
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Chelsea menggenggam erat baju untuk Adella yang baru di belinya, walaupun dia tidak terlalu akrab dengan sang putri. Dan seolah-olah tidak tidak menyayanginya, tetapi. Chelsea sering membelikan Adella baju, jika dia merasa baju tersebut sangat bagus jika dikenakan oleh putrinya.
Chelsea meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan memijat nomor satu orang yang dalam satu hari kemarin selalu di hubungi.
Seperti kemarin, nomor yang dihubunginya selalu tidak tersambung.
"Kenapa nomornya tidak dapat dihubungi?" Jemarinya kembali menekan nomor tersebut, dan kekecewaan dalam hatinya semakin besar.
Chelsea mencoba untuk menghubungi nomor sang Mama, dan nomor tersebut juga tidak bisa dihubungi.
"Mama kemana ? apa Mama akan pergi lama?" Chelsea meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, dan turun dari ranjang. Kemudian Chelsea masuk kedalam kamar mandi.
Dalam kamar mandi, Chelsea memandang wajahnya didepan cermin. Dalam cermin, terlihat wajahnya tirus. Matanya yang cekung dan bobot tubuhnya yang dalam beberapa hari ini menyusut drastis. Karena sangat jarang Chelsea memasukkan makanan kedalam lambungnya.
"Ini yang kau harapkan Chelsea, sendiri dalam kesepian."Â Chelsea bicara sendiri di dalam cermin, sembari memandang dirinya.
Chelsea keluar dari dalam kamar mandi, tanpa menyentuh air. Dia keluar dari dalam kamarnya, diluar kamar. Hanya keheningan yang yang menyambutnya, suasana suram menghiasi rumah yang kini ditempatinya sendiri.
Ting tong...
Ting tong..
Suara bel rumah berbunyi berkali-kali, dan tidak ada niat Chelsea untuk melihat. Siapa orang yang telah menganggunya.
Chelsea duduk terpaku di dapur, tanpa ada niat untuk berdiri.
Ting tong..
Bel kembali berbunyi, membuat Chelsea merasa terganggu. Dengan bermalas-malasan, Chelsea menuju pintu depan. Jemarinya menyibakkan tirai untuk melihat siapa yang telah mengganggunya.
"Sandy! untuk apa dia datang? aku tidak ingin berurusan dengannya lagi."
Chelsea kembali menuju kamarnya, dan merebahkan tubuhnya. Karena merasakan pusing pada kepala kembali datang.
"Kemana dia? gara-gara dia aku dipecat! kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada ku Chelsea..!"
Sandy kembali menekan bel, dan bel kembali berbunyi. Membuat Chelsea mengambil bantal untuk menutupi telinganya.
"Sialan kau Sandy..!" umpat Chelsea.
Karena tidak ada orang yang keluar dari dalam rumah, Sandy kembali masuk kedalam mobilnya.
"Sialan kau Chelsea, semoga kau membusuk didalam sana..!" umpat Sandy.
*
*
*
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju sekolah untuk mendaftarkan Elvan, Jonathan mengirimkan pesan untuk ketiga sahabatnya. Untuk membantunya mengawasi Sandy dan Chelsea. Karena dia khawatir, keduanya saling bekerja sama melakukan sesuatu.
Setelah selesai mengirimkan pesan kepada ketiga temannya, Jonathan melirik Chelsea yang diam melihat keluar jendela mobil yang berjalan memecah kemacetan.
Jonathan menggeser tubuhnya sedikit mendekati Bianca duduk, Bianca merasa ada pergerakan didekatnya duduk. Melihat kearah Jonathan.
Dan
Jonathan menggerakkan bibirnya dan berkata, I love you.
Bianca yang membaca gerakan bibir Jonathan, yang berkata I love you. Mengalihkan pandangannya kembali keluar kaca jendela mobil.
Jonathan kembali menggeser kan bokongnya semakin mendekati Bianca duduk, terlebih dahulu. Jonathan melihat kursi depan, Pak sopir serius dengan kemudi mobilnya. Sedangkan Elvan, seperti Bianca. Memandang keluar jendela, dan sesekali mengajak Pak Kusno untuk berbicara. Dengan bertanya apa yang ingin diketahuinya.
Setelah merasa aman, Jonathan menggeser tubuhnya semakin menempel pada tubuh Bianca.
Dengan perasaan jengkel, Bianca menggeser tubuhnya sampai nempel ke pintu mobil. Dan Jonathan memepetkan tubuhnya hingga tidak ada jarak.
Bianca melihat kearah Jonathan dengan tatapan mata yang mendelik.
"Jangan marah, kau semakin menggairahkan." bisik Jonathan ditelinga Bianca.
"Ihh..!" tangan Bianca mendorong wajah Jonathan yang menempel di bahunya.
Hanya sedetik, wajah Jonathan bergeser dari atas bahu Bianca. Jonathan meletakkan wajahnya kembali ke bahu Bianca.
"Nyonya Jonathan Dwipangga, I love you." bisik Jonathan.
Dan
Jemari Bianca mengelap bekas kecupan bibir Jonathan di pipinya, dan Jonathan kembali mendaratkan kecupan dipipi Bianca.
Bianca mengelapnya, dan Jonathan terus mendaratkan bibirnya di pipi Bianca. Sehingga, batas kesabaran Bianca habis. Dia membiarkan apa yang dilakukan oleh Jonathan.
"Maaf." bisik Jonathan.
Dengan gemas, jemari Jonathan meremas bibir Bianca yang ngerucut sembari menatap keluar jendela kaca mobil.
"Aaww...!" teriak Bianca tanpa sadar.
"Mama..!" Elvan langsung menoleh kearah Bianca duduk.
Sedangkan Jonathan menggeser duduknya menjauhi Bianca duduk.
"Tidak apa-apa El, tadi ada tangan kepiting menjapit bibir Mama," ujar Bianca, sembari melirik Jonathan yang tersenyum menatapnya.
"Hah..! Mama makan kepiting? bukannya Mama tidak suka kepiting?" tanya Elvan, karena sang Mama pernah mengatakan padanya. Kepiting makanan yang sangat merepotkan untuk di makan, sehingga Elvan ingat.
"Tadi bukan kepiting sebenarnya, tadi itu hantu kepiting," ujar Bianca.
"Hantu ! El takut hantu..!" seru Elvan seraya meloncat ke jok belakang dan mendarat dipangkuan Jonathan.
Elvan menyembunyikan wajahnya di dada sang Papa.
__ADS_1
"El, takut hantu," ujar Elvan.
"El, maaf. Mama hanya bergurau, tidak ada hantu kepiting," ujar Bianca seraya mengusap rambut sang putra.
"Jangan takut boy, Mama hanya ingin menakuti Papa tadi," kata Jonathan.
"Sudah tidak ada hantu, sekarang. Pindah duduk kembali kedepan," ujar Jonathan.
"Tidak, El mau duduk di sini saja.' Elvan menolak untuk kembali duduk di kursi depan.
"Baik, di sini saja. Lihat El, ada badut," ucap Jonathan, agar Elvan mengangkat wajahnya dari dada Jonathan.
"Bagus, Mas Joe tidak bisa mengangguku lagi." batin Bianca senang, karena keberadaan Elvan diantara mereka berdua, membuat Jonathan tidak bisa menganggunya lagi.
*
*
Setelah mendapatkan titah dari Jonathan, ketiga temannya meninggalkan pekerjaannya masing-masing.
"Kenapa Jonathan selalu dikejar-kejar oleh wanita, aku yang sangat keren saja tidak digilai wanita seperti Jonathan," ujar Kamal.
"Itu karena kau terlalu murahan di mata seorang wanita," ujar Amar.
"Sial kau..!" Kamal mendamprat Amar.
"Tenang Bro, cukup membahas diri sendiri. Sekarang kita di tugaskan untuk mengawasi musuh Jonathan," ujar Antonio.
"Di mana kita mengawasi orang itu?" tanya Amar, setelah mobil sampai didepan sekolah Bina Bangsa.
"Di sini saja, kita tunggu dia keluar," kata Antonio.
Ketiganya berada didalam mobil, menunggu Sandy Setiawan keluar dari dalam gedung sekolah.
Satu jam berlalu, dua jam berlalu dan memasuki jam ketiga. Mata dan tubuh ketiganya sudah mulai kelelahan.
Kamal juga sudah kelelahan, dan matanya juga sudah terpejam.
"Lihatlah, semua murid sekolah sudah meninggalkan sekolah. Dan guru-gurunya juga sudah meninggalkan sekolah, apa orang yang harus kita awasi tidur di sekolah?" tanya Antonio.
"Mungkin karena dia wakil kepala sekolah, dia bekerja lebih lama di sekolah." timpal Kamal.
"Mungkin dia sudah pulang," ujar Amar.
"Kalau dia pulang, untuk apa kita di sini?" tutur Kamal.
"Untuk numpang istirahat," sahut Antonio dengan tertawa.
"Sial..!" umpat Amar.
*
*
__ADS_1
*
...BERSAMBUNG...