
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Jonathan tidak menunggu untuk dipersilakan masuk, dia mendorong pintu ruang kerja Sandy. Sang wakilnya.
Melihat Jonathan yang masuk, seketika wajah Sandy sedikit berubah. Tangannya mengambil sapu tangan dari saku celananya dan mengusap keringat yang membasahi kening dan lehernya.
"Pak Jonathan! Apa yang bisa saya bantu? Kenapa bapak tidak menyuruh saya untuk datang keruangan bapak, untuk apa Pak Joe datang ke ruangan saya sendiri," ujar Sandy, dengan perasaan yang campur aduk. Ada ketakutan dalam dirinya, Jonathan mendengar apa yang dibicarakannya dengan orang yang menelponnya tadi.
Jonathan tidak menanggapi ucapan Sandy, dia berjalan masuk dengan mengandeng Elvan.
"El duduk sini dulu ya, Papa ingin bicara sebentar dengan Om itu," ucap Jonathan pada Elvan.
Jonathan mendudukkan Elvan di kursi, dan memberikan buku menggambar kepada Elvan. Agar Elvan tidak mendengar apa yang akan dibicarakannya dengan Sandy.
Setelah itu, Jonathan melangkah mendekati meja kerja sandy. Sandy berdiri di belakang meja kerjanya dengan perasaan yang campur aduk. Karena menilik dari raut wajah Jonathan, sepertinya. Jonathan dalam keadaan emosional, rahang ketat. Wajah yang memerah, mungkin. Jika tidak ada Elvan didalam ruang kerja sandy, suara marah Jonathan sudah menggema didalam ruang kerja Sandy.
Jonathan menarik kursi, dan duduk. Kakinya disilangkannya, kedua tangannya saling menggenggam, dan terdengar suara gemeretak dari jemarinya yang saling genggam tersebut.
"Duduk..!" titah Jonathan dengan suara yang datar, matanya tidak melihat kearah Sandy.
Kedua bola mata Jonathan mengitari ruang kerja Sandy, lalu.
"Bagaimana? Apa kau suka dengan ruang kerjamu ini?" tanya Jonathan, tanpa melihat kearah orang yang diajaknya bicara,
"Suka Pak Joe," sahut Sandy Setiawan.
"Sudah berapa lama kau bekerja menjadi wakil kepala sekolah?" tanya Jonathan, kali ini. Matanya menatap wajah lawan bicaranya dengan tatapan mata yang tajam.
"Hampir tiga tahun Pak," sahut Sandy dengan suara yang tidak terdengar.
"Sudah cukup lama juga ya," ujar Jonathan.
Sandy Setiawan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa Pak Joe menanyakan tentang masa jabatan ku menjadi kepala sekolah? Apa dia ingin aku menjadi kepala sekolah? Bukannya, Chelsea tidak ingin membantuku ?" pertanyaan dalam benaknya Sandy Setiawan.
Hening...
Tanpa ada yang membuka suara.
"Apa kau betah bekerja di sini ?" tanya Jonathan kembali.
__ADS_1
"Betah Pak Joe, bekerja di sini sangat menyenangkan," sahut Sandy.
"Eem..!" gumam Jonathan.
"Jika kau betah bekerja di sini? Kenapa kau mengkhianati orang yang memberimu tempat untuk bekerja?" tanya Jonathan dengan memicingkan matanya menatap wajah Sandy lekat.
"Mengkhianati? Apa maksudnya Pak? Saya tidak mengerti?" wajah Sandy seketika berubah pucat.
"Gawat! Apa Pak Joe mendengar apa yang aku bicarakan ditelepon tadi?" batin Sandy.
Jonathan, mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan MMS yang dikirim Amar kepadanya. Kepada Sandy.
"Lihat, apa yang ada di ponselmu..!" titah Jonathan.
Sandy membuka laci meja kerjanya, dan mengeluarkan ponselnya. Dan membuka MMS yang dikirim oleh Jonathan baru saja.
Mata Sandy membesar, keringat dingin mulai menerpa tubuhnya.
"Ini..ini..tidak seperti yang Pak Joe bayangkan, saya akui. Saya berteman dengan Chelsea sejak masih berseragam putih abu-abu Pak, dan pertemuan yang ada di Vidio itu murni karena sudah lama tidak bertemu," ujar Sandy dengan suara yang bergetar.
Tangannya terus mengelap keringat yang membasahi kening dan lehernya.
"Kenapa kau gugup? Apa kau melakukan kesalahan? Kalau hanya pertemuan karena lama tidak berjumpa, kau tidak harus takut..!"
Jonathan berdiri, dan melangkah menghampiri Sandy yang duduk dengan tegang. Sampai di belakang kursi tempat Sandy duduk, jemarinya mencengkram kedua bahu Sandy dengan erat. Sehingga Sandy mengerutkan keningnya, karena cengkraman jemari Jonathan.
Jonathan menundukkan kepalanya kearah telinga Sandy, dan berbicara dengan suara yang sangat pelan. Tapi penuh dengan nada yang mengintimidasi, membuat wajah Sandy pucat pasi.
"Aku ingin kau menulis surat pengunduran diri, karena kau telah berani memasukkan orang yang berkeinginan untuk menganggu kehidupan keluarga Dwipangga. Kau melakukan nepotisme," ujar Jonathan dengan suara yang datar ke dekat telinga Sandy.
"Pak, anda menerimanya. Bukan saya." Sandy berusaha melimpahkan kesalahan pada Jonathan juga.
Jonathan terdiam, dia juga teledor. Karena mendengar apa yang dikatakan Sandy saat itu, tanpa melihat berkas lamaran kerja Chelsea.
"Karena aku percaya dengan apa yang kau katakan! kau mengatakan, Bu Henny yang merekomendasikan. Saya menelpon Bu Henny, dan tidak ada merekomendasikan seseorang calon. Kau berbohong..!" Jonathan sangat geram.
Deg...
Badan Jonathan langsung lemas, tulang-tulangnya terasa ingin lepas. Dan tidak kuat untuk menopang badannya.
"Aku percaya, karena kau selama ini orang yang taat pada peraturan. Tapi ternyata, kau tidak seperti yang kami harapkan..!" tangan Jonathan menepuk pundak Sandy dan melangkah menuju tempat dia duduk.
"Buat surat pengunduran dirimu! sekolah Bina Bangsa tidak membutuhkan orang yang suka yang berbohong..!" seru Jonathan.
__ADS_1
Lalu kemudian..
Jonathan berdiri, dan beranjak menghampiri Elvan.
"Ayo boy, urusan Papa sudah selesai," ujar Jonathan mengajak Elvan untuk keluar dari dalam ruang kerja Sandy.
"Da..dah... Om...!" Elvan melambaikan tangannya kepada Sandy, tapi Sandy Setiawan tidak menanggapi. Karena pikirannya kacau.
Sepeninggal Jonathan, Sandy tersadar. Dan langsung mengambil gelas yang berisi air putih, dan meneguknya sampai habis.
"Aku di pecat! aku di pecat dari wakil kepala sekolah?" gumam Sandy dengan suara yang bergetar dan panik.
"Apa kata Ayah dan ibu, saat mengetahui. Anak yang dibangga-banggakannya telah di pecat oleh sekolah Bina Bangsa yang terkenal dengan sekolah elite. Karier ku akan hancur..!"
"Aaarrgghhh...!" Sandy mengeram sambil memegang kepalanya.
Sandy mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku di pecat! aku tidak bisa membantumu, kau harus membantu untuk membersihkan namaku..!"
Kemudian Sandy memutuskan sambungan teleponnya, dan membuang ponselnya kearah dinding. Ponselnya langsung hancur.
"Aku harus melakukan sesuatu, tapi apa? aaahhh.. gara-gara kau Chelsea..! sekarang kau ingin meninggalkan aku menghadapi ini semua..!"
Sandy mengambil kunci mobil, dan bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya yang masih menjadi ruangan kerjanya. Sampai dia menulis surat pengunduran dirinya.
***
Dalam satu kamar, seorang wanita tidur dengan memeluk baju anak gadis kecil yang baru dibelinya. Wajah cantik itu kini terlihat sempurna, makeup yang biasanya menghiasi wajahnya. Kini sudah berantakan.
"Ahhh...!" Chelsea terbangun, dan merasakan kepalanya terasa pusing.
"Bik..!" suara memanggil seseorang bergema di rumah yang kini ditempatinya sendiri.
"Bik Santi..!" suara Chelsea memanggil sang pelayannya, terdengar kembali.
Tiba-tiba...
Chelsea terduduk, dan tersadar. Kini dia tinggal sendiri, matanya melihat kearah tangannya yang menggenggam baju berwarna pink.
Mata sayunya menatap tangannya.
...*...
__ADS_1
...*...
......BERSAMBUNG......