
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Maa, kami berpisah karena sudah tidak ada kecocokan lagi," ujar Chelsea untuk menyakinkan sang Mama agar mendukung keputusannya.
"Pernikahan bukan untuk main-main, kau dan Riko sudah bersama sejak kalian masih remaja. Kenapa dari awal tidak kau pikirkan mengenai ketidak cocokan, setelah pernikahan kalian mau memasuki usia sepuluh tahun. Kau baru merasa tidak cocok..! Chelsea, Mama tahu apa yang ada dalam otakmu itu. Jangan harap kau bisa bersama dengan pria lain selain Riko, Mama tetap akan menganggap Riko sebagai menantu..!"
Utari pergi meninggalkan Chelsea sendiri, dengan kemarahan yang sudah memenuhi otaknya. Lebih lama dia bersama dengan Chelsea, Utari merasa tidak akan bisa menahan diri untuk tidak melayangkan tangannya ke wajah Chelsea.
"Aku ingin bahagia Maa..!" teriak Chelsea.
Utari, mama Chelsea menghentikan langkahnya. Dan membalikkan badannya menghadap kearah Chelsea.
Senyum ditipis terukir di wajah sang Mama.
"Bahagia! dengan mengorbankan perasaan putrimu..! Mama tahu, kau itu tidak pernah memperhatikan putrimu..! Ingat Chelsea, jangan sampai kau sendiri hidup di dunia ini. Semua orang meninggalkanmu..!" Mama Chelsea kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Apa salah aku ingin bahagia, Maa..!"
Kembali lagi, sang Mama menghentikan langkahnya. Kali ini tanpa melihat kearah Chelsea, sang Mama berbicara dengan membelakangi Chelsea.
"Dulu, kau bahagia. Saat pernikahan, Sekarang. Kau ingin bahagia? apa dulu kau pura-pura bahagia? Riko, laki-laki pilihanmu..!" kemudian, Utari masuk kedalam kamar. Meninggalkan Chelsea yang masih berdiri dengan melamun.
"Kenapa? apa yang terjadi padaku? kenapa rasa cintaku pada Riko kini hilang?"
Chelsea beranjak keluar dari rumah sang Mama, menuju tempat mobilnya terparkir. Kemudian masuk kedalam mobilnya dan mobil selanjutnya bergerak meninggalkan kediaman sang Mama.
***
Bianca datang kerumah sakit dengan membawa Yoan dan Elvan.
"Tante Bian, apa adek Yoan sudah lahir?" tanya Yoan, saat mobil berhenti didepan rumah sakit.
"Iya, sekarang Yoan sudah menjadi kakak," kata Bianca.
Bibir Yoan mengerucut, saat mendengar. Bahwa dia sudah menjadi seorang kakak.
"Ayo." Bianca mengandeng keduanya, sang keponakan dan putranya. Elvan.
Sampai didepan pintu kamar tempat Joice, tangan Bianca ingin membuka pintu. Tetapi pintu kamar terbuka lebih dahulu dari dalam.
"Bian..!" Joe menarik Bianca, dan langsung memeluknya dengan erat.
"Ada apa Mas?" Bianca kaget, mendapatkan pelukan Jonathan tiba-tiba didepan pintu.
Kedua orangtua Jonathan yang berada didalam ruang inap Joice, juga melihat apa yang dilakukan oleh Jonathan.
Mereka berdua tahu, apa yang dialami oleh Jonathan. Jonathan kaget, melihat perjuangan Joice saat melahirkan. Jonathan menjadi membayangkan, saat Bianca melahirkan Elvan dan dia sebagai ayah Elvan tidak ada untuk mendampingi Bianca.
__ADS_1
"Mas..! ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi dengan mbak Joi?" tanya Bianca lagi, karena pertanyaan pertamanya tidak di respon oleh Jonathan.
Jonathan mengurai pelukannya, kemudian meninggalkan Bianca yang termangu menatapnya.
Jonathan melangkah meninggalkan ruang inap Joice, entah kenapa dia pergi.
"Ada apa dengan orang itu? tiba-tiba peluk, dan main pergi saja." omel Bianca seraya menatap punggung Jonathan yang sudah jauh dari tempat dia duduk.
Bian melihat kedua bocah yang datang bersama, ternyata keduanya sudah masuk dan duduk di atas pangkuan Oma dan sang Opa yang menatap kearah Bian yang bingung dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Jonathan.
Bianca masuk dan melihat kearah kakak iparnya yang masih tidur di atas ranjang dengan ditemani sang suami yang terus menatap wajah Joice dengan lekat.
"Maa, bagaimana keadaan Mbak Joi dan baby-nya?" tanya Bianca dengan suara pelan, takut mengganggu Joice yang sedang istirahat.
"Belum bangun, tadi sempat pingsan. Karena kelelahan," jawab Maya.
"Ini, pingsan? bukan tidur?"
"Ini tidur, tadi sudah bangun sebentar. Ini tidur lagi, baby-nya sehat. Beratnya 2,7," ucap Maya.
Maya menceritakan apa yang terjadi pada Joice, saat melahirkan babynya.
"Hah..! untung tidak apa-apa," ujar Bianca.
"Kita masih diberi perlindungan Allah SWT," ucap Papa Budi Dwipangga.
"Babynya belum di bawa kesini ?" tanya Bianca.
"Tapi, kita bisa lihat dari luar." sambung Maya kembali.
"Tiara dan Ayu tidak ikut ?" tanya sang mertua, karena melihat hanya Bianca dan anak-anak yang datang.
"Elang tiba-tiba panas Maa, budhe tidak tega meninggalkannya sendiri. Ayu Bian suruh ikut tinggal, karena Elang kalau sakit sering panas tinggi dan sering mengigau. Takut ada apa-apa, budhe bingung."
"Kenapa tidak bawa ke dokter saja Bian, anak demam tinggi bisa bahaya," ujar Budi Dwipangga.
"Iya Bian, ada teman Tante. Anaknya demam tinggi, sampai ada gangguan pada otaknya," kata Maya.
"Sudah Bian katakan pada budhe Maa, budhe akan bawa. jika demamnya tidak turun juga, biar bawa kerumah sakit."
"Kita takutkan, kena penyakit DBD. Jonathan sebulan yang lalu yang lalu terkena DBD," kata Budi Dwipangga.
"Mas Joe kena DBD dua sebulan yang lalu? Elvan juga kena DBD, hampir sebulan yang lalu." beritahu Bianca.
"Sepertinya, kedua mempunyai ikatan batin yang kuat. Hingga sakit juga ingin bersama," kata Maya.
"El, duduk sendiri. Kasihan Oma, badan El sudah besar," ujar Bianca, saat melihat Elvan anteng duduk dipangkuan sang Oma dengan makan roti.
"Biar, Oma mau pangku. Tuh..kak Yoan lebih besar saja masih di pangku Opa," ujar Maya.
__ADS_1
"Maa, kenapa Yoan tidak mendekati Mama dan Papanya?" tanya Bianca dengan setengah berbisik.
Maya mengerakkan bibirnya, dengan mengatakan "CEMBURU".
"Ooo.." ujar Bianca.
"Yoan, ayo kita lihat adik bayinya di ruang bayi?" ajak Bianca.
Yoan menggelengkan kepalanya, bibirnya tertutup dengan rapat.
"El, ayo kita lihat adik bayi," Bianca mengalihkan ajakannya, kini pada sang putra.
"Adek, seperti adik Bagas?" tanya Elvan.
"Iya" sahut Bianca.
"Siapa Bagas?" tanya sang Opa pada Elvan.
"Bagas itu anak ayah bebek Opa," jawab Elvan.
"Bebek juga ada namanya," tertawa kecil Budi Dwipangga seraya mengelus rambut Elvan.
"Semua bebek diberi nama oleh El Paa." timpal Bianca.
"Opa, Yoan mau punya bebek seperti El juga," ujar Yoan yang baru membuka mulutnya, sejak datang terus diam.
Tama berdiri dari tempat dia duduk disisi ranjang Joice.
"Yoan, ayo. Dekat dengan Mama." bujuk Tama pada Yoan yang ngambek.
Yoan menggelengkan kepalanya.
Tama tidak putus asa membujuknya.
"Jika Yoan mau dekat Mama, dan mau bantu Mama untuk ikut menjaga adik bayi. Papa akan mengizinkan Yoan pelihara bebek seperti Elvan." Tama mengiming-imingi Yoan untuk memenuhi keinginannya melihara bebek.
"Tam, kau ini ada-ada saja. Bagaimana mau melihara bebek, kau itu tinggal di apartemen..!" seru sang Papa mertua pada menantunya.
"Sebenarnya, Tama sudah mempersiapkan rumah. Pulang dari sini, Tama akan membawa Joice pulang ke rumah baru," ujar Tama.
"Hore...! Yoan turun dari pangkuan Opanya dan memeluk Papa nya.
"Papa janji ya, Yoan mau bebek seperti punya El," ujar Yoan.
"Iya," sahut Tama.
...BERSAMBUNG...
...**...
__ADS_1
Jangan lupa untuk menekan tombol like, terima kasih atas dukungannya**