
Happy reading guys 🥰
👇👇👇
"Semua ini salah mas Joe! jika mas Joe tidak melakukan hukuman ini siang-siang, El tidak akan hilang..!" seru Bianca seraya mendorong tubuh Jonathan yang memeluknya.
"Mas akan mencari El, hari ini juga. El akan kita ketemukan," ujar Jonathan.
"Mas harus mencari Elvan sampai ketemu! kalau tidak, aku tidak akan memaafkan mas Joe sampai kapanpun..!" ancam Bianca.
"Mas janji, mas tidak akan membiarkan para penjahat itu hidup tenang. Jika sampai mencelakai Elvan," ujar Jonathan.
"Jangan hanya janji-janji manis, tapi. El tidak bisa diketemukan..!" teriakkan Bianca memenuhi seluruh ruang kamar.
"Mas juga tidak ingin kehilangan Elvan! apa kau kira aku sanggup kehilangannya, setelah baru-baru ini. Aku mengetahui keberadaan Elvan sebagai putraku..! seperti kau takut kehilangan dia, aku juga sangat takut..!" seru Jonathan dengan emosional, dia melepaskan pelukannya dan melangkah menjauhi Bianca dan menendang ujung sofa.
Tadi, dia bisa menahan emosi. Tetapi, terus di serang Bianca. Emosi Jonathan keluar.
Tok...tok..
"Masuk." titah Jonathan pada orang yang mengetuk pintu kamarnya yang tidak tertutup dengan sempurna.
Pintu terbuka, Salma masuk dengan wajah yang terlihat takut.
"Ada apa?" tanya Jonathan.
"Ada teman-teman Den Joe datang." beritahu Salma dengan wajah menunduk.
"Kau temani Bian di sini." titah Jonathan pada Salma.
"Baik.." sahut Salma.
"Tidak! aku mau pergi mencari Elvan..!" seru Bianca dan langsung turun dari ranjang, tanpa dapat di cegah. Bianca sudah pergi meninggalkan kamar.
"Ahh! dia tidak bisa di cegah." gumam Jonathan.
Bianca berlari menuju teman-teman Jonathan, begitu melihat Amar. Bianca langsung memeluk Amar sembari menangis.
Jonathan yang berada dibelakang Bianca kaget, karena Bianca memeluk Amar.
"Mas Amar, tolong cari Elvan," ujar Bianca sambil menangis tersedu-sedu.
Jonathan menatap Amar dengan kesal, karena Bianca memeluknya. Dari dulu, Bianca lumayan dekat dengan Amar daripada dengan Antonio dan Kamal.
Amar menatap Jonathan dan mengendikkan kedua bahunya, dan kemudian membalas pelukan Bianca.
"Jangan nangis, mas akan mencari Elvan sampai ketemu," ujar Amar dan menepuk pundak Bianca.
Dengan kesal, dengan langkah lebar. Jonathan menarik tubuh Bianca dari pelukan Amar. Mengangkatnya dengan satu tangan pada pinggangnya, dan Jonathan mendudukkan Bianca di sofa.
Kamal dan Antonio hanya bisa menahan tawanya, bisa-bisanya Amar mengambil kesempatan didalam kesedihan Bianca.
"Jangan karena sedih, kau main peluk laki-laki lain didepan mataku..!" seru Jonathan dengan suara yang marah.
"Sorry Bro, kau kan tahu. Kami dekat dari dulu," ujar Amar.
__ADS_1
"Dekat, dulu. Sekarang dia sudah menjadi istriku, jaga mata dan tanganmu..!" tegaskan Jonathan.
Bianca tidak perduli dengan apa yang dibicarakan oleh Jonathan dan Amar, didalam pikirannya. Hanya ada wajah Elvan yang menangis ketakutan.
"Cukup! kita datang ke sini untuk mencari siapa yang telah menculik Elvan." Antonio menengahi keduanya, untuk berhenti berdebat yang akan mengarah perpecahan antara dua teman.
"Joe, Bianca memeluk Amar tadi itu refleks. Karena dia butuh pelukan orang yang dipercayai bisa mengembalikan Elvan," kata Kamal.
"Cukup! cepat cari Elvan..!" teriak Bianca dengan histeris.
"Sayang..! ini mas lagi berusaha untuk mencari anak kita," ujar Jonathan dengan memeluk tubuh Bianca yang bergetar karena menangis.
"Joe, mana rekaman cctv itu?" tanya Kamal.
"Tunggu." Jonathan mengeluarkan ponselnya dan mengirim rekaman cctv kepada ketiga temannya.
Ketiganya melihat rekaman cctv yang dikirim oleh Jonathan.
"Aku merasa, dia ini bukan seorang pria," ujar Antonio, setelah mengamati gerak-gerik orang yang yang membawa anjing. Untuk memancing Elvan agar mendekat.
"Lihat cara jalannya," ujar Antonio.
"Cara jalannya, tidak menunjukkan dia seorang gadis. Mungkin saja, dia ingin mengaburkan identitasnya yang sebenarnya," kata Amar.
"Mungkin saja," sahut Antonio.
Derrt...
Ponsel Amar bergetar, dia mengangkatnya.
"Bagaimana? apa orang-orang mu bisa ikut mencari El?" tanya Jonathan.
"Tenang saja, tidak sia-sia aku berteman dengan mantan penjahat yang pernah aku bela," ujar Amar.
"Mereka sudah aku suruh untuk mencari, siapa dalang dibalik penculikan ini," kata Amar.
"Apa kita tidak laporkan ke polisi?" tanya Bianca.
"Itu sudah kami lakukan," kata Jonathan.
"Den, ada orang yang mencari Den Joe," kata Salma.
"Bawa ke sini." titah Jonathan.
Dua orang polisi berbaju biasa masuk.
"Selamat siang Pak Joe." sapa polisi tersebut pada Jonathan.
"Maaf Pak Reinhard, saya memanggil bapak untuk datang ke rumah," ujar Jonathan.
"Tidak apa-apa pak, kami ada pelayan masyarakat. Jika bapak tidak nyaman untuk datang, kami bisa datang untuk menerima keluhan bapak," ujar pria yang bernama Reinhard.
Jonathan menceritakan semua tentang penculikan Elvan, dan memberikan cctv yang berisi tentang penculikan Elvan.
"Apa ada yang bapak curigai?" tanya Pak Reinhard.
__ADS_1
"Ada Pak, baru-baru ini saya baru memecat wakil saya. Yaitu Sandy Setiawan," jawab Jonathan.
"Kenapa mas tidak katakan Chelsea, mungkin dia yang menculik Elvan," ujar Bianca, karena Jonathan hanya menyebutkan satu nama. Yaitu Sandy Setiawan.
Jonathan melihat Bianca, dan menggenggam tangan Bianca dengan erat.
"Mas belum sampai kesitu, mas bukan tidak ingin menyebut namanya. Mas juga menaruh curiga dengannya," ujar Jonathan.
"Siapa Chelsea?" tanya Pak Reinhard.
"Dia mantan kekasih saya Pak Reinhard, jawab Jonathan.
"Ternyata, ada hati yang tidak terima di tinggalkan ya Pak Joe? apa mungkin ada kisah lama yang belum selesai." goda Pak Reinhard.
"Jak, catat. Jangan ada yang terlewati," ujar Pak Reinhard pada rekannya yang datang bersamanya.
Mendengar ucapan Pak Reinhard, Joe hanya diam. Matanya melirik Bianca yang masih bercucuran air mata. Sepertinya, Bianca tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Reinhard, jika Bianca mendengar. Sudah pasti, Bianca akan meradang.
"Pak Reinhard, jangan bahas masalah yang berkaitan dengan..." ujar Kamal, tanpa melanjutkan ucapannya.
"Baiklah, saya permisi dulu. Secepatnya, kami akan menemukan putra anda Pak Joe," ujar Pak Reinhard.
"Kami tunggu kabar dari bapak," ujar Jonathan.
"Joe, kita juga harus mencari. Jangan hanya mengandalkan kepolisian," kata Kamal.
"Bian, tunggu di rumah saja ya," ujar Jonathan.
"Tidak bisa! Bian harus ikut..!" seru Bianca dan langsung keluar menuju mobil Jonathan.
"Sudahlah Joe, jangan kau suruh dia di rumah. Lebih aman bawa Bianca," kata Antonio.
*
*
Chelsea keluar dari rumah Mamanya, didepan pintu. Mobilnya dihadang oleh mobil Sandy yang sudah dari kemarin, memantau Chelsea.
Dengan keadaan marah, Chelsea keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Sandy yang masih berada dalam mobilnya.
Tok..tok..
Chelsea mengetuk-ngetuk pintu jendela mobil Sandy dengan keras.
"Keluar kau..!" seru Chelsea seraya mengetuk-ngetuk jendela kaca mobil Sandy.
Sandy membuka pintu mobi, dan turun. Keduanya saling tatap dengan raut wajah yang penuh dengan kemarahan.
*
*
*
...BERSAMBUNG...
__ADS_1