Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Berbagi


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇


Bianca naik keatas ranjang, dan didengarnya suara Jonathan sedang berbicara ditelepon dengan seseorang dalam walk in closet.


"Aku tidak perduli biayanya berapa, baiklah. Aku kabar selanjutnya." Jonathan mengakhiri sambungan teleponnya.


Jonathan keluar dari dalam walk in closet, dan melihat Bianca sudah berada di ranjang.


"Akhirnya, tidur di sini juga, dia" ujar Jonathan, saat melihat Bianca tidur didalam kamar mereka sendiri.


Tadinya Jonathan ingin pergi ke kamar Elvan untuk tidur di sana, akhirnya mengurungkan niatnya.


Jonathan naik keatas ranjang, dan melihat napas Bianca belum teratur seperti orang yang sudah tidur. Tahu, bahwa Bianca pura-pura tidur.


Jonathan merebahkan tubuhnya, dan memeluk Bianca. Jonathan mendekatkan bibirnya ke telinga Bianca dan berbisik dengan lembut.


"Maaf, jangan marah lagi ya." Jonathan tahu, Bianca masih marah padanya. Karena kemarahan Jonathan saat berada dirumah sakit.


Bianca tidak merespon, dia masih berpura-pura tidur.


"Bian, mas tahu. Kau belum tidur, jangan marah lagi ya. Jangan diamkan mas ya." bisik Jonathan.


"Mas tidak bisa menahan diri, karena mas takut. Apa yang baru dialami oleh Elvan, menimpamu juga. Please, jangan marah ya. Kalian berdua orang terpenting dalam kehidupan mas saat ini, mas tidak ingin ada apapun juga yang menimpa kalian. Dan satu lagi, mulai besok ada orang yang mengikuti kalian kemanapun pergi," ujar Jonathan.


"Apa!?" Bianca membuka matanya dan memutar badannya menghadap Jonathan.


" Mas sudah menyuruh Kamal untuk mencarikan bodyguard untuk menjaga kalian berdua," ucap Jonathan kembali.


"Untuk apa Mas, kami bukan orang penting. Tidak perlu bodyguard untuk menjaga kami." tolak Bianca untuk mendapatkan bodyguard.


"Kalian itu orang penting bagiku, tidak ada penolakan.." tegaskan Jonathan.


"Untuk apa buang-buang uang untuk membayar bodyguard..!"


Jonathan menangkup kedua pipi Bianca, untuk menatap dirinya.


"Dengarkan apa yang mas katakan ini, Mira. Sepertinya akan bebas, karena dia mengalami gangguan jiwa. Mas tidak ingin dia kembali melakukan kejahatan pada kalian berdua," ujar Jonathan.


"Walaupun dia bebas, tidak mungkin dia berani mengusik kita lagi mas. Orangtuanya pasti sudah menasehatinya," kata Bianca.


"Dia gila Bianca! apa orang gila bisa dibawa bicara baik-baik ?"


"Kami seperti tahanan saja, kemana-mana harus diikuti," ujar Bianca.


"Demi keamanan, terima saja." titah Jonathan.

__ADS_1


"Mas, boleh Bian tanya sesuatu?"


"Apa?" sahut Jonathan.


"Sini, kita sudah lama tidak tidur berpelukan begini. Setiap hari suruh Ayu menemani El tidur, sampai dia pulih normal kembali," kata Jonathan seraya menarik Bianca untuk tidur dalam pelukannya.


"Mau tanya apa?" tanya Jonathan.


"Tidak jadi, Bian lupa. Mau nanya apa," ucap Bianca.


"Kalau begitu, biar mas yang bertanya. Kenapa waktu di rumah sakit, pergi diam-diam dan pulang sendiri..?"


Bianca tidak menjawab.


"Jawab! jangan pura-pura tidur..!" ujar Jonathan.


"Bian tidak mengerti apa yang kalian bicarakan," sahut Bianca.


"Apa yang tidak dimengerti, kami berbicara masalah apa yang terjadi di muka bumi. Kami berbicara pakai bahasa Indonesia, bukan bahasa asing," ujar Jonathan.


"Mama sepertinya sudah akrab dengan mbak Chelsea ," ujar Bianca.


"Itu karena Chelsea pandai bicara, dan banyak mempunyai topik yang bisa dibicarakan," ucap Jonathan.


"Chelsea sudah janda, dan Mama sudah setuju. Apa mas ingin kembali bersamanya?" tanya Bianca dengan suara yang pelan.


"Kembali, menjalin hubungan cinta yang terputus dulu. Karena Bian hadir ditengah-tengah kalian." Bianca memperjelas maksud ucapannya.


Jonathan mengurai pelukannya dan menatap wajah Bianca dengan lekat.


"Apa kau mau menyerahkan suamimu kepada wanita lain?" tanya Jonathan.


Bianca menarik tubuhnya menjauhi Jonathan, wajahnya berubah seketika mendengar perkataan Jonathan.


"Jawab! apa kau rela berbagi suami?" tanya Jonathan dengan tegas dan suara Jonathan sedikit kerasa.


"Chelsea sangat kasihan," ucap Bianca, dia tidak menjawab pertanyaan Jonathan.


"Karena kasihan pada dia, kau rela berbagi suami? berbagi cinta dan tubuhku ini?" terdengar nada suara Jonathan yang sinis seraya memandang wajah orang yang telah membuat dia marah.


"Dia sendiri, jika kalian kembali bersama. Dia bisa tinggal di sini, Mama juga sudah tidak membencinya lagi," kata Bianca.


Jonathan tertawa kecil, tangannya meraba wajahnya dengan kasar.


"Ahhhrghhh..!" Jonathan bangkit dari ranjang, kedua kakinya turun. Dia duduk di sisi ranjang memunggungi Bianca yang baring diranjang.


"Jika kami kembali bersama? bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Jonathan.

__ADS_1


"Kami," ujar Bianca.


"Kau dan Elvan, tidak mungkin kita hidup bertiga dalam satu rumah," kata Jonathan.


"Kami bisa kembali ke desa, jangan khawatir. Rumah kami masih ada di sana, mas masih bisa menemui El. Bian tidak akan memisahkan El dari keluarga Papanya," ucap Bianca.


"Jika mas Joe ingin menceraikan Bian, Bian terima," ujar Bianca dengan suara yang lirih.


Dia berusaha untuk kuat, karena Bianca merasa. Apa yang diambil dengan dari merampas, tidak akan pernah abadi dan mendapatkan kebahagiaan.


"Kau itu orang yang sangat dermawan ya Bianca! itu hasil didikan Papa Yudistira, sangat baik. Sangat memikirkan perasaan orang lain, sehingga rela memberikan suaminya pada orang lain," ucap Jonathan.


Plok..plok..


Jonathan berdiri dan bertepuk tangan melihat kearah Bianca yang baring diranjang dengan memeluk guling diatas dadanya.


"Baiklah, karena kau wanita yang sangat baik. Aku akan menerima usulan mu, untuk mengurus Chelsea. Terima kasih, karena kau telah memberi izin suamimu ini untuk mengurus wanita yang telah menolong putranya." setelah berkata, Jonathan melangkah menuju pintu. Lalu keluar dari dalam kamar.


Sepeninggal Jonathan, Bianca menangis. Dia turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.


Bianca menumpahkan semua rasa sakit di dada dengan menangis didalam kamar mandi. (Sok kuat, ngasih izin suami. Nangis🤣 dasar wanita sok ku-ku)


"Kenapa aku harus menangis? bukannya ini yang aku inginkan," ujar Bianca dibarengi dengan suara tangisan yang tersedu-sedu.


Bianca menghidupkan shower, dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Huuk..huuk..


Dibawah guyuran air shower yang dingin, Bianca memuntahkan isi lambungnya. Kepalanya tiba-tiba pusing dan mual menyerangnya.


Huuk..huk..


Bianca muntah kembali, hanya air bening yang keluar dari dalam mulutnya.


Karena merasa tubuhnya yang lemas, Bianca terduduk di bawah shower. Air dingin yang mengalir dari shower masih terus menerpa tubuhnya.


Dalam ruang kerjanya.


Jonathan merebahkan tubuhnya di atas sofa, perasaan kesal dan kecewa dengan apa yang dikatakan Bianca membuat Jonathan kini berada di dalam ruang kerjanya.


"Enak saja main menyerahkan suaminya, apa dikiranya aku ini tidak punya hati. Dulu dia yang mengejar-ngejar, sekarang dia yang mau menyerahkan aku kepada wanita lain..!" seru Jonathan dengan suara yang keras.


*


*


*

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2