
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Aku iri dengan kalian, Joe sudah dua. Amar sebentar lagi launching, Anton juga akan launching juga. Aku, jebol juga baru dua hari yang lalu. Itu juga penuh dengan perjuangan, pakai acara nangis lagi. Padahal aku mau kasih enak, Arumi seperti ingin dipotong dirumah jagal." cerita Kamal dengan tertawa kecil.
"Mungkin Arumi takut dengan bazoka milikmu," ujar Jonathan mengejek Kamal.
"Bazoka ku standar, lihatlah," ujar Kamal seraya ingin membuka resleting celananya.
"Gila..! ada bini kami woi..!" seru Antonio sembari menendang kaki Kamal.
Bianca, Yunita, Ayu dan Arumi yang sedang mendandani baby Alesha dengan baju yang baru mereka beli. Melihat kearah Antonio yang berteriak pada Kamal.
"Ada apa mas Joe?" tanya Bianca penasaran.
"Tidak ada apa-apa Yank, urusan bazoka. Nanti sayank lihat bazoka yang sah nanti malam," ucap Jonathan nyeleneh.
"Bazoka? apa mereka mau beli senjata Bian?" tanya Ayu, mendengar Jonathan menyebut bazoka.
"Ahh .! nggak ngerti," sahut Bianca yang kembali fokus menatap putrinya.
"Setiap kalian datang, selalu beli baju untuk Alesha. Lemari Alesha jadi penuh," ujar Bianca.
"Kami gemas melihat baju anak cewek, anak kami ini laki-laki. Semoga Arumi nanti, bayinya cewek," ujar Yunita.
"Baru menikah dua hari Mbak," sahut Arumi dengan malu-malu.
"Melihat mas Kamal, dua kali ngecor. Langsung jadi," ujar Yunita.
Mendengar perkataan Yunita, semua pada tertawa. Hanya Arumi yang masih dengan ekspresi malu-malu, karena belum terbiasa mendengar ucapan nyeleneh.
*
*
*
Dua tahun kemudian...
Empat pria sedang mengawasi satu putri dan tiga putra sedang bermain di taman, Sedangkan para istri diberi kebebasan untuk memanjakan diri di salon satu harian.
Apa yang diinginkan mereka tidak terjadi, Alesha satu-satunya putri Jonathan. Sedangkan Amar, Antonio dan Kamal. Memiliki anak laki-laki.
Putra Amar bernama Revan Amarsya, Putra Antonio bernama Antares putra Antonio. Sedangkan Kamal, Fariz Alfarizi.
Karena ketika temannya laki-laki dan lebih kecil, Alesha menjadi pemimpin. Dan terlihat Alesha sedikit tomboy...
"Aaa...!" suara tangisan Fariz, putra Kamal yang baru saja belajar berjalan. Membuat mereka sontak melihat kearah Fariz.
"Kenapa?" Kamal berlari menuju sang putra.
Tangan Fariz menunjuk kearah Alesha yang nyengir, menunjukkan giginya yang ompong didepan.
"Embit dikit," ujar Alesha dengan suara cadelnya.
"Adik jangan di cubit sayang," ujar Jonathan yang mengerti apa yang dikatakan oleh Alesha.
"Dik engkal," ujar Alesha, mengadu pada Jonathan.
"Engkal? apa itu?" bingung Amar dengan ucapan Alesha.
"Mengkal maksud Alesha," ujar Antonio.
"Masa anakku mengkal? anakku bukan buah-buahan ," ujar Kamal.
"Bahasa planet anak kecil, kalian harus pelajari," ujar Jonathan dan mengangkat Alesha, lalu menggelitik perut Alesha. Membuat Alesha cekikikan tertawa.
"Joe, El kemana?" tanya Antonio.
"Biasa, El lebih suka berada didalam kamarnya. Membaca buku," ujar Jonathan.
"Joe, El harus dibawa keluar rumah. Jangan kau biarkan dia berkutat dengan buku-buku pelajaran terus, usianya baru delapan tahun," ujar Amar.
__ADS_1
"Iya, Joe." timpal Antonio.
"Dia diam didalam kamar bukan terus pegang buku, dia asik membaca komik. Semalam dia baru dari rumah Papa, pasti Mama membawanya ke toko buku," ujar Jonathan.
"Apa kau sudah di izinkan oleh Bianca belanja?" tanya Kamal.
"Itu gara-gara kalian, kalian mengacaukan segalanya. Waktu anak kalian, kenapa aku tidak kalian bawa belanja?" kesal Jonathan.
"Barang untuk anakku joe, Mama yang belanja semua. Aku tidak mengeluarkan uang," ujar Amar .
"Idem Joe, aku juga. Mama yang semangat, kami tinggal terima." timpal Antonio.
"Sama," sahut Kamal.
"Awas kalian mengikuti aku belanja untuk keperluan baby lagi," ujar Jonathan.
"Hah..!"
"Hah..!"
"Hah...!"
Ketiga mata temannya terbelalak, mendengar ucapan Jonathan.
"Bian hamil..?" tanya Amar.
"Serius Joe, kau nambah lagi?" tanya Antonio.
"Kerja keras terus kau Joe..!" seru Kamal.
"Apa resepnya Joe?" tanya Amar yang sangat menginginkan sang istri hamil anak cewek.
"Cangkul..cangkul yang dalam," sahut Jonathan dengan bernyanyi.
"Sialan..!" geram Amar.
"Serius, Joe. Bianca hamil?"
"Tunggu sembilan bulan..," ujar Jonathan sambil tertawa, dan Alesha duduk anteng dipangkunya.
"Diam mulut kalian," ujar Jonathan sambil mengayun-ayunkan Alesha yang terlihat mengantuk.
*
*
*
Begitu keluar dari salon, keempat ibu muda sudah terlihat fresh.
"Badanku terasa segar, setiap Minggu kita dapat cuti dari menjadi ibu rumah tangga. Pasti asik ya," ujar Yunita.
"Asik, tapi tidak asik di dompet," ujar Bianca.
"Duit mu penuh tak berseri di Bank, kau masih perhitungan untuk memanjakan diri sendiri." celetuk Yunita.
"Kita tidak tahu kedepannya, apa yang menyambut kita. Kita hemat dari sekarang, tidak ada salahnya," ujar Bianca.
"Betul kata Bianca, restoran milik mas Anton sekarang ini lagi bagus-bagusnya. Tetapi, mungkin besok akan ada restoran orang lain yang akan menyaingi. Siapa yang tahu." timpal Ayu.
"Arumi yang sungguh beruntung, dia bisa membelanjakan uangnya sendiri. Uang suaminya untuk keperluan rumah," ujar Yunita.
"Rum, apa kau masih ingin menjabat wakil kepala sekolah Bina Bangsa? apa Mas Kamal tidak memintamu untuk berhenti?" tanya Bianca.
"Tidak, karena mas Kamal tahu. Aku menyukai pekerjaanku sekarang ini."
Tiba-tiba...
"Hei perempuan brengsek..!" suara menggelegar terdengar dari tempat mereka berdiri menunggu jemputan.
"Aduh..! suaranya melebihi suara kaleng jatuh," ujar Yunita.
"Ada apa? kau memanggilku?" tanya Ayu dengan sopan, dia tidak membalas perkataan bekas madunya tersebut.
__ADS_1
"Cih..! sok anggun dan elegan, dasar orang kampung..!" seru Safira, yang tidak suka melihat Ayu bahagia.
"Kenapa kalau orang kampung? yang penting rezeki kota..! daripada kau itu, orang kota. Tapi, rezeki kampung juga tidak menghampirimu..!" seru Arumi.
Bianca, Yunita dan Ayu menatap wajah Arumi. Karena tidak biasanya, Arumi bisa bicara panjang dengan orang yang baru dikenalnya.
"Ada apa? apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Arumi.
"Good..!" ujar Yunita sambil bertepuk tangan.
"Kau sudah berubah Rum, sekarang. Si pendiam Arumi sudah tidak ada, akhirnya. Kami memberi virus perubahan pada Arumi," ucap Bianca.
Arumi yang sadar menjadi bahan godaan, hanya tertawa kecil. Sambil menggaruk tengkuknya.
"Hei..!" tangan Safira mendorong Ayu yang sedang tertawa.
"Hei! jangan sentuh aku," ujar Ayu.
"Gara-gara kau, Mas Wahyu meninggalkan aku..!" seru Safira.
"Aduh.. nyonya, masalah dua tahun yang lalu masih belum move on. Aku saja sudah melupakannya, nyonya move on. Aku dengar, mas Wahyu juga sudah menikah lagi. Kau masih sibuk marah denganku, sadar nyonya," ucap Ayu.
"Ayo." titah Bianca pada ketiga temannya, saat mobil yang menjemput mereka sudah berhenti didepan mereka berada.
Mereka naik kedalam mobil, meninggalkan Safira yang terus memaki dan mengeluarkan umpatan kepada Ayu dan teman-temannya.
"Orang sudah mendapatkan kebahagiaan, dia masih berkutat mengejar orang yang sudah tidak mau dengannya," ujar Ayu.
"Bener." timpal Bianca.
"Kejar itu masalalu.
*
*
"Mas, terima kasih. Karena mencintai Bian, dulu. Bian sudah cukup senang, jika. Mas Joe mencintai Bianca sehari saja," ucap Bianca, saat keduanya duduk dibalkon. Sambil menatap sinar bulan purnama.
"Cinta Mas untukmu tidak hanya sehari. Cinta Mas untukmu selamanya," ucap Jonathan, dan kemudian mendaratkan ciuman yang penuh dengan napsu pada bibir Bianca yang basah.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang menatap apa yang mereka sedang lakukan.
Elvan yang sudah remaja, langsung mengangkat sang Adik Alesha. Yang baru berusia tujuh tahun. Elvan menutup mulut dan mata Alesha.
Sampai di kamar, baru Elvan melepaskan Alesha.
"Kak El, kenapa mulut Alesha ditutup..!" ucap Alesha sambil berkacak pinggang.
"Adegan orang dewasa, tidak boleh lihat," ujar Elvan sambil merebahkan tubuhnya.
"Hih...!" kesal Alesha.
"Sana balik kamar, ingat. jangan masuk kedalam kamar Mama dan Papa." titah Elvan, pada sang adik yang sedikit nakal. Dan selalu membuat Elvan menggantikan Mama dan Papanya untuk masuk ke ruang BP ala El di rumah.
Terima kasih, akhirnya kisah Bianca dan Jonathan berakhir. Kisah anak-anak mereka, mungkin akan ada di cerita dan judul yang lain.
Lope..lope...sekebon singkong untuk kakak-kakak yang sudah Sudi mampir di cerita receh, maaf jika cerita kurang menarik 🙏
Sampai ketemu di cerita selanjutnya...
👇👇👇👇
Bianca
Jonathan
__ADS_1
Bingung cari visual mereka 😄🙏