
Happy reading guys ๐ฅฐ
๐๐๐
Begitu meninggalkan rumah sakit, Jonathan pergi ketempat dia biasa menyendiri sembari memandang bintang di langit waktu malam hari. Sekarang, Jonathan tidak ingin melihat bintang. Dia pergi untuk memulihkan hati dan pikirannya yang kacau, saat melihat perjuangan Joice melahirkan anaknya.
Jonathan duduk di atas rumput, matanya memandang kearah depannya. Dari kejauhan terlihat rumah-rumah penduduk begitu kecil terlihat dari tempatnya berada.
"Perjuangan untuk menjadi seorang ibu sangat mengerikan, tetapi masih ada saja seorang pria yang sampai hati menyakiti hati seorang wanita?" Pikiran Jonathan yang berkecamuk, melihat perjuangan Joice melahirkan putranya.
"Aku salah satu pria itu, apa betul? Tapi aku tidak bersalah. Aku tidak tahu dia hamil? dia yang menjebakku, sehingga dia hamil..!" Jonathan menolak dirinya sebagai pria yang bisa menyakiti hati wanita.
"Aku tidak bersalah..! Bianca yang menyembunyikan kehamilannya, dia yang patut di persalahkan. Dia telah menjebakku, sehingga Chelsea menghilang." gumam Jonathan.
Derrt...
Ponselnya bergetar, dan melihat pesan masuk dari wakil kepala sekolah Bina bangsa. Jonathan sebagai kepala sekolah menggantikan Yudistira, Papa Bianca.
Jonathan membaca pesan tersebut.
"Pak Joe, besok ada rapat." bunyi pesan dari wakil kepala sekolah.
Jonathan menutup ponselnya, tampa membalas pesan dari wakilnya. Selama ini, Jonathan tidak pernah datang ke sekolah. Hanya Sandy Setiawan sang wakil yang ada di sekolah, sedangkan Jonathan sibuk dengan tempat bimbingan belajar yang dikelolanya. Dan bisnis kuliner yang didirikannya bersama dengan Antonio.
Setelah hari semakin menanjak siang, sinar matahari sudah semakin tinggi. Jonathan kembali turun, karena udara panas terik tidak memungkinkan dirinya untuk berada tetapย lokasi favoritnya memandang bintang di malam hari.
***
Yunita dan Amar berada di satu cafetaria, setelah Amar menghubunginya untuk bertemu.
"Ada apa Mas?" tanya Yunita setelah mendudukkan dirinya di kursi depan Amar duduk.
"Ada apa? apa kau lupa, kita ada janji bertemu hari ini," ujar Amar seraya menatap wajah Yunita dengan intens.
"Kita, janji bertemu? apa betul?" Yunita tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Amar.
"Iya, apa kau lupa? pesta resepsinya Bianca dan Jonathan, kau ingatkan?" Amar berusaha untuk mengingatkan Yunita dengan janji mereka berdua.
"Ooh..itu, aku ingat. Tapi, aku kira itu hanya bicara iseng mas Amar saja," kata Yunita.
"Aku tidak pernah iseng, jika berjanji dengan gadis cantik." gurau Amar.
"Oh ya..! kalau aku tidak cantik, Mas Amar akan iseng ya." sindir Yunita.
"Ahh..aku salah bicara sepertinya ini." Amar menggaruk tengkuknya.
"Mau minum apa Nit ?" tanya Amar pada Yunita.
__ADS_1
"Sama saja dengan minuman mas Amar," jawab Yunita.
Amar menjentikkan jarinya, dan waiters datang menghampiri Amar dan Yunita.
Setelah waiters meninggalkan meja mereka, Amar menanyakan Yunita. Kapan dia akan mengatakan pada Bianca mengenai Chelsea.
"Kapan Nita, rencananya mengatakan pada Bianca mengenai Chelsea?" tanya Amar.
"Aku belum tahu, besok tidak bisa. Aku harus mengajar, apa aku katakan melalui telepon saja ya Mas?" tanya Yunita.
"Lebih bagus, langsung saja menceritakan pada Bianca mengenai Chelsea," ucap Amar.
"Kenapa tidak kalian saja yang mengatakan kepada Mas Jonathan , mengenai kebenaran tentang Chelsea," kata Yunita.
"Kalau bisa, akan kami katakan. Dulu pernah kami katakan, kami pernah melihat Chelsea dengan membawa anak kecil. Jonathan mengatakan, itu pasti adiknya. Ya tidak mungkin saja, Chelsea sudah dewasa. Punya adik yang masih balita, lagi pula kami tahu, ayah Chelsea sudah meninggal dan ibunya tidak menikah lagi. Jonathan marah, dia menjauhi kami dan tidak mau bertemu dengan kami," kata Amar.
"Bucin akut Mas Joe ya," kata Yunita.
"Bukan bucin, tapi sudah kena guna-guna Chelsea," ujar Amar dengan. tertawa kecil.
"Hah..! apa betul? apa sekarang masih ada guna-guna? manusia sudah sampai ke bulan, kita masih berkutat dengan masalah guna-guna." tutur Yunita.
"Guna-guna istri orang," ucap Amar sembari tertawa ngekeh.
"Apa ada guna-guna istri orang?" tanya Yunita.
"Ada, tuh di Chelsea. Dia kan istri orang," ujar Amar.
Tiba-tiba, Yunita terdiam. Matanya sedikit sedikit membesar, melihat kearah pintu masuk cafetaria.
"Mas, menunduk..!" seru Yunita.
Amar langsung menunduklah kepalanya, karena mendengar perintah Yunita. Tanpa tahu, kenapa dia harus menundukkan kepalanya.
"Ada apa? apa pacarmu? atau kau sudah menikah..?" cerca Amar dengan pertanyaan yang beruntun kepada Yunita.
"Ihh..bukan mas..! ada Chelsea..," ucap Yunita dengan berbisik.
"Siapa?" tanya Amar, karena tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Yunita.
"Chelsea Olivia, dia ada di sini," ucap Yunita.
"Hah..! kenapa kita menunduk? kalau Chelsea Olivia yang datang ke cafetaria ini?"
"Hih..Mas Amar ini lambat sekali berpikir..!" Yunita mengeluarkan uang merah selembar, dan meletakkannya keatas meja.
Kemudian, Yunita berdiri dan menarik lengan Amar untuk keluar dari dalam cafetaria.
__ADS_1
"Jangan lihat kemana-mana! terus jalan keluar..!" titah Yunita.
Amar mengikuti apa yang dikatakan oleh Yunita, jantungnya sudah berdetak tak menentu. Sendi-sendi tubuhnya terasa sudah ngilu. Dalam pikirannya, hari ini dia telah ketahuan telah menggoda istri orang.
"Sial ! kenapa tidak aku tanya dengan jelas semalam, apa Nita sudah menikah. Bagaimana jika suaminya mengira aku menganggu istrinya." dalam benak Amar, seraya keluar dari dalam cafetaria.
"Akhirnya, kita selamat..!" seru Yunita setelah berada diluar cafetaria.
"Hei mas..!" Yunita menepuk pundak Amar yang masih menundukkan kepalanya.
"Tobat! aku tidak ingin pergi dengan istri orang..!" seru Amar seraya menatap wajah Yunita.
"Istri orang? siapa?" Yunita tidak ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Amar.
"Bukankah kita bersembunyi dari suamimu?" tanya Amar.
"Suami? hahahaha..!" Yunita tertawa ngakak.
"Ada apa? kenapa kau tertawa?" tanya Amar.
"Mas..! apa Mas tidak dengar aku tadi sebutkan nama Chelsea ?" tanya Yunita.
"Aku tidak mendengar dengan jelas, kau bilang Chelsea Olivia?" tutur Amar.
"Mas, di dalam tadi ada Chelsea. Dia bersama dengan seorang pria, bukan suaminya," ujar Yunita.
"Chelsea Olivia yang kau maksud, Chelsea nya Jonathan?" tanya Amar.
Yunita mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Amar.
"Untuk apa kita bersembunyi? apa yang kita takutkan?" tanya Amar.
"Mas, Chelsea tahu. Aku ini guru putrinya, dan dia tahu. Mas Amar itu teman mas Joe, selama ini Chelsea menutupi identitasnya sebagai seorang istri. Kita tidak tahu, apa dia masih ada rasa cinta pada mas Joe atau tidak?"
"Terus..! apa hubungannya dengan kita bersembunyi?" Amar belum mengerti apa gunanya mereka bersembunyi.
"Ihh...mas ini, kita kan mau memata-matai Chelsea. Jika dia tahu kita saling kenal, bisa saja dia akan memindahkan putrinya dari sekolah sekarang ini. Dia takut, rahasia pernikahannya akan diketahui oleh Mas Joe..! ngerti...!" jengkel Yunita.
"Apa dia masih ingin kembali pada Jonathan? kalau dia ingin kembali, untuk apa menunggu sampai bertahun-tahun?"
"Kita tetap harus waspada mas! Chelsea ini orang yang penuh dengan rahasia, bisa-bisanya dia menjalin cinta dengan pria lain. Sewaktu dia masih menjadi istri orang..!"
"Apa mungkin, dia baru menikah dan anak itu bukan putrinya?" tanya Amar.
"Tidak mas! itu anak Chelsea, wajah Adella duplikat Chelsea..!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...**...
Jangan lupa untuk menekan tombol like, terima kasih atas dukungannya.