Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Panik 2


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


*


*


"Bagaimana Dok?" tanya Maya setelah dokter selesai memeriksa Bianca.


"Tidak apa-apa Bu Maya, tolong beri minum yang banyak ya," ujar dokter yang datang memeriksa kondisi Bianca.


"Bagaimana tidak apa-apa Dok, anaknya dipanggil diam saja. Panas suhu tubuhnya membuat wajahnya merah seperti udang goreng begini," ujar Maya yang tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh dokter.


"Maa, dengarkan kata dokter," ujar Budi Dwipangga.


"Itu karena tubuhnya panas Bu, dan sepertinya. Anak ibu ini tidak minum-minum," ujar dokter.


"Apa tidak perlu di infus Dok?" tanya Maya.


"Kalau masih bisa mengkonsumsi air putih, tidak perlu di infus Bu."


"Tebus resep ini, dan jika tidak ada perubahan. Saya sarankan, bawa ke rumah sakit dan memeriksa darahnya," ujar sang dokter.


"Salma, antar dokter. Dan suruh Pak Kusno untuk menebus obat ini," ujar Maya dan memberikan resep obat yang diberikan oleh dokter kepada Salma.


"Baik Nyah," sahut Salma.


Beberapa jam kemudian..


"Nyah!" Salma berlari keluar dari dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Maya.


"Non Bian gelisah..!" seru Salma.


"Paa, kita harus bawa Bianca ke dokter," ujar Maya.


Setengah jam kemudian, Bianca ditangani oleh dokter. Setelah satu botol infus masuk kedalam tubuhnya, Bianca berangsur-angsur tenang dan panas tubuhnya sedikit menurun.


"Mama mati.." tangis Elvan saat melihat tubuh Bianca ditusuk jarum infus.


"El, mama tidak mati. Mama tidur, karena ngantuk," ujar Ayu.


"Tidak mati?" Elvan menatap wajah sang Mama dengan air mata tergenang di bola matanya.


"Mama El sedang tidur, ayo kita keluar. Kita cari makan ya, biar Mama bangun nanti. Biar bisa makan dan cepat sehat." bujuk Budi Dwipangga pada sang cucu.


"Maa, hubungi Jonathan." titah Papa Jonathan pada sang istri.


"Oh .iya, hampir Mama lupa."


Maya mengeluarkan ponselnya dari tasnya dan menekan nomor ponsel Jonathan.


"Ya Maa, ada apa. Joe nanti malam usahakan untuk pulang."


"Sekarang juga pulang, Bianca di rawat di rumah sakit."


Maya langsung memutuskan sambungan telepon, dan mengirimkan alamat rumah sakit tempat Bianca di rawat.


"Di rawat..?"


"Ada apa Joe?" tanya Kamal yang melihat Jonathan panik begitu selesai menerima telepon.

__ADS_1


"Bianca masuk rumah sakit!, Mama main putus telepon saja. Lihat, aku telepon balik ponsel Mama tidak bisa di hubungi," ujar Jonathan.


"Ihh...!" Jonathan kesal, karena telponnya tidak diangkat oleh sang Mama, Maya.


"Apa yang kau tunggu lagi, ayo kita kembali. Sebelum malam, kita sudah sampai rumah sakit," ujar Kamal.


"Arumi, ayo. kau ikut pulang," ujar Kamal.


"Saya harus mengawasi pekerjaan sini," jawab Arumi.


"Joe, bawa Arumi. Sini semua laki-laki," ujar Kamal.


"Arumi, siap-siap. Sebentar lagi kita kembali, Zulham sudah bisa mengurus semua di sini. Aku membutuhkanmu di Bina Bangsa," ujar Jonathan pada Arumi.


"Baik Pak Joe," sahut Arumi.


"Kau sahabat terbaikku," ujar Kamal dengan tersenyum lebar dibibirnya.


Beberapa jam kemudian, mobil Jonathan sudah memasuki tol menuju rumah sakit tempat Bianca di rawat.


"Sakit apa Bianca, Joe?" tanya Kamal.


"Aku tidak tahu, tadi pagi saat aku berangkat. Dia masih tidur," sahut Jonathan.


"Batal rencana mu membawanya pergi honeymoon," ujar Kamal.


"Aku akan memundurkan jadwal keberangkatan," kata Jonathan.


"Bagaimana jika paket honeymoon, kau berikan padaku dan Arumi. Ya kan Rum, kita honeymoon dulu saja. Nikah nyusul," ujar Kamal.


"Rugi anak orang," ujar Jonathan.


"Pak Joe, saya turun didepan saja." pinta Arumi.


"Rum, ini sudah malam. Walaupun masih jam 8, tapi tidak baik seorang gadis sendirian," kata Kamal.


"Good Joe," ujar Kamal seraya mengacungkan dua jempolnya.


"Awas..! jika kau macam-macam pada Arumi." ancam Jonathan.


"Baik Boss, aku tidak akan macam-macam. Hanya satu macam..," ujar Kamal seraya melirik Arumi dari kaca spion, yang duduk di jok belakang.


Mendapatkan tatapan mata Kamal, Arumi mengerucut bibirnya membalas tatapan mata Kamal yang tersenyum menatapnya.


*


*


Jonathan tiba didepan kamar tempat Bianca di rawat, Jonathan berdiri didepan pintu yang tertutup dan mendengar Mamanya membujuk Bianca untuk minum obat.


"Ayo Bian, minum obatnya," ujar Maya.


"Bian tidak mau Maa, pahit..!" ujar Bianca dengan menutup mulutnya dengan jemarinya.


Ceklek...


"Bian..!" seru Jonathan.


"Mas Joe...!" seru Bianca dengan merentangkan kedua tangannya, mata Bianca langsung mengalirkan air mata.


Dengan langkah lebar, Jonathan melangkah menuju tempat tidur Bianca dan meraih Bianca dalam pelukannya.


"Joe, Mama serahkan istrimu. Lihat, obat belum ada masuk kedalam perutnya," ujar Maya.

__ADS_1


"Sakit apa?" Jonathan mengurai pelukannya dan melihat wajah Bianca yang tirus.


"Bian tidak sakit," ujar Bianca.


"Tidak sakit! wajah sudah keriput begitu, masih bilang tidak sakit..!" ujar Maya dengan berkacak pinggang menatap Bianca.


"Biar Joe yang urus anak ini Maa," ujar Jonathan.


"Tidak..! Bian tidak suka obat." Bian menutup mulutnya dengan rapat.


"Bian! biar cepat sembuh," ujar Jonathan.


"Bian suntik saja, obat ini suka nyangkut di tenggorokan." Bianca tetap Keukeh menolak minum obat.


"Daripada suntik, lebih baik minum obat. Tidak sakit," ujar Maya.


"Bian tidak suka obat..!"


"Makan..!" titah Jonathan dengan suara yang sedikit meninggi.


Mendengar nada suara Jonathan yang meninggi, akhirnya. Bianca luluh juga, walaupun terlihat dari raut wajahnya. Bianca ingin menangis.


Setelah selesai drama minum obat berakhir, Bianca menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Joe."


Maya menarik tangan putranya keluar dari dalam kamar.


"Ada apa Maa? apa ini mengenai penyakit Bianca?" terlihat wajah khawatir Jonathan.


"Kamu itu harus sabar menghadapinya, jangan main marah. Jika Bianca menolak untuk minum obat, dia itu sejak kecil tidak suka dengan obat." nasehat Maya pada Jonathan.


"Oh.. Joe kira Mama ingin mengatakan mengenai penyakit Bianca," ucap Jonathan lega.


"Kata dokter hanya demam biasa, dan beban pikiran. Apa kalian ada masalah?" selidik Maya.


"Tidak ada Maa, kami baik-baik saja."


"Joe, Bianca itu baru 23 tahun. Kau seharusnya membimbingnya untuk bersikap dewasa, jangan dia ngambek sedikit. Kau diamkan, kau bujuk. Beri perhatian, kau itu jadi laki-laki peka sedikit. Jangan pintarnya cari uang saja, merayu wanita juga harus pintar."


"Mama kan tahu, Joe tidak pintar merayu perempuan," ujar Jonathan.


"Kenapa Chelsea dan Mira bisa suka padamu ya? Mama yakin, mereka berdua itu sudah buta," ujar Maya seraya melangkah masuk kedalam kamar inap Bianca.


"Bian, istirahat ya. Mama pulang dulu," ujar Maya.


"Bian, kapan pulang Maa?"


"Makan obat, tuh.bubur habiskan. Malu dengan Elvan, mana yang anak kecil..? El saja tidak rewel saat sakit," ujar Maya.


"Sudah Mama balik dulu," ujar Maya.


"Maa, tolong suruh Pak Udin bawakan baju Joe. Dari pagi, Joe belum mandi dan ganti baju," ujar Jonathan.


"Itu saja?" tanya Maya.


Sepeninggal Maya, Jonathan mengambil bubur Bianca yang belum habis.


"Habiskan," ujar Jonathan.


Bianca menutup mulutnya dengan rapat, dan menggelengkan kepalanya.


*

__ADS_1


*


...BERSAMBUNG...


__ADS_2