
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Dengan gugup, Bianca dibawa keluar dari dalam kamar. Setelah Jonathan dengan lantang mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan napas.
"Akhirnya, kau sah menjadi Nyonya Dwipangga. Kau jangan coba-coba kabur lagi Bian," ucap Ayu, saat membawa Bianca keluar dari dalam kamar.
"Aku mau kabur kemana Mbak? rumahku, mereka sudah tahu," jawab Bianca dengan pelan.
Didepan pintu menuju tempat ijab qobul, Mama Maya sudah menunggu dengan mata yang sedikit berembun. Karena tiba-tiba Maya teringat dengan kedua orangtua Bianca, sahabatnya.
Karena melalui Yudistira dan Bella, Maya bisa mengenal suaminya Budi Dwipangga.
"Selamat sayang." Maya memeluk Bianca.
"Mama senang, bisa melaksanakan amanat kedua sahabat Mama," ucap Maya seraya mengusap punggung Bianca.
"Mbak Maya, jangan nangis. Nanti makeup pengantinnya luntur, ikut nangis," ujar budhe Tiara.
"Oh..iya, Mama ini. Hari bahagia koq pakai acara nangis ," ujar Maya menyalahkan dirinya, yang membuat Bianca ikut sedih.
"Ayo. Mama antar putri Mama ini. Joe sepertinya sudah tidak sabar," ujar Maya seraya tersenyum lebar.
Perasaannya sudah plong, karena Jonathan sudah menikahi Bianca. Urusan dengan masa lalu Jonathan, Maya tidak memikirkannya lagi.
"Jangan gugup Bian," ujar Mama Maya, karena merasa tangan Bianca terasa dingin dalam genggaman tangan Mama Maya.
"Bian, mau pipis Maa," ujar Bianca saking nervous, apalagi. Saat mereka sudah berada ditempat akad nikah berlangsung, banyak pasang mata yang memandang kearah Bianca.
"Hah..! tahan sayang, tidak mungkin kita kembali lagi," ujar Mama Maya.
"Bian, itu bukan mau pipis. Tapi karena kau gugup, hingga ingin kebelakang, aku juga dulu begitu," ujar Ayu.
"Tanganku dingin Mbak Ayu, Mbak. Jika aku pingsan, apa akan memalukan?" tanya Bianca.
"Jangan pingsan sekarang Bian. Sayang dengan dandanan mu, nanti berantakan. Tunggu malam kedua saja, baru pingsan." ucap Ayu dengan bergurau, agar Bianca tidak gugup.
"Malam kedua?" Bianca tidak mengerti apa maksud perkataan Ayu.
"Nanti malam, malam keduamu. Malam pertama, saat kau membuat El," ujar Ayu sembari tertawa kecil.
"Sial..!" ucap Bianca tanpa sadar, syukur Mama Maya sedang berbicara dengan budhe Tiara yang berjalan disamping Mama Maya. Sehingga tidak mendengar umpatan Bianca.
"Mama..!" Entah datang darimana, Elvan sudah berdiri didepannya.
"El.."
"Mama cantik.." puji Elvan.
"Elvan juga ganteng," ucap Bianca.
Rasa nervous dalam dirinya sedikit berkurang dengan kehadiran Elvan.
__ADS_1
Ayu melepaskan pegangan tangannya, dan mengambil tangan Elvan untuk menggantikannya menggandeng Bianca menuju tempat Jonathan duduk menunggu kehadirannya.
Jonathan menatap Bianca yang berjalan dengan pelan menuju tempat dia duduk.
Tatapan mata Jonathan membuat Bianca kembali gugup, seketika Bianca mengalihkan pandangannya.
"Kenapa dia menatapku terus." batin Bianca.
"Tenang," ujar Mama Maya.
Setelah berada didekat Jonathan, Jonathan berdiri dan meraih tangan Bianca untuk duduk disampingnya.
Maya membawa Elvan untuk duduk didekatnya.
"Oma, El mau sama Mama," ujar Elvan.
"Nanti sama Mama, sekarang. El dengan Oma dulu, atau mau main dengan kak Yoan?" tanya Maya pada Elvan yang terus mengarahkan pandangan matanya kearah Jonathan dan Bianca.
Elvan menolak untuk bermain dengan sepupunya Yoan, matanya terus menatap Bianca. yang sedang disematkan cincin oleh Jonathan. kemudian Bianca mencium tangan Jonathan, dan Jonathan mencium kening Bianca.
Setelah selesai, kedua menunjukkan tempat resepsi yang diadakan langsung setelah akad nikah. Dan di hotel tempat akad nikah berlangsung.
Jonathan memanggil Elvan, karena dia tahu. Elvan ingin dekat dengan Bianca. Tangannya menggenggam jemari kecil Elvan dengan erat, dia tidak perduli ada beberapa orang yang membicarakan tentangnya. Yang menikah dengan seorang janda, karena mengira Bianca seorang janda beranak satu.
"Ayo." Elvan berada ditengah-tengah antara Jonathan dan Bianca, ketiga berjalan menuju ruang resepsi., sampai di pelaminan. Jonathan membawa Elvan untuk duduk bersama mereka, karena dia tidak ingin Elvan merasa tersisihkan.
"Bianca..!" pekik Yunita tanpa perduli dimana dia saat ini berada.
Bianca melihat asal suara, dan melihat Yunita yang berjalan cepat menuju tempat dia duduk.
"Yun..!" keduanya saling peluk melepaskan rasa rindu.
"Akhirnya, kau berhasil juga menikahinya. Dan ini..?" mata Yunita terarah kepada Elvan yang duduk menikmati puding coklat.
Bianca mengedipkan matanya, dan Yunita tahu arti kedipan tersebut.
"Oh my God!!" seru Yunita.
"Kau berhasil?" tanya Yunita.
Bianca menganggukkan kepalanya.
"Kau pergi menghilang karena ini?" tanya Yunita.
"Tidak! nanti kita akan bertemu lagi, berikan nomor ponselmu. Nanti kita bicara lagi," ucap Bianca, saat melihat banyaknya tamu undangan yang ingin memberikan selamat pada mereka berdua.
"Ini kartu namaku," ujar Yunita.
"Bro, akhirnya. Kau terikat juga," ujar Antonio yang datang bersama dengan kedua temannya.
"kenapa kalian baru datang?" tanya Jonathan, karena saat akad tadi. Jonathan tidak melihat keberadaan ketiga temannya.
"Aku ada meeting, dan mereka. Biasalah, kalau tidak pergi denganku. Mereka tidak bisa," ujar Kamal.
__ADS_1
"Meeting..! seperti pengusaha besar saja..!" seru Jonathan.
"Bro, ini untukmu. Nanti malam, langsung tancap gas meluncur..," ujar Amar, sembari menyelipkan sesuatu kedalam saku jas Jonathan.
"Apa ini? jangan main-main. Awas sampai aku ketangkap karena membawa barang terlarang," ujar Jonathan.
"Tenang Bro, itu hanya obat kuat. Biar kau bisa gas foll meluncurkan alien kecil tanpa hambatan ," ujar Antonio sambil tertawa.
"Gila kalian..!" kesal Jonathan.
"Pergi kalian, membuat mood ku rusak saja. Melihat wajah kalian." Jonathan mendorong ketiga temannya untuk turun dari atas pelaminan.
Ketiganya tertawa cekikikan menghampiri Bianca yang masih berbicara dengan Yunita.
"Bian, selamatnya. Akhirnya, pria tua itu berhasil kau masukkan kandang. Jangan kasih lepas, jadilah pawangnya. Setiap malam jangan kasih berkeliaran" kata Kamal dengan bergurau.
"Mas Kamal.." Bianca malu mendengar perkataan Kamal
Sedangkan Amar, matanya fokus menatap Yunita.
"Hei..Mar, matamu itu jelalatan kemana." Antonio menyikut lengan Amar yang masih terpukau melihat Yunita yang berbeda sekarang ini.
"Yunita? kamu Yunita, teman gembul Bianca dulu?" tanya Amar.
"Ih..mas Amar, ingatnya Nita gembul saja..!" Nita mencebikkan bibirnya.
"Woi...! lihat. Antrian sudah panjang..," ujar Antonio pada teman-temannya.
Ketiganya melihat para tamu yang ingin memberikan selamat pada pasangan pengantin sudah mengantri.
"Ayo kita turun, nanti kita ganggu mereka lagi," ujar Antonio.
"Pergi kalian..!" usir Jonathan.
"Sabar Bro, kami akan pergi. Aku akan berkeliling mencari belahan jiwaku," ucap Kamal, yang melihat ada sosok yang diincarnya didalam gedung resepsi.
Teman-temannya pergi, seorang pria mendekat dan menyalami Jonathan.
"Selamat Pak Jonathan, dengan pernikahannya. Saya sebenarnya mengharapkan kita bisa menjadi mertua dan menantu, tapi apa daya. Pesona seorang janda begitu sangat menggoda," ucap seorang tamu pada Jonathan dengan bernada sindiran.
Deg..
Raut wajah Bianca spontan berubah, perbuatan masa lalunya kembali membuka malu Jonathan.
Jonathan yang melihat raut wajah Bianca yang berubah, langsung menunjukkan wajah tak bersahabat dengan tamunya tersebut.
"Pak, ini putra kami. Dan saya bukan menikah dengan janda..!" Jonathan menekankan kata janda pada tamunya tersebut.
"Bukan..!" tamunya sontak terkejut, dan menatap wajah Bianca dengan lekat. Sehingga, Bianca jengah.
"Ini masalah pribadi saya, dan bapak hanya rekan kerja. Tidak berhak menilai kehidupan pribadi saya," kata Jonathan dengan suara yang datar.
"Maaf Pak Syamsul, banyak tamu yang sudah mengantri," ujar Jonathan.
__ADS_1
"Maaf.." pria yang bernama Pak Syamsul bergegas pergi.
...Bersambung...