
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Apa maksud Bapak? Apa Chelsea yang menyelamatkan Elvan?" tanya Bianca, nyaris tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Reinhard.
"Iya, Chelsea dan saudara Sandy berusaha untuk menyelamatkan Elvan. Sehingga mereka mengalami cedera yang cukup serius pada bagian kaki dan kepala," kata Pak Reinhard.
Polisi memberikan video yang dikirim oleh Chelsea pada asistennya, di situ terlihat. Mira memukul kepala Sandy yang ingin menyelamatkan Elvan.
"Wanita gila! di mana dia sekarang Pak?" tanya Bianca.
"Dia mengalami luka yang cukup parah juga, banyak pecahan kaca menerpa wajahnya. Dan dokter juga mengatakan tadi, matanya juga kemasukan pecahan kaca," jawab Pak Reinhard.
"Semoga dia tidak mati, biar dia merasakan di mana sengsaranya hidup didalam penjara..!" Ketus Bianca.
"Sayang..!" seru Bianca, saat melihat mata Elvan terbuka sedikit.
"Ee..e." gumam Elvan.
"Ini Mama sayang," ucap Bianca.
"El, buka matanya," ujar Jonathan.
"Jangan di paksakan Pak, Bu. Dokter tadi mengatakan, efek obat bius yang diberikan terlalu tinggi. Sehingga membuatnya sulit untuk membuka matanya," kata Pak Reinhard.
"Sialan kau Mira..!" umpat Jonathan memaki Mira, orang yang paling tidak dicurigainya.
"Tapi obat itu tidak akan menimbulkan efek samping Pak Joe, jangan khawatir," ujar Pak Reinhard.
"Saya permisi dulu Pak." Pak Reinhard pamit undur diri.
Pak polisi keluar, tak lama kemudian Kamal. Antonio dan Amar tiba.
"Bagaimana? Apa El tidak mengalami kekerasan?" tanya Kamal.
"Banyak lebam di seluruh tubuhnya," sahut Bianca.
"Lihatlah, ini dan ini," Jonathan menunjukkan lebam ditubuh Elvan yang terlihat.
"Dipunggung juga ada," ujar Bianca.
Ketiganya berdiri di sisi ranjang.
"Tega sekali orang itu, siapa dia? apa Sandy atau dia bekerja sama dengan Chelsea?" tanya Antonio.
"Kalian pasti tidak mengira, orang ini yang menculik El," ujar Jonathan.
"Siapa?" tanya Amar penasaran.
"Mira," jawab Bianca.
"Mira..!" teriak ketiganya dengan menyebut nama Mira dengan sangat keras, karena ketiganya juga cukup-cukup terkejut. Tidak mengira, Mira yang melakukannya. Mereka tidak menaruh perasaan curiga sedikitpun pada wanita itu.
"Apa sudah pasti dia? atau hanya kecurigaan pihak polisi?" tanya Kamal.
__ADS_1
"Sudah pasti," ujar Jonathan.
Jonathan menceritakan apa yang didengarnya dari pihak polisi, begitu juga mengenai Chelsea dan Sandy yang terluka parah akibat perbuatan Mira.
"Benar-benar tidak waras wanita itu, waktu itu. Dia mengatakan dia sudah tidak menaruh rasa padamu lagi, ternyata. Dia berbohong, oh...! ingat, waktu kita mengintai Sandy. Kita bertemu Mira di sana, ternyata. Waktu itu, dia mau bertemu dengan Sandy. Tapi karena bertemu dengan kita, dia membatalkannya," ujar Amar.
"Jangan begitu langsung percaya dengan apa yang terjadi sekarang ini," kata Kamal.
"Maksudmu?" tanya Jonathan.
"Bisa saja ini akal-akalan Chelsea dan Sandy, untuk keluar dari jeratan hukum. Mereka sebenarnya bekerja sama untuk mencelakai Elvan," ucap Kamal.
"Benar juga Joe, kita jangan langsung percaya dengan mereka berdua." timpal Amar.
"Mama," ucap Elvan dengan mata yang sayu menatap Bianca.
"El sudah sadar, mana yang sakit sayang?"
Elvan menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Apa kepalanya pusing El?" tanya Jonathan.
Elvan menunjuk kearah matanya.
"Kenapa matanya? apa sakit?" tanya Bianca.
Jonathan langsung memijat bel, dan tidak lama kemudian seorang perawat datang.
"Ada apa Pak?" tanya perawat tersebut.
"Panggil dokter mata..!" titah Jonathan.
"Sabar Pak, jangan panik dulu," ucap suster tersebut seraya mendekat kearah ranjang.
"Bagaimana bisa sabar! bagaimana jika ada kerusakan pada matanya? cepat panggil spesialis mata.!" Jonathan kesal.
"Joe, biarkan Suster meriksa Elvan dulu," ujar Kamal, seraya menarik tangan Jonathan untuk menjauh dari ranjang Elvan.
"Kenapa matanya Dek, apa sakit?" tanya suster sambil memperhatikan kornea mata Elvan.
"Mata El malas terbuka, mau tidur terus," sahut Elvan.
"Kenapa suster? apa efek dari obat bius itu belum hilang? sudah beberapa jam ini," ujar Bianca.
"Begini Pak, Bu. Obat bius yang masuk kedalam tubuhnya melebihi, sehingga. Matanya beberapa jam kedepan sulit untuk terbuka, bawaannya mengantuk terus. Banyak beri minum ya Pak, Bu."
"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi Bu, Pak?" tanya suster tersebut, sebelum meninggalkan ruang rawat Elvan.
"Tolong tanyakan pada dokter yang menangani putra saya, saya ingin membawa pulang putra saya," kata Jonathan.
"Baik Pak, permisi," ujar suster, baru berlalu dari dalam kamar rawat Elvan.
*
*
__ADS_1
*
Di depan ruang operasi, hanya ada Aida yang baru berada di sana. Karena orang tua Sandy baru bisa dihubungi. Dan sedang dalam perjalanan.
"Apa yang harus aku lakukan? Bu Utari tidak bisa di hubungi, Pak Riko juga," ucap Aida yang bingung, harus berkonsultasi dengan siapa mengenai apa yang dialami oleh Chelsea.
"Ahhh! kenapa aku lupa, aku hubungi saja Pak Jacop. Dia kan Paman Bu Chelsea," ujar Aida.
Aida mencari nomor orang yang ingin dihubunginya di ponsel Chelsea.
"Ini dia," ujar Aida, saat menemukan nomor orang yang ingin dihubunginya.
Aida langsung memberi kabar kepada Paman Chelsea, yaitu Pak Jacop. Mengenai kondisi Chelsea.
Setengah jam kemudian, kedua orangtua Sandy datang. Begitu juga dengan Paman Chelsea yaitu Pak Jacop.
"Aida, apa yang terjadi?" tanya Jacop pada asisten keponakannya tersebut.
"Saya juga belum tahu cerita yang sebenarnya paman, saya di suruh Bu Chelsea membawa video rekaman kepada polisi." Aida menceritakan apa yang perintahkan oleh Chelsea untuk dilakukannya.
"Begitu kami tidak di sana, Bu Chelsea sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dan kedua kakinya cedera." cerita Aida.
"Ya Allah! apa lagi yang telah kau lakukan Chelsea! masalah perceraian mu saja masih membuat hati mbak Utari kecewa, sekarang kejadian ini lagi." gumam Pak Jacop, membayangkan perasaan kakaknya yang akan semakin kecewa. Jika mengetahui apa yang terjadi saat ini.
"Aida, apa Chelsea terlibat kejahatan?" tanya Pak Jacop dengan suara yang pelan.
"Sepertinya tidak Pak, Bu Chelsea menolong seorang anak yang menjadi korban penculikan," sahut Aida.
"Alhamdulillah!" ucap syukur Pak Jacop, karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Keponakannya tersebut tidak terlibat kejahatan.
*
*
Ceklek..
Pintu kamar inap Elvan terbuka, dengan kedatangan sang Opa dan Oma Elvan.
"Apa terjadi? baru Mama tinggalkan satu hari, Elvan sudah di culik ?" tidak Maya pada Jonathan yang duduk di samping ranjang Elvan.
"Mama!" ucap Jonathan kaget, karena dia belum memberitahukan kejadian yang dialami Elvan kepada kedua orang tuanya.
"Maa, tenang dulu. Jangan berisik, lihat. Cucu kita sedang beristirahat," ujar Budi Dwipangga pada sang istri yang melotot melihat pada Jonathan dan Bianca.
"Bagaimana keadaan Elvan?" tanya Budi Dwipangga.
"El tidak apa-apa Paa," sahut Bianca.
"Mama dan Papa tahu dari siapa?" tanya Jonathan.
"Kau ini ya, anak kurang ajar! ada kejadian sebesar ini, mau di tutupi dari Mama dan Papa?" tanya Maya dengan marah.
*
*
__ADS_1
...BERSAMBUNG...