
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Dengan gagah, dada membusung. Maya masuk kedalam restoran, diikuti oleh dua asisten rumah tangganya. Salma dan Bik Minah.
"Maaf Bu, restoran belum buka," ucap penjaga keamanan di pintu masuk menuju restoran.
"Hah! belum buka? Sudah jam 9, restoran belum buka?" heran Maya, karena. Setahunya, restoran yang biasa dia kunjungi bersama sang suami saat bosan sarapan pagi di rumah. Jam tujuh saja restoran itu sudah ramai pengunjung.
"Saya bukan ingin makan! Saya ingin bertemu dengan pemilik restoran ini," ujar Maya.
"Mas Bro, pemiliknya di mana?" tanya Salma pada penjaga yang memiliki badan super besar, dan diatas bibirnya melintang kumis. Melebihi kumis tokoh dalam film boneka tempo doeloe.
Penjaga tersebut menatap aneh kearah Salma dan Bik Minah.
"Orang-orang, aneh dari mana mereka datang ini." gumam penjaga tersebut.
"Apa bapak bilang? kami orang-orang aneh? apa bapak mengira kami orang tidak waras ?" Maya beranjak mendekati penjaga tersebut, dan berhenti tepat didepan sang penjaga.
"Maaf Bu, bukan itu maksud saya," ujar sang penjaga.
"Cukup berbasa-basi dengan orang itu Nyah." timpal Bik Minah.
"Iya Nyah, Mas Bro. Katakan di mana majikanmu, Nyonya kami ada urusan penting, ingat itu. Penting..!" seru Salma, dengan menekan kata penting pada sang penjaga.
"Majikan? majikan yang mana Bu? majikan yang masih ada atau yang sudah tidak ada," jawab penjaga restoran.
"Bapak ini! siapa yang mau menemui yang sudah tiada, bapak saja sana pergi temui majikan bapak yang sudah tiada," ujar Bik Minah.
"Chelsea ! kami ingin bertemu dengan Chelsea, mana dia?" tanya Maya.
"Ooh.. Non Chelsea, kalau Non Chelsea tidak sering datang ke sini. Dia lebih suka di restoran yang di jalan...," penjaga keamanan restoran tidak mengatakan alamat restoran Chelsea yang lebih sering dikunjunginya.
"Jalan apa Pak?" tanya Maya.
"Ibu-ibu ini ada urusan apa bertemu dengan Bu Chelsea?"
"Ada urusan Pak, bapak tidak perlu tahu. Cukup bapak katakan saja alamatnya." titah Maya.
"Maaf Bu, saya tidak bisa katakan. Nanti saya kena masalah, memberikan alamat pada orang asing," ujar sang penjaga restoran.
"Orang asing? hahaha." tawa lebar keluar dari mulut Maya.
"Pak, saya itu Salma oyek. Bukannya Salma Hayek, saya itu orang Indonesia asli, bukan orang asing," ujar Salma.
"Saya juga Pak, saya itu Aminah cedrakosasih. Orang Indonesia asli, tidak ada campur tangan orang asing yang menghadirkan saya ke dunia ini Pak." timpal Bik Minah.
"Nah.. Nyonya saya ini, mirip orang asing. Putih dan cantik, tapi dia asli putri Minang Pak. Rambutnya pirang, karena di cat pirang," ujar Bik Minah.
"Aduh..!" penjaga keamanan restoran menepuk jidatnya.
"Maksud saya..ah.. sudahlah, ini alamat restorannya," ujar penjaga restoran yang pusing menghadapi ketiga wanita yang aneh menurutnya.
Penjaga tersebut mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan isinya satu kartu nama dan memberikan kartu tersebut pada Maya.
"Ini Bu alamatnya, tapi Bu. Saya mohon, jangan beritahu Non Chelsea bahwa saya yang memberikannya ya. Nanti dia akan memecat saya." tutur sang penjaga restoran.
__ADS_1
Salma mengambil kartu nama tersebut, dan memberikannya pada sang majikannya.
Maya membaca kartu nama yang diberikan penjaga keamanan restoran.
"Bagaimana Nyah, apa tahu tempatnya?" tanya Salma.
"Iya, tidak jauh dari sini," sahut Maya.
"Ayo, kita ke sana. Terima kasih Pak," ucap Maya sebelum berlalu dari hadapan sang penjaga restoran.
*
*
*
Di jam yang sama, Riko dan Adella. Bersama Mamanya dan Mama Chelsea, berada di bandara.
Hari ini, mereka berangkat ke Perth. Untuk tinggal di sana selamanya, walaupun perceraian secara negara belum diputuskan oleh pengadilan agama. Riko tetap melanjutkan rencana kepindahannya, karena urusan perceraiannya sudah diserahkannya pada pengacara.
Adella duduk termenung, ditangannya tergenggam ponsel sang Papa Riko. Yang digunakannya tadi untuk bermain game online.
"Ada apa?" tanya Riko sembari merengkuh sang putri kedalam pelukannya.
Adella menggelengkan kepalanya, wajahnya menunduk.
"Sepertinya, Non Della rindu dengan Mamanya Pak." beritahu Bik Santi pada Riko, yang duduk dibelakang Adella.
"Hubungi saja, di ponsel Papa itu masih ada nomor Mama. Papa tidak akan melarang Della untuk berhubungan dengan Mama," kata Riko.
"Ya bolehlah, bagaimanapun hubungan Papa dan Mama. Della tetap putri Mama," kata Riko.
Della langsung membuka ponsel sang Papa, dan mencari nomor sang Mama.
Dua kali nada sambung, terdengar suara Chelsea menjawab.
..."Ada apa?" jawab Chelsea datar, karena mengira. Riko yang menghubunginya....
..."Mama," ucap Adella dengan suara yang lirih....
..."Ada apa Dell, Mama sibuk."...
..."Della rindu Mama," ucap Adella....
..."Mama sibuk, nanti kita sambung lagi."...
...Chelsea memutuskan sambungan telepon....
..."Maa, Adella akan pindah keluar negeri," ujar Adella, tetapi. Chelsea tidak bisa mendengar perkataan Adella. Karena sambungan telepon telah terputus....
"Putus Paa." Adella menatap wajah sang Papa, bulir-bulir air bening mulai membasahi pipi Adella.
"Jangan sedih, Adella tahu kan. Bagaimana Mama, mungkin saja tadi Mama sedang sibuk. ini jam-jam sibuk di restoran," ucap sang Papa, agar sang putri Adella tidak kecewa. Karena Chelsea memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Jika tidak sibuk, Mama pasti akan menghubungi Della," ujar Riko.
Terdengar suara yang memerintah penumpang menuju Australia untuk naik ke pesawat.
__ADS_1
"Ayo." Riko meraih tangan Adella, menggandengnya menuju ruang keberangkatan.
"Selamat tinggal Chelsea, Aku mengharapkan kau bisa mendapatkan kebahagiaan. Aku akan tetap mencintaimu, sampai akhir napasku." batin Riko sembari masuk kedalam ruang keberangkatan.
***
Mobil yang dikemudikan oleh Pak Asep tiba di alamat yang tertera di kartu nama.
"Ini dia, ayo. kita mulai beraksi, jangan beri tempat gulma di dalam masyarakat beraksi..!" titah Maya sembari turun dari dalam mobil.
"Semangat..! ayo Bik," ujar Salma pada Bik Minah untuk turun.
Maya berjalan menuju restoran yang sudah terlihat ramai, dibelakang Salma dan Bik Minah.
Seorang waiters menyambut kedatangan Maya.
"Selamat pagi Bu, untuk berapa orang Bu ?" tanya waiters pada Maya.
"Kami tidak ingin makan," ucap Maya.
"Maaf Bu, apa bisa dibuka helmnya," ujar waiters, saat melihat Maya dan Bik Minah masih memakai helm masuk kedalam restoran.
"Kenapa? apa ada larangan untuk memakai ini, masuk kedalam restoran?" tanya Maya.
"Tidak ada Bu," sahut waiters.
"Kalau tidak ada larangan, biar saya pakai," ucap Maya.
"Saya kesini mau ketemu Nona Chelsea," ujar Maya.
"Ada perlu apa ya Bu?" tanya waiters.
"Saya ingin mengadakan acara, dan ingin menyewa restoran ini. Apa saya bisa bertemu dengan pemilik restoran ini," kata Maya.
"Ayo Bu, Boss ada dikantornya," ucap waiters pada Maya.
"Ayo" ujar Maya pada Salma dan Bik Minah.
Mereka mengikuti waiters menuju ruangan kerja Chelsea yang berada dibelakang restoran.
Tok..tok...
Waiters membuka pintu ruang kerja Chelsea.
"Bu, ada orang yang ingin bertemu dengan ibu ," kata waiters pada Chelsea.
"Suruh masuk ." titah Chelsea.
"Silakan Bu ," ucap waiters pada Maya.
Maya masuk, dan berdiri didepan pintu.
"Tante...!" Chelsea mengenali orang yang berdiri didepan pintu ruang kerjanya.
...BERSAMBUNG...
...🌟🌟🌟...
__ADS_1