
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Minggu depan...!" pekik Bianca tanpa sadar, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Maya. Calon mertuanya.
"Kenapa?" Maya juga kaget mendengar pekikan Bianca.
"Apa terlalu lama? besok saja kalau begitu," kata Maya.
"Bu..bu..kan, Tan..!" gugup Bianca.
"Minggu depan! Apa tidak terlalu cepat Tan?" Tanya Bianca, setelah menetralkan dadanya yang tadi sempat terkejut.
"Kalau menuruti keinginan Tante ini ya, Tante ingin hari ini saja diadakan pernikahan," ucap Maya dengan tertawa.
Bianca hanya menampilkan senyum kecil dibibirnya.
"Tante Maya, maunya saja. Hati ini, belum siap." batin Bianca.
"Oh ya, sekarang Bian manggil jangan Tante ya. Panggil saja Mama, oke. Tidak ada bantahan..!" seru Maya.
Bianca yang baru ingin membuka mulutnya, terpaksa menutup mulutnya kembali.
Jonathan datang dengan wajah kusut, matanya melotot melihat Bianca.
""Kenapa kusut? tidak dapat jatah ya? sabar, tunggu halal dulu. Nanti sudah halal, semalam suntuk main di kasur tidak akan ada yang ganggu..!" ucapan Maya yang ceplas-ceplos, membuat Bianca tertunduk malu.
Jonathan, santai saja. Karena dia sudah tidak kaget lagi mendengar perkataan sang Mama yang fulgar menurut Bianca, tapi menurut Jonathan. Biasa saja.
"Ada apa Maa, Joe masih banyak kerjaan ini. Usaha Joe, dan mengurus sekolah milik Papa juga belum kelar," ucap Joe.
"Makanya jangan rakus, ini dirikan lembaga bimbingan belajar lagi. Kenapa tidak sekolah kita saja yang dikembangkan, untuk apa buat tempat bimbingan belajar lagi? pusing sendiri kan? tapi nanti Bianca bisa bantu," kata Maya, memberikan solusi agar Joe tidak kerepotan mengurus semua pekerjaan yang diberikan sang ayah untuk dipegangnya.
"Dia? bisa-bisa nanti sekolah kita menjadi kandang bebek," ucap Joe bernada sindiran pada Bianca.
"Menghina ini orang, apa dikiranya aku orang yang tidak mengerti apa-apa." batin Bianca kesal.
Bianca mencebikkan bibirnya kearah Jonathan, Jonathan membalas dengan melotot. Apa yang dilakukan keduanya tidak lepas dari pandangan mata Maya.
"Saling benci, tapi mau main kasur-kasuran. Hingga menghasilkan anak" batin Maya.
"Pernikahan kalian Minggu depan, baju dan cincin belum di beli. Nanti pergi ke toko perhiasan langganan Mama, Mama sudah bilang pada Tante Imel kalian akan datang untuk fitting baju. Bian kenalkan Tante Imel, sepupu Mama itu." Ucap Maya.
Bianca menganggukkan kepalanya, sedangkan Jonathan hanya diam memainkan ponselnya.
Plak..
Majalah mendarat di ponsel Jonathan, hingga ponselnya terlepas dari genggaman tangannya.
__ADS_1
"Mama..!" Seru Jonathan seraya mengambil ponselnya dari lantai.
"Untung tidak rusak." gerutu Jonathan.
"Kamu ini, Mama bicara panjang lebar. Kamu sibuk dengan ponsel saja, dengar apa yang Mama katakan?" Tanya Maya.
"Dengar, suruh beli cincin dan baju." Sebut Jonathan apa yang titah kan Maya.
"Mama itu semakin bar-bar saja, Joe ini seperti anak tiri saja," ujar Jonathan.
"Ngambek? tidak cocok ngambek, sudah tua. Anak saja sudah besar! cepat pergi, sana..!" titah Maya.
***
Keduanya sampai di toko perhiasan yang disuruh sang Mama.
"Selamat datang Pak Joe, Tante Maya sudah menghubungi saya tadi. Ini semua mode perhiasan yang terbaru." pelayan toko menunjukkan cincin dibalik etalase.
"Lihat, mana yang kau inginkan." titah Jonathan pada Bianca.
"Aku?" ucap Bianca.
"Iya, pilih yang terbaik. Jangan membuat Mama tidak suka, Mama itu penyuka perhiasan yang trendi," kata Jonathan.
Bianca bingung, karena selama ini dia tidak pernah membeli perhiasan. Terakhir dia membeli perhiasan, saat Mamanya masih ada
"Yang itu." Jonathan menunjuk cincin yang bermata biru yang sangat besar matanya.
"Tidak..! besar sekali, jariku bisa bengkok memakai cincin sebesar itu." Bianca menolak pilihan Jonathan.
Jonathan tertawa lebar.
"Mas mengerjai ku ya?" Bianca manyun karena kesal.
"Cepat pilih..!" titah Jonathan.
"Itu saja." jari Bianca menunjuk kearah cincin putih bermata satu yang sederhana.
"Pilihan Nona sangat tepat, ini limited edition. Dan desain terbaru dari toko ini," ujar pemilik toko.
"Bian pakai cincin, mas apa tidak memakai cincin nikah?" tanya Bianca.
"Untuk apa? laki-laki tidak membutuhkannya," sahut Jonathan.
"Dia takut ketahuan sudah menikah." batin Bianca.
"Ini Nona." pelayan toko memberikan tas berisi cincin kepada Bianca.
"Terima kasih," ucap Bianca.
__ADS_1
"Ayo," ujar Jonathan.
"Mas, ini belum bayar," ujar Bianca, saat Jonathan ingin pergi saja.
"Untuk apa bayar, ini semua milik Mama," kata Jonathan dengan santai.
"Milik Mama? kenapa Mama bilang tadi toko langganannya?" heran Bianca.
" Mama itu suka bergurau. Apa kau lupa dengan tingkah Mama sejak dulu? ayo, kita harus ke butiq. Tante Imel sudah menunggu kita." Jonathan menarik tangan Bianca, membawanya keluar dari toko perhiasan.
Saat keluar dari Mall, tiba-tiba pandangan mata Bianca melihat seseorang yang pernah di sakitinya. Bianca melepaskan pegangan tangan Jonathan, dan berlari menuju arah orang yang dilihatnya tadi.
"Bian..!" panggil Jonathan, saat Bianca berlari menjauhnya.
Bianca terus mengejar orang yang dilihatnya tadi.
"Kenapa dia...!" Jonathan berjalan cepat menuju arah Bianca lari.
Bianca berhenti mencari orang yang dilihatnya tadi, dia kehilangan jejak orang tersebut.
"Itu Mbak Chelsea! aku tidak salah orang." gumam Bianca.
"Hei..! apa kau sudah waras? berlari seperti orang kehilangan akal? apa yang kau cari?" tanya Jonathan, saat dia melihat mata Bianca liar. Seperti mencari sesuatu.
"Aku melihat" Bianca menghentikan perkataannya, dia tidak ingin mengatakannya. Sebelum pasti dengan apa yang dilihatnya.
"Kau melihat apa? tukang balon? apa kau ingin membelikan balon untuk Elvan?"
"Tidak! aku seperti melihat orang yang aku kenal, tapi aku kehilangan jejaknya," kata Bianca.
"Sekali lagi, jangan main pergi saja. Aku kira kau kesurupan hantu Mall ini, ayo. Jangan main lari lagi, kau ini sepertinya sangat suka melarikan diri." gerutu Jonathan seraya menarik tangan Bianca pergi.
"Kemana dia pergi? secepat itu dia menghilang." batin Bianca.
Begitu Jonathan dan Bianca pergi, seorang wanita keluar dari belakang manekin. Tangannya terkepal.
"Ternyata, dia bersama dengan gadis jallang itu. Cintanya padaku hanya cinta sementara, sebelum dia mendapatkan jallang kecil itu." gumam Chelsea, bibirnya mengatup. Dan terdengar suara gemeretak gigi saling bersatu.
"Tunggu jallang kecil, aku akan memisahkan mu dari pria penghianat itu. Tidak ada yang bisa memilikinya, termasuk kau..!" seru Chelsea dengan tatapan mata yang tajam.
"Nona, apa anda ingin mencoba bajunya?" tanya pelayan, saat melihat Chelsea menggenggam erat baju ditangannya.
"Tidak! baju jelek begini, aku tidak suka..!" Chelsea melempar baju yang dipegangnya, hingga jatuh ke wajah pelayan yang menegurnya.
Chelsea pergi, dibawah tatapan mata para pelayan toko yang mendengar apa yang dikatakannya dengan sombong.
"Sombong sekali orang itu, lihatlah. Orang itu akan berakhir ditempat yang tidak akan disangkakannya, akan menjadi tempat tinggalnya seumur hidupnya..!" tutur seorang pelayan toko dengan perasaan yang kesal memandang Chelsea yang semakin jauh.
......Bersambung......
__ADS_1