Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Ketahuan??


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Sial..!" Aku kecolongan, ternyata Jonathan sudah menikah. Dengan gadis kecil itu lagi." batin Mira.


"Ada apa Mira? Apa surat undangan tidak sampai pada Jeng violin ? Tante sudah kirim surat undangan," kata Maya.


"Mira baru kembali dari Europe Tante, karena itu Mira tidak tahu. Mungkin Mama dan Papa juga tidak tahu, kalau tahu. Papa dan Mama tidak mungkin tidak datang," kata Mira.


"Sekarang, Jonathan dan istrinya tinggal di mana Tante?" tanya Mira.


"Tinggal dengan Tante lah, kalau mereka pindah ke rumah sendiri. Tante dan Om akan kesepian, sekarang ini di rumah semakin ramai. Ada anak Joe, cucu Tante," ujar Maya, Mama Jonathan.


Uhuk..huk...


Mira yang sedang mengunyah permen, sampai menelan permen tersebut karena cukup terkejut. Mendengar perkataan Maya mengenai anak Jonathan.


"Anak? Jonathan punya anak Tante? Jonathan menikahi janda..?" tanya Mira dengan mata bulat sempurna, menatap wajah Maya.


"Ihh..bukan janda, tapi. Jonathan sudah nanam saham duluan," ucap Maya dengan berbisik dan tertawa setelahnya.


"Hah..!" mata Mira semakin besar.


"Hih Jonathan, aku kira pria yang tidak mau macam-macam. Ternyata, dia seorang player juga. Kalau tahu dia seorang player, aku sudah menyerahkan diriku ke atas ranjangnya. Tidak perlu pura-pura gadis alim." batin Mira.


Maya melirik Mira yang termenung, dan menyentuh tangan Mira.


"Hei..! kenapa melamun? Tante peringatan kan ya! jangan ada niat didalam pikiranmu untuk menggoda Jonathan, kau tahu. Satu wanita sudah Tante beranggus, jangan sampai anak Jeng violin menjadi korban berikutnya," ujar Maya sembari bergurau, padahal. Dalam pikirannya, apa yang dikatakannya tidak main-main.


"Tidaklah Tante, Mira tidak mau dengan suami orang. Masih ada yang lajang, untuk apa yang sudah menjadi suami orang," ucap Mira dengan mimik wajah yang serius dengan apa yang dikatakannya.


"Asal betul," ucap Maya.


"Mira balik dulu Om, Tante," ujar Mira.


"Salam pada jeng Violin ya," ucap Maya sebelum Mira berlalu dari hadapannya.


***


"Joe, ingat. Pecat Chelsea." titah sang Papa, pada saat mereka sedang sarapan pagi.


"Bukan Chelsea saja yang di pecat Paa," kata Jonathan.


"Siapa lagi? apa ada guru yang berhubungan dengannya?" tanya Maya.


"Pak Sandy Setiawan, dia berhubungan dengan Chelsea. Dan tindak tanduknya cukup mencurigakan," kata Jonathan.


"Dia yang menerima Chelsea kan?" tanya Maya.


Jonathan menganggukkan kepalanya, sambil menyesap kopi yang diberikan oleh Bianca.


"Bian, kapan Elvan didaftarkan?" tanya Maya.

__ADS_1


"Maa, apa tidak lebih bagus El disekolahkan didekat sini saja?" tanya Bianca.


"Kenapa? apa ada yang menganggumu, jika Elvan sekolah di Bina Bangsa?" tanya Jonathan.


Bianca tidak menjawab, dan Maya tahu. Apa yang ada dalam pikiran Bianca.


"Jika Bianca tidak nyaman Elvan bersekolah di sana, biarkan saja. Biarkan Bianca memilih sekolah untuk Elvan," ujar Budi Dwipangga.


"Terima kasih Paa," ucap Bianca.


"Jadi, sudah dapat sekolah untuk Elvan?" tanya Jonathan.


"Jangan cari tempat, yang jalannya sering terkena macet Bian." timpal Maya, sang Mama mertuanya.


"Bian ingin mendaftarkan Elvan di sekolah tempat Yunita mengajar, tempatnya tidak jauh dari sini," kata Bianca.


Bianca menyebutkan alamat sekolah tempat Yunita mengajar.


"Tidak jauh dari sini, lebih jauh ke sekolah Bina Bangsa," ujar Maya.


"Kapan ingin daftar?" tanya Jonathan.


"Hari ini, sudah janji dengan Yunita," ujar Bianca.


"Apa kau tidak bisa ikut Joe?" tanya sang Mama.


"Bisa Maa, dari menyelesaikan urusan sekolah. Joe tidak ada kesibukan lain," jawab Jonathan.


"Bisa Paa, dia cukup bisa diandalkan. Walau kelihatan anak sedikit lambat, tetapi dia cukup cekatan jika dibutuhkan," ucap Jonathan.


"Arumi! bukannya dia melanjutkan sekolah ke luar negeri? kenapa Papa mengatakan Arumi yang menghandel urusan pembangunan sekolah di kota T, apa Mas Joe telah menipu Mas Kamal?" batin Bianca..


"Mana El?" tanya Maya.


"Ke taman belakang maa, bermain dengan kelincinya," sahut Bianca.


"Papa akan melihat El," ujar Budi Dwipangga seraya berdiri dari duduknya, dan melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.


"Lima belas menit lagi kita berangkat," ujar Jonathan Jonathan pada Bianca.


"Mas, jika sibuk. Biar Bian sendiri saja." tutur Bianca.


Jonathan melihat Bianca, dan mendekatkan kepalanya ke telinga Bianca. Dan berbisik.


"Mas bilang tidak sibuk, jangan membantah," ujar Jonathan.


"Ada apa? apa kalian ribut?" tanya Maya, yang melihat Jonathan berbisik dengan Bianca. Dan wajah Bianca menunjukkan dia sedang kesal pada Jonathan.


"Tidak Maa..!" sahut Jonathan dan Bianca secara bersamaan.


"Bagus! Mama tidak ingin kalian itu ribut terus, dan kau itu Joe. Kau itu harus menurunkan ego mu, jangan mau menang sendiri. Tidak mau mendengarkan orang..!"


"Mama tidak adil! selalu membela Bianca, yang anak Mama itu Joe apa Bianca?" tanya Jonathan dengan perasaan yang kesal.

__ADS_1


"Bianca, karena dulu saat kau masih bayi. Kau itu sudah Mama tukar tambah dengan Bianca," ucap Maya asburd, dan kemudian pergi meninggalkan meja makan dan Jonathan dengan mulut terbuka lebar. Mendengar perkataan sang Mama.


Bianca tertawa senang, melihat Jonathan mati kutu di depan sang Mama mertua.


"Tukar tambah? Mama kira aku barang? tukar tambah dengan anak yang suka ngambek begini lagi," ujar Jonathan.


"Siapa yang mau ditukar tambah dengan cowok tidak peka begini." balas Bianca.


"Tidak peka? tapi pria tidak peka ini yang kau kejar-kejar. cepat persiapkan Elvan, tunggu didepan," ujar Jonathan.


***


Mobil yang dikemudikan Pak Kusno berhenti didepan gerbang sekolah Bina Bangsa.


"Ayo, turun ." titah Jonathan.


"Bian tunggu di mobil saja." tolak Bianca untuk turun.


"El mau ikut Papa?" tanya Jonathan.


"Iya, Maa. El ikut Papa ya?" tanya Elvan.


"Iya, tapi. Jangan lari kemana-mana ya, dan jangan ribut. Karena ada kakak-kakak sedang belajar," ucap Bianca.


Elvan menganggukkan kepalanya.


"Betul, tidak mau ikut?" tanya Jonathan kembali pada Bianca.


"Tidak," sahut Bianca.


Jonathan dan Elvan keluar dari dalam mobil, berjalan masuk kedalam gedung bagian ruang kerja untuk para guru.


Tiba-tiba, saat melewati ruang wakil kepala sekolah. Jonathan mendengar suara Sandy Setiawan, sang wakilnya berbicara melalui telepon dengan marah kepada lawan bicaranya.


..."Aku tidak mau membantumu, titik," ucapnya pada lawan bicaranya melalui sambungan telepon....


..."Lakukan, kau juga yang akan malu..!" seru Sandy pada lawan bicaranya....


..."Lakukan..! aku tidak takut..!"...


...Entah apa yang diinginkan oleh lawan bicara Sandy melalui sambungan telepon, sehingga dia marah....


...Sandy memutuskan sambungan teleponnya, dan mematikannya. Kemudian memasukkan ponselnya Kedalam laci meja kerjanya....


..."Sial..! kenapa semua menyuruh aku untuk membantunya..!" umpat Sandy Setiawan....


Tok..tok...


Jonathan langsung membuka pintu ruang kerja sandy, tanpa menunggu suara untuk mempersilakan dia untuk masuk.


...BERSAMBUNG...


...🌟🌟...

__ADS_1


__ADS_2