Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Gugup


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


"Della, jangan lari-lari..!" seru Riko seraya mengejar Della.


"Bu Nita..!" seru Della dengan gembira.


"Della, dengan siapa ?" tanya gadis yang di panggil Nita oleh Della.


"Dengan Papa Della, Papa. Sini !" panggil Della pada Riko.


"Bu Nita, ini Papa Della," ujar Della mengenalkan Papanya pada Nita.


Riko mengulurkan tangannya kepada Nita.


"Riko," ucap Riko.


"Yunita, panggil saja Nita," ucap Nita mengenalkan diri.


"Bu Nita, guru Della Paa," ujarΒ  Della.


"Ini teman saya, Lisa. Guru juga ditempat Della." Nita mengenalkan Lisa pada Riko.


"Lisa," ucap Lisa.


"Riko." balas Lisa.


"Della, ayo kita duduk di sana," ujar Riko menunjukkan meja yang sedikit jauh dari tempat Nita duduk.


"Kita duduk di sini saja ya Paa, boleh kan Bu Nita?" tanya Della.


"Silakan," ucap Nita


"Silakan Pak Riko, biar saya pindah duduk ke samping Nita," kata Lisa.


Della langsung duduk didepan Nita, wajah Della terlihat gembira. Karena bisa bertemu dengan gurunya kesayangannya.


"Terima kasih," ucap Riko seraya meletakkan bokongnya di samping putrinya Della.


"Paa, Bu Nita baik pada Della. Della sering dikasih roti, rotinya enak," kata Della membanggakan Nita kepada Riko.


"Del, ibu baik kepada teman-teman Della juga kan," ujar Nita yang tidak ingin hanya baik terhadap seorang murid saja.


"Iya, tapi Bu Nita paling baik pada Della," ucap Della dengan gembira.


Della tersenyum melihat Della, muridnya yang terkenal pendiam di kelas 1 yang di ajarnya. Terlihat sangat gembira.


"Maafkan putri saya, jika sering menyusahkan anda Bu ," ujar Riko.


"Della tidak pernah menyusahkan Pak Riko, hanya saya minta kepada kedua orangtuanya Della. Jika ada pertemuan dengan orang tua murid, saya harapkan anda dan istri bisa hadir. Sisihkan sedikit waktu untuk mendengar perkembangan putri anda Pak," kata Nita.


"Maaf Pak, jika saya katakan di sini. Karena, sudah sering saya tulis di buku penghubung. Tapi tidak ada tanggapan dari pihak orang tua Adella Puspa." sambung Yunita.


"Maaf Bu, saya lebih sering diluar kota," ujar Riko.

__ADS_1


"Tapi saya janji, pertemuan yang akan datang. Saya akan datang," kata Riko.


"Jika bapak keluar kota, istri anda bisa hadir untuk mewakili ," ujar Yunita yang sepertinya ingin melampiaskan kekesalannya selama ini terhadap wali muridnya .


"Maaf sekali lagi Bu, istri saya Chelsea juga sibuk dengan bisnisnya," ucap Riko.


Deg...


"Chelsea, namanya mirip nama saingan cinta Bianca? tapi tidak mungkin. Nama Chelsea bukan hanya satu di dunia ini." batin Yunita.


"Bulan depan, saya harapkan. Bapak atau ibu bisa hadir," kata Yunita.


"Insyaallah Bu Nita, saya akan datang," sahut Riko dengan perasaan yang malu, karena sepertinya dia dan Chelsea tidak perduli dengan tumbuh kembang putrinya.


"Ayo Della, makan pizza nya. Hati-hati masih panas," ujar Yunita.


Yunita mengambil sepotong pizza yang baru datang, kemudian meniupnya. Setelah dingin baru memberikannya pada Della.


"Terima kasih," ucap Della, senyum terus menghiasi bibirnya.


"Jika, Chelsea memperlakukan Della seperti Bu Nita. Alangkah bahagianya putriku." batin Riko.


***


Dengan perasaan yang gugup, Bianca turun dari mobil. Dia berdiri menatap kearah rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya. Tangannya menggenggam erat jemari Elvan tanpa disadarinya telah membuat Elvan kesakitan dan berteriak.


"Maa...! tangan El sakit..!" seru Elvan sembari menghentakkan genggaman tangan sang Mama.


Bianca tersadar dengan apa yang dilakukannya, seketika Bianca jongkok didepan Elvan. Dan melihat apa yang telah dilakukannya.


"Ada apa?" tanya Maya yang baru turun dari mobil, dan mendekati Bianca dan Elvan.


"Sakit Oma, Mama memegang tangan El terlalu erat." beritahu Elvan pada Maya sembari menunjukkan tangannya yang sedikit merah.


"Maaf," ucap Bianca dengan suara yang lirih.


"Sudah, tidak sakit lagi kan? Anak laki-laki harus bisa menahan sakit sejak dini, agar besar nanti bisa melindungi Mama dan adik-adiknya," ujar Budi Dwipangga yang baru turun dari mobil, karena dia sempat ketiduran didalam mobil.


"Betul kata Opa, El anak laki-laki yang jagoan." Timpal sang istri.


Sedangkan Bianca masih posisi jongkok didepan Elvan, kelihatan rasa sedih. Karena rasa gugupnya, membuat sang putra tersakiti.


"Maaf," ucap Bianca.


Elvan menatap wajah sang Mama yang terlihat sedih menatapnya. Elvan melingkarkan tangannya dileher Bianca dan memberikan kecupan dikedua pipi Bianca.


"Maaf diterima," ujar Elvan dengan menampilkan senyum lebar dibibirnya.


Bianca kembali tersenyum, mendengar perkataan Elvan. MAAF DITERIMA, perkataan Ayu yang sering keluar dari mulutnya.


"Ah..aku merindukan mbak Ayu." batin Bianca.


"Ayo kita masuk?" Maya meraih tangan Elvan dan membawanya masuk kedalam rumah.


Didepan pintu masuk, mereka sudah disambut dengan Bik Minah dan Salma.

__ADS_1


"Selamat datang !" sambut keduanya dengan menundukkan kepalanya.


Maya berhenti didepan keduanya, matanya memicing menelisik kedua wajah asisten rumah tangganya tersebut.


"Kenapa kalian berdua berdiri di sini? ada yang tidak seperti biasanya?" tanya Maya dengan mata yang awas menatap wajah keduanya.


"Nyonya, kami tidak melakukan apapun juga. Sure..!" seru Salma dengan mengacungkan kedua jarinya.


"Iya Nyah, kami ingin melihat cucu ketemu gede Nyah," ujar Bik Minah, dan ikut-ikutan Salma dengan mengacungkan dua jarinya.


"Ohh..! ini dia, cakep kan? lihat dengan benar, mirip siapa? mirip Omanya kan?" tanya Maya dengan membungkukkan sedikit badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Elvan.


"Cakep Nyah, mirip Tuan besar Nyah. Matanya mirip Aden, mata Aden mirip Tuan besar. Tidak ada mirip Nyonya," ujar Bik Minah dengan polosnya, dan menatap wajah Elvan dengan lekat.


Budi Dwipangga yang mendengar perkataan dua asisten rumah tangganya menjadi tertawa.


"Bik Minah, Salma. Gaji kalian akan dipotong," ujar Maya seraya masuk dan mengandeng Elvan yang bingung dengan kelakuan sang Oma.


"Lah...!" hanya wajah bengong saling tatap yang terlihat dari dua asisten rumah tangga tersebut.


"Sudah berani menganggu Nyonya ratu," ujar Budi Dwipangga, saat lewat didepan keduanya.


"Tuan..! kami muji Tuan..!" seru Salma.


Budi Dwipangga hanya melambaikan tangannya, jalan terus masuk kedalam rumah.


"Salah muji kita." gumam Salma.


"Tapi apa yang kita katakan benar, Aden kecil mirip dengan Papanya. Den Joe itu mirip dengan Tuan besar," ujar Bik Minah.


"Sekali lagi Bik Minah, kita bilang saja mirip Nyonya. Cari aman," ujar Salma.


"Tante tidak akan memotong gaji Bik Minah dan mbak Salma, itu hanya main-main saja. Tante suka begitu sejak dulu," kata Bianca.


"Aduh... lupa dengan Non Bianca..!" seru Bik Minah.


"Bik," sapa Bianca pada Bik Minah, yang sudah dikenalnya sejak kecil.


"Non Bian makin cantik aja, dan makin dewasa lagi. Tetapi kenapa jadi coklat kulit tubuhnya Non, selama ini Non Bianca tinggal di tepi laut. Hingga badan jadi coklat begini?" tanya Bik Minah sambil mengelus kulit Bianca yang coklat menurutnya.


Bianca tertawa mendengar perkataan Bik Minah, dia melihat kearah tubuhnya dan baru sadar. Tubuh putihnya dulu kini terlihat berwarna coklat.


"Bian, sering terkena sinar matahari Bik. Tapi bagus kan Bik, bukannya kulit coklat sangat disukai. Eksotis Bik ," ujar Bianca.


"Bibik tidak tahu itu," ujar Bik Minah.


"Bik Minah, aku mau menyapa Non Bianca," ujar Salma.


"Hai mbak." sapa Bianca.


"Betul kata Bik Minah, Non makin dewasa," ujar Salma.


"Bian..! jangan dengarkan para penghianat itu, masuk Nak. Biar Mama tunjukkan kamarmu..!" teriak Maya dari dalam rumah.


...Bersambung...

__ADS_1


Tekan tombol like like πŸ™πŸ₯°


__ADS_2