
Happy reading guys π₯°
πππ
Mobil Jonathan melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, sehingga Bianca ketakutan. Tangannya mencengkram pegangan yang ada diatas kepalanya, matanya menutup. Karena mobil yang dikemudikan oleh Jonathan sering sekali menyalip mobil didepan mereka tanpa mengindahkan rambu-rambu berkendara.
Bibir Bianca merapat ketat, walaupun ada rasa takut dalam dirinya. Tapi, dia tidak memprotes Jonathan melajukan mobilnya.
"Dia diam saja, pasti dia marah. Kenapa dia harus marah? bukannya dia seharusnya bahagia, dia bisa bersama dengan gadis yang dicintainya." batin Bianca.
Jonathan sedikit mengurangi kecepatan mobil, setelah melihat Bianca tidak melakukan protes. Padahal, sebenarnya. Jonathan mengharap Bianca angkat bicara melakukan protes, agar dia melambatkan kecepatan mobil.
"Apa bibirnya kena lem tikus ? Sehingga tidak bisa ber**bicara. Sehingga dia tidak protes, saat aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Baiklah, kita diam-diam saja dalam perjalanan ini. Siapa yang bertahan untuk diam, dia yang akan menang." batin Jonathan kesal**.
"Dia mengurangi kecepatan mobilnya, kelihatannya dia sudah tidak marah lagi." batin Bianca.
Keduanya diam, hening. Hanya terdengar suara mesin mobil, dan suara klakson yang lalu-lalang saling berlomba menuju tujuan tempat masing-masing.
*
*
"Mas Amar, kita mau kemana?" tanya Ayu yang diam sedari tadi memikirkan Bianca.
"Kita mau liburan, bukannya tadi kalian akan pergi liburan?" tanya Amar balik pada Ayu.
"Iya, tapi kami pergi diam-diam. Karena Bianca katakan, takut nanti mas Jonathan nanti akan ikut. Sedangkan mas Joe banyak kerjaan," ucap Ayu.
"Bian katakan begitu?" tanya Yunita.
"Iya," sahut Ayu.
"Untung Joe gerak cepat, jika tidak. Joe sudah kehilangan anak dan istri," ujar Amar.
"Apa maksudnya mas Amar?" tanya Ayu.
"Sebenarnya, Bianca itu bukan ingin liburan. Dia ingin pergi meninggalkan rumah, karena dia tahu Chelsea. Kekasih Jonathan dulu sudah kembali," kata Amar.
"Hah..! wanita itu sudah kembali!?" seru Ayu.
"Iya, Bianca melihat Chelsea dan Jonathan di sekolah. Waktu itu, Jonathan melihat mobil yang dikendarai Bianca meninggalkan sekolah. Padahal seharusnya, saat itu Bianca akan mendaftarkan Elvan. Tapi Bianca tidak turun, mobil putar balik." cerita Amar.
"Apa mas Joe akan kembali pada kekasihnya itu?" tanya Ayu.
"Jonathan belum gila, dia tidak akan mau menjadi perusak rumah tangga orang," ucap Amar.
"Perusak rumah tangga orang? apa maksudnya toh..mas Amar? mbak Nita?" tanya Ayu pada Yunita dan Amar.
Yunita menoleh kearah jok belakang, dan melihat Elvan yang duduk diam.
"Nanti saja ceritanya, lihat tuhh. Jagoan mereka, nanti mendengar apa yang kita ceritakan," kata Yunita.
__ADS_1
"El lapar?" tanya Ayu.
Elvan menggelengkan kepalanya.
"El, ngantuk."
"Ayo sini tidur," ujar Ayu.
Setelah Elvan tertidur dipangkuan Ayu, Amar dan Yunita secara bergantian bercerita mengenai kisah Chelsea dan Jonathan.
"Mas Amar dan mbak Yunita yang mengatakan pada mas Joe, bahwa pacarnya itu sudah menikah?" tanya Ayu.
"Iya, tadi malam. Kami bertemu dengan Jonathan," kata Amar.
πFlashback onπ
Sepulang dari kantor, Jonathan mendapatkan pesan dari Amar. Untuk bertemu di cafe yang dekat dengan rumah Jonathan.
"Ada apa? kenapa kau menyuruh aku datang kesini? apa kau ingin aku menjadi saksi atas kisah cinta kalian?" tanya Jonathan, karena melihat keberadaan Yunita bersama dengan Amar.
"Duduk, ini tidak ada hubungannya dengan kami. ini ada hubungannya dengan KAMU..!" Amar menekankan kata kamu.
"Ada apa?" Jonathan duduk dan menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Amar dan Yunita.
"Ceritakan Nita." titah Amar pada pada Yunita.
"Tadi orangtua murid ku datang menemui ku ke sekolah.." Yunita menceritakan kedatangan Riko ke sekolah.
"Kalau dia ingin memindahkannya, urus saja surat pindah," kata Jonathan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan sekolah Bro..! ini ada hubungannya dengan kisah cintamu," ujar Amar.
"Kisah cinta? apa kalian ingin katakan, orangtua muridmu itu ada hubungannya dengan Bianca? apa dia kekasih Bianca..?" tanya Jonathan dengan wajah berubah.
"Bukan Bianca, tetapi Chelsea.!" kata Amar.
"Chelsea,! ada apa? katakan dengan jelas, jangan mutar-mutar..!" seru Jonathan.
"Tunjukkan Nita," ujar Amar.
Yunita mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan video yang diambilnya dari cctv. Pada saat pertemuan dengan orangtua murid yang dihadiri oleh Chelsea dan Riko.
"Kami sudah menemukan bukti, baru kami mau menceritakannya padamu," kata Amar.
"Ini," ujar Jonathan, setelah melihat bukti yang dikatakan oleh Amar.
"Itu Chelsea dan suaminya, dan anaknya yang sudah berusia 7 tahun. Dan kau Joe, telah menjadi PEBINOR..!" seru Amar.
"Apa!? betapa syok Jonathan, mendengar status Chelsea yang sudah menikah. Dan saat menjalin hubungan dengannya, status Chelsea adalah istri orang.
"Chelsea sudah menikah, sebelum dia bertemu denganmu. Mereka menikah setelah tamat SMA, suaminya melanjutkan sekolah di luar negeri. Sedangkan Chelsea tetap di sini," cerita Amar.
__ADS_1
"Dia mempermainkan aku..!" seru Jonathan kesal.
"Dan sekarang, mereka sudah bercerai. Suami dan anaknya akan pindah keluar negeri, itu karena. Chelsea berniat kembali padamu..!" kata Amar.
"Dia datang menemui ku disekolah, dia membutuhkan pekerjaan," kata Jonathan.
"Butuh pekerjaan? bukannya, restorannya banyak?" tanya Amar.
"Katanya, dia membutuhkan pekerjaan. Karena membutuhkan biaya untuk pengobatan Mamanya yang sakit jantung," kata Jonathan.
"Apa kau percaya?" tanya Amar.
"Aku tidak tahu," sahut Jonathan.
"Apa Bianca tahu, wanita itu menemuimu?" tanya Amar.
"Iya, dan Bianca pasti salah paham. Karena dia tidak turun, seharusnya dia mendaftarkan Elvan hari ini," kata Jonathan.
"Mungkin Bianca takut menganggu pertemuan mas Joe dan Chelsea." Yunita membuka suaranya, setelah sedari tadi hanya sebagai pendengar.
"Joe, bagaimana perasaanmu dengan Chelsea?" tanya Jonathan.
"Melihat dia baik-baik saja aku senang, karena sebelum bertemu dengannya. Aku khawatir, dia tidak baik-baik saja. Karena aku telah mengkhianati cintainya, ternyata. Aku yang tertipu selama ini, sangat sial nasibku ya. Aku yang takut dia tidak baik-baik saja, ternyata. Dia bahagia dengan suami dan anaknya." terdengar nada suara Jonathan yang sinis.
"Joe, kau harus waspada. Aku takut, perempuan itu nekad. Sudah punya suami dan anak, dia masih mengincar mu," kata Amar.
Jonathan diam, pikirannya dipenuhi dengan apa yang dikatakan oleh sang sahabat.
"
*
Ponsel Maya bergetar, dan Budi Dwipangga melihatnya.
"Maa, teleponnya bergetar terus dari tadi." beritahu sang suami, setelah melihat sang istri sudah membuka matanya.
"Kenapa tidak Papa angkat, bagaimana jika penting," ujar Maya sembari mengambil ponselnya dari atas nakas, yang ada disamping ranjang.
"Nanti Mama marah, mungkin telepon private." gurau Budi Dwipangga, padahal yang sebenarnya. Dia juga malas untuk mengangkat telepon sang istri, karena pasti teman arisan sang istri yang menghubunginya.
"Private! bilang saja Papa malas..!" seru Maya.
"Salma? ada apa dia nelpon?" ucap Maya, setelah melihat nama orang yang menghubunginya.
"Angkat saja." titah sang suami.
"Ya Salma," ucap Maya, pada sang asisten rumah tangga.
"Apa? kapan? kenapa?" pertanyaan beruntun keluar dari dalam mulut Maya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...ππ...