
Happy reading guys π₯°
πππ
"Tapi Elvan tidak bisa meninggalkan ayah bebek sendiri, dia akan sedih," ujar Elvan tetap Keukeh ingin membawa peliharaannya si ayah bebek.
"Elvan, cucu Opa. Ayah bebek tidak akan sendirian, lihatlah. Dia akan bersama dengan anak-anak bebek, ayah bebek juga akan sedih meninggalkan anak-anaknya di sini." bujuk Budi Dwipangga pada sang cucu.
"El, apa yang dikatakan Opa benar. Ini semua anak ayah bebek Elvan, mereka akan sedih jika ayah mereka ikut Elvan pergi. Karena mereka jadi jauh dengan ayah mereka." Timpal Bianca.
"Sini sayang." Maya meraih Elvan dan membawanya mendekati bebek-bebek yang baru menetas.
"Ini anak-anak ayah bebek kan?" tanya Maya.
Elvan menganggukkan kepalanya, matanya menatap bebek kecil yang berwarna kuning.
"Mereka ini harus di jaga oleh ayah mereka, seperti Elvan harus di jaga oleh Mama dan Papa. Bebek juga harus di jaga oleh ibu dan ayah bebek, jika Elvan membawa ayahnya. Mereka akan sedih," ucap Maya pada sang cucu, membujuknya agar rela meninggalkan bebek peliharaannya.
"Anak-anak bebek tidak akan punya ayah." sambung Maya kembali.
"Baiklah, El tidak akan membawa ayah mereka." Putuskan Elvan untuk meninggalkan ayah bebek peliharaannya.
"Nanti, jika Elvan rindu. Kita bisa ke sini, Opa dan Oma akan mengantarkan El," ucap Maya.
"Om suka di sini, tempatnya jauh dari keramaian. Udaranya sejuk, tidak butuh pendingin udara." Budi Dwipangga melangkah jauh dari kandang bebek.
"Bian, apa ada tanah yang dijual di sini?" tanya Budi Dwipangga.
Bianca mendekatinya, dan berbicara serius. Jemarinya menunjuk sawah di samping rumahnya.
***
Della membuka pintu kamar Mamanya dengan hati-hati, karena suara sekecil apapun jika Chelsea lagi tidak mood. Dia akan marah besar.
Della masuk, mencari keberadaan Mamanya. Setelah melihat keberadaan Mamanya, Della menghampirinya dengan langkah pelan.
Setelah dekat..
"Maa, Della pergi ya." Della meraih tangan Chelsea, dan mengecup punggung tangannya.
Chelsea tidak berekspresi apapun juga, wajahnya terus menatap kearah luar. Tempat favoritnya jika dia tidak keluar dari kamarnya.
"Apa Mama tidak mau ikut? Papa menyuruh Della untuk bertanya," kata Della pada Mamanya.
Chelsea hanya menggelengkan kepalanya, dan mengibaskan tangannya. Mengusir Della agar keluar dari dalam kamar.
Della langsung mundur, sampai ke pintu. Kemudian keluar, tanpa berkata sepatah katapun lagi.
__ADS_1
Della tidak sakit hati dengan penolakan itu, karena sudah biasa diterimanya.
Setelah Della keluar dari kamar Mamanya, Della mencari keberadaan sang Papa yang sudah menunggunya.
"Paa, Mama tidak mau ikut," kataΒ Della.
"Kalau begitu, sekarang waktunya kita berdua, Papa dan putri kecilnya Papa saja," ujar Riko seraya mengangkat Della tinggi.
"Papa...!" Della berteriak, karena takut jatuh.
"Kenapa? Takut? Jangan khawatir, Papa tidak akan menjatuhkan putri kesayangan Papa. Ayo kita berangkat."
Riko memasukkan Della kedalam mobil, apa yang dilakukannya itu tidak lepas dari pengamatan sang istri dari atas balkon. Riko melirik kearah balkon, tetapi Chelsea sudah tidak kelihatan lagi.
Riko masuk kedalam mobil, dan meninggalkan rumah. Dibawah tatapan Chelsea yang keluar dari tempat dia bersembunyi menatap keduanya pergi meninggalkan rumah.
Seperti biasanya, Chelsea selalu menolak jika Riko mengajak keluar bersama. Seperti keluarga pada umumnya, jalan-jalan bersama dengan anak-anak mereka, Chelsea selalu menolaknya dengan berbagai alasan.
Chelsea mendudukkan dirinya, matanya menatap jauh kedepan.
Chelsea kembali teringat, pada kejadian. Di mana dia kehilangan calon anak keduanya, begitu keluar dari apartemen Jonathan. Chelsea terjatuh, dan berakhir di rumah sakit dan bayi yang ingin dijadikannya alat untuk menjebak Jonathan akhirnya pergi tanpa sempat dilahirkan ke dunia.
"Mungkin, baby ku tidak ingin aku menggunakannya untuk menjebak seseorang," ujar Chelsea.
"Kenapa aku tidak bisa mencintai Riko, seperti saat kami masih remaja? Apa karena kami selalu bersama, tidak pernah mengenal cinta yang lain. Saat aku mengenal Jonathan, perasaan dengan Riko pupus." gumam Chelsea.
***
Tengah hari, iring-iringan mobil meninggalkan desa. Air mata Bianca tidak berhenti mengalirkan air mata dari sudut kedua bola matanya.
Kepalanya sesekali menoleh kearah belakang, terlihat desa selama empat tahun ditinggalinya semakin jauh ditinggalkannya.
"Bian, jangan sedih. Kita akan sering kembali ke sana," ujar Maya.
"Iya Bian, Om sangat berminat ingin membeli tanah di sana. Sepertinya Om juga berminat ingin membangun gedung pendidikan di sana juga," kata Budi Dwipangga.
"Papa ini, di pikirannya selalu ingin mendirikan sekolah." gerutu sang istri.
"Sekolah untuk membantu penduduk desa untuk mendapatkan pendidikan yang layak Maa," kata Budi Dwipangga.
"Papa didik saja itu putra Papa si Jonathan, biar sayang dengan istrinya Bianca dan anaknya. Elvan."
Mendengar perkataan Mama Jonathan, perasaan Bianca tidak enak. Karena merasa, Jonathan tidak bersalah. Tetapi dia yang bersalah, karena tanpa pikir panjang telah berani menjebak Jonathan dan melahirkan seorang anak.
***
"Papa..!" teriak Della yang sedang bermain komedi putar.
__ADS_1
Riko melambaikan tangannya dan tersenyum, melihat Della sangat gembira.
"Apa aku lepaskan saja, sikapnya seperti itu terhadap Della akan membuat Della bersedih." Riko bicara sendiri seraya menatap Della yang gembira.
"Papa..!" seru Della yang sudah selesai bermain.
"Sudah selesai?" tanya Riko.
"Iya, Papa itu melamun saja. Della panggil, tapi Papa melamun," ujar Della dan memanyunkan bibirnya.
"Maaf, tadi Papa memikirkan. Kita mau makan di mana? Della mau makan apa?" tanya Riko.
"Della mau makan.." Della berpikir sambil mengigit kukunya.
"Sayang, jangan gigit kuku ya. Sudah beberapa kali Papa katakan, itu tidak bagus," ucap Riko.
"Maaf Papa," ucap Della.
"Ayo kita makan, mau makan di mana?" tanya Riko menatap wajah putrinya.
"Pizza..!" ucap Della sambil bertepuk tangan dan loncat-loncat kecil.
"Pizza? apa tidak mau makan nasi saja?" tanya Riko.
"Tidak! Della mau pizza." Della tetap Keukeh ingin makan fizza.
"Baiklah, tadi didekat pintu masuk ada toko fizza Papa lihat," ujar Riko.
Riko mengandeng Della menuju restoran pizza, sampai di restoran pizza Della melepaskan pegangan tangan Riko dan berteriak seraya berlari menuju orang yang duduk dengan temannya.
"Della!" panggil Riko, tetapi Della sudah berlari menuju orang yang dikenalnya.
"Bu Nita..!" seru Della dengan gembira.
"Della, dengan siapa ?" tanya gadis yang di panggil Nita oleh Della.
"Dengan Papa Della, Papa. Sini !" panggil Della pada Riko.
"Bu Nita, ini Papa Della," ujar Della mengenalkan Papanya pada Nita.
Riko mengulurkan tangannya kepada Nita.
"Riko," ucap Riko.
"Yunita, panggil saja Nita," ucap Nita mengenalkan diri.
"Bu Nita, guru Della Paa," ujar Della mengenalkan Nita sebagai gurunya.
__ADS_1
...... Bersambung ππ ......