
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Rayuan gombal nan lucu meluncur dari dalam mulut Jonathan, Bianca yang tidak pernah mendengar Jonathan yang merayu menjadi senyum sendiri mendengarnya.
"Rasain, jaga bicaramu. Enak saja marah-marah tidak jelas, karena Elvan ikut jualan. Emangnya dia kira aku memanfaatkan Elvan untuk mencari nafkah, begini-begini walaupun hanya tamatan SMA. Aku masih bisa berpikir untuk mencari nafkah tanpa dukungan orang lain, usaha ternak bebek yang aku kelola sangat berhasil untuk apa aku menyuruh Elvan untuk bekerja." batin Bianca ngedumel sendiri.
"Bian, ayo. Kita pindah kamar kita sendiri ya, tidak baik kita membawa Elvan dalam masalah kita yang kecil ini," ujar Jonathan.
"Kecil! Mas bilang kecil." Bianca melepaskan pelukannya terhadap Elvan dengan hati-hati, dan kemudian bangkit dari tidurnya dan kini dia duduk menghadap Jonathan yang baring didekatnya.
Bianca mendelikkan matanya, raut wajahnya terlihat merah.
"Ya kecil." Jonathan kembali mengatakan permasalahan yang mereka hadapi, masalah yang sangat kecil. Sehingga, tidak seharusnya membuat Bianca ngambek berkepanjangan.
"Kecil! mas Joe itu sudah merendahkan Bian. Bian tidak pernah mengharapkan uang dari Elvan yang jualan, Elvan jualan karena dia ingin. Bukan untuk mencari nafkah..!" ujar Bianca dengan berapi-api, tetapi nada suaranya ditekannya sekecil mungkin. Agar Elvan tidak terganggu.
"Dia bersenang-senang, berjualan dengan teman-temannya. Bukan karena imbalan..!" sambung Bianca kembali.
Melihat Bianca yang marah, dan matanya sudah berkaca-kaca. Spontan Jonathan menarik Bianca, hingga Bianca jatuh ke atas dada Jonathan.
Bianca meronta, tetapi pelukan erat tangan Jonathan membuat Bianca tidak bisa melepaskan diri dari dekapan Jonathan.
Jonathan mendengar suara tangisan Bianca, membuat Jonathan turut merasakan kesedihannya.
"Maaf, maaf Bian. Mas salah, mas bukan menuduh mu menggunakan Elvan untuk mencari nafkah. Bukan, mas tahu. Bian sangat bisa menghidupi Elvan, tanpa campur tangan siapapun. Maafkan Mas Joe ya, jangan nangis. Nanti El bangun," ujar Jonathan seraya mengusap-usap punggung Bianca yang terbaring di atas tubuhnya.
"Bian, please. Jangan nangis ya. Maafkan aku," ucap Jonathan sembari mengecup dan membelai rambut Bianca.
" Aku tidak bermaksud menuduh, maafkan aku ya. Hem..!" Jonathan mengangkat wajah Bianca yang menempel di dadanya.
Jonathan melihat wajah Bianca yang sudah bersimbah air mata, Jonathan mengangkat kepalanya sedikit dan kemudian melabuhkan bibir dikedua bola mata Bianca yang basah secara bergantian.
"Maaf..maaf..!" ucap Jonathan disela-sela melabuhkan kecupan di seluruh wajah Bianca.
Bianca hanya diam, dia kaget. Karena mendengar permintaan maaf Jonathan, karena dia tahu. Jonathan tidak pernah minta maaf, kecuali kepada kedua orangtuanya.
Jonathan itu seorang yang keras kepala, sehingga dia tidak akan pernah mau meminta maaf. Walaupun, kesalahan itu terletak pada dirinya.
Bianca mengangkat tubuhnya untuk turun dari atas dada Jonathan, tetapi. Lagi-lagi, tangan Jonathan tidak melepaskan pelukannya.
"Lepas.. !" pinta Bianca dengan suara parau, karena habis menangis.
__ADS_1
"Di sini saja, mas ingin mengatakan sesuatu. Aku mencintaimu," ucap Jonathan dengan suara yang lembut, seraya menatap wajah Bianca dengan lekat.
Mendengar perkataan yang sangat ingin didengarnya dari dalam mulut Jonathan, Bianca hanya diam. Tidak ada ekspresi bahagia.
Jonathan memicingkan matanya, menatap wajah Bianca yang tanpa ekspresi. Tidak terlihat, wajah wanita yang mendapat ucapan cinta dari pria yang di cintainya.
"Kau tidak bahagia, mendengar ucapan cinta yang aku katakan? bukannya kau sangat mengharapkan kata cinta itu?" tanya Jonathan.
"Kata cinta yang terpaksa keluar, karena mas telah membuat aku sakit hati?" Bianca tertawa kecil, terlihat dari raut wajahnya yang sinis melihat Jonathan.
"Bian, mas serius. Kata cinta itu keluar dari dalam lubuk hati mas yang terdalam," ujar Jonathan.
"Sudahlah Mas, Bian ingin tidur..," ujar Bianca, dia melepaskan tangan Jonathan. Dan beranjak menuju sisi sebelah kiri Elvan.
"Bian, kita harus berbicara. Ayo, kita pindah ke kamar kita." pukul Jonathan.
"Bian, ngantuk," sahut Bianca.
"Bian, ini baru jam 9. Mama dan Papa saja belum pulang dari pesta," ujar Jonathan.
Bianca tak merespon, matanya terpejam.
"Ahh..! aku sudah menurunkan gengsi untuk mengatakan kata cinta, dia tidak percaya. Dengan Chelsea saja, aku tidak pernah mengatakan kata cinta. Aku ucapkan padanya, dia tidak percaya." Jonathan ngedumel sendiri, sedangkan Bianca sudah masuk kedalam mimpi. Karena tubuhnya yang letih, Bianca cepat masuk kedalam mimpi.
Seorang gadis menghampiri Maya dan Budi Dwipangga, yang sedang duduk bicara dengan teman yang mereka kenal di pesta ulang tahun pernikahan tersebut.
"Tante Maya..!" seru Mira sembari melakukan cipika-cipiki pada Maya.
"Mira, apa kabar." sapa Maya.
"Baik Tante," sahut Mira seraya meletakkan bokongnya di kursi samping Maya.
"Tante berdua saja, Jonathan tidak datang?" tanya Mira.
"Sejak kapan Jonathan mau hadir ke acara seperti ini," ujar Maya dengan tertawa.
"Iya juga ya Tante, Jonathan sangat tidak menyukai keramaian," ucap Mira.
"Mira, Mana Mama dan Papanya?" Maya melihat kesekitarnya, mencari Mama dan Papa Mira.
"Mama dan Papa tidak datang Tante, Mira yang mewakili untuk datang ke sini," ujar Mira.
"Tidak biasanya dia tidak menghadiri satu pesta, Mama mu sangat menyukai pesta kan?" tanya Maya.
__ADS_1
Mira tertawa mendengar perkataan Maya.
" Mama dan Papa sedang melakukan perjalanan Tante, mereka melakukan honeymoon," ujar Mira.
"Honeymoon! wow...kemana mereka pergi?" jiwa kepo Maya meronta-ronta, karena dia ingin mengajak sang suami untuk melakukan perjalanan romantis. Karena keduanya sudah lama tidak melakukan pergi berduaan saja.
"Ke Turki, lalu ke Mesir," ucap Mira.
"Woo...pasti mereka akan naik balon udara di Cappadocia," ujar Maya.
"Mungkin Tante," sahut Mira.
"Paa, kita pergi honeymoon juga ya," ujar Maya pada sang suami.
"Honeymoon?" tanya sang suami.
"Iya Paa, Jeng Lusi ayo kita pergi bareng. Pasti seru," ujar Maya dengan bersemangat.
"Iya juga ya Jeng Maya, kita sekalian shopping. Ngabisin uang suami," ujar Lusi.
"Atur saja Maa, kami pihak laki-laki. Tinggal terima saja, dan menyiapkan uang. Ya kan Pak Budi," ujar suami Lusi.
"Mira boleh ikut Tante? dan Jonathan Tante bawa ya," ujar Mira.
"Oh..iya, Jonathan kan belum honeymoon," ujar Mira.
"Honeymoon?" Mira kaget mendengar ucapan Maya.
"Iya honeymoon, apa Mira belum tahu. Jonathan sudah menikah?" tanya Maya.
"Menikah? dengan siapa?" tanya Mira.
"Dengan wanita," jawab Maya.
"Iya Tante, saya tahu wanita. Tidak mungkin Jonathan menikahi seorang pria..! siapa wanitanya?" nada suara Mira ketus, gurauan Maya ditanggapinya dengan ketus.
"Putri sahabat kami, kau pasti mengenalnya. Dia Bianca." beritahu Maya.
"Bianca, anak kecil itu..!?" kaget Mira, mendengar Jonathan menikah dengan Bianca. Gadis SMA yang sering bersama dengan Jonathan dan teman-temannya.
...BERSAMBUNG...
...🌟🌟...
__ADS_1