Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"

Cintai Aku Sehari Saja, Mas !"
Hutang seumur hidup


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


👇👇👇


"Bagaimana sampai Elvan ada?" tanya Jonathan.


"Aaa..!" Bianca bingung dengan pertanyaan aneh Jonathan.


"Pertanyaan yang aneh, apa dia lupa dengan apa yang terjadi empat tahun yang lalu." batin Bianca.


"Elvan ada karena hasil racikan tanganku ini, aku campur tepung dan mentega dan telur satu butir. Sehingga jadilah Elvan," ucap Bianca.


Deg...


"Telur..!" pipi Bianca merona merah, saat ingat baru menyebut telur dalam membuat Elvan.


Jonathan menatap Bianca dengan tatapan mata yang membuat Bianca ciut seketika, hingga Bianca menundukkan kepalanya.


"Salah lagi aku didepan Om gila ini." batin Bianca.


"Pertanyaan dia juga aneh, aku jawab dengan jawaban konyol. Dia marah, ingin aku lempar dia dengan telur bebek lagi. Hei..dia sudah ganti baju, baju siapa yang dipakainya. Apa dia bawa baju dan berencana menginap di sini?" pertanyaan berseliweran di dalam benak Bianca.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, saat tahu kau hamil? apa kau pergi dari perumahan sekolah karena kau hamil?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Jonathan.


Bianca tidak menjawab pertanyaan Jonathan, tatapan matanya terus mengarah ke arah kakinya.


"Bianca..!" suara Jonathan menggelegar, membuat Bianca sontak terperanjat.


"Apa..?" Bianca mengangkat kepalanya memandang Jonathan.


"Kenapa kau tidak mengatakan kau hamil..! jawab Bianca..!" seru Jonathan.


"Bagaimana aku mengatakan padamu, kau mengharamkan aku untuk muncul dihadapanmu dan keluargamu. Kau ingatkan? apa kau melupakan itu semua? lagi pula, aku tidak ingin menganggu hubungan kalian," kata Bianca.


"Kalian? siapa kalian yang kau maksud?" tanya Jonathan.


"Kau dan kak Chelsea, aku sudah menyakitinya. Aku tidak ingin menambah masalah lagi antara kalian berdua, sudah cukup aku hadir dihubungan kalian berdua," kata Bianca.


"Tidak ada Chelsea lagi, dia menghilang sejak hari itu," kata Jonathan, sembari memberikan pandangan mata yang sinis pada Bianca.


"Maaf," ucap Bianca dengan suara yang lirih, kepalanya menunduk.


"Maaf..! apa maaf darimu itu akan mengembalikan kebahagiaan ku ? Mengembalikan gadis yang aku cintai..!" seru Jonathan.


Jonathan berdiri, dan beranjak mendekati Bianca. Satu langkah dari hadapan Bianca, Jonathan berhenti.

__ADS_1


Dengan tatapan mata yang angkuh dan dingin, Jonathan berdiri didepan Bianca.


"Semua itu akibat perbuatanmu, perbuatanmu itu telah memisahkan aku dengan gadis yang sangat aku cintai. Kau sudah puas kan ? telah berhasil memisahkan kami. Aku mengira, Om Yudistira telah mendidik putrinya dengan baik. Ternyata, didikan Om Yudistira tidak masuk kedalam otakmu ini..!" jemari Jonathan mendorong kepala Bianca, saking kesalnya dia kepada Bianca.


Tidak ada sosok Jonathan yang lembut terhadap Bianca yang dulu, kini sosok Jonathan telah berubah. Hanya sosok Jonathan yang sangat membenci Bianca yang tersisa.


Mendapatkan perlakuan Jonathan yang diluar dugaannya, Bianca berdiri. Dan menatap wajah Jonathan. Mata Bianca sudah merah dan berembun.


"Aku akui, aku bersalah. Sangat...sangat bersalah." suara Bianca terdengar sangat lirih dan bergetar.


"Apa yang kau inginkan ? apa kau ingin aku mati..! agar segala dosaku bisa kau maafkan..!" seru Bianca.


Air mata yang tadi masih menghiasi bola matanya, kini sudah meluncur deras membasahi dua belah pipinya. Bibir Bianca bergetar, Isak tangisnya sudah terdengar.


Jemari Jonathan memegang dagu Bianca, dan mendekatkan wajahnya Ke wajahnya Bianca.


Rahang Jonathan yang mengetat, terlihat jelas oleh Bianca. Bianca pasrah, dengan apa yang akan dihadapinya saat ini.


"El, maafkan Mama." batin Bianca, yang mengira. Jonathan akan menghabisi nyawanya hari ini juga.


"Kematian juga tidak akan bisa menghapus dosa-dosa mu, kau harus seumur hidup membayar perbuatanmu itu. Setelah aku puas, baru kau bisa bebas..!" seru Jonathan, dan melepaskan cengkraman jemarinya di dagu Bianca.


Jemari Bianca memegang dagunya yang terasa sakit, akibat cengkeram tangan Jonathan.


"Apa tindakanku sudah sangat keterlaluan? tidak..! ini tidak seberapa dengan perbuatannya kepadaku." dalam benak Jonathan.


"Baiklah, jika kau ingin aku membayarnya seumur hidupku. Berikan nomor rekening mu, biar aku bisa mencicil hutangku. Berapa harus aku bayar? 1 miliar atau 10 miliar, aku akan membayarnya," kata Bianca sembari mendudukkan dirinya kembali, karena merasa tubuhnya terasa lemas. Dan tidak sanggup lagi untuk menopang dia untuk berdiri.


"Aku tidak butuh uangmu itu, aku tidak membutuhkan bayaran berupa uang. Tetapi kau harus mengabdi padaku sebagai pembantuku..!"


"Baik, aku akan menjadi pembantumu," kata Bianca dengan lesu, tidak ada tenaga lagi untuk melawan Jonathan. Karena Bianca takut, jika melawan. Akan membuat Jonathan membawa lari Elvan, walaupun dari segi hukum. Jonathan tidak berhak terhadap Elvan. Tapi uang bisa melegalkan yang tidak legal, begitu juga sebaliknya.


Jonathan menatap Bianca, sebenarnya. Ada rasa iba dalam diri Jonathan, tetapi. Begitu mengingat perbuatan Bianca, rasa iba menjadi benci.


"Kau sudah mau menjadi pembantuku seumur hidupmu ?"


"Iya..iya..iya..! apa lagi yang kau inginkan? aku akan menjadi budakmu..!" seru Bianca sambil menangis, kedua tangannya menutupi wajahnya yang bersimbah air mata.


Tangan Jonathan terulur, ingin menyentuh Bianca. Tetapi, Jonathan menarik kembali tangannya, dan memasukkannya kedalam saku celananya dan kemudian Jonathan berjalan meninggalkan Bianca yang menangis.


Jonathan berjalan menjauh dari rumah Bianca, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dan berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, dan tidak lama kemudian. Jonathan memutuskan sambungan teleponnya.


***


Budi Dwipangga menghela napas, setelah selesai berbicara dengan sang putra.

__ADS_1


"Ada apa Paa? apa putra kesayangan Papa itu membuat ulah lagi?" tanya Maya, yang hanya mendengar suaminya berbicara dengan Jonathan. Tanpa ikut nimbrung.


"Dia ingin kita pergi ke kampung tempat Bianca tinggal," jawab Budi Dwipangga.


"Joe sudah menemukan Bianca Paa?" Maya terlihat gembira, mendengar Bianca sudah ditemukan.


"Apa betul Paa, Bianca sudah ketemu?" tanya Joice yang baru bergabung dengan Papa dan Mamanya, dia tadi sedikit mendengar apa yang dibicarakan Papanya.


"Joe menyuruh kita sekarang pergi menyusulnya dengan membawa jas dan baju kebaya," kata Budi Dwipangga.


"Jas dan baju kebaya? untuk apa?" tanya Joice.


"Iya, untuk apa?" timpal Maya, yang heran dengan permintaan sang putra.


"Dia ingin menikahi Bianca besok."


"Apa..!" Maya terkejut dengan perkataan suaminya, Budi Dwipangga.


Begitu juga dengan Joice.


"Menikah..! besok?" tanya Joice.


"Iya, di desa tempat tinggal Bianca," ucap Budi Dwipangga.


"Tidak boleh Paa, bagaimana bisa Joe menikah di sana. Joice tidak bisa ke sana, jika kita ke sana. Siapa yang menemani Joice di rumah? Tama keluar kota," ucap Maya.


"Suruh pulang, bawa Bianca. Mereka harus menikah di sini, jangan mendadak begitu. Apa yang dipikirkannya, main nikah saja..!" gerutu Maya.


"Maa, jika keinginan Joe begitu. Turuti saja, mungkin ini sudah menjadi keinginan mereka berdua," kata Joice.


"Kalau Mama dan Papa pergi ke sana, kau dengan siapa? Mama khawatir, bagaimana jika tiba-tiba kau ingin melahirkan?" tutur Maya.


"Assalamu'alaikum.." terdengar suara dari dari depan pintu.


"Waalaikumsalam.." jawab mereka bersamaan.


"Mas Tama, kenapa sudah pulang?" tanya Joice, saat melihat sang suami Tama Wijaya pulang dari luar kota untuk seminar.


"Seminarnya di batalkan," jawab Tama.


"Papa di sini juga?"


"Iya, Papa kehilangan istri. Pergi tidak pamit," kata Budi Dwipangga.


Bersambung 👉👉👉

__ADS_1


__ADS_2