatakan apapun pada Mama," ujar Utari, Mama Chelsea.


"Riko, adalah pilihanmu. Bukan kami yang memaksamu," ujar Utari dengan perasaan yang kecewa.


Sebenarnya, Utari sudah tahu dengan perpisahan yang terjadi dengan antara Chelsea dan Riko. Karena Riko sudah datang menemui Mama mertuanya beberapa hari yang lalu, mengenai Chelsea yang ingin pisah dengannya. Tapi Mama Chelsea berusaha untuk membujuk Riko sang menantu tidak menuruti keinginan Chelsea untuk bercerai.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...**...


Jangan lupa untuk menekan tombol like, terima kasih atas dukungannya**


__ADS_2