
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Jonathan berjalan cepat keluar dari dalam rumah sakit, matanya celingukan mencari-cari sosok Bianca. Tetapi yang di carinya tidak terlihat bayangannya juga.
"Ihh..! Mana dia? Ngambek terus, apa lagi yang salah." gerutu Jonathan seraya melangkah menuju tempat parkir mobilnya.
Jonathan masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan pelan sembari matanya celingukan mencari keberadaan Bianca disekitar area rumah
"Apa dia sudah pulang? Cepat sekali dia jalannya." gumam Jonathan seraya melajukan mobilnya keluar dari dalam area rumah sakit.
Jonathan tak menyadari, Bianca berada di tepi jalan sedang menunggu Abang tukang ojol memberikan helm untuk dia pakai. Mobilnya melewati Bianca, tanpa sadar Bianca hanya berjarak beberapa langkah dengan mobil yang dikemudikannya. Begitu juga dengan Bianca, dia tak menyadari. Mobil Jonathan melintas dari belakang punggungnya.
Mobil Jonathan memasuki area pekarangan rumah, dan tidak lama kemudian motor ojol yang dinaiki Bianca juga tiba.
Melihat Bianca tiba dengan naik motor ojol, Jonathan menghampirinya dan langsung menariknya.
"Mas! Bian belum bayar !" teriak Bianca, saat Jonathan langsung menariknya dari hadapan tukang ojol yang baru menerima helm dari tangan Bianca.
"Pak Asep, tolong bayarkan..!" titah Jonathan pada Pak Asep yang ingin pergi menjemput Mama Jonathan dan sang Papa yang masih berada dirumah sakit.
Jonathan menarik tangan Bianca, raut wajah Jonathan mengetat. Terlihat sekali raut wajah Jonathan yang marah.
Jonathan membawa Bianca langsung menuju kamar, kemudian Jonathan mengunci pintu kamar dan juga pintu kamar penghubung.
"Duduk..!" titah Jonathan seraya menunjuk kearah sofa.
Bianca menurut apa yang dikatakan oleh Jonathan, badan dan pikirannya yang lelah membuat dia tidak sanggup lagi untuk membantah apa yang dikatakan oleh Jonathan.
Bianca duduk, matanya menatap wajah Jonathan tanpa ekspresi.
"Ada apa denganmu? tadi di rumah sakit pergi tanpa mengatakan apapun juga, kami panik Bian. Telepon tidak diangkat!" seru Jonathan dengan berdiri tegak didepan Bianca yang duduk dengan wajah datar-datar saja.
"Yang ada dalam pikiran ini, bagaimana jika kau di culik seperti El. Apa kau tidak berpikir sedikit saja, untuk memberi kabar. jika ingin pergi kemanapun juga," kata Jonathan dengan suara yang keras.
"Kalian asik bicara, aku tidak ingin menganggu," ucap Bianca.
"Bian! ada apa? kenapa kau sepertinya sedih?" Jonathan melangkah mendekati Bianca dan duduk disampingnya.
"Tidak ada apa-apa," sahut Bianca.
"Aku tidak percaya..!" seru Jonathan.
"Terserah! jika mas tidak percaya," ujar Bianca.
"Bian, jika ada yang tidak disukai. Katakan langsung, jangan simpan didalam hati."
__ADS_1
"Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana jika El yang terbaring seperti yang dialami Chelsea. Chelsea saja kondisinya seperti itu, jika El tidak diselamatkan oleh Chelsea. Mungkin, El tidak bersama dengan kita sekarang ini," ujar Bianca dengan bibir yang bergetar, dan air matanya sudah tumpah.
Bianca menangis, kedua tangannya menutup wajahnya. Saat mendengar cerita Chelsea, pikiran Bianca menjadi tak menentu. Rasa bersalah pada Chelsea, karena telah merebut Jonathan dulu. Kini menyeruak kembali.
Jonathan memeluk Bianca dan mengusap punggungnya.
"Tenanglah, semua baik-baik saja," kata Jonathan.
"Semua tidak baik-baik saja mas, apa mas lupa dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Kaki Chelsea belum baik-baik saja, jika dalam seminggu ini. Kaki Chelsea yang patah tidak tersambung dengan benar, kaki Chelsea bisa di amputasi. Itu semua karena telah menyelamatkan Elvan," ucap Bianca.
"Bagaimana jika kakinya tidak bisa dipertahankan mas, dia sendiri. Siapa yang bisa menjaganya, keluarganya meninggalkannya," kata Bianca.
"Mas sudah bicara dengan pamannya, dia akan mencari keberadaan Mama Chelsea," kata Jonathan.
"Suami dan anaknya?" tanya Bianca.
"Belum tahu juga," ujar Jonathan.
"Mas, bagaimana jika keluarga mbak Chelsea tidak ketemu juga? mbak Chelsea tinggal bersama siapa? siapa yang menjaganya?" tanya Bianca seraya memandang wajah Jonathan dengan lekat.
"Asistennya ada, dia bisa menjaganya. Dan kita bisa menyewa seorang perawat," jawab Jonathan.
"Sudah, jangan pikirkan yang tidak-tidak," ujar Jonathan.
Jonathan masuk kedalam kamar mandi, didepan cermin. Jonathan menatap dirinya didepan cermin.
*
*
"Joe, bagaimana Bianca?" tanya Maya, Mama Jonathan.
"Biasalah Maa, melihat kondisi Chelsea. Dia membayangkan El yang mengalaminya, apalagi saat Chelsea mengatakan. El yang yang sebenarnya ingin ditabrak oleh Mira," kata Jonathan.
"Mama juga begitu, bayangkan saja. Anak umur empat tahun ditabrak mobil model SUV begitu, apa tidak rata tubuh El..! ihh...!" seru Maya sembari bergidik membayangkan kondisi El, jika tidak diselamatkan oleh Chelsea.
"Joe, Chelsea sudah move on dari mu. Dia tidak akan menganggu rumah tanggamu lagi," kata Maya.
"Apa dia mengatakan pada Mama?" tanya Jonathan.
"Filing seorang wanita, mama berbicara dengannya waktu di rumah sakit. Tidak ada ucapannya yang menjurus dia ingin bersama denganmu, dia membahas putri. Sepertinya, dia rindu dengan putrinya." cerita Maya.
"Apa kau bisa membantunya untuk mencari keberadaan mereka?" tanya Maya.
"Akan Joe usahakan Maa," sahut Jonathan.
*
__ADS_1
*
*
Di belahan benua lain, seorang gadis kecil sedang pulang dari sekolah dengan berjalan kaki. Karena jarak rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh.
"Selamat siang Aunt."
"Selamat siang Della." balas wanita yang di panggil Aunt oleh Della.
"Della betah tinggal di sini?" tanya wanita tersebut pada Della, yang hampir sebulan telah menjadi tetangganya di Perth.
"Emh..!" Della memegang dagunya.
"Kenapa?" tanya wanita tersebut, karena Della tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan.
"Jangan bilang pada Papa ya Aunt, Della tidak betah. Della rindu Mama," ucap Della dengan suara yang lirih dan dua bola matanya berembun.
"Kenapa tidak telepon Mamanya, mama pasti senang jika Della menghubunginya."
Della menggelengkan kepalanya, dia teringat. Saat ingin berbicara dengan sang Mama, saat itu Chelsea memutuskan secara sepihak. Sehingga, Della takut. Sang Mama akan melakukan hal seperti itu padanya lagi.
"Della pulang dulu ya Aunt, lihat. Kedua Nenek Della sudah menunggu Della," ujar Della dengan menunjuk kearah depan rumahnya, terlihat dua wanita paruh baya sedang menunggu dia pulang sekolah.
"Tunggu Della, ini bawa pulang. Aunt baru panen lemon." wanita tetangganya tersebut memberikan sebungkus plastik lemon yang masih segar.
"Terima kasih Aunt," ucap Della dengan tersenyum.
"Nenek...!" Della berlari menuju kedua neneknya berada.
"Bawa apa itu?" tanya sang Nenek.
"Ini, Aunt Sally beri," sahut Della.
"Tetangga kita baik-baik ya, ayo. kita buat minuman jeruk hangat," ujar Nenek Utari, Mama Chelsea.
"Ayo," sahut Nenek Lina, Mama Riko.
"Dell, sudah ucapkan terima kasih pada Aunt Sally?" tanya Nenek Lina.
"Sudah Nek," sahut Della.
(Riko tidak di jaga istri, tapi di jaga dua nenek-nenek ðŸ¤)
*
*
__ADS_1
...BERSAMBUNG...