
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Jonathan tiba di restoran Antonio, dengan langkah panjang. Jonathan langsung menuju ruang belakang restoran. Pandangan matanya lurus kedepan, beberapa orang yang mengenalnya memberikan senyum dan anggukan kepala. Diabaikan oleh Jonathan.
"Kenapa wajah teman Boss mengerikan seperti itu? apa dia datang untuk membuat keributan?" tanya pelayan yang menganggukkan kepala kepada Jonathan tadi.
"Apa kau pernah lihat, teman-teman Boss yang datang ke sini membuat keributan? mereka itu empat pemuda gagah yang saling mendukung satu sama lain. Mereka tidak pernah ribut," ucap pelayan yang lain.
Jonathan tiba didepan pintu ruang kerja Antonio yang tertutup.
Dan...
Prak.k.k..
Pintu ruang kerja Antonio di buka dengan kasar, untung yang punya ruang kerja tidak ada ditempat, jika tidak tadi. Mungkin saja jantung Antonio sudah berhenti berdetak, karena Antonio punya sakit jantung sedari kecil. Sehingga dia tidak bisa mendengar kejutan tiba-tiba.
"Mana dia? Apa dia sudah pulang? Tidak mungkin dia pulang secepat ini ." gumam Jonathan.
Jonathan mengeluarkan ponselnya dari sakunya, ingin menghubungi Antonio.
ceklek..
Begitu Jonathan ingin menekan nomor Antonio, pintu kamar mandi terbuka.
"Hei... kenapa kau di sini?" tanya Antonio, saat melihat Jonathan berada didalam ruang kerjanya.
"Mana Bianca?"
"Kenapa tanya padaku? apa kau mengira aku menyembunyikan Bianca ?" tanya Antonio.
"kau yang baru bertemu dengannya," ujar Jonathan.
"Aku bertemu dengannya, tapi aku tidak tahu. Keluar dari restoran ini, kemana dia pergi. Tapi katanya, dia ingin bertemu dengan Tante Maya," kata Antonio.
"Dia berbohong, tidak ada dia datang," kata Jonathan.
"Aku tidak tahu kalau begitu Joe," ucap Antonio.
"Apa kau meminta nomor teleponnya?"
"Itu dia, dia bilang ponselnya hilang. Aku curiga, sepertinya dia tidak ingin berhubungan dengan kita. Apa kalian ada masalah?" tanya Antonio seraya menatap wajah Jonathan dengan pandangan mata menyelidiki.
Jonathan balik menatap wajah Antonio.
"Ada apa ? kau begitunya menatapku, ingat. Aku pria normal..!" seru Jonathan.
"Hih..najis ya, aku juga normal. Amit-amit.." balas Antonio sembari mengetuk mejanya berkali-kali.
__ADS_1
"Terus, kenapa wajahmu melihatku sangat berminat begitu?"
"Aku mencari persamaan mu dengan anak yang bersama dengan Bianca, kau tahu. Anak itu memanggil Bianca Mama, tapi Bianca mengatakan karena dia ikut mengasuh anak itu sedari kecil sehingga dia memanggil Bianca Mama. Tapi aku tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Bianca. Anak itu anakmu kan? Ihh..kau ini, jika anak itu anakmu. Kau mencoblos Bianca, saat Bianca baru berusia belasan tahun. Wahh...payah kau Bro, anak remaja juga kau sikat.."
"Diam kau! Kalau tidak tahu ceritanya, jangan nyebar fitnah..!" seru Jonathan, kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja Antonio.
"Joe, kau mau kemana?"
"Pergi..!" sahut Jonathan.
"Gila..! anak itu anaknya, dasar Jonathan. Sok setia dengan Chelsea, ternyata. Dia sudah menanam saham dikandungnya Bianca." Antonio bicara sendiri dalam ruangan kerjanya.
Sedangkan Jonathan, setelah mendapatkan pesan dari Zulham dari kota T. Yang diperintahkan untuk menyelidiki alamat sekolah yang mengunjungi taman kanak-kanak, akhirnya sedikit menemukan titik terang.
"Akhirnya, aku tahu. Di mana kau selama ini bersembunyi." gumam Jonathan dengan geram.
"Aku terus dibayangi perbuatan terkutuk itu, kau hidup senang di sana."
Jonathan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, dalam waktu 15 menit. Aku sudah tiba didepan apartemen, turun..! jangan banyak tanya." Jonathan langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa sempat yang dihubunginya berbicara.
"Ada apa dengan orang itu ? waktu baru menunjukkan jam 6 sore, tapi otaknya sudah sedikit tidak waras." Kamal yang dihubungi Jonathan bergegas bangkit dari ranjang, secepatnya dia mandi.
Jonathan memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh, menuju apartemen Kamal. Karena dia akan membawa Kamal menuju kota T.
Begitu tiba didepan Apartemen Kamal, Jonathan langsung menyuruh Kamal untuk masuk kedalam mobilnya.
Dengan penuh kebingungan, Kamal menuruti perintah Jonathan.
"Bro, ada apa? kau seperti orang kesetanan saja?" tanya Kamal yang sedang memasang seat belt.
Sedangkan Jonathan, begitu Kamal masuk kedalam mobil. Langsung memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, untung. Jalan mendukung Jonathan untuk memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, jika tidak tadi. Mungkin, mereka tidak sampai di kota T. Tetapi mereka terbaring di atas brankar rumah sakit.
"Joe..!" panggil Kamal, karena Jonathan belum merespon pertanyaan Kamal.
"Aku mau ke kota T," sahut Jonathan singkat.
"Kau mau ke kota T, aku ?" tanya Kamal bingung.
"Kau ikut!"
"Hei.. tunggu dulu, kau main culik aku saja. Aku banyak kerjaan," ucap Kamal.
"Satu hari kau tidak pergi ke club, tidak akan bangkrut," ucap Jonathan.
"Pekerjaanku bukan hanya mengurus club Bro, baiklah. Aku akan menemanimu, kau harus berjanji untuk mendekatkan aku dengan Arumi," kata Kamal, yang akhirnya mau menemani Jonathan untuk pergi ke kota T. Tetapi dengan syarat.
"Kau jangan mencoba mengganggunya, jika tidak mau diajar oleh Budi Dwipangga," ucap Jonathan dengan menyebutkan nama sang Ayah.
__ADS_1
"Aku serius Bro," sahut Kamal.
"Seorang Don Juan seperti mu bisa serius..!" Seru Jonathan, yang tidak percaya dengan perkataan Kamal.
"Untuk bersenang-senang, kita bisa dengan sembarang wanita. Tapi untuk memilih istri, kita harus mencari dengan hati-hati," kata Kamal.
"Joe, please. Dekatkan aku dengan sekretaris mu itu."
"Baiklah.." akhirnya Jonathan menyerah.
"Kau harus ingat, Arumi bukan wanita yang sembarangan. Dia cucu orang kepercayaan Papa, jika kau sampai mempermainkannya. Awas kau..!" ancam Jonathan dengan menunjukkan raut wajah yang tidak main-main.
"Aku janji Joe, Arumi akan menjadi pelabuhan terakhir ku," kata Kamal.
"Aku pegang janjimu, awas kau menyakiti Arumi. Siap-siap kau menghadapi Budi Dwipangga."
"Siap Boss," ucap Kamal.
"Ngomong-ngomong, kita ke kota T untuk apa? apa ada masalah dengan proyekmu di sana?" tanya Kamal dengan topik yang berbeda.
"Aku mau mencari keberadaan Bianca."
"Bianca? Kau mencarinya? untuk apa? Bukannya kau tidak mencintainya?"
"Aku memiliki seorang anak dengannya, yang tidak aku ketahui keberadaannya," ucap Jonathan.
Ucapan Jonathan bagaikan bom yang meledak didekatnya.
Kamal terdiam.
Mata dan mulut Kamal bulat sempurna menatap wajah Jonathan yang sedang mengemudi.
"Anak? Maksudmu anak sungguhan?"
"Tunggu dulu, apa anak yang kita temui di kebun binatang itu?" tanya Kamal.
"Iya, ternyata. Elvan putra Bianca," kata Jonathan.
Ternyata, apa yang kami curigai waktu itu ternyata benar. Yang kami tidak sangka, anak itu anakmu dengan Bianca. Kami kira anak itu anakmu dengan Chelsea," kata Kamal.
"Tidak mungkin aku melakukannya dengan Chelsea, Chelsea gadis yang baik," kata Jonathan.
"Jadi maksudmu, Bianca tidak gadis baik-baik?"
"Bagaimana dapat dikatakan sebagai gadis yang baik, jika berani menjebak seorang pria untuk tidur dengannya?"
"Maksudmu apa?" tanya Kamal.
Jonathan menceritakan apa yang terjadi padanya, mengenai perbuatan Bianca. Dan penyebab Chelsea pergi karena melihat Jonathan tidur dengan Bianca.
__ADS_1
Bersambung 👉👉