
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
Budi Dwipangga diam, melihat sang istri yang sedang meneguk minuman dingin. Dia tidak ingin memulai pertanyaan, karena sang istri masih dalam keadaan emosi.
Budi Dwipangga melirik kedua asisten rumah tangga yang ikut bersama dengan sang istri tadi, wajah keduanya juga sama dengan wajah sang istri yang terlihat emosi di raut wajahnya.
Setelah melihat Maya sedikit tenang, Budi Dwipangga mulai membuka suaranya.
"Bagaimana Maa, hasil pertemuan dengan gadis itu..?" tanya Budi Dwipangga dengan suara yang lembut.
"Buruk..! sangat buruk..!" seru Maya dengan mengepalkan kedua tangannya, jika tidak ingat dengan apa yang dikatakan sang suami tadi. Mungkin saja Maya sudah mengobrak-abrik ruang kerja gadis tersebut.
"Buruk? apa Mama..?" Budi Dwipangga, sang suami tidak melanjutkan pertanyaan dengan kalimat, tetapi dengan gerakan tangan bertinju.
"Hampir Paa, kalau tidak ingat dengan perkataan Papa. Gadis itu mungkin sudah berakhir di rumah sakit, dan Mama bersama dengan Salma dan Bik Minah sudah berada didalam kantor polisi," ucap Maya.
"Iya Tuan, gadis itu bernyali besar. Mulutnya Tuan, mulut bom atom. Jika tidak bisa menahan diri, mungkin sudah terjadi perkelahian massal dengan gadis itu." timpal Salma.
"Wajahnya cantik Tuan, tetapi tingkah dan sifatnya sangat.. sangat mengecewakan," ujar Bik Minah.
"Apa Mama dipukulnya?" tanya Budi Dwipangga seraya menggeser duduknya mendekati sang istri.
"Ini lebih dari dipukul Paa, jika dia memukul Mama. Ada alasan Mama untuk membalas pukulan, ini perkataannya membuat Mama benar-benar kecewa pada putra kita. Kenapa dia bisa sampai jatuh cinta dengan gadis itu, mereka hanya baru kenal sebentar. Langsung ingin menikahinya." cerita Maya dengan menggebu-gebu.
"Nyah, mungkin dia main pelet Nyah. Untuk mendapatkan Den Joe," ujar Bik Minah.
"Betul Nyah, saya juga curiga. Pasti dia main pelet-peletan..!" seru Salma menimpali perkataan Bik Minah.
"Jangan suuzod Bik, mungkin saja ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat Jonathan jatuh cinta," ujar sang suami.
"Sesuatu apa? wajah cantiknya saja pasti yang diandalkannya," ujar Maya.
"Paa, apa belum ada kabar dari orang yang Papa suruh untuk mencari keberadaan Bianca dan Elvan?" tanya Maya pada sang suami.
"Belum Maa," sahut sang suami.
"Kemana mereka ya Paa, apa mungkin mereka keluar negeri? tapi kemana?" Maya memijat keningnya.
"Tidak! mereka masih ada di negara ini Maa," sahut sang suami.
__ADS_1
"Tapi di mana?" tanya Maya.
"Di mana-mana, tenang saja Maa," ujar Budi Dwipangga sembari menepuk pundak sang istri, dan berdiri meninggalkannya.
"Maaf Maa, Papa tidak bisa mengatakan dia di mana. Biar mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, kita hanya memantau saja." batin Budi Dwipangga.
"Paa! di mana-mana maksudnya?" tanya Maya.
"Ya, di mana-mana. Tunggu saja, mereka akan kembali," sahut sang suami, yang sudah berada dilantai dua menuju kamar tidur.
"Sepertinya, Papa mengetahui sesuatu. Awas! jika Papa menyembunyikan informasi tentang keberadaan Bianca dan Elvan, Mama akan membuat perhitungan dengan Papa..!"
"Nyah, apa kau makan?" tanya Salma.
"Saya tidak selera makan, saya mau istirahat dulu," ujar Maya.
*
*
Hari ini, liburan Jonathan dan teman-temannya berakhir. Mereka akan meninggalkan villa saat matahari sudah mulai diatas kepala.
"Iya, kenapa?" tanya Jonathan yang sedang memasukkan berkas kerjanya yang seharusnya dibawanya ke kota T, tetapi karena masalah Bianca. Dia terpaksa membatalkan kepergiannya ke kota T, dan mengutus Arumi untuk pergi ke sana.
Yang sebenarnya, Arumi tidak pergi melanjutkan sekolah di luar negeri. Arumi pergi mewakili Jonathan mengurus proyek pembangunan sekolah di kota T.
Karena ingin mengerjai Kamal, Jonathan mengatakan Arumi pergi melanjutkan sekolah ke luar negeri.( Dasar Jonathan, sudah membuat si playboy Kamal patah hati sebelum berkembang 🤣)
"El masih suka di sini?" tanya Jonathan seraya mendudukkan tubuhnya disisi ranjang, di dekat Elvan duduk.
"Iya, di sini seperti dikampung. El bisa main diluar, di rumah Opa. El tidak bisa main keluar," jawab Elvan.
"Nanti, saat ada libur. Kita liburan di sini lagi ," ujar Jonathan.
"Sungguh? Papa tidak bohong?" tanya Elvan.
"Iya, Papa tidak bohong," ucap Jonathan sembari mengacungkan dua jarinya.
"Sekarang, kumpulkan barang-barang El yang ingin di bawa pulang. Itu kerang-kerangan dan pasir ingin di bawa pulang?" tanya Jonathan, karena melihat dihalaman depan villa. Ada satu kantong plastik kerang-kerangan dan plastik.
"Iya, El mau membangun rumah kerang di rumah. Apa boleh oleh Opa dan Oma ya Paa?" tanya Elvan mengenai keinginan untuk membawa pasir untuk membuat rumah kerang.
__ADS_1
"Boleh," sahut Jonathan.
"Hore..!" seru Elvan seraya lonjak kegirangan diatas ranjang.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, dengan masuknya Bianca yang baru saja dari pantai.
"El, jangan loncat-loncat di atas tempat tidur..!" seru Bianca.
Elvan langsung menghentikan loncatannya, turun dari ranjang dan menghampiri Mamanya.
"Maa, El senang. Karena boleh membawa pasir dan kerang yang El ambil di pantai," ujar Elvan dengan gembira.
"Oh ya, sekarang. El masukkan kerang dan pasirnya kedalam kotak, minta kotak pada Pak Wandi ya. El tahu kan siapa Pak Wandi?" tanya Bianca.
"Tahu," sahut Elvan.
"Sekarang, jumpai Pak Wandi dan minta kotak. Untuk tempat kerang dan pasir." titah Bianca pada Elvan.
"Ok Maa." Elvan langsung berlari keluar dari kamar.
"Apa El bisa?" tanya Jonathan pada Bianca, karena umur yang masih kecil dan Jonathan belum yakin. Elvan bisa melakukan apa yang di perintahkan Bianca padanya.
"Bisa mas, sudah biasa Bian suruh El untuk melakukan apapun sendirian. Biar terbiasa, di kampung dulu. El setiap libur sekolah bantu Mbak Ayu jualan telur bebek," ucap Bianca.
"Apa!? El jualan telur bebek? kau membiarkan anak sekecil itu untuk mencari nafkah?" dari nada suaranya, Jonathan terdengar marah. Karena tidak terima, sang putra mencari nafkah untuk membantu Bianca.
"Mas...! bukan Bianca yang menyuruh Elvan berjualan, Elvan tidak mencari nafkah..! walaupun hidup kami tidak berlebihan, tapi Bian tidak sampai menyuruh Elvan untuk mencari nafkah. Hidup kami lebih dari cukup..! El ikut berjualan, karena bosan di rumah..!" ucap Bianca dengan keras. Kemudian, Bianca mengambil tasnya. Dan keluar dari dalam kamar, pintu kamar tertutup dengan suara yang keras.
Tinggal Jonathan terpaku, karena tidak pernah melihat Bianca semarah itu padanya.
"Kenapa dia yang marah? seharusnya aku yang marah, walaupun tidak untuk mencari nafkah. Tidak seharusnya dia membiarkan Elvan berkeliaran ditepi jalan." gumam Jonathan.
"Bagaimana jika terjadi kecelakaan, mungkin saja penculikan." Jonathan terus mengomel sendiri dalam kamar.
"Apa dia tidak memikirkan itu?"
...BERSAMBUNG...
...🌟🌟...
__ADS_1