
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Jonathan dan Kamal tiba di kota T, Zulham sudah menunggu kedatangannya di lokasi proyek pembangunan sekolah.
Begitu keluar dari dalam mobil, Jonathan langsung bertanya pada Zulham. Mengenai tugas yang diberikannya.
"Bagaimana, apa sudah tahu lokasi Taman kanak-kanak itu?" tanya Jonathan.
"Waktu itu ada dua sekolah Taman kanak-kanak yang mengunjungi kebun binatang Pak," kata Zulham.
"Yang satu dari luar kota T dan yang satu dari kota T."Â Sambung Zulham.
"Bagaimana jika kita datang ke sekolah di sini dulu, waktu itu Elvan pakai baju seragam sekolah warna apa Joe? Apa kau ingat ?" tanya Kamal.
"Warna biru," jawab Jonathan.
"Apa kita langsung kesana Pak?" tanya Zulham.
"Joe, kita istirahat dulu. Mandi, aku hanya basahi wajah tadi. Wajahku serasa berminyak, Joe." Kamal mengusap wajahnya dan menggaruknya.
"Kita istirahat saja dulu," kata Jonathan.
"Mau di sini atau saya pesankan hotel Pak?"
"Apa di sini airnya bagus?" tanya Kamal.
"Alhamdulillah, para pekerja di sini tidak pernah kena penyakit kulit Pak," sahut Zulham.
"Sini saja, dan pesankan juga makanan dan kopi. Bawa keruangan saya" ujar Jonathan kepada Zulham.
"Joe, aku tidak ada baju ganti..!" teriak Kamal sembari mensejajarkan langkahnya dengan langkah Jonathan.
"Kau itu main angkut aku saja, hingga aku tidak sempat bawa baju ganti," sambung Kamal sambil mengikuti Jonathan masuk kedalam rumah khusus untuknya, jika dia berkunjung meninjau proyeknya.
"Kau butuh berapa baju, ini bisa kau pakai." Jonathan melemparkan, paper bag kepada Kamal.
Tangan Kamal dengan sigap menangkap paper bag, dan melihat apa isi dari paper bag yang diberikan oleh Jonathan.
"Kapan kau beli ini? tapi ini belum di cuci Joe, badanku akan gatal nanti," kata Kamal.
"Terserah, kau mau ganti baju. Pakai itu, jika kau ingin seharian memakai bajumu itu. Silakan." selesai berkata, Jonathan membawa paper bag berisi baju ganti untuk dia pakai.
****
Zulham membawa Jonathan menuju sekolah, bertepatan murid Taman kanak-kanak baru keluar.
"Elvan bukan sekolah di sini, ini warna coklat. Baju Elvan warna biru," kata Jonathan.
__ADS_1
"Sekolah Taman kanak-kanak yang berasal dari luar kota T Pak, dari sini sekitar satu jam." beritahu Zulham.
"Ayo kita kesana." Jonathan masuk kedalam mobil dengan cepat.
"Jumpa pompa bensin, singgah sebentar. Perutku terasa tidak nyaman," ucap Kamal dari kursi penumpang.
"Aku salah bawa teman, kenapa tubuhmu lemah sekali." gerutu Jonathan sembari melirik kearah Kamal.
"Kau membawaku menjadi gelandangan Joe, di mana kita tidur semalaman. Udara dingin membuat aku masuk angin," kata Kamal.
"Itu ada pompa bensin Pak." Zulham mengarahkan mobil memasuki area pompa bensin, mobil belum berhenti sempurna. Kamal sudah loncat keluar dari dalam mobil, dan berlari menuju toilet umum.
"Apa di sini ada jual obat sakit perut?" tanya Jonathan.
"Ada pak, biar saya belikan." Zulham bergegas turun dari mobil, menuju market yang ada di area pompa bensin.
"Kamal, menghambat perjalanan saja." gumam Jonathan kesal.
"Akhirnya, perutku terasa lega," ujar Kamal.
Zulham kembali dengan membawa obat dan air mineral untuk Kamal.
"Minum obat ini, dan jangan ada namanya singgah di pompa bensin lagi. Jalan Zul." titah Jonathan.
Kenapa banyak sekali hambatan untuk bertemu dengan wanita itu." batin Jonathan.
Setelah menempuh waktu satu setengah jam, karena Kamal dua kali singgah ke pompa bensin. Jonathan tiba di depan sekolah Tamat kanak-kanak tempat Elvan bersekolah, suasana sekolah sudah sepi. Karena para murid TK sudah pada pulang semua.
"Sudah jam 1 pak, biasanya murid TK itu pulang jam 10 atau jam 11," jawab Zulham.
"Kita tanya pada petugas keamanan saja," kata Jonathan.
"Permisi pak." Sapa Jonathan.
"Ada apa pak?"
" Apa guru masih ada di tempat Pak?" tanya Jonathan.
"Tidak ada Pak, para guru sudah pulang. Jika bapak ingin ketemu dengan guru, datang besok pagi pak."
"Joe, coba tanya pada bapak ini. Mungkin dia kenal dengan Elvan?"
"Apa ada yang bisa saya bantu pak?"
"Begini pak, saya ingin mencari saudara saya. Tapi saya tidak tahu alamat lengkapnya, yang saya tahu hanya putranya sekolah di sini," kata Jonathan.
"Siapa nama saudara bapak itu?" tanya petugas keamanan sekolah,
"Saudara saya itu bernama Bianca dan putranya Elvan," ucap Jonathan.
__ADS_1
"Oh.. mbak Bianca, rumahnya ujung jalan ini pak. Di depan rumahnya ada tulisan, Jual telur asin. mbak Bianca itu salah satu pengusaha telur asin pak." beritahu penjaga keamanan sekolah.
"Akhirnya, aku menemukanmu." batin Jonathan.
"Biar saya antar kan pak, saya juga mau pulang. Saya pulang lewat depan rumah mbak Bianca." bapak penjaga sekolah menawarkan diri untuk mengantarkan Jonathan kerumah Bianca.
"Jika tidak merepotkan bapak," kata Jonathan.
"Tidak pak, sekalian saya pulang."
"Dengan bapak siapa ya?" tanya Jonathan.
"Saya Mamat pak, penjaga sekolah ini. Ayo pak, ikuti saya ." pak Mamat mengeluarkan sepedanya dari belakang pos tempat biasa dia jaga.
Mobil Jonathan mengikuti pak Mamat dari belakang dengan perlahan, karena Pak Mamat mengayuh sepedanya dengan lambat.
"Aku mengira, sepeda seperti yang di naiki pak Mamat sudah tidak ada lagi di muka bumi ini. Ternyata masih ada," kata Kamal.
"Di desa seperti ini, sepeda masih di pakai sebagai sarana transportasi pak," kata Zulham dari kursi kemudi.
"Masih banyak memakai sepeda, tapi sepeda seperti punya pak Mamat. Sudah jarang digunakan orang," kata Kamal.
"Sudah layak untuk menjadi penghuni museum." timpal Jonathan.
"Betul," sahut Kamal dengan tertawa.
"Kata pak Mamat ujung jalan, sepertinya ini bukan ujung jalan. Tapi kita menuju batas desa ini," ucap Kamal, karena mereka belum tiba-tiba juga dengan rumah Bianca.
"Apa ini kampung orangtuanya Bianca, Joe?" tanya Kamal.
"Aku tidak tahu," sahut Jonathan dari bangku depan, matanya terus menatap keluar jendela. Hamparan padi yang sudah mulai menguning, menjadi pandangan mata sejak mereka tiba di desa tempat tinggal Bianca.
Sepeda Pak Mamat berhenti didepan rumah yang bercat putih, dan di depan rumah ada tulisan. JUAL TELUR ASIN, dengan huruf yang besar-besar.
Mobil Jonathan berhenti tepat dibelakang sepeda Pak Mamat, kemudian Jonathan dan Kamal turun. Zulham memarkirkan mobil ditempat yang tidak menggangu kendaraan untuk melintas, karena jalan didepan rumah Bianca sangat kecil. Hanya cukup untuk satu mobil saja.
"Ini rumah mbak Bianca Pak, biasanya jam begini mbak Bianca berada dibelakang rumah. Ini jalan menuju belakang rumah Pak." Pak Mamat, menunjukkan jalan setapak dari samping rumah Bianca.
"Terima kasih Pak," ucap Jonathan.
"Mal," ujar Jonathan pada Kamal, Kamal tahu apa yang harus dilakukan oleh Kamal.
Jonathan bergegas menuju belakang rumah Bianca, melalui jalan yang ditunjukkan oleh Pak Mamat.
Sampai halaman belakang, Jonathan melihat seorang wanita sedang membungkuk. Dan Jonathan tahu, siapa orang tersebut.
"Akhirnya aku menemukan tempat persembunyian mu Bianca Almira binti Yudistira Sulaiman..!" seru Jonathan dengan menyebutkan nama Bianca lengkap dengan binti nya.
Deg...
__ADS_1
Bersambung 👉👉👉