
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Violin dan Bara berada dalam ruang ICU, di mana. Mira baru menyelesaikan operasi pengangkatan serpihan kaca yang masuk kedalam kedua kornea matanya.
"Dokter, bagaimana dengan matanya? Apakah ada berpengaruh dengan daya penglihatannya?" tanya Violin.
"Saya tidak ingin menjanjikan hal yang muluk-muluk ya Pak, Bu. Serpihan kaca itu telah merusak kedua kornea mata putri bapak. Bisa saja, putri bapak mengalami kebutaan. Tapi itu juga belum pasti juga Pak, kita tunggu putri bapak bangun. Dan kita harapkan, apa yang saya takutkan tidak terjadi," kata dokter yang menangani operasi Mira.
"Paa, putri kita akan buta..!" Violin, Mama Mira menangis. Membayangkan sang putri kemungkinan besar tidak akan bisa melihat, dan masalah hukum juga sudah menunggunya.
Karena tidak tahan melihat keadaan Mira, Violin. Sang Mama keluar, meninggalkan sang suami bersama dokter membahas masalah penyembuhan Mira.
"Jeng Violin..!" suara memanggil namanya, membuat tubuh Violin langsung bergetar. Karena dia tahu, suara siapa yang memanggilnya tersebut.
"Jeng Maya, maafkan putri saya. Saya tidak tahu, setan mana yang sudah mempengaruhinya. Sehingga dia melakukan tindakan kejahatan kepada cucu jeng Maya," ujar Violin langsung minta maaf.
"Maaf...maaf..! lihat, karena kelakuan putrimu. Cucuku menjadi pendiam, karena trauma. Kami tidak akan melepaskan putrimu itu..!" seru Maya.
"Jeng, Mira sekarang juga sangat menyedihkan. Kemungkinan besar, kedua matanya tidak bisa di pakai untuk melihat lagi," ujar Violin, agar Maya memberikan simpati kepadanya.
"Apa yang diterimanya itu, karena kejahatan yang telah dilakukannya," ujar Maya, dan kemudian pergi dari hadapan Violin.
"Mira, kau telah membuat hidup Mama kacau-balau." gumam Violin dengan suara yang lirih.
*
*
*
Setelah menjalani operasi pada kedua kakinya, Chelsea tersadar. Dan melihat kedua kakinya di gibs dari bawah lutut sampai ujung mata kakinya. Ekspresi wajah Chelsea tidak ada menunjukkan dia takut, jika dia tidak bisa berjalan lagi.
"Bu Chelsea." sapa Aida, saat melihat mata Chelsea terbuka. Dan melihat kearah kakinya.
"Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Paman Jacop.
"Paman di sini?" menyadari keberadaan sang paman, setelah mendengar suara sang Paman menyapanya.
"Saya menghubungi Pak Jacop, Bu Chelsea. Karena dokter membutuhkan tanda tangan untuk melakukan tindakan medis," ujar Aida.
"Apa kaki ini tidak bisa digunakan lagi Paman?" tanya Chelsea.
"Tidak ada masalah dengan kaki mu Nak, akan bisa dibawa berjalan kembali," sahut Paman Chelsea, Jacop.
Chelsea tertawa kecil, dan melihat kearah sang paman dan sang asisten.
"Katakan saja terus terang paman, Chelsea terima dengan apa yang Chelsea alami saat ini. Walaupun Chelsea tidak bisa berjalan lagi, mungkin saja ini teguran dari Tuhan. Karena Chelsea telah meninggalkan anak dan suami Chelsea, hingga Tuhan murka. Dia mengambil kedua kaki ini," ujar Chelsea dengan raut wajah yang biasa-biasa.
"Nak, kau masih bisa berjalan," ujar sang Paman.
"Bagaimana dengan anak yang aku tolong, apakah dia selamat? apakah Mira tidak menabraknya kan?" Chelsea teringat dengan anak kecil yang ingin ditolongnya saat itu.
"Dia selamat Bu ," sahut Aida.
"Baguslah," Chelsea lega.
*
*
__ADS_1
"Gila wanita itu, bisa-bisanya ingin menjebakmu Joe," ujar Amar.
"Apa dikiranya aku semudah itu bisa di jebak olehnya..!" gerutu Jonathan.
"Hanya Bianca yang berhasil menjebakku." batin Jonathan.
"Joe, kapan kau ingin membesuk Chelsea?" tanya Kamal.
"Aku bicarakan dengan Bianca dulu, aku tidak ingin ada salah paham dengan istriku. Jika pergi membesuk Chelsea tanpa Bianca," jawab Jonathan.
"Papa..!" Elvan berlari menghampiri Jonathan dan langsung memeluknya.
"Apa kabar boy?" sapa Kamal.
"Baik Om," sahut Elvan.
"Ini ada Om bawa hadiah untuk anak hebat dan pemberani." Antonio memberikan satu kotak besar.
"Robot...!" seru Elvan dengan mata yang bulat sempurna.
"Suka?" tanya Antonio.
"Suka..suka...!" jawab Elvan seraya memeluk hadiah dari Antonio tersebut dalam pelukannya.
"Boy, hadiah dari Om Kamal besok ya. Hari ini hadiahnya belum mau ikut dengan Om," ujar Kamal dengan tertawa kecil.
"Banyak alasan, bilang saja. Belum ada waktu untuk shopping." ledek Amar.
"Jangan bilang orang! hadiah dari mu mana?" tanya Jonathan.
"Aku beri ini..!" Amar memberikan amplop kepada Elvan.
Elvan menerima amplop dari Amar dengan bingung, karena dia tidak mengerti apa yang diberikan oleh Amar kepadanya.
"Siapa yang kasih uang, lihat dulu." titah Amar.
"Ayo kita lihat, apa isi hadiah dari Om Amar," kata Jonathan.
Jonathan mengeluarkan isi amplop dari Amar, dan berbagai tiket masuk kedalam taman bermain.
"Itu tiket untuk El bermain sepuasnya sepanjang hari," ujar Amar.
"Hadiah mu membuat El letih," ujar Jonathan.
"Tidak setiap hari Bro! sepertinya, kau tidak pernah melakukan bermain sepuasnya di taman bermain saja," ucap Amar.
"Bagaimana El, suka dengan hadiah Om?" tanya Amar.
"Suka," sahut El dengan antusias, karena dia tidak pernah pergi ke taman bermain. Dia hanya melihat itu didalam televisi saja, dan kali ini. Dia akan melihat secara langsung.
*
*
Pintu penghubung terbuka, dengan masuknya Jonathan.
"Apa tidak bisa ditinggal?" tanya Jonathan.
"Masih terbangun mas, tidur harus dengan Lampu menyala," sahut Bianca.
Jonathan mendudukkan diri di sisi ranjang, tangan meraba pucuk kepala Elvan dan mengelusnya.
__ADS_1
"Bian, besok kita kunjungi Chelsea ya," ujar Jonathan.
"Mas belum mengunjunginya?" tanya Bianca, yang mengira. Jonathan sudah mengunjunginya saat dia mengunjungi Sandy.
"Belum, kita mengunjunginya bersama-sama. Besok kita pergi ya, Mama dan Papa juga akan ikut," ujar Jonathan.
"El, apa kita ajak juga?" tanya Bianca.
"Jangan! biar El di rumah saja," ujar Jonathan.
"Dengan siapa El di rumah? jika kita pergi semua?" tanya Bianca.
"Ayu, tadi mas lihat dia berbicara dengan Salma," kata Jonathan.
"Mbak Ayu sudah kembali, kenapa dia tidak memberi kabar." gumam Bianca.
"Besok, biar El dengan Ayu," kata Jonathan.
"Baiklah mas," sahut Bianca.
Jonathan merebahkan tubuhnya dibelakang tubuh Bianca, tangannya melingkar di pinggang Bianca.
"Mas Joe kenapa tidur di sini?"
"Aku tidak mau tidur sendiri, biarkan aku tidur di sini." gumam Jonathan.
"Jangan dibelakang Bian Mas, sebelah El saja, di sini nanti mas jatuh," kata Bianca.
"Aku mau tidur dengan memelukmu seperti ini." Jonathan memeluk erat tubuh Bianca.
"Mas.."
"Cukup berbicara, saat tidur." titah Jonathan, membuat Bianca menghentikan ucapannya.
*
*
*
Bianca memegang erat tangan Jonathan, saat mereka tiba didepan pintu kamar inap Chelsea.
Perasaan gugup tiba-tiba menyerangnya, dia takut dengan apa yang akan dihadapinya. Setelah baru mendapatkan kabar dari dokter yang menangani Chelsea, bahwa kaki Chelsea tidak baik-baik saja.
"Kenapa?" tanya Maya, saat melihat wajah Bianca yang gugup.
"Bian takut Maa, bagaimana reaksinya nanti. Saat mengetahui, bahwa. Anak Bian yang sudah ditolongnya. Dan dia cedera parah," ujar Bianca.
"Menolong seseorang tidak boleh pilih-pilih," kata Budi Dwipangga.
"Buka Joe." titah Budi Dwipangga pada sang putra.
Jonathan membuka pintu, dan masuk kedalam kamar.
"Joe..!" seru Chelsea, saat melihat pintu kamarnya terbuka. Dan Jonathan berdiri didepan pintu.
*
*
*
__ADS_1
...BERSAMBUNG...