Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Diam-diaman


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


Bianca keluar dari dalam kamar dengan perasaan yang marah, dia tidak terima. Jonathan memarahinya, karena mengizinkan Elvan jualan.


"Apa dikiranya aku memperalat Elvan untuk bekerja mencari nafkah, aku tidak sekejam itu. Untuk menyuruh Elvan mencari uang." Ngedumel Bianca keluar dari dalam villa.


"Mama! Lihat, El sudah menyimpan pasir dan kerang dengan bagus," ujar Elvan, dengan menunjukkan hasil kerjaannya.


"El anak pintar." Puji Bianca.


"Ini dapat surat kabar untuk menutup atasnya, darimana?" tanya Bianca.


"Dikasih Pak Wandi," jawab Elvan.


"Maa, El tidak bisa mengikatnya," ujar Elvan dengan memberikan tali pada Bianca.


"Sini, biar Mama bantu ikat." Bianca mengambil tali dari tangan Elvan, dan mulai mengikat kotak isi pasir dan kerang milik Elvan.


"Bagaimana, sudah dibawa semua barang? Jangan ada yang ketinggalan," ujar Jonathan yang baru keluar dengan membawa tas berisi baju-bajunya dan Elvan, sedangkan Bianca. Sudah membawa sendiri tas berisi pakaiannya.


"Ayo El, masukkan kotaknya ke sini." titah Jonathan, dan membuka bagasi mobilnya.


Elvan mengangkat kotaknya, dan memberikannya pada sang Papa. Jonathan melirik Bianca yang diam berdiri dengan menenteng tas yang berisi pakaiannya.


Melihat Bianca hanya diam, tanpa bergerak untuk memasukkan tas yang berisi bajunya dalam bagasi. Jonathan melangkah mendekatinya, dan mengambil tas tersebut dari tangan Bianca.


"Ayu, ikut mobil mas saja ya?" tanya Antonio, saat melihat Ayu keluar dari dalam villa.


"Sama dengan Bianca saja, mas dengan mas Kamal kan," ujar Ayu.


"Kamal kita paketkan saja." gurau Antonio.


"Buset..! Kau kira aku barang, Yu. Jangan mau pulang satu mobil dengan Antonio, dia sering modus. Nanti di tengah jalan dia pura-pura mobil rusak, padahal mobil aman-aman saja. Sebenarnya, dia ingin berlama-lama dengan gadis tersebut dalam perjalanan," ucap Kamal.


"Dia menceritakan keburukannya sendiri." ledek Antonio, seraya menertawakan temannya tersebut.


"Ayo El, masuk." titah Jonathan dan membuka pintu mobil, tepat dibelakang pintu pengemudi.Tapi, Bianca terlebih dahulu masuk dipintu belakang sebelahnya.


"Bian, kau dibelakang. El dibelakang, tidak mungkin aku didepan," ujar Ayu, yang bingung mau duduk di mana.


Melihat Ayu bingung, Antonio memanggilnya. Karena Antonio merasa ada aura tidak mengenakan terjadi antara Jonathan dan Bianca.


"Yu, bareng saja kita," ujar Antonio.

__ADS_1


"El, duduk depan ya. Biar budhe dibelakang dengan Mama," ujar Bianca pada Elvan.


Akhirnya, Elvan duduk didepan. Bianca dan Ayu duduk dibelakang.


"Bian, ada apa? kau ribut dengan Mas Joe?" tanya Ayu.


Bianca menggelengkan kepalanya, dan mengalihkan pandangannya kearah luar jendela mobil. Matanya tiba-tiba berembun, dengan cepat Bianca mengelapnya.


Bianca sakit hati, mengingat perkataan Jonathan. Bianca merasa, Jonathan meragukan kemampuannya merawat Elvan.


Amar mendekati Jonathan, dan menyikut lengan Jonathan dan berbisik.


"Kenapa? perang dingin? aku lihat, wajah Bianca jutek keluar dari villa?" tanya Amar.


"Bukan urusanmu," ujar Jonathan, langsung masuk kedalam mobilnya. Setelah melihat Elvan masuk kedalam mobil bagian depan.


Kebisuan terjadi, hanya Elvan yang terus berbicara. Sampai tiba, Elvan tidak berbicara lagi. Ternyata, Elvan sudah tertidur.


"Sial! aku juga mengantuk ini, diam begini. Perjalanan masih jauh lagi." batin Ayu.


"Dia sangat marah, sampai duduk didepan bersama denganku juga tidak mau. Apa yang aku katakan tadi tidak salah, bagaimana jika Elvan tertabrak kendaraan di jalan." batin Jonathan.


"Enak saja dia menuduh aku menyuruh Elvan bekerja, dikiranya aku ibu yang memanfaatkan tenaga anak kecil untuk mencari nafkah." batin Bianca.


Mobil sampai di rumah makan, mereka berhenti untuk makan siang. Semua menikmati makan siang, tetapi tidak dengan Bianca. Dia hanya minum juice, dengan alasan tidak lapar.


"Tidak! aku cukup minum juice ini," sahut Bianca.


"Atau kau mau makan salad buah." Ayu menawarkan Bianca untuk makan salad, untuk mengganjal perutnya.


"Aku tidak mau apa-apa, kalian saja makan. El, makannya jangan berantakan begitu," ujar Bianca, saat melihat area mulut Elvan menempel butiran nasi.


Bianca mengambil tisu, dan mengelap mulut Elvan.


Di meja berbeda, Jonathan sedang di interogasi oleh ketiga temannya.


"Joe, apa yang terjadi? sepertinya, kalian berdua tidak baik-baik saja?" tanya Kamal.


"Iya Bro, kemarin. Kalian lengket terus, apa Bianca marah karena Chelsea lagi? apa kau belum menceritakan tentang status Chelsea yang sudah menikah?" tanya Antonio.


"Hei..! jangan lupa, Chelsea sudah akan menjadi janda. Jika tidak hati-hati, mungkin saja. Teman kita ini kepincut janda," kata Amar.


"Jadi seru, menikahi janda dan menjadikan istri menjadi janda." gurau Antonio.


"Ini tidak ada masalah dengan Chelsea, ataupun janda. Kalian jangan asal bicara..!" ketus Jonathan.

__ADS_1


"Lalu, masalah apa?" tanya Kamal.


"Ceritakan Bro, mungkin kami bisa bantu untuk menyelesaikannya," ujar Amar.


Jonathan menceritakan awal pertengkarannya dengan Bianca, pada ketiga temannya.


"Hanya masalah itu, kalian perang dingin?" Kamal menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Jonathan.


"Mal, masalah ini tidak ringan. Bianca pasti merasa, bahwa Jonathan telah menuduhnya tidak becus mengurus anak. Iya kan, kau pasti punya pikiran seperti apa yang aku katakan?" tanya Antonio.


"Iya, jika dia bisa menjaga anak. Dia pasti tidak mengizinkan anak empat tahun berkeliaran di jalanan menjual telur, apa dia tidak memikirkan. Akan adanya bahaya yang mengancam keselamatan putranya dijalanan, seharusnya dia berpikir," ujar Jonathan.


"Oke, aku tahu dengan ketakutanmu. Tapi itu semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin, lagipula. Hal itu sudah berlalu, Elvan tidak tinggal di desa itu lagi. Untuk apa dipermasalahkan lagi," ujar Kamal.


"Kau itu terlalu cepat emosi dan menarik kesimpulan, tanpa memikirkan perasaan Bianca," ujar Amar.


"Kalian menyalahkan ku? itu karena bukan anak kalian, jika anak kalian yang mengalami itu semua. Aku rasa, kalian pasti marah karena khawatir..!" tutur Jonathan.


Jonathan berdiri, dan keluar dari dalam restoran. Hatinya kesal, karena ketiga temannya tidak mengerti dengan perasaan takut yang ada dalam dirinya.


"Mereka bisa berkata begitu." gumamnya seraya membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.


Mobil kembali melanjutkan perjalanan, suasana hening masih terjadi. Elvan sudah tertidur. Sedangkan Bianca, menatap kearah luar jendela mobil sepanjang perjalanan.


Mata Jonathan sesekali melirik kearah kaca spion mobil, untuk melihat Bianca yang menatap keluar.


"Bian, ini ada roti," ujar Ayu, setelah mendengar perut Bianca yang berbunyi.


Deg...


"Apa Bian tidak makan tadi." batin Jonathan, dan melihat Bianca dari kaca spion depan.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ayu.


"Tidak Mbak, Bian tidak lapar." Bianca tetap Keukeh menolak untuk mengisi lambungnya yang mulai menjerit minta di isi.


Karena mendengar penolakan Bianca, dengan kesal. Jonathan mentitahkan Bianca untuk makan.


"Makan! jangan sakit nanti, dan akan merepotkan orang," ujar Jonathan.


"Ih...Mas Joe ini, tidak bisa bicara manis. Makin marahlah Bianca." batin Ayu.


"Aku tidak akan merepotkan siapapun..!" ketus Bianca.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...🌟🌟...


__ADS_2