
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Bianca terbangun dengan terkejut, karena merasa ada bibir orang yang menciumi wajah dan ceruk lehernya dengan ganas dan liar. Dengan sekuat tenaga, Bianca berusaha mendorong wajah orang yang menempel dilehernya dengan memberikan kecupan dibarengi dengan gigitan-gigitan kecil.
"Ahhh..! Tolong..! ada vampir..!"teriak Bianca dengan panik sambil meronta-ronta, agar terlepas dari Kungkungan tubuh orang yang sudah berada di atas tubuh Bianca.
"Huss...! Jangan teriak, nanti El bangun," ucap Jonathan dengan menghidupkan lampu tidur didekat ranjang. Tangannya yang satu menutup mulut Bianca agar tidak teriak, walaupun kamarnya kedap suara. Tapi, teriakan Bianca bisa membangunkan Elvan yang kamarnya tidak ditutup dengan rapat oleh Jonathan.
Kamar yang tadinya gelap, hanya cahaya dari balkon yang masuk dari sela-sela tirai kamar. Kini terang, Bianca dapat melihat wajah Jonathan yang tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang menutupi badan bagian atasnya. Mata Bianca terbeliak. Saat melihat wajah Jonathan tepat didepan wajahnya.
Setelah melihat Bianca cukup tenang, Jonathan melepaskan jemarinya dari mulut Bianca.
"Mas mau apa?" tanya Bianca, setelah tangan Jonathan tidak membekap mulutnya lagi.
"Mau.."
Jonathan tidak melanjutkan ucapannya, bibirnya langsung melummat bibir Bianca. Tangan dan bibirnya bergerilya dengan lihainya, Bianca yang kaget mendapatkan sergapan Jonathan, tidak bisa menghindarinya. Akhirnya, Bianca melayani apa yang diinginkan oleh Jonathan.
Setelah puas mendapatkan pelepasan berkali, dan melihat Bianca yang sudah kelelahan. Jonathan bergeser dari atas tubuh Bianca dan kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang masih polos, tanpa ada sehelai benang menutupi seluruh tubuh keduanya.
Dengan bertumpu pada satu siku lengannya, Jonathan menatap wajah Bianca dengan lekat. Jemari tangannya membelai lembut wajah Bianca yang terlihat sekali sangat kelelahan.
Karena Jonathan menghajarnya, seperti tidak ada lagi hari esok untuk mereka berdua nikmati.
"Wajahmu tidak pernah berubah." gumam Jonathan.
Karena Jonathan tahu, meja rias hanya ada bedak baby dan lip baml yang di pakai Bianca untuk menghiasi wajahnya.
Setelah puas memandangi wajah Bianca, Jonathan menyusul Bianca masuk kedalam dunia mimpi masing-masing.
Keduanya tertidur, tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Karena rasa letih, membuat keduanya tertidur dengan lelap.
***
Pagi hari, Bianca sibuk memasukkan baju ganti untuk dibawa Jonathan mengunjungi proyek pembangunan sekolah cabang di kota T.
"Mas, cukup bawa dua helai baju?" tanya Bianca.
"Cukup, itu untuk jaga-jaga. Jika kemungkinan menginap," sahut Jonathan.
"Bian, bagaimana. Jika kalian ikut?" tanya Jonathan sambil dia menyisir rambutnya didepan cermin didalam walk in closed.
"Ikut..! tidak bisa mas, hari ini mau nemani mbak Ayu belanja. Besok mbak Ayu akan pulang," jawab Bianca.
"Oh ya, masalah tempat tinggal. Ayu bisa tinggal di mess karyawan." beritahu Jonathan.
"Mess karyawan? dekat sekolah mas? atau jauh dari sekolah?" tanya Bianca.
"Dekat rumah yang kalian tempati dulu, sekarang. Di sana telah dibangun mess, khusus untuk para guru yang tinggal dari luar kota," jawab Jonathan.
__ADS_1
"Ooh..sudah lama tidak kesana, ingin lihat rumah dulu. Siapa yang nempatin rumah itu mas?" tanya Bianca.
"Wakil kepala sekolah, Pak Sandy," sahut Jonathan.
"Wakil kepala sekolah sudah ganti mas? Pak Suryopranoto kemana?" tanya Bianca, karena dulu. Saat Papanya menjabat kepala sekolah, sang wakil bernama Suryopranoto.
"Pak Suryopranoto di pindahkan Papa menjadi kepala sekolah di cabang Bina Bangsa di daerah lain."
"Ternyata, banyak yang sudah berubah sejak kepergianku." ujar Bianca sambil menutup koper dan menurunkannya dari atas ranjang.
"Siapa suruh pergi?" tanya Jonathan.
Bianca mendengar perkataan Jonathan, dan menjawab dengan suara nyaris tak terdengar.
"Dia yang suruh tidak muncul dihadapannya, dia yang bertanya siapa suruh pergi." gumam Bianca.
"Bicara apa itu? bicara yang jelas, jangan komat-kamit tidak jelas. Nanti di bilang orang gila..!" seru Jonathan.
"Iya." jawab Bianca.
Jonathan mengambil koper kecil yang telah dipersiapkan oleh Bianca, dan membawanya turun.
Di meja makan, Jonathan melihat Elvan sedang menikmati segelas susu coklat.
"Ternyata sudah di sini? kenapa tidak menemui Papa?" tanya Jonathan pada Elvan, karena biasanya Elvan setelah bangun langsung menuju kamar kedua orangtuanya.
"Kata budhe Ayu, tidak boleh Paa. Karena Papa dan Mama sedang membuat adek kecil," jawab Elvan sembari memakan bubur ayam, sebagai menu sarapan pagi yang sangat disukainya. Sejak dia tinggal di kota.
Uhuk...uhuk...
"Mbak Ayu..!" Bianca mendelikkan matanya menatap Ayu.
"Oh ya, good boy. Apa El mau adik bayi? tanya Jonathan.
"Adik itu apa?" tanya Elvan.
"Adik itu, bayi mungil yang keluar dari dalam perut Mama." jelaskan Jonathan pada sang putra, sedangkan Elvan memikirkan apa yang diucapkan Jonathan. Keningnya berkerut.
"Ohh .. seperti bebek El, keluar telur ya Paa?" tanya Elvan.
"Mas, El tidak akan mengerti," ujar Bianca, agar Jonathan berhenti menerangkan tentang asal usul bayi.
"Kapan Mama akan mengeluarkan telur, seperti bebek El Maa?" tanya Elvan dengan memandang sang Mama dengan pandangan mata yang serius.
"Tuh..kan mas, El belum mengerti..! mbak ini, jangan bicara yang tidak-tidak pada El..!" seru Bianca pada Ayu, sambil mengerucutkan bibirnya.
Ayu hanya nyengir, sambil menyuap nasi uduk kedalam mulutnya.
"El, habiskan buburnya." titah Bianca pada sang putra.
Setelah selesai sarapan, Jonathan memberikan kecupan dipuncak rambut Elvan seraya berbisik pada putranya tersebut.
__ADS_1
"El dirumah ya, jangan nakal. Jaga kan Mama untuk Papa ya, ok boy," ucap Jonathan dengan berbisik, agar tidak didengar Bianca.
" Ok Papa," sahut Elvan sambil menganggukkan kepalanya.
"Ingat! Jangan ada boleh pria yang dekat-dekat dengan Mama." sambung Jonathan kembali.
"Pria..?" Elvan bingung mendengar pesan Jonathan yang terakhir.
"Mas..! jangan yang aneh-aneh lagi ya..!" seru Bianca, saat melihat Elvan bingung melihat Jonathan.
"Tidak ada yang aneh, aku hanya memberi pesan. Agar El menjaga rumah, karena El pria satu-satunya di rumah ini" kata Jonathan.
"Pak Kusno dan Pak Asep kan ada," sahut Bianca.
"Pak Kusno dan Pak Asep kan diluar." balas Jonathan.
"Sudah mas, berangkat sana. Katanya mau singgah ke sekolah." ingatkan Bianca pada Jonathan.
"Hati-hati di rumah, kalau keluar rumah. Harus pakai sopir, jangan pergi sendiri," ucap Jonathan sambil berjalan keluar dari dalam rumah.
Jonathan memasukkan kopernya kedalam bagasi, saat ingin masuk kedalam mobilnya.
Tiba-tiba..
Sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
"Mas Joe," ucap Bianca.
"Ada apa? kau seperti dalam film-film saja, suami pergi. Sang istri berat untuk berpisah, apa kau tidak ingin aku pergi apa yang tadi malam kurang? jika aku tidak terburu-buru, aku akan memberikan servis terbaik." gurau Jonathan.
Bianca tidak berkata, tangannya semakin erat memeluk tubuh Jonathan dari belakang. Kepalanya ditempelkannya kepunggung Jonathan.
"Terima kasih, mas Joe telah menjadikan aku istri. Walaupun waktu kita singkat, tiga Minggu menjadi istri mas Joe. Bian sudah sangat gembira, sekarang. Bian akan pergi, Bian ingin Mas Joe bahagia." batin Bianca.
"Hei Nyonya! ada apa? jika tidak ingin berpisah, bagaimana jika kalian ikut?"
Bianca menghapus setitik air diujung bola matanya, sebelum dia melepaskan pelukannya.
Bianca melepaskan pelukannya ke pinggang Jonathan.
Jonathan memutar badannya, menghadap Bianca. Dan menatap wajah Bianca.
"Ada apa?"
"Tidak ada, Bian hanya mempraktekkan apa yang dilakukan pemain Drakor saat suami mereka pergi lama," ucap Bianca.
"Dasar..!"
Jonathan mengecup kening Bianca untuk pertama kalinya, karena. Bianca tidak pernah mengantar Jonathan pergi kerja sampai mobil.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...***...
Tetap tekan tombol like like like 🙏