
Happy reading guys 🥰
👇👇
"Iya Paa, Mama akan bicara sambil tertawa. Sambil ngopi-ngopi," sahut Maya.
"Ayo Salma, kita pergi. Lebih cepat melenyapkan satu gulma dalam kehidupan rumah tangga Jonathan dan Bianca, lebih bagus..!" ujar Maya seraya beranjak berdiri dari kursi.
"Maa, jangan terlalu keras ya. Jangan sampai gadis itu melaporkan mama, karena telah melakukan kekerasan," kata sang suami, mengingatkan Maya untuk menahan diri.
"Iya, Papa tenang saja. Mama masih memiliki pikiran yang jernih, tidak mungkin Mama mempertaruhkan kehormatan keluarga Dwipangga. Tapi, kembali pada orang itu Pa. Dia jual, kita beli. Ya kan Salma?" tutur Maya seraya mengendikkan kedua bahunya.
Perkataan terakhir dari mulut sang istri membuat Budi Dwipangga tercengang, dari mana sang istri mendapatkan perkataan aneh yang baru saja didengarnya.
"Apa jual beli Maa?" tanya Budi yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Maya.
"Hih.. Papa! buat Mama lama saja, nanti. Mama akan jelaskan, selesai menjalankan misi penyelamatan rumah tangga putra kita yang mulai durhaka itu..!"
"Ayo ..!" titahnya pada Salma.
Saat keduanya baru mau keluar dari pintu utama, terdengar suara memanggil sang majikan dengan suara yang nyaring.
"Nyonya..!" terdengar suara Bik Aminah dari belakang.
Ketiganya berhenti, dan memutar badan, Melihat kearah asal suara.
Ketiganya melihat Bik Minah, asisten rumah tangga yang paling senior datang dengan setengah berlari.
"Ada apa Bik?" tanya Budi Dwipangga pada Bik Minah.
"Hehehe..! itu Tuan, Bibik mau ikut Nyonya juga," ucap Bik Minah sembari nyengir.
"Bibik mau ikut?" tanya Maya pada asisten rumah tangganya yang paling senior.
Bik Minah menganggukkan kepalanya.
"Hah..!" Budi Dwipangga tercengang, menatap wajah Bik Minah yang nyengir menatap wajah kedua majikannya.
"Bik, mereka berdua itu sudah membuat saya pusing. Kini Bibik ikut-ikutan dengan mereka berdua..!" Budi Dwipangga sambil memijat keningnya yang terasa pusing tiba-tiba.
"Tuan pusing? apa perlu saya siapkan wedang jahe Tuan?" tanya Bik Minah.
"Tidak perlu wedang jahe, yang saya perlukan itu, semua penghuni rumah ini mempunyai pikiran yang jernih..! tidak asburd seperti sekarang ini," ujar Budi Dwipangga.
"Papa! kami itu ingin menyelamatkan kehidupan putra kita dari para gulma yang mulai tumbuh di sekitar rumah tangga putra kita. Seharusnya, Papa itu mendukung kami.. kenapa Papa sepertinya tidak mendukung semua tindakan Mama untuk memberangus gadis yang suka lirik-lirik milik tetangga? hehmm..! Mama jadi memikirkan sesuatu ini, awas..! jika Papa ada niat untuk mencicipi gairah gadis muda, Mama akan bumi hanguskan aset berharga itu..!" seru Maya sambil meraih payung hitam Salma, dan mengarahkannya pada area berharga milik sang sang suami.
"Mama..!" Budi Dwipangga langsung menghindar dari dekat sang istri. Dan bersembunyi dibalik badan kecil Bik Minah.
"Tuan, kenapa sembunyi di belakang Bibik?" tanya Bik Minah.
__ADS_1
"Biar aman Bik, Maa. Papa tidak akan macam-macam, ya sudah. Mama pergilah dengan kedua asisten Mama ini, pesan Papa. Hati-hati ya, jangan sampai papa mendapatkan telepon dari rumah sakit dan kantor polisi," ucap Budi Dwipangga pasrah, tidak menghalangi keinginan sang istri untuk menemui Chelsea. Yang dikira Maya, telah menyembunyikan Jonathan.
"Jadi, saya boleh ikut?" tanya Bik Minah.
"Ikutlah Bik, Bibik jaga diri ya. Tulang Bibik sudah rapuh, jangan sampai pulang-pulang. Encoknya kumat," ucap Budi Dwipangga.
"Ayo Bik, Ehh...tunggu dulu Bik. Apa Bibik tidak ganti baju?" tanya Maya. Karena Bik Minah hanya memakai daster, dan kepalanya tertutup jilbab pashmina yang dililitkan di rambutnya.
"Apa Bibik tidak membawa alat pengaman diri?" tanya Salma.
"Pengaman diri? apa itu?" tanya Bik Minah.
"Tunggu..!" Salma berlari cepat menuju belakang, dan tak lama kemudian datang dengan membawa helm proyek dan memberikannya pada Maya. Sang majikan dan Bik Minah.
"Untuk apa ini?" tanya Maya pada Salma.
"Nyah, bagaimana jika gadis itu menarik rambut atau memukul kepala nyonya. Kita harus mengantisipasinya terlebih dahulu," ucap Salma.
"Ternyata otakmu berpikir jauh Salma, pintar..!" seru Maya seraya memakaikan helm proyek keatas kepalanya.
Bik Minah mengikuti majikannya, dan memakai helm proyek kekepalanya juga.
Budi Dwipangga hanya dapat menggelengkan kepalanya, melihat ketiganya meninggalkannya sendirian di rumah.
"Nasib..." gumam Budi Dwipangga.
*
*
Jonathan berdiri di depan villa, matanya mengawasi Elvan yang bermain pasir. Di dekat Elvan, terlihat Amar yang terus ngintilin Yunita. Tidak tahu apa yang dikatakan oleh Amar, saat mengikuti Yunita. Yunita berkali-kali mendorong tubuh Amar agar tidak mengikutinya.
"Lihat apa Mas?" tanya Bianca yang baru keluar dari villa.
"Sepertinya, ada dua pria yang sedang berusaha untuk menahlukkan hati dua wanita," ujar Jonathan.
"Siapa?" tanya Bianca.
"Tuh..!" Jonathan menunjuk kearah Antonio yang sedang bicara dengan Ayu.
"Hah! apa mereka ada hubungan?" tanya Bianca.
"Sepertinya, Anto tertarik dengan Ayu. Bagaimana, apa kau akan mendukungnya?" tanya Jonathan.
"Bian mau ngurus cinta Bian dulu," ujar Bianca.
"Ngurus hati?" tanya Jonathan.
"Hati ini belum puas! mas belum jawab yang tadi malam, Mas..!" seru Bianca dengan menatap wajah Jonathan dengan lekat.
__ADS_1
"Tadi malam? ada apa?" Jonathan pura-pura lupa.
"Cinta! gitu saja lupa, tapi maklumlah. Mas Joe sudah tua, dua bulan lagi sudah kepala tiga..!" sindir Bianca kesal.
"Siapa yang tua? hah..! seharian di ranjang saja aku masih mampu. Mau coba..?" Jonathan meraih tangan Bianca, tetapi Bianca siaga. Dengan cepat dia berlari, menghindar dari tangkapan Jonathan.
"Jangan lari..! kau harus merasakan, orang tua yang kau katakan ini. Bisa membuatmu mendensahh sepanjang hari..!" seru Jonathan sambil mengejar Bianca.
"Tidak! weekk..!" balas Bianca, dan menjulurkan lidahnya mengejek Jonathan.
Keduanya saling berlarian, saling mengejar dan menghindar.
Hanya satu orang yang duduk manyun tak bersemangat, yaitu Kamal. Sang Don Juan yang ingin bertobat.
"Ini bukan liburan, mereka bergembira dengan calon pacar. Aku sendiri dikerumuni lalat di sini, Arumi..! kenapa kau harus pergi kuliah jauh di sana..!" seru Kamal berdiri menghadap lautan lepas.
*
*
Maya mentitahkan sopirnya untuk menghentikan mobilnya didepan restoran yang berkonsep garden.
"Pak, berhenti..!" titah Maya pada sang sopir.
"Kita mau makan dulu Nyah? Ini baru jam 9 pagi Nyah, apa restoran sudah buka?" tanya Salma seraya celingukan melihat keluar dari jendela kaca mobil.
"Kau ini, otakmu hanya makan saja. Kita mau mencari wanita itu, ini salah satu restoran miliknya," kata Maya.
"Ayo kita turun." titah Maya pada Salma dan Bik Minah.
"Bapak cari parkir, tapi jangan jauh-jauh," kata Maya pada sang sopir.
"Baik Nyonya," sahut Pak Asep.
Maya turun dari mobil, diikuti oleh kedua asisten rumah tangganya. Dan perlengkapannya tidak pernah lepas, topi di kepala. Tangannya menggenggam payung. Sedangkan Maya dan Bik Minah menenteng helm ditangannya.
"Salma, kenapa payungnya dibawa turun?" tanya Maya, saat melihat patung hitam ditangan Salma.
"Untuk gebukin gadis itu Nyah, kita tidak tahu. Mungkin saja, dia banyak memiliki bodyguard," sahut Salma.
"Bener juga, kau benar-benar pintar Salma." puji Maya.
"Senjata Bibik ini saja, ya Nyah." Bik Minah membuka sendal merek swall...
"Oke Bik, ayo semangat..!" seru Maya dengan merentangkan kedua tangannya keatas, dan diikuti oleh kedua asisten rumah tangganya.
...BERSAMBUNG...
...🌟🌟🌟...
__ADS_1